Iklan
Views My Own

Alasan Pemilihan Sosok Perempuan Asia Untuk Memerankan Nagini di ‘Fantastic Beasts’ Sangat Problematis

Keputusan ini memicu banyak obrolan tentang kecenderungan JK. Rowling untuk memperkenalkan keanekaragaman secara retroaktif.

oleh Nicole Clark
28 September 2018, 10:37am

Cuplikan dari ‘Fantastic Beasts: Crimes of Grindewald’ trailer 

Trailer Fantastic Beasts: Crimes of Grindelwald yang baru rilis mengungkap sebuah karakter yang sangat dinanti-nantikan sekaligus tidak diinginkan penggemar. Ternyata, ular Voldemort, Nagini—salah satu horcrux terakhirnya—adalah seorang perempuan Asia selama ini. Di Twitter, J.K. Rowling mengaku telah menyimpan rahasia ini selama 20 tahun, dan berseru bahwa Nagini bukan Animagus melainkan Maledictus. Dalam muggle-talk, Animagus adalah seorang penyihir yang dapat memilih untuk berubah wujud menjadi hewan, sesuai kehendaknya. Misalnya, Sirius Black sebagai anjing hitam atau Peter Pettigrew sebagai tikus peliharaan Ron Weasley, Scabbers. Seorang Maledictus adalah seorang perempuan yang dikutuk menjadi binatang secara permanen—yang berarti perempuan Asia, Nagini, terperangkap di dalam tubuh ular.

Tidak ada cara untuk mengantisipasi plot film yang dirahasiakan begitu ketat, tetapi trailer itu sendiri telah melanggengkan sejumlah stereotip berbahaya tentang perempuan Asia. Nagini, diperankan oleh Claudia Kim, berada dalam sangkar sementara penonton menyaksikannya berubah menjadi seekor ular, menggemakan citra “dragon lady” yang seksi dan berbahaya. Dia juga secara harfiah menjadi rumah bagi sepenggal jiwa Voldemort, bertindak sebagai penjamin keabadiannya, dengan demikian merombak kiasan perempuan Asia sebagai subjek yang patuh. Itu sangat menyakitkan karena Nagini akan menjadi karakter penting kedua di alam semesta Harry Potter sebagai perwakilan Asia Timur, setelah Cho Chang sebagai pacar pertama Harry.

Ini bukan pertama kalinya Rowling merevisi karya-karya lamanya supaya menunjukkan inklusivitas (ke titik di mana ia telah dijadikan satir oleh Clickhole). Keinginan yang tulus untuk melakukan diversifikasi dan menampilkan yang terpinggirkan adalah tujuan yang baik, dan beberapa upaya Rowling sebetulnya positif, seperti mempekerjakan Noma Dumezweni untuk memerankan Hermione dalam drama Harry Potter and the Cursed Child dan mengatakan bahwa dia “ menyukai karakter Hermione berkulit hitam.” Meski bersikeras bahwa Hermione bukan perempuan kulit putih sangat meragukan—terutama setelah meng-casting Emma Watson untuk delapan film Harry Potter dan menulis bagian-bagian yang mencakup frasa seperti, “ wajah putih Hermione”—keputusan untuk meng-casting kembali Hermione sebagai perempuan kulit hitam dalam drama, dan membela dia dari serangan rasis, adalah langkah ke arah yang benar.

Namun, upaya Rowling untuk melakukan diversifikasi lewat jalur revisionisme pada akhirnya menegangkan dan menyakitkan, karena jelas ia tidak dapat menulis ulang secara harfiah buku dan film demi memasukkan adegan, dialog, dan eksposisi yang akan mewujudkan narasi keragaman ini menjadi kenyataan konkret. Hanya karena sesuatu masuk akal bukan berarti itu telah terjadi. Jika Dumbledore benar-benar gay, maka dia menghabiskan seluruh tujuh buku menyembunyikan identitas seksualnya. Tidak ada penanda yang kuat untuk mengonfirmasi pengalaman homoseksual di kehidupannya, tidak ada representasi yang mungkin menyiratkan kepada pembaca muda dan gay bahwa mereka juga bisa tumbuh menjadi penyihir paling kuat di dunia. Untuk mengklaim bahwa kekuatan semacam itu di kemudian hari tidak hanya konyol, tetapi sangat tidak sopan.

Dengan cara yang sama, merupakan sebuah tragedi bahwa kita harus membayangkan kembali begitu banyak momen penting dari buku dan film asli dengan Nagini versi Kim. Kalau kamu ingat, Nagini berliku di antara orang mati dan sekarat selama pertempuran Hogwarts yang luar biasa. Nagini dibelai dengan tangan dingin Voldemort. Nagini menggigit Snape sampai mati, salah satu adegan film yang paling emosional sekaligus menyayat hati, yang mengungkapkan Snape sebagai salah satu pahlawan sejati seri ini. Nagini berulang kali “ diperah” oleh Voldemort di buku-buku. Mungkin film ini akan mencoba untuk menumpulkan fakta-fakta ini melalui trik narasi, atau dengan membebaskan Nagini-si-perempuan-Asia dari belenggunya? Voldemort terkenal karena memperbudak Pelahap Mautnya dengan mengancam mereka dengan kematian—tetapi mungkin Nagini hanyalah budak dari tubuh ularnya dan bukan budak Voldemort? Peng-casting-an ini kacau balau.

Banyak dari kita masih akan menonton film ini demi menghormati seri yang begitu mewarnai masa kecil kita. Saya masih mencintai seri Harry Potter yang orisinal—serangkaian buku-buku tebal dan alam semesta sinematik yang menyentuh setiap elemen kehidupan remaja saya, dan menjadi bahasa universal antara saya dan teman-teman saya. Begitu banyak asal-usul fantasi ini bersifat eurosentris, yang dipimpin oleh karakter berkulit putih pucat yang memecahkan sejumlah dilema paling rumit di dunia. Kita tidak dapat mengubah masa lalu itu, dan itu tidak merampas kualitas-kualitas baik yang seri ini miliki. Harry Potter akan selalu berdiri sebagai salah satu mahakarya paling tangguh dalam bacaan anak-anak. Tetapi keinginan yang terus-menerus untuk merevisi para karakternya untuk menunjukkan inklusivitas melenceng dari kebutuhan yang sangat nyata untuk menunjukkan keberagaman suara yang sesungguhnya. Dan membayangkan kembali Nagini sebagai perempuan Asia adalah, terus terang, penghinaan yang luar biasa.