Iklan
Sepakbola

Konflik Hong Kong-Tiongkok Melebar Sampai Kualifikasi Piala Dunia Sepakbola

Warga Hong Kong yang pro-demokrasi menghina lagu kebangsaan Tiongkok sebelum pertandingan lawan Iran pekan lalu. Bukan kali ini saja protes politik dilakukan Hong Kong untuk melawan tirani Beijing.

oleh Meera Navlakha; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
12 September 2019, 3:55am

Pendukung sepakbola menunjukkan solidaritas mereka dengan memperolok lagu kebangsaan Tiongkok yang dinyanyikan selama kualifikasi Piala Dunia Hong Kong vs Iran pada 10 September 2019. Foto oleh Athit Perawongmetha via Reuters

Pengunjuk rasa pro-demokrasi Hong Kong memanfaatkan segala ruang publik untuk menggelar demonstrasi, mulai dari taman hingga bandara. Untuk aksi protes terbarunya, mereka memperolok lagu kebangsaan Tiongkok “March of the Volunteers yang dinyanyikan dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia Hong Kong vs Iran di Stadion Hong Kong pada Selasa, 10 September 2019.

South China Morning Post melaporkan aksi massa juga menyanggupi seruan online untuk membentuk rantai manusia panjang selama pertandingan yang disiarkan di televisi dan dihadiri 13.942 penonton.

Sebelum kick-off, ratusan penggemar sepakbola menyanyikan “Glory to Hong Kong”, yang diakui sebagai lagu kebangsaan baru Hong Kong.

Dilansir The Wall Street Journal, beberapa aksi massa tampak mengacungkan jari tengah saat lagu kebangsaan Tiongkok dinyanyikan, sementara lainnya membalikkan badan.

Tindakan ini dianggap sebagai pelanggaran, karena lagu kebangsaan yang diusulkan masih dalam pengerjaan. Dengan RUU yang masih berlaku, bentuk penghinaan atau perubahan apa pun terhadap lagu kebangsaan Tiongkok termasuk tindakan kriminal. Para pelanggar bisa dihukum penjara hingga tiga tahun, atau didenda HK$50.000 (Rp89,8 juta).

Sebagai Daerah Administratif Khusus Tiongkok, Hong Kong secara resmi mengadopsi lagu kebangsaan Tiongkok setelah dikembalikan oleh Britania Raya pada 1997.

Ini bukan aksi unjuk rasa pertama yang dilakukan warga Hong Kong dalam pertandingan sepakbola. Pada November 2015, penggemar sepakbola menghina lagu kebangsaan Tiongkok ketika klub Hong Kong melawan Tiongkok daratan setelah demonstrasi besar-besaran Gerakan Payung diadakan. Sejak itu, semakin banyak demonstrasi serupa yang digelar.

Selama 14 minggu terakhir, warga Hong Kong telah melaksanakan serangkaian aksi protes menolak RUU Ekstradisi. Meski kini sudah ditarik secara resmi, pawainya masih berlanjut seiring dengan bertambahnya tuntutan.

Follow Meera di Twitter dan Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.