Iklan
Culture

Mewawancarai Kartunis Politik Paling Diburu Pemerintah India

Aseem Trivedi mengkritik korupsi di kalangan elit India. Dia nyaris dipenjara seumur hidup atas tuduhan menghasut dan menghina lambang negara. Kami membicarakan perjuangannya membela HAM dan tujuan kartun politik.

oleh Philip Kleinfeld
26 November 2016, 10:20am

Kartun Aseem Trivedi menggambarkan toilet parlemen India penuh lalat. Semua kartun yang dimuat seizin Aseem Trivedi.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK

Pada September 2012, kartunis politik Aseem Trivedi dijerat pasal penghasutan oleh pemerintah India. Setahun sebelumnya, Trivedi melibatkan diri di gerakan massal menentang korupsi di India, tentu dalam kapasitasnya sebagai kartunis. Dia menyumbangkan kartun-kartun satir mengolok-ngolok simbol-simbol nasional India. Target kartun Aseem adalah "kaum elit" korup yang mendukung perdana menteri waktu itu, Manmohan Singh. Akibat aktivitasnya, Aseem terancam mendekam seumur hidup di hotel prodeo.

Dakwaan terhadap Aseem memancing debat panas tentang kebebasan berekspresi di India. Sejatinya, yang menimpa Aseem bukan kasus unik. Pasal penghasutan mulai dipakai oleh pemerintah kolonial Inggris pada 1870 untuk memerangi pejuang kemerdekaan India. Setelah India merdeka, pasal ini terus digunakan membungkam aktivis, jurnalis, mahasiswa dan suara-suara kritis lainnya. Aseem beruntung bisa selamat. Dakwaan yang ditujukan padanya dibatalkan oleh pengadilan tingkat lanjut. Meski demikian, empat tahun setelahnya Aseem masih diburu oleh pemerintah India. Dia dituduh "melecehkan emblem nasional India" berdasarkan undang-undang parlemen yang disahkan pada 1971.

Saya menemui Aseem di sebuah diskusi yang digelar oleh Front Line Defenders—sebuah LSM international bergerak di ranah keamanan dan proteksi pejuang HAM—untuk membicarakan karya-karyanya, peranan kartunis politik, dan kebebasan berekspresi di India.

VICE: Halo Aseem. Karya anda banyak bicara tentang korupsi di India. Sebetulnya sebesar apa masalah korupsi di India?
Aseem Trivedi: Segala jenis korupsi menjamur di negara kami. Politikus India kerap menjual kontrak proyek pemerintah dan memanfaatkan kebocoran anggaran lewat sistem komisi proyek. Pada 2002, berita tentang skandal dan penipuan muncul tiap beberapa bulan sekali. Warga India geram dan terus mencari sarana mengekspresikan diri.

Kegeraman itu kemudian berubah jadi Gerakan Anti Korupsi Di India. Sebarapa jauh ini memengaruhi karya anda?
Gerakan itu jadi sebuah pengalaman baru bagi saya. Sebelumnya, saya bekerja untuk sebuah surat kabar, menggarap kartun editorial. Waktu itu, saya sering berpikir pasti ada alasan yang lebih berarti selain hanya menggambar kartun. Gerakan ini memberi apa yang saya cari: kartun yang tak sekadar dipasang untuk memancing tawa pembaca. Akhirnya, saya memutuskan membuat sebuah sistus baru, Cartoons Against Corruption. Saya mulai mengunggah karya saya di sana.

Ceritakan bagaimana kartun membuat anda berurusan dengan pemerintah India?
Gara-gara banyak dibicarakan di medial sosial, website baru saya sangat populer. Kami kemudian ikut unjuk rasa di Mumbai pada musim panas 2011. Saya memamerkan beberapa karya saya di sana. Tak lama, situs saya diblok pemerintah. Jadi, saya bikin kampanye lagi, kali ini tentang penyensoran internet.

Penduduk India belum begitu awas dengan isu penyensoran. Kami berusaha mengedukasi mereka mengapa isu ini penting. Saat itu pemerintah mulai memblokir beberapa akun twitter yang kritis. Lalu, pada September 2012, sembilan bulan setelah website saya diblok, pemerintah India mengeluarkan surat penangkapan atas nama saya. Parahnya, saya tak diperkenankan mendapatkan jaminan dari pengadilan. Jadi, saya terpaksa menyerahkan diri di Mumbai, tempat saya ditahan.

Kasus anda memicu munculnya debat seru tentang kebebasan berekspresi di India?
Perdebatan itu baru ramai setelah serangakaian penangkapan. Dukungan yang saya terima menunjukkan aspirasi perubahan di India. Warga sipil menganggap saya dan tokoh-tokoh kritis lain yang ditangkap menyuarakan pendapat mereka. Merekalah yang memicu debat seru itu.

Menilik kasus itu, bagaimana anda memandang kekuatan satir dan kantun politik di jaman sekarang?
Kartunis punya peranan penting yang berbeda-beda di seluruh penjuru dunia. Kita punya Ali Farzat, yang kini tinggal di Kuwait setelah kedua tangannya dipatahkan dalam pemberontakan di Suriah. Ada juga Zunar yang kini menghadapi tuduhan penghasutan di Malaysia. Lalu baru-baru ini kartunis bernama Musa Kart ditangkap selepas percobaan kudeta yang gagal di Turki. Malangnya, kartunis memang sedang banyak diburu di seluruh penjuru Bumi. Pemerintah berbagai negara terkesan bersepakat membungkam para tukang gambar.

Menurut anda, apakah kartun politik semakin berkembang akhir-akhir ini?
Saya rasa media sosial banyak membantu. Lewat jejaring sosial, kartun gampang tersebar. Dulu waktu pertama kali menggambar kartun di media massa, karya saya hanya dianggap humor. Kini, masyarakat mulai menganggapnya sebagai suatu yang serius.

Bagaimana lanskap kebebasan berekspresi di India sekarang di bawah pemerintahan Narendra Modi dan Partai Bharatiya Janata yang konservatif
Kondisinya benar-benar berbeda. Pemerintahan baru berusaha menggunakan nasionalisme layaknya agama. Mereka berusaha membungkam orang-orang dianggap pembelot dan berusaha memecah belah India. Siapapun yang berani buka mulut, mengkritik, langsung kena cap tidak nasionalis atau dituding sebagai pendukung Pakistan. Mereka benar-benar ingin memecah belah rakyat India.

Belakangan, anda membuat kartun untuk pembela HAM yang direpresi negara, apa alasan anda?
Sebenarnya saya berhenti membuat kartun selama beberapa tahun. Setelah insiden Charlie Hebdo, ada yang mengontak saya dan bilang saya harus membuat sesuatu. Tak lama, saya memperoleh berita tentang tak mengenakan seorang pejuang HAM. Seorang pria di Arab Saudi dihukum cambuk 1.000 kali dan 10 tahun penjara karena membuat sebuah blog. Saya memutuskan membuat 50 kartun untuk setiap 50 cambukan yang dia terima. Setelah itu, banyak yang menghubungi saya. Seperti saya bilang tadi, gerakan anti korupsi di India memberi saya alasan untuk kembali menggambar.

Saya juga memutuskan membuat majalah online Black and White, tempat saya menampung kartun yang saya buat untuk orang yang disiksa, dihukum atau malah dibunuh.

Terima kasih atas jawabannya Aseem.