Manfaat Main 'The Sims' Buat Queer di Indonesia Sepertiku

Game simulasi kehidupan ini amat membebaskan. Hanya di game itulah aku tak perlu memakai topeng seperti saat menjalani pergaulan sehari-hari.

|
Okt 13 2018, 8:30pagi

Inilah karakter nonbiner ciptaanku dalam game 'The Sims', namanya mirip bintang porno favorit, selera fashionnya eksperimental, dan berani mewarnai rambut.

Aku terhitung lumayan blo'on dan culun semasa SD. Selama jam istirahat, aku lebih suka menyendiri di saat anak-anak lain asyik bermain bola atau ngobrol dalam kelas.

Aku sudah terbiasa sama kesendirian ketika dua anak laki-laki di kelas lima mengajakku berteman. Hubungan kami tidak bertahan lama, tapi hidupku berubah karena satu hal. Gini ceritanya. Kami dulu suka ngobrol tentang video game. Aku enggak pernah main game populer di PlayStation dan Xbox kayak lazimnya anak-anak seumuranku. Aku pribadi lebih suka main Tekken, Harvest Moon, atau bahkan game klasik Snake yang ada di ponsel Nokia. Dari semua game yang mereka bahas, cuma The Sims yang nyantol buatku.

Game ini mengajak pemain berimajinasi secara bebas. Kamu bisa membuat karakter Sim sesuai selera, membangun rumah idaman, sampai menentukan jalan hidup mereka. Tak disangka-sangka game yang ku-install di komputer Windows 95 ini mengambil alih hidupku. Berkat The Sims juga, aku mulai mengeksplorasi identitas seksualku.

Aku mencocok-cocokkan pakaian ke karakter Sim-ku. Setelah itu, aku membangun rumah dua tingkat. Lantai atas sengaja digunakan untuk mengadakan pesta dansa. Dari versi awal The Sims, kamu sebenarnya sudah bisa menjodohkannya dengan Sim perempuan atau laki-laki. Bisa dibilang karakter Sim rata-rata biseksual. Sebagai sosok yang flamboyan, aku girang saat mengetahui adanya fitur ini. Aku enggak akan bisa mengungkapkan perasaan ke gebetan waktu itu (aku sempat naksir teman cowok sekelas), tapi aku bisa menjodohkannya dengan Sim cowok punyaku di The Sims. Aku bebas menjadi apa saja di game ini.

1539258152174-Screen-Shot-2018-10-08-at-25558-PM
Inilah avatarku di The Sims, jelas tidak sama dengan imej yang kubangun dalam kehidupan nyata.

The Sims menjelma menjadi perpanjangan alami hidupku saja. Bila orang mengisi buku hariannya dengan lamunan, aku tinggal menyalakan komputer dan mulai bermain The Sims. Beberapa tahun kemudian, di bangku SMA, aku pertama kali berpacaran. Mantanku itu kusuruh ikut main The Sims. Karakterku dan karakter pacarku tinggal bareng, saling memasak makanan satu sama lain, berpegangan tangan di depan umum, dan melakukan aktivitas yang umumnya dikerjakan pasangan "normal" lainnya—sesuatu yang hanya bisa kami impikan di dunia nyata.

Setelah kami putus, aku langsung membuat karakter single yang hopeless romantic (asal tahu saja ya, bintangku Taurus. Semua karakterku kurancang berzodiak sama. Aku seserius itu dalam urusan perbintangan). Di sinilah kelebihan game simulasi ini. Saban kali aku merasa sedih dan terpuruk, The Sims seakan meringankan penderitaanku, mengurangi kadar kesepian yang aku hadapi dan membuatku merasa bisa mengendalikan hidupku lagi.

Sebaliknya, jika keadaan sedang bahagia-bahagianya, meski tak bisa mengekspresikan diriku yang sebenarnya di kehidupan nyata, setidaknya aku bisa jadi diri sendiri dalam The Sims. Belum lagi, dalam The Sims, pemain bahkan boleh menciptakan karakter dengan orientasi seksual non-binary, jauh sebelum aku menolak mengidentifikasi diri sebagai laki-laki atau perempuan —Ya, The Sims memang segitu membebaskannya.

Kini, setelah usiaku menginjak dua puluhan, aku bertemu beberapa teman sesama queer yang bisa jadi sandaran kalau hidup sedang sangat menyebalkan. Sebagian dari mereka sama sepertiku: pecandu The Sims. Aku jadi membayangkan main game ini mungkin cara kami, kaum queer muda di Republik Indonesia, mengatasi terbatasnya kebebasan dalam mengekspresikan diri sebelum Instagram dan aplikasi kencan online diciptakan. Sayangnya, kanal serupa tak tersedia bagi teman-teman queer di Rusia. Di sana, versi terbaru The Sims 4 diganjar rating 18+ karena sejumlah penggambaran hubungan sesama jenis. Jelas sekali, rating ini cuma dalih pemerintahan Vladimir Putin mengekang komunitas LGBTQ di Negeri Beruang Merah.

1539258663234-Screen-Shot-2018-10-08-at-22905-PM

Lantaran dibesarkan di Indonesia, aku belum tahu banyak tentang keberagaman gender sampai aku cukup dewasa jadi sasaran perbuatan homofobik dari masyarakat atau bahkan orang yang dekat denganku. Padahal setelah ketelusuri, sifat queer sudah ada dalam peradaban nusantara. Masyarakat Bugis—etnis mayoritas di Sulawesi Selatan—sejak dulu mengenal lima macam gender: oroane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai (lelaki feminin), calalai (perempuan maskulin), dan bissu (pendeta androgini). Di Toraja, ada burate tattiku (perempuan) dan lelaki yang berdandan sebagai perempuan (burate tambolang), yang dianggap sebagai pemuka agama paling dihormati.

Sayangnya, keragaman jenis gender ini hanya dianggap sebagai kekayaan budaya, bukan cara pandang umum. Artinya, kebanyakan penduduk Indonesia masih terjebak dalam pola pikir gender biner, bukan melampuinya.

Komunitas queer di Indonesia masih harus mengenakan topeng dan berpura-pura jika harus melakukan aktivitas di luar rumah dan dicap sebagai "pendosa." Sebaliknya, dalam The Sims, kalian bisa jadi siapa saja yang kalian mau. Kalaupun gamer masih belum mau menentukan bakal jadi apa, kalian toh punya kebebasan penuh untuk mencoba beragam tampilan hingga menemukan identitas yang kalian cari. Sisi inilah yang menurutku paling emansipatif sekaligus indah dari game bernama The Sims.

Satu-satunya harapanku adalah kelak aku akan bisa menjalani semua yang sudah kulakukan lewat game di dunia nyata. Akan tetapi, sampai hal itu terwujud, please jangan ganggu aku main The Sims tiap akhir pekan.

More VICE
Vice Channels