Iklan
Budaya Pop

'Game of Thrones' Bisa Jadi Serial TV Terakhir Dengan Dampak Budaya Sebesar Ini

Agak susah pada zaman tontonan dipengaruhi algoritma memunculkan serial yang sanggup mempersatukan orang sehebat 'GoT'.

oleh Sophie Wilkinson
21 Mei 2019, 11:46am

Cuplikan adegan via HBO 

Maret 2019, replika Iron Throne ditampilkan di stasiun Kings Cross, Ibu Kota London, Inggris. Orang-orang rela mengantre selama berjam-jam hanya untuk duduk di takhta buatan tersebut. Replika serupa juga disebar di beberapa negara di belahan dunia lain, seperti Denmark, AS, Malaysia, Spanyol, Brasil, dan Rusia. Sama seperti di London, ribuan penggemar berdiri hingga berjam-jam demi bisa merasakan duduk di Iron Throne.

HBO melakukannya sebagai bentuk promosi menjelang penayangan season terakhir Game of Thrones. Serial TV HBO ini penuh sadisme, aksi naga, adegan telanjang, pertempuran, dan orang terbakar hidup-hidup. Berbagai adegan semacam itu biasanya menjadi alasan mengapa para lelaki, orang kulit putih, dan kelas menengah menyukai drama fantasi.

Tapi ramainya respons publik pada acara promosi internasional menunjukkan asumsi di atas keliru. Game of Thrones berhasil menarik penggemar dari berbagai kalangan, tidak cuma cowok. Mulai dari gadis remaja, ibu-ibu, orang kulit berwarna, orang tua, kelas pekerja, sampai komunitas queer. Mereka semua menyukai dunia yang diciptakan penulis George R.R. Martin.

Minggu malam (atau Senin pagi di Indonesia), jutaan penggemar di seluruh dunia menonton episode terakhir Game of Thrones (Entertainment Weekly memperkirakan ada 100 juta orang di seluruh dunia yang menyaksikan season terakhir Game of Thrones). Di zaman modern ini, kebanyakan layanan streaming merilis produksi beranggaran besar setiap minggunya. Kita dibanjiri segudang pilihan yang bisa dinikmati kapan saja. Akan tetapi, Game of Thrones berhasil melakukan sesuatu yang berbeda.

Selama berminggu-minggu, serial drama fantasi Westeros selalu mengungguli acara TV lainnya. Sejak debut 2011 lalu, para penggemar sangat taat menonton episode barunya yang tayang seminggu sekali. Mereka membagikan reaksinya usai menonton ke media sosial, rajin membaca teori penggemar di Reddit, dan mendengarkan podcast khusus Game of Thrones seperti A Cast of Kings. Serial TV-nya sudah berakhir sekarang. Apakah ini saatnya mengucapkan selamat tinggal kepada acara yang mempersatukan kita semua?

Metode penayangan Game of Thrones adalah alasan mengapa para penggemar ingin menonton filmnya bersama-sama. Berbeda dari Killing Eve yang season keduanya tayang lebih awal di AS atau The Wire yang season pamungkasnya tayang enam bulan kemudian di negara lain, para penggemar Game of Thrones di 170 negara di seluruh dunia bisa menontonnya secara bersamaan.

Dulu sebenarnya tak seperti ini. Ketika tayang perdana, Game of Thrones main di HBO Amerika semalam sebelum ditayangkan di Sky Atlantic Inggris. Para penonton di negara lain harus menunggu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk menyaksikan acaranya.

Penggemar tak terima dengan perbedaan waktu tersebut. HBO mendengarkan keluhan mereka. Stasiun televisi ini bahkan setuju sama ucapan Dr Zoe Shacklock, dosen jurusan Film Studies di University of St. Andrews, yang mengatakan Game of Thrones adalah "acara TV paling banyak dibajak di seluruh dunia." Mulai season kelima, programnya disiarkan bersamaan di seluruh dunia.

Menayangkan Game of Thrones secara mingguan adalah ide keren. George Alexander, 23, selalu mengunggah video reaksinya saat menonton setiap episode ke kanal YouTubenya yang memiliki 13.500 subscriber. "Dengan menonton sekali seminggu, kamu bisa membahas dan memprediksi apa saja yang akan terjadi selanjutnya bersama teman-temanmu," ujarnya. Blacklock sepakat program mingguan seperti ini menjadikan Game of Thrones topik pembicaraan hangat, di mana saja penontonnya berada. "Rating Game of Thrones sangat tinggi karena disiarkan seminggu sekali. Itulah sebabnya acara tersebut memiliki penetrasi budaya yang begitu baik."

Memang tak bisa dipungkiri penayangan program TV setiap hari membuat penggemarnya tidak bisa membicarakan acara favorit mereka. Saat Netflix menayangkan kesepuluh episode House of Cards secara bersamaan pada 2013, cara kita menikmati hiburan populer jadi berubah. Beberapa orang yakin ini bukan hal baik.

"Kita akan kehilangan sesuatu kalau program mingguan sudah tidak ada," tutur Blacklock. "Netflix tidak memiliki tingkat penetrasi budaya yang sama seperti Game of Thrones. Mereka merilis keseluruhan episodenya pada satu waktu, sehingga kamu harus menghabiskan akhir pekan untuk menyelesaikan semuanya. Kamu tidak punya kesempatan ngobrolin acaranya karena setiap orang punya tingkatannya sendiri-sendiri. Semua orang membahas Stranger Things selama dua minggu, dan setelah itu berhenti begitu saja."

Apa sih yang membuat hype Game of Thrones terus bertahan? Kita mungkin harus membandingkannya sama acara TV klasik populer seperti The Wire, The Sopranos , Mad Men, dan serial besar Dallas or Dynasty pada 1980-an. (Dalam banyak hal, kehebohan season terakhir Game of Thrones mencerminkan antisipasi seputar akhir jalan cerita “Who Shot J.R.” dari serial Dallas, yang dulu ditonton 350 juta orang di dunia.)

"Dulu kita memiliki program TV yang sejak awal dirancang menyenangkan banyak kalangan," kata Shacklock. "Karena seru, kamu bakal nonton acaranya, memikirkannya semalaman, dan mendiskusikannya bersama teman keesokan harinya." Pemilihan jam tayang berperan dalam kesuksesan blockbuster macam Game of Thrones. Serial TV ini mulai tayang pada 2011, tepat ketika Twitter semakin banyak digunakan orang. Berkat Twitter, kamu bisa membahas acaranya kapan dan di mana saja kamu berada.

Lagipula, serial ini punya karakter cerita memicu perdebatan publik. Game of Thrones berpusat pada kejutan plot sebagai strategi pemasaran. Alhasil, percakapan mengenai Game of Thrones melebihi 140 karakter, dan memunculkan industri baru yang fokus menganalisis serialnya. Ada blog, podcast, hingga acara TV membahas GoT. Kritikus acara TV Jamie East menjadi presenter acara Thronecast yang sepenuhnya didedikasikan GoT. Menurut Jamie, produk-produk sampingan ini sukses besar karena beragamnya "tokoh, lokasi, skenario, dan kemungkinan plot… percakapannya enggak habis-habis."

Alasan lain Game of Thrones punya popularitas luar biasa tentu pengaruh visi George R.R. Martin. Seri buku Song of Fire and Ice, yang pertama kali terbit 1996, sejak awal berhasil mendapat gerombolan super-fans. Masalahnya, karena Martin belum menerbitkan dua buku terakhir dalam seri tersebut, "para penggemar hanya bisa mengandalkan serial TV-nya," kata Alexander. Sementara itu, tanpa ada acuan novel lebih lanjut sekalipun, penggemar lama GoT tetap menonton serialnya: "Penggemar berat pasti akan menonton serialnya sampai akhir, karena pengin tahu apa yang terjadi di akhir cerita versi TV."

Serial ini juga mengandung adegan penuh kekerasan, misalnya dalam insiden Red Wedding atau kematian Oberyn Martell. Berarti para penonton harus selalu mengikuti serialnya dengan teliti; kalau tidak, ada risiko kalian tak sengaja dapat spoiler. Kekerasan tidak memerlukan banyak kata-kata, berbeda dari dialog. Artinya cuplikan adegan GoT berpeluang memberi spoiler di media sosial.

Intinya, tak ada lagi serial selain GoT yang membangun komunitas fanatik semacam ini. "Menonton GoT bagaikan jadi suporter klub olahraga; kamu harus memilih tim: Stark, Lannister [atau] Targaryen," ujar Shacklock. Kuasa penggemar Game of Thrones tak ada duanya. Setelah mengungkapkan keinginan mereka untuk Cleganebowl, bentrokan antara kedua saudara Gregor Clegane dan Sandor Clegane, para produser Benioff dan Weiss mewujudkan mimpi para fans. Itupun belum cukup. Banyak penggemar fanatik merasa dua penulis skenario itu sudah mengacaukan cerita GoT.

Lebih dari satu juta orang menandatangani petisi meminta season delapan disyuting ulang usai kontroversi mengenai Daenerys yang mendadak kehilangan kewarasannya, dan keputusan Jamie untuk bersatu kembali dengan Cersei.

Ketika minim sekali peluang serial TV mampu mencapai tingkat hype sekelas GoT, kita masih hidup pada zaman TV gengsi. Penyiar tradisional terus memproduksi serial TV macam Big Little Lies (Meryl Streep, Nicole Kidman) dari HBO, atau Killing Eve (Sandra Oh, Jodie Comer) dari BBC, layanan streaming berupaya meniru fenomena ini. Tahun ini akan dirilis season baru The Crown (Olivia Colman, Helena Bonham Carter) dari Netflix, Carnival Row (Orlando Bloom, Cara Delevingne) dari Amazon Prime, dan The Handmaid’s Tale (Elisabeth Moss, Joseph Fiennes) dari Hulu. Sementara itu, HBO berupaya mempertahankan kesuksesan Game of Thrones.

Kini, HBO berusaha mendorong orang agar mau nonton Chernobyl, serial tentang bencana nuklir 1986, dibintangi Jessie Buckley dan Stellan Skarsgard. HBO mengiklankan seakan-akan serial ini wajib ditonton sehabis GoT. Lalu, ada lima proyek berkaitan dengan Game of Thrones yang sedang dikembangkan, termasuk prekuel, Bloodmoon, dibintangi Naomi Watts.

Tapi kita harus jujur. Calon pewaris Game of Thrones akan kesulitan meniru kesuksesan serial ini. Sebab GoT mengubah pemahaman kita soal menikmati drama. Untuk mencapai status GoT, sebuah serial harus dibintangi aktor-aktor yang disayangi publik, sanggup memikat penonton setiap minggu, dan sulit dibajak. Pada zaman kejayaan layanan streaming, itu bukan hal mudah.

Makanya, berakhirnya GoT memang menyedihkan. Tapi semua serial pasti berakhir. Wajar bila kita harus berpamitan dengan budaya pop yang menemani kita selama delapan tahun. Setidaknya, hingga sebulan ke depan—di kantor, di kos, di kamar tidur, atau di medsos—kita semua akan ramai-ramai membahas Game of Thrones untuk terakhir kalinya.

@sophwilkinson

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Tagged:
Game of Thrones
tv
Sejarah
Serial TV
Acara TV