Semua foto oleh Jamie Fullerton

Cobalah Sensasi Ngopi Ditemani Tarantula dan Kalajengking di Kamboja

Si pemilik kafe, Chea Raty, memulai usahanya dengan seekor igunana. Kini, Raty memiliki bulus, kadal naga berjenggot, katak bertanduk serta spesies reptil dan laba-laba lainnya.

|
Ags 12 2018, 6:30pagi

Semua foto oleh Jamie Fullerton

Kalau kalian sudah cukup kenyang melancong ke kota-kota besar di Asia atau setidaknya sering kali membaca artikel-artikel MUNCHIES yang dipajang di websiteini, kamu mungkin tak mengenyitkan jidat saat mendengar konsep kafe binatang.

Kafe kucing, di mana kopi pesanan kita sering dapat bonus bulu kucing sebagai taburan tambahan dan menu tambahan kelucuan kucing yan tak terbatas, pertama kali populer di Taiwan.

Kini, kafe-kafe semacam ini jamak ditemui di seluruh penjuru dinia. Di Seoul, meerkat dan rakun “dipekerjakan” sebagai freelancer di kedai-kedai kopi. Sementara itu, di Tokyo menikmati secangkir cappucino di sebelah seekor burung hantu sudah jadi bagian keseharian penduduknya.

Industri kafe yang banyak bertumpu dari keinginan pelanggan untuk mengambil swafoto mulai tumbuh meski belum menjamur di Kamboja. Kultur kafe di salah satu negara Asia Tenggara tumbuh pesat seiring naiknya pembelanjaan generasi muda kelas menengah setempat—semuanya, tentu saja, berkat perekonomian yang kamboja yang terus membaik. Nyaris semua kafe yang ditemui di ibukota Kamboja, Phnom Penh, berbentuk kadai kopi konvensional—seperti Starbuck, kafe-kafe indie Tini, dan jaringan waralaba setempat Brown. Boro-boro ada meerkat, burung hantu, apalagi kalajengking yang lalu lalang di kafe-kafe macam itu.

Kondisi ini menguntungkan Reptile Café, kafe kecil baru di kawasan Russian Market yang kian hari-hari makin padat namun trendi. Reptile Café sudah terasa unik—bahkan sebelum pemiliknya Chea Raty menaruh seekor tantula besar di tatakan cangkirku.

“Kedai kopi jumlahnya sudah banyak banget di kota ini,” kata Chea (32), selagi binatang berbisa dan berbulu pelan merayap di dekat cangkir kopi pesananku. “Aku cuma pengin melakukan sesuatu yag berbeda.”

Kalau cuma ingin berbeda, Chea sebenarnya sudah bisa cukup berhasil. Kafenya menarik berbagai macam pelanggan. Di belakang Chea, seorang perempuan berdiri dengan seekor ular berwarna orenye dan merah di lengannya. Tak ada rasa takut sedikit pun tersirat di wajah perempuan itu. Ular itu sudah seperti perban warna-warni saja di tangannya. Seorang wartawan The Phnom Penh Post asyik mentik di laptopnya.

Di depannya, seekor burung beo nangkring di sebuah kursi. Pelanggan lainnya tampak sibuk menyeruput smoothie mangga. Tak jauh darinya seekor kalajengking merayap di atas meja. “Lihat sendiri kan?” kata Chea, sambil dengan santai menjepit salah satu kaki tarantula dengan jempol dan telunjuknya lalu mengibas-ngibas hewan berbahaya itu. “Beda kan kafe saya ini?"

Ide mendirikan Reptile Café terbersit di kepala Chea empat tahub lalu saat Chea—yang berasal dari provinsi Banteay Meanchey di barat laut Kamboja—jatuh cinta pada iguana gara-gara sebuah acara TV. Dia lantas memesan satu ekor bayi iguana dari penjual bintang di Poi Pet, dekat perbatasan Thailand, tak beberapa jauh dari tempatnya tumbuh desa. Setelah berhasil mengembangbiakan kadal besar itu hingga dewasa, Chea ingin sekali memamerkan iguana, yang bukan hewan endemik di Kamboja, ke banyak orang. Tak mau pusing, Chea segera membuka sebuah kafe sembari tetap memburuh di perusahaan telekomunikasi di Kamboja.

Kadal populer sebagai peliharaan di banyak negara, tapi tidak di Kamboja. Spesies satu ini dianggap lebih pantas merayap di dinding bar daripada ditaruh dalam kandang di rumah. “Orang sini biasanya bilang ‘Gila kamu ya? Kenapa enggak memelihara kucing atau anjing saja sih?’” kata Chea. “Tapi, di mataku, iguana itu lucu.”

Chea lantas menemukan dirinya bisa dengan gampang memeroleh iguana, ular dan rupa-rupa hewan eksotis lainnya dari penjuang hewan peliharaan di Poi Pet. hewan-hewan ini dibawa masuk ke Kamboja dari Thailand. Tak butuh waktu lama, Chea mengisi kandang-kandang kaca-kac yang mulai memenuhi ruang kafe dengan rose hair tarantula, bulus sulcata Afrika, kadal naga berjenggot, katak bertanduk Amrika Utara hingga Kalajengking hutan hitam.

Koleksi kebun binatang kecil ini masih ditambah lagi seekor beo Makau, yang diimpor dari Thailand juga dan dititipkan salah pelanggan di kafe. Jika Chea tak menaruh salah satu koleksi binatang eksotis di mejamu begitu kamu masuk restoran, kamu bisa memilih hewan kesukaanmu dan mengambilnya langsung dari kandangnya. Organisasi pecinta binatang macam PETA barangkali tak akan menyukai ide kafe ini. Namun, beberapa waktu lalu, sekelompok biksu mampir ke kafenya. Konon, mereka tak merasa menyalahi nilai-nilai yang mereka pegang teguh saat mengelus-elus kadal. Kalau sudah begini, saya mau bilang apa coba?

Di awal kemunculannya, Reptile Café jadi buah bibir di Phnom Penh. Sebelumnya, hewan yang kelihatan berkeliaran di kedai kopi adalah kecoa dan segelintir binatang di dekat Zoo Café. Walaupun koleskinya masih terbatas—sejauh ini seekor rakun, beberapa monyet dan satu iguana kecil—Zoo Café kelihatan lebih profesional. Interior bangunannya dihiasi oleh tanaman gantung dan sejumlah mural. Zoo Cafe juga baru dibuka tahun ini. Jika sukses, Phnom Penh mungkin akan sejajar dengan Tokyo dan Seoul dalam kancah bisnis kafe hewan peliharaan.


Tonton dokumenter nyeleneh MUNCHIES soal tips memasak dengan bahan hanya dari mesin otomatis di Tokyo:


Begitulah. Kafe ini dimulai sebagai kafe sederhana tanpa konsep aneh, namun Chea punya rencana besar untuk membesarkan bisnsnya. Saat saya bangkit untuk pamit, Chea berjalan menuju bagian belakang kafenya dan kembali membawa satu kotak berisi dua buah telur kecil. Bentuknya mirip telur dinosaurus palsu dari set Jurassic Park: Fallen Kingdom.


Keduanya adalah telur kadal. “Saya cuma pengin mengenalkan reptil pada penduduk Kamboja,” begitu pengakuan Chea. “Saya sedang berusaha mengembangbiakan iguana—saya punya sepasang, jantan dan betina. Saya punya impian bikin peternakan kadal.”

Dia lalu tertawa selagi salah satu kalajengkingnya menyerang lensa kamera saya.


Jika ingin mampir ke kafe ini, cek informasi diakun Facebook mereka.

Follow Jamie di akun Twitter: @jamiefullerton1

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES

More VICE
Vice Channels