Hukuman Mati

Inilah Romo Katolik asal Irlandia, Pendamping Para Terpidana Mati Lapas Nusakambangan

Romo Charlie Burrows beberapa kali jadi orang terakhir yang mendampingi terpidana mati di Indonesia. Baginya, pengalaman ini semakin mendorongnya menghapus hukuman mati di dunia.
31 Maret 2018, 7:42am
Semua foto oleh Ardiles Rante.

Romo Charlie Burrows berulang kali menjadi orang terakhir yang bicara dengan para terpidana mati di Indonesia. Pastor Katolik asal Irlandia berusia 75 tahun ini ditempatkan di Cilacap, tak jauh dari Lembaga Permasyarakatan Nusakambangan yang kerap jadi perhentian terkahir narapidana hukuman mati. Burrows adalah salah satu saksi eksekusi regu tembak terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, anggota jaringan penyelundup narkoba Bali 9 yang memicu ketegangan diplomatik Indonesia-Australia pada 2015 lalu. Burrows juga menjadi saksi enam terpidana mati lainnya di Nusakambangan.

Sejak 2007, Burrows mengabdikan diri untuk berbicara dengan para narapidana yang hendak menjalani hukuman mati. Pengalaman ini memicunya untuk mendedikasikan sisa hidupnya dalam perjuangan menghapus pelaksanaan hukum mati. Baru-baru ini, saya berkesempatan berbincang dengan Romo Burrows tentang bagaimana rasanya jadi saksi pelaksanaan eksekusi hukuman mati. Dia juga membahas betapa pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya memahami iman dan kehidupan.

VICE: Salam Romo. Kapan pertama kali Romo mulai dipercaya mendampingi para narapidana mati?
Romo Charlie Burrows: Saya mulai terlibat 12 tahun lalu. Waktu itu banyak sekali narapidana asing dan mereka butuh seseorang yang fasih berbahasa Inggris. Tak lama setelah saya bertugas, Indonesia mengeksekusi dua warga negara Nigeria. Saya mendampingi salah satu dari napi tersebut beberapa minggu menjelang pelaksanaan eksekusi. Saya berkumpul bersama sang napi beserta kerabat, istrinya dan satu anaknya yang masih kecil. Saya ada di sana sampai eksekusi dilakukan. Saat regu pelaksana eksekusi menembak dua orang itu, keduanya meregang nyawa sampai tujuh sampai delapan menit sampai akhirnya meninggal. Dua napi itu mengerang-erang kesakitan di akhir hidupnya.

Seorang perempuan yang berada di sana melihat dengan jelas kalau saya tak nyaman menyaksikan eksekusi dengan mata kepala sendiri. Dia lantas mengenalkan saya dengan seorang saksi lain saat para pelaku Bom Bali mengajukan permintaan pada Mahkamah Konstitusi Indonesia agar dihukum mati dengan dipancung. Menurut terpidana terorisme itu, hukuman tembak adalah sebuah siksaan. Itulah ceritanya kenapa saya akhirnya terlibat perjuangan menghapus praktik hukuman mati.

Prosesi macam apa yang anda jalani di malam eksekusi mati seorang narapidana?
Pertama kamu harus membuat kesepakatan dengan jaksa. Kalau kamu mau menandatangangi dokumuen yang mereka berikan, kamu bisa bertemu dengan narapidana mati dan menemani mereka sampai sesaat sebelum eksekusi digelar. Saya menemani mereka dari sel penjara mereka hingga ke dalam mobil yang membawa mereka sampai ke titik eksekusi. Biasanya, saya cuma bicara dan mendengarkan apa yang mereka katakan selama satu jam atau lebih. Sipir penjara biasanya selalu marah-marah selama saya di sana dan narapidana pun berterimakasih kepada para sipir itu.

Lalu, narapidana mati dibawa ke gerbang lapas dan diserahkan ke polisi. Oleh polisi, mereka akan diborgol dan diikat kain putih yang kamu sering lihat di TV. yang paling menyedihkan adalah polisi memasang rantai di kaki terpidana mati yang akan dieksekusi.

Begitu mereka diikat ke tiang salib, saya dapat jatah tiga menit bersama mereka sampai sipir penjara menyuruh saya menjauh.

Jaddi Romo benar-benar berada di lokasi sampai eksekusi beres?
Untuk beberapa eksekusi terakhir [misalnya dalam eksekusi Chan dan Sukamaran—_red_], saya tidak diperkenankan berada di lokasi eksekusi. Alasannya karena saya adalah salah satu saksi penting. Mereka tak membiarkan saya di sana, lantaran aparat takut para narapidana mati akan meregang nyawa cukup lama sebelum meninggal.

Selain anda, jaksa, dan eksekutor, siapa lagi yang ada di lokasi?
Ada dua pendeta bala keselamatan, dua pendeta Katolik, dua Pendeta Protestan dan dua ulama. Mary Jane Veloso di malam itu selamat dari hukuman mati, jadi dia tak ada di lokasi. Yang ada hanya salib yang diperuntukan bagi Mary. Kami semua berusaha menyanyi beberapa kidung pujian. Kami berusaha manyanyi bersama-sama. Lalu, tiba-tiba terdengar suara tembakan.

Pelaksana eksekusi membawa jenazah terpidana mati ke sebuah kamar mayat dadakan dan kami kembali ke pelabuhan untuk berkumpul dengan keluarga mendiang terpidana mati.

Menurut Romo, adakah perubahan sikap penduduk Indonesia terhadap pelaksanaan hukuman mati?
Saya melihat ada semacam perubahan, walau perlahan. Sekarang, banyak sekali orang yang menentang pelaksanaan hukuman mati dan bisa berempati dengan kerabat terpidana mati. Kendati masih saja yang bilang, “Oh merekan kan pecandu narkoba, sudah sepantasnya ditembak mati,” orang kini lebih welas asih. Saya sering dapat telepon dari orang yang yang menanyakan apa yang mereka bisa lakukan untuk menghapus pelaksanaan hukuman mati. Kami akhirnya bekerja sama. Saya sangat gembira atas semua respon yang saya dapat.

Apakah Romo memetik pelajaran penting tentang tabiat manusia setelah berulang kali mendampingi terpidana mati di akhir hidup mereka?
Pada dasarnya semua manusia sama. Yang namanya orang jahat bisa ditemyi di mana saja di dunia ini. Ada pula orang yang cuma berbuat salah. Kita seharusnya berteman dan mengasihi mereka. Kami berusaha mendengarkan keluh kesah mereka. Orang selalu bilang yang mati pasti “masuk” ke surga. Menurutku, mereka tak pergi kemana-mana. Jiwa mereka hanya terpisah dari ruang dan waktu. Lantas yang berat adalah mendampingi mereka yang ditinggalkan melewati masa-masa duka mereka.

Tiap orang pasti pernah berbuat salah—kita semua ini pendosa. Saya yakin sekali hanya ada pendosa di dunia ini. Tak satupun dari kita diciptakan sempurna.

Kami pasti pernah mendengar orang berkata “Tapi kan terpidana mati ini mati dengan bahagia.’ Itu omong kosong belaka. Tiap terpidana mati sejatinya jengkel dan marah. Mereka tak pernah mau dieksekusi. Kenyataannya seperti itu. Tapi, mereka berusaha kelihatan tabah demi keluarga mereka. Ini dia yang salah. Hukuman mati adalah sebuah kesalahan besar. Sudah sepatutnya tak dilaksanakan lagi.

Apakah Romo mengalami pergulatan iman akibat penugasan ini?
Ada masanya ketika saya sampai kesulitan bicara karena emosi yang membeludak. Saya tak biasa menangis dan lebih sering terdiam jika melihat orang lain menderita. Tapi ini semua sudah jadi peranan yang harus saya tanggung dalam pelaksanan eksekusi.

Saya juga tak takut mati, tak pernah sama sekali. Kita cuma akan pindah ke dimensi lain. Gembira hati saya bila bisa membuat duniaini lebih nyaman ditinggali. Menurut saya, kita seharusnya melupakan bahwa kita bakal naik ke surga. Yang penting adalah membuat dunia ini lebih baik dari sekarang.

Tapi, menjadi pendamping narapidana mati pasti memiliki dampak emosional terhadap diri Romo kan?
Lupakan saya—jangan fokus sama cerita saya. Perhatikan saja para terpidana mati dan keluarga mereka. Semua berusaha tabah agar bisa meringankan beban terpidana mati. Tapi, kadang kerabat terpidana tak mampu berpura-pura lagi. Kenyataan terlalu pahit di depan mata mereka dan emosi datang tanpa bisa dicegah.

Follow Denham di Twitter.