Quantcast
Film Nostalgia

Anak 90'an di Indonesia Lebih Takut Film Vampir Cina Daripada Zombie

Masih ingat tradisi nonton film genre 'jiangshi' di TV Indonesia saban hari sabtu? Kami mengulik kenangan soal subgenre horor dari perfilman Hong Kong yang tak lagi populer sekarang.

Adi  Renaldi

Adi Renaldi

Kostum vampir Cina dalam perayaan Helloween di Osaka, Jepang. Foto via Wikimedia Commons / lisensi CC 4.0

Lupakan film Train to Busan yang cuma meniru genre zombie apocalypse ala Hollywood. Deretan film vampir Cina dari dekade 90-an menurut saya justru punya keunikan tersendiri dan layak mendapat remake. Film vampir cina memang enggak bikin ketakutan berlebih. Enggak juga dibintangi vampir ganteng dan cantik (baca: Twilight). Namun setidaknya film vampir cina memiliki kekayaan dari sudut pandang historis.

Dalam Bahasa Cina, sebutan mayat hidup yang jalannya melompat-lompat tersebut adalah jiangshi atau mayat kaku. Literatur soal jiangshi pertama kali muncul pada masa Dinasti Qing pada abad 17. Dia sebenarnya bukan vampir karena enggak minum darah, bukan pula zombie yang memakan daging atau menggigit untuk bertahan hidup. Gara-gara suka menggigit korban, judul film subgenre jiangshi di versi internasional selalu memakai sebutan vampir.

Terlepas dari miskonsepsi di atas, bumbu slapstick dan kung fu di kebanyakan genre jiangshi ini bikin ngetop sejak awal kemunculannya di pertengahan dekade 1980-an hingga akhir 1990-an. Yang bikin unik, alih-alih memakai salib untuk melawan vampir seperti di Eropa, protagonis di film vampir Cina memakai mantra kertas yang ditempel di jidat si vampir. Kalau vampir Hollywood harus dihalau dengan bawang putih, orang Cina cukup menahan nafas agar tidak terdeteksi si jiangshi.

Contohnya ya lihat saja adegan dari film Jiangshi Pa Pa (Son of the Vampire) produksi Taiwan yang rilis pada 1986 berikut. Semua unsur khas film vampir Cina ada di dalamya:

Akhir 1990-an, popularitas jiang shi meredup, digantikan oleh film-film yang lebih terpengaruh ke gaya Hollywood seperti Tokyo Zombie dan Zombie 108. Pada dasarnya memang karena genre jiangshi ini miskin ide dan plotnya membosankan. Berkisah seputar protagonis yang menemukan mayat kaku dan tidak sengaja mencabut mantranya serta harus berusaha untuk membasmi teror tersebut.

Dari berbagai kekurangan tersebut justru yang membuat jiangshi berhak hidup lagi di abad 21 ini. Kenapa Night of the Living Dead bisa meraup pengikut cult padahal plotnya juga sama? Kenapa The Walking Dead bisa dinanti-nanti orang padahal membosankan karena episodenya kelewat banyak macam sinetron Tukang Bubur Naik Haji atau Anak Langit?

Saya sendiri sih percaya, sekarang saatnya jiangshi bangkit lagi dan meneror generasi muda sekarang. Sampai ada produser di Tiongkok sana yang tertarik membuat remakenya, ingat-ingatlah: jiangshi dan pocong itu cuma beda di penampilan tapi enggak kalah mengerikan.

Nah, sebelum menirukan lagi adegan mayat hidup melompat-lompat, coba ingat lagi, apa film vampir cina favorit kalian?