That Was Easy

Setelah Coba Menembak Pakai Peluru Tajam, Aku Paham Kenapa Indonesia Batasi Senjata Api

Aku yang gampang kaget dan tak pernah pegang pistol ternyata bisa menembak. Tapi latihan sama pro wajib banget, sebab senjata api amat berbahaya, dan ga bisa buat pamer seperti saat kalian main PUBG.

oleh Elisabeth Glory Victory; foto oleh Muhammad Ishomuddin
23 September 2019, 7:40am

Menembak dengan senapan ternyata mengajarkanku soal ketenangan batin. Semua foto oleh Muhammad Ishomuddin.

Semua jagoan di film-film laga tuh kayaknya selalu punya kemampuan menembak. Mau cewek ataupun cowok, semuanya jadi jago pakai pistol ketika harus menghadapi penjahat. Makanya, ketika ada tawaran kantor untuk menghidupkan lagi kolom legendaris VICE "That Was Easy" (yang isinya kita berlatih melakukan skill-skill berbahaya dengan bantuan profesional, seperti melompat dari ketinggian atau mematahkan besi pakai tangan kosong), yang terpikirkan olehku adalah latihan menembak pakai pistol dan peluru tajam beneran. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku yang jelas bukan tipe penyuka kekerasan ini kepengin merasakan pakai senjata api.

Aku segera menghubungi Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin), bertanya soal kemungkinan diizinkan latihan di Lapangan Tembak Senayan. Ternyata mereka menyambut baik niatku dong, yang datang tanpa persiapan kecuali semangat polos untuk belajar menembak.

Sejujurnya, aku dan pistol seharusnya tidak berjodoh. Aku jenis orang yang gampang kagetan. Misalnya aja ada yang menepuk bahuku selagi asyik mendengar earphone dan kerja, aku sangat mungkin melompat dan agak sedikit teriak. Gimana aku bisa menghadapi suara letupan pistol nanti coba? Selain itu, aku kayaknya enggak punya bakat jadi jagoan.

Sejak kecil aku pingin sekali ikut kelas bela diri seperti Taekwondo dan Karate. Tapi selalu dilarang sama orang tua karena takut anaknya jadi tomboy, atau cedera. Untungnya sekarang aku udah dewasa. Tahun ini aku sudah masuk usia legal untuk membuat pilihan sendiri tanpa harus diarahkan lagi sama KPAI.

1569223468566-DSC08289
Walaupun deg-degan, aku memberanikan diri datang ke arena latihan tembak Perbakin di Senayan, Jakarta Pusat.

Sifat gampang kaget itu untungnya tak sampai mengubur mimpiku jadi cewek garang ala-ala Leti dalam seri film laga Fast & Furious. Meski saat nonton film-film dengan kekerasan itu aku pun agak jeri, aku tetap berkeras pengin jadi jagoan suatu saat. Barangkali latihan menembak ini bisa membantuku merasakan sensasi jadi jagoan untuk beberapa menit saja. Ya enggak sih?!

Mendadak, mendekati hari H latihan, aku agak cemas. Aku terlanjur berjanji ke kantor latihan pakai senjata api dan peluru tajam betulan. Tapi aku tiba-tiba takut banget kalau terjadi hal tak diinginkan. Pikiranku jadi enggak fokus. Tapi sudahlah, minatku jadi jagoan lebih kuat. Kumantabkan niat melangkah ke lapangan tembak Senayan.

Di Hari H, pukul 14:30 WIB, aku tiba di shooting range Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin). Di sana aku disambut Caesar, asisten pelatih Perbakin.

"Caesar mbak, Caesar salad. Kayak gitu," ujarnya memperjelas cara penyebutan namanya. Caesar adalah bekas atlet menembak. Untunglah Caesar ramah, aku jadi lebih rileks. Sumpah, melihat suara dentuman senjata api di kejauhan makin membuatku dag-dig-dug.

Caesar lantas mengantarkanku ke arena tembak reaksi. Istilah menembak sebagai sarana olahraga adalah tembak reaksi. Di lokasi latihan, berdiri Samuel, instruktur utama yang saat itu sedang melatih tamunya.

Pak Sam, panggilan akrabnya, ikut menyapaku. Kemudian tanpa banyak basa-basi bertanya "bawa kacamata?" Waduh, harus bawa begituan emang ya? "Enggak pak," jawabku lirih.

Jadi guys, kacamata itu penting banget untuk siapapun yang latihan menembak. Alasannya, kita gak tahu ke arah mana peluru akan memantul. Bisa aja ke arah muka, atau even worse ke mata kita sendiri.

Untungnya para pelatih di sana sudah sering menghadapi keteledoran bocah sepertiku. "Ini kacamata," kata seorang pelatih lain, sambil menyodorkan kacamata hitam ala bapak-bapak yang mancing di laut.

1569224052547-DSC08307
Aku dapat penjelasan dari Pak Sam lebih dulu sebelum diizinkan memegang pistol.

Aku tidak langsung menembak. Aku diminta mengamati dulu tamu-tamu yang datang sebelumku. Mereka sedang berlatih menggunakan senjata yang jauh lebih gede daripada yang kubayangkan. Alih-alih menggunakan pistol alias handgun, mereka menggunakan rifle besar dengan suara letusan duahsyat.

"Dor!!!"

Asli suaranya kenceng banget. Kagetku kambuh lagi. Pak Sam tampaknya tahu, melihat mukaku yang pucat. "Kenapa? Kaget?"

Aku awalnya mau ngeles karena takut nanti dilarang berlatih memegang senjata karena kagetan. Tapi karena ekspresiku yang gak bisa bohong serta tatapan mata si bapak yang tajem, ya sudah kuakui saja.

"Lah nanti kalau nembak kaget sendiri gimana?" tukas Pak Sam cepat. Tuh kan! Untungnya aku masih diijinkan mencoba beberapa kali. Selang beberapa menit, tamu lain di arena tembak beristirahat. Saatnya Ory beraksi!

Senjata pertama yang dikenalkan padaku adalah Metrillo handgun. Bentuknya mirip sama yang di game PUBG itu lho. Tipe ini dapat menampung maksimal sembilan peluru dalam satu magazine (istilah teknis untuk tempat peluru). Dengan berat kurang lebih satu kilogram, pistol ini efektif untuk kegiatan menembak yang butuh respons cepat dan jarak dekat.

Ternyata aku diajari memegang pistol tanpa peluru. "Buat belajar harus kosongan," kata Pak Sam. Jujur, ternyata memegang pistol itu berbeda dengan yang digambarkan di film-film laga. Kalian sering kan lihat aktor di film action bisa memegang pistol pakai satu tangan, sambil loncat atau tiduran bahkan. Atau kalau enggak mereka terlihat sangat kaku dengan dua tangan memegang erat pistolnya.

Ternyata postur kayak gitu tidak disarankan oleh para profesional. "Harus rileks. Lihat tangannya ya ini harus rileks. Kalau terlalu tegang nanti kamu bidiknya gak maksimal," kata Pak Sam.


Tonton dokumenter VICE soal sekolah menembak bawah tanah di Filipina


Tidak hanya genggaman tangan yang harus rileks, namun lengan serta pundakku juga harus dilemaskan. Kaki pun sebisa mungkin stabil. Biasanya kaki diarahkan berdiri selebar pundak. Kalau tidak tembakan menyasar jauh dari harapan. "Tangan yang kanan ini genggam dan tarik pelatuk, yang kiri genggam supaya menahan hentakannya. Jika memang belum mau menembak jari harus selalu di luar pelatuk," kata Pak Sam, sabar banget menghadapiku yang bebal ini selama latihan.

Menggenggam pun harus spesifik caranya man-teman. Telunjuk diselaraskan dengan laras pistol, jempol kanan disandarkan pada sebuah pembatas khusus. Tangan kiri diletakkan di depan tangan kanan dan secara rileks menggenggam bagian depan pelatuk.

Usai belajar menggenggam Pak Sam meminta aku menjulurkan tangan. "Jangan tegang seperti itu! Rileks tangannya, boleh lurus tapi rileks."

1569223599368-DSC08407
Semua gagasanku soal cara megang pistol hasil belajar dari film action Hollywood ternyata keliru.

Waduh bingung deh. Padahal tadi di otak aku udah membayang-bayangkan sosok Angelina Jolie di film Wanted. Yah mau sekeren dan seanggun apapun gaya menembak doi, ternyata tidak bisa dicontoh gengs.

Semua instruksi ini jadi membuat ku bertanya-tanya pada para instruktur, "lah berarti yang di film-film action itu, bohongan ya? Sebenernya bisa gak sih nembak satu tangan?"

"Yah bisa sih, tapi enggak kayak yang film juga. Berlebihan itu," jawab Pak Sam sambil nyengir. Memang kelihatannya pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik setiap anak baru yang belajar menggunakan senjata. Hadehh...

Tahap yang kedua , setelah lebih menguasai cara menggenggam aku berfokus pada target. Tapi jangan salah ges, bukan berfokus pada kertas targetnya melainkan pada titik merah di pistol yang aku pegang itu. Yes, kalau kalian melihat design pistol dan di atas laras ada pentul satu nyasar di antara kegagahan senjata. Itu penting supaya tembakan kita tepat sasaran.

Intinya, setelah lewat setengah jam latihan, mitos tembak-menembak yang selama ini kuketahui segera diruntuhkan oleh instruktur Perbakin. "Jadi kita fokus ke target, kita lihat targetnya (titik merah di pistol) itu berada di sekitar titik hitam. Kalau sudah merasa yakin, baru jari dilepas dari samping laras dan dimasukkan ke pelatuk," urai Richard, instruktur tembak reaksi lainya yang menemaniku berlatih.

"Jadi mana yang buram? Yang titik merah atau yang item [di kertas target]," tanya si bapak, tampaknya untuk ngetes aku. Sontak kujawab "ehm, yang merah?!"

"Iya bener jadi kamu fokus sama yang merah!” tegasnya. Untungnya jawabanku bener, padahal aku sih asal menebak saja.

Oke pindah ke tahap ketiga, sekarang tiba saatnya pull the trigger! Aku diinstruksikan pelan-pelan menarik pelatuk pistol. Bila diumpamakan guys, menarik pelatuk itu kayak mencet jerawat. Kenapa mencet jerawat? Karena harus PELAN-PELAN, kalau kata instrukturnya "biarkan meletus sendiri."

Dengan pistol kosong aku diminta untuk beberapa kali menarik pelatuk. Setelah beberapa kali dan dirasa lebih mantap. Akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Menembak pistol dengan peluru. “Oke sekarang coba satu ya,” dengan lincah Pak Richard memasukkan satu peluru ke magazine dan mengokang pistol. “Ckck” suaranya kali ini aku dengar langsung, bukan dari speaker arcade Time Crisis atau House of The Dead di Timezone.

Ya ampun guys, habis gini aku akan beneran nembak. Campur aduk deh perasaannya. Aku takut gitu kalau seandainya tangan aku yang jarang olahraga selain mencuci baju di kos-kosan ini terpelanting, dan nanti malah tembakannya nyasar ke sembarang arah. Melihat aku gelisah Pak Richard akhirnya memberi aku sepatah dua patah saran lagi.

"Pokoknya tangan kamu lurus aja, asal kamu tangannya gak miring. Serong sana serong sini, pasti aman. Gak usah takut, yang penting yakin aja.” Sambil menelan ludah aku berusaha untuk berfokus. “Kalau udah siap, ingat. Pelan-pelan nariknya." Melihatku masih takut-takut, Richard berinisiatif menahan tanganku. “Gini deh, saya tahanin tangannya. Pasti gak meleset jauh-jauh.”

Fiuh! “Oke, kalau gini pasti semua orang aman kan ya?” batinku. Aku akhirnya pun berusaha menumpuk kekuatan pada telunjuk kananku dengan penambahan kecepatan bertahap.

"Dor!"

Tembakan pertamaku melesat dan mengenai sasaran! Aku berlari mendekati papan target dan langsung memeriksa skor yang kudapatkan. "Tujuh!"

Ga buruk lah ya bagi pemula. Tentu ini semua udah melebihi ekspektasiku. Aku hanya berharap setelah liputan untuk artikel ini selesai aku enggak bertanggung jawab atas peluru nyasar. Aku tidak bisa menyembunyikan senyuman lebar dan keinginan untuk menari berjingkat.

"Loh udah bisa nari-nari sekarang?" ujar Pak Richard. Masuk ke percobaan kedua aku sudah boleh memasukkan peluru ke magazine sendiri. Di pistol tersebut ada sebuah slide untuk membuka magazine, setelah di dorong magazine akan turun dan siap diisi ulang. Cara mengisi magazine ternyata gak jauh-jauh amat dari ngisi stapler kertas kok. Sistemnya juga sama-sama menggunakan pegas. Kalau mau ditambah juga tinggal di dorong ke bawah.

1569223922334-DSC08343

Setelah terisi sesuai jumlah peluru yang diinginkan, magazine kembali dimasukkan ke pistol. Kontras dengan cara penggenggaman yang harus lembut dan penuh ketenangan, memasukkan magazine tidak boleh lemah lembut, menurut Richard. "Caramu terlalu lemes itu. Harus kasar!"

ingin ketawa aku rasanya. Senjata api memang dikeliling sejuta paradoks. Di satu sisi cara genggamnya harus lembut dan tenang, namun ketika mengokang dan memasukkan peluru ke magazine harus kasar. Paradoks lainnya adalah d imana pistol juga identik dengan kekerasan dan kematian, tapi pistol juga krusial untuk keamanan serta bela diri.

Sejak tembakan pertama aku mulai merasa tenang dan juga lega. Menembak tidak sesusah yang kubayangkan! Aku mulai bisa melemaskan tangan dan juga bernafas lebih teratur. Dengan menarik nafas panjang serta fokus ala macan (sesuai shioku), aku membidik target dan melepaskan tembakan kedua. Tidak kusangka-sangka. TERNYATA TEMBAKAN KEDUAKU MENDAPAT SKOR SEMPURNA!!! Iya ini pakai capslock semua karena memang sekaget itu dan tidak menyangka tembakanku sesempurna itu!

"Wah 10! Udah aku keluar aja. Udah bisa [nembak] nih dia, udah bisa," kata Richard.

1569223807935-DSC08401
Aku senang banget bisa dapat skor sempurna, walaupun kemungkinan cuma karena beruntung.

Woooooooo, apakah ini yang disebut beginner’s luck? Sumpah aku seneng bukan main, udah kayak mabuk kepayang. Gila aja ini bener-bener dapet ditengah men! Dan ini baru tembakan kedua huahahha. Gak bermaksud pamer sih, tapi yang penting klaimku valid lah ya, gak kayak klaim bersaing di Oscar padahal baru daftar. Akhirnya untuk menguji kemampuan menembakku lagi, aku kembali mengisi satu lagi peluru dan mencoba peruntunganku.

Pada kali ketiga ini instruktur memberi saran agar aku berlatih rileks lagi. "Tadi tembakan kedua udah sempurna skornya. Tembakan ketiga enggak usah ambisius. Biasanya penembak ada gengsi untuk mempertahankan. Udah ini tenang aja, musuh penembak itu bukan alatnya, tapi ketenangan diri sendiri."

“Duar!” tembakan kulepaskan. Aku memperoleh skor 9, tidak meleset jauh dari percobaan sebelumnya. Wah. Apakah ini pertanda aku lumaan punya bakat dan sebaiknya banting setir menjadi atlet tembak saja ya?

Tapi setelah mendengar berbagai penjelasan Pak Sam dan Richard dan merasakan sendiri menembakkan peluru tajam, aku sadar senjata api bukan untuk membantu siapapun jadi jagoan. Menembak justru bukan hobi ataupun olahraga yang cocok untuk orang emosian—apalagi yang gampang gugup sepertiku. Itulah kenapa Perbakin mendukung aturan pembatasan senjata api yang diterbitkan pemerintah Indonesia. Negara kita memang tidak seperti Amerika Serikat atau Swiss yang mengizinkan warga sipil menyimpan dan memiliki senjata api. Sejak 2009, Polri bahkan memoratorium penerbitan izin senjata api buat sipil.

Buat sipil yang hendak mengantongi izin pun, harus ada keterangan bahwa mereka sudah berpengalaman tiga tahun berlatih menembak, plus lulus menempuh tes psikologi dan kesehatan. Kalaupun ada warga sipil yang memenuhi semua persyaratan (dan punya duit mengingat beli senjata itu mahalnya bukan main), yang bisa dimiliki hanya jenis pistol ataupun shotgun, kaliber 32 ke bawah.

Bagaimanapun, senjata api memang bukan buat pamer kawan-kawan. Sudah berulang kali terjadi pistol disalahgunakan orang bermental koboi mengancam sesama pengendara di jalan raya (atau kalian ingat dong, kasus komedian Parto melepas tembakan karena emosi dikuntit wartawan gosip). Belum lagi masalah peredaran senpi ilegal yang masih menghantui Indonesia, karena seringkali senjata api itu jatuh ke tangan kelompok kriminal ataupun sel teroris.

Di sisi lain, setelah menyadari semua bahayanya, aku juga makin percaya diri. Aku berlatih bersama para profesional dari Perbakin dan berhasil mendapat skor nyaris sempurna. Akhirnya aku kepedean mencoba tantangan lebih berat: menembak pakai senapan alias rifle. Untungnya Pak Sam mengizinkan. Dengan teknik yang kurang lebih sama seperti pistol, aku membidik pada target. Ternyata senapan rifle lebih mudah sih menurutku guys, dan aku juga berhasil mendapatkan skor nyaris sempurna.

Aku bertanya pada Pak Sam, apakah belum terlambat bagiku ganti haluan jadi atlet tembak reaksi. Dia sih bilang aku boleh mencobanya, tapi aku sekarang sukses untuk menembak target yang diam. Aku belum merasakan dulu menembak untuk kepentingan berburu atau tembak reaksi sungguhan.

"Jadi enggak telat [kalau mau belajar serius jadi atlet]. Kan semua ada kategorinya," jawab Pak Sam.

1569224130853-DSC08393
Sepulang latihan di Perbakin, aku yakin bisa banting setir jadi atlet tembak reaksi kalau-kalau karir sebagai jurnalis nanti mentok.

Oke deh. Setidaknya, semua tujuanku tercapai hari itu. Aku bisa kembali menghidupkan kolom di VICE yang lama hiatus, menghadapi rasa kagetku dan ketakutanku yang berlebihan sama senjata api. Plus, aku tak lagi berpikir pistol membuatku bisa seperti jagoan. Aku harus jadi manusia yang lebih tenang dan dewasa untuk coba-coba menembak. Sebab menembak bukan sekadar perkara menarik pelatuk.

Aku pulang dengan bahagia sore itu setelah berpamitan dengan para instruktur dari Perbakin. Aku merasa jadi pribadi yang lebih baik, lebih berani, dan yang penting, aku punya alternatif karir kalau-kalau kelak ternyata mentok menekuni dunia menulis dan membuat konten untuk instagram.