Iklan
The VICE Guide to Right Now

Harap-Harap Cemas Menanti Erupsi Besar Gunung Agung

Pertanyaan bagi vulkanolog, dan dinantikan jawabannya oleh warga, kapan letusan gunung suci di Bali itu mencapai titik klimaksnya? Momen bahaya bisa berlangsung berbulan-bulan.

oleh VICE Staff; foto oleh Danar Tri Atmojo
27 November 2017, 11:53am

Pelajar berangkat ke sekolah di Desa Kubu, jaraknya 12 kilometer dari puncak Gunung Agung. Semua foto oleh Danar Tri Atmojo.

Gunung Agung, Bali, sudah mulai meletus sejak pekan lalu, namun kapan aktivitas vulkaniknya mereda menyisakan tanda tanya. Pejabat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan kebijakan yang bisa mereka ambil hanya meningkatkan lagi status Gunung Agung menjadi 'awas'—yang artinya adalah evakuasi total penduduk sipil dari zona merah—setelah sempat turun menjadi 'siaga'. Ancaman yang kini sewaktu-waktu menghantui penduduk di sekitar lereng Gunung Agung adalah awan panas dan banjir lahar dingin.

Sudah dua bulan lebih aktivitas puncak tertinggi Bali yang disucikan itu menghantui warga. Pariwisata terdampak paling awal, lantaran banyak turis membatalkan kunjungan akibat khawatir pada dampak letusan Gunung Agung.

Bandar Udara Internasional Ngurah Rai sudah merasakannya saat erupsi kedua kalinya terjadi. Operasional bandara terpaksa dihentikan selama 18 jam, memicu keterlambatan penerbangan bagi belasan ribu turis mancanegara. Data yang diterima VICE Indonesia mencatat bahwa ada penurunan kunjungan wisatawan ke Bali hingga 30 persen sejak akhir Oktober lalu, akibat aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Abu letusan Gunung Agung bisa menjangkau wilayah yang berjarak puluhan kilometer. Sedangkan dampak merusak, apabila terjadi letusan besar, paling dirasakan penduduk 22 desa di Kabupaten Klungkung dan Karangasem. Kepala Bidang Mitigasi PVMBG I Gede Suantika sudah mewanti-wanti agar seluruh aparat dan penduduk bersiap dengan aktivitias ringan yang terus berubah saban hari, sebelum erupsi besar tiba. "Jika acuannya 1963, maka letusan efusif seperti sekarang ini terjadi selama sebulan sebelum letusan eksplosif," ujarnya saat dihubungi media.

Saat ini, dampak erupsi paling parah mempengaruhi ratusan ribu penduduk yang tinggal di zona merah, kawasan radius 10 kilometer dari puncak Gunung Agung. Selain mereka, penduduk di sungai-sungai yang bisa terkena banjir lahar dingin, yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu, juga punya risiko terdampak. Terakhir kali Gunung Agung meletus, yakni 1963, lebih dari 1.500 orang tewas akibat hawa panas dan lahar dingin.

Kepanikan, uniknya, tak terasa di kawasan yang rentan terdampak. Ambil contoh Kubu, desa yang jaraknya cukup dekat dari puncak Gunung Agung. Warga terus beraktivitas seperti biasa. Pelajar tetap berangkat ke sekolah. Aparat desa dan warga tidak menyiapkan rencana evakuasi, karena daerah mereka tidak masuk zona berbahaya. Namun jarak yang hanya 12 kilometer dari puncak tetap menyisakan peluang munculnya ancaman.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan sudah ada tanda perubahan erupsi dari fase freatik ke magmatik. Asap yang membumbung makin hitam pekat. Artinya, erupsi skala besar sudah di depan mata. "Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual," kata Sutopo Purwo Nugroho, juru bicara BNPB.

Petani dari Desa Tulamben, saat diwawancarai fotografer VICE, mengaku akan tetap mengurus lahannya, kendati letusan Gunung Agung memburuk sekalipun. Dia hanya berharap letusan nantinya tidak sampai berdampak ke kebun kacang yang dia kelola, maupun bisa mempengaruhi kesehatan delapan sapi peliharannya. "Memang ini seperti berjudi," ujarnya. "Saya berjudi dengan Gunung Agung. Jika letusan akhirnya terjadi dan lahan saya hancur, ya sudah dia menang."g a bet with Mount Agung. If the mountain erupts and it destroys my land, then it wins."

Laporan ini masih akan terus berlanjut, dan data-datanya dapat dimutakhirkan, seiring perkembangan aktivitas Gunung Agung

Berikut laporan-laporan dari VICE Indonesia sebelumnya tentang aktivitas Gunung Agung:

Menyusuri Desa Hantu Dekat Puncak Gunung Agung

Para Penyelamat Anjing di Lereng Gunung Agung

Seri Foto Saat Warga Memanjatkan Doa Kepada Roh Gunung Agung

Wejangan Pakar Vulkanologi, Mbah Rono, Kepada Pengungsi di Bali