Iklan
Pengalaman Spiritual

Aku Ikutan Ruqyah Komunitas Muslim di Salon Kuku Glasgow, Skotlandia

Ternyata metode agama Islam bagus juga buat membuang roh jahat dari tubuhmu.

oleh Nick Chester
17 Januari 2019, 12:41pm

foto oleh penulis

Pas masih kuliah, aku bangun tiap pagi dan melihat tumpukan brosur di kesetku. Sebagian besar darinya mempromosikan shot vodka murahan, atau promosi chicken wings, atau kadang Ultah DnB Eksman (perempuan masuk gratis sebelum jam 10) – gitu-gituan lah. Tapi sesekali, di antara brosur yang mempromosikan aktivitas yang jelas buruk bagi kesehatan jiwa ragaku, ada brosur untuk “jasa pengusiran jin Islam” atau ruqyah.

Jin adalah makhluk gaib yang sering muncul di Qur’an; entitas terbuat dari “api membakar” tanpa asap yang dikatakan mampu merasuki manusia. Mereka mempunyai kehendak bebas, yang artinya – seperti manusia – mereka dapat memutuskan apakah mereka ingin menjadi netral, baik, atau jahat, bangsat, melayang-layang, berapi secara konstan, atau bisik-bisik di kuping orang dan menghancurkan hidup orang-orang baik.

Pengusiran jin, seperti yang mungkin kamu duga, adalah pembuangan makhluk ini dari tubuh manusia secara paksa.

Pada saat itu, aku cuman melihat brosur-brosur itu sebagai semacam keanehan kultural: jasa ruqyah yang ditawarkan di sebelah brosur promosional dari konselor buruh lokal. Tapi pas aku mikirin lagi beberapa tahun kemudian, aku sadar kalau layanan ini diiklankan sesering itu, berarti ada lumayan banyak permintaan untuk pengusiran jin.

Semakin banyak aku pikirin, aku menjadi semakin tertarik. Aku jadi penasaran apakah ritual-ritual macam ini dilakukan di seluruh Inggris, atau mungkin aku memang kebetulan tinggal dekat pengusir jin, jadi aku cari jawabannya di internet. Ternyata pengusiran jin dilaksanakan di seluruh negeri, dari wilayah metropolitan dengan populasi Islam yang besar, hingga kota-kota kecil yang populasinya mayoritas Kristen, layaknya Bicester di Oxfordshire.

Tentunya aku enggak mau melewatkan kesempatan untuk mengamati pengusiran jin asli, jadi aku menghubungi beberapa pengusir jin untuk bertanya kalau aku boleh ikutan satu sesinya.

Mayoritas pengusir jin agak ragu-ragu memperbolehkan seseorang mengamati pekerjaan mereka, barangkali karena mereka pikir aku bakal mengejek mereka, atau menulis artikel yang menjelekkan praktiknya dan mencela layanan mereka sebagai karya penipu yang mengeksploitasi mitologi religius. Tapi semua itu bukan tujuanku; kalau seorang klien benar-benar percaya ada roh jahat yang diusir dari tubuh mereka, dan kesimpulan tersebut akan menguntungkan mereka, aku enggak mungkin mengkritik keputusan mereka untuk mengeluarkan duit buat pengusiran yang mungkin dianggap orang lain sebagai plasebo rohani. Aku cuman pengin lihat pengusiran jin modern itu kayak gimana.

i-went-to-an-islamic-exorcism-in-the-back-of-a-glaswegian-nail-salon-293-body-image-1425302160

Untungnya, seorang pengusir jin berbasis di Glasgow – sebut saja namanya Ali – setuju untuk membolehkan aku mengamati sesi ruqyah, tapi sebelumnya, dia meminta aku untuk melakukan ujian untuk memastikan aku sendiri lagi enggak dirasuki jin. Aku sih yakin aku enggak kerasukan, tapi yaudahlah, aku setuju-setuju saja.

Selama tes, aku disuruh mendengarkan rekaman pembacaan doa untuk menentukan apakah aku berhalusinasi. Aku ketiduran di tengah rekamannya, mungkin karena suaranya melodius, atau mungkin karena rentang perhatianku tidak bertahan lama dan aku benar-benar enggak bisa duduk selama setengah jam tanpa ketiduran.

Aku sempat mimpi yang aneh-aneh pas ketiduran, tapi itu bukan berarti aku lagi kerasukan jin, menurut Ali. Sungguh mengecewakan, karena aku sendiri sebenarnya pengin merasakan yang namanya diruqyah. Meskipun begitu, tes ini bikin suasana antara aku dan Ali lebih santai, dan akhirnya aku diundang Ali untuk menonton sesi pengusiran.

Masalahnya, klien Ali rata-rata mau sesi pengusiran mereka menjadi acara pribadi – aku paham kok, aku juga pasti malu kalau lagi ada setan yang dibasmi dari tubuhku yang merinding. Klien Ali membayar biaya sebesar £250 (setara Rp4,5 juta) untuk pengusiran ini, jadi pastinya Ali enggak mau melakukan apa-apa yang bakal menakuti mereka.

“Kenapa kamu enggak ajak temanmu?” dia tanya. “Aku bisa menguji dia, siapa tahu dia kerasukan jin. Kalau ada, aku bisa mengusirnya.”

Idenya bagus sih, tapi aku tinggalnya jauh banget dari Glasgow. Pasti susah ngajak teman kalau perjalanannya tiga jam lebih. Apalagi kalau tujuannya buat menjalani pengusiran jin. “Boleh,” aku jawab.

Ternyata aku benar: enggak ada yang mau ikut. Bahkan teman-temanku yang atheis enggak tertarik membuang roh jahat dari tubuh mereka buat iseng-iseng aja. Jadi aku pasang iklan dan menempelkannya di pohon, meminta peserta untuk “sesi pengobatan alternatif”. Paling nanti aku bisa menjelaskan artinya lebih lanjut pas pesertanya sudah balas.


Tonton dokumenter VICE soal ritual pengusiran setan dari tradisi Katolik:


Sebagian besar responden langsung cabut pas aku sebut kata-kata “pengusiran jin”, tapi akhirnya aku menemukan seseorang bernama Emille yang putus kuliah, jadi aku pesan tiket ke Glasgow dan siap-siap untuk sehari penuh teriak-teriakan dan muntah.

Aku kira sesi pengusirannya akan dilaksanakan dekat Pollokshields, pusat komunitas Islam di Glasgow. Ternyata alamatnya membawaku ke sebuah salon di wilayah Partick. Aku enggak enak nanya pekerja salon apakah mereka juga melakukan pengusiran jin; siapa tahu tempatnya salah, jadi aku telepon si Ali untuk memastikan tempatnya.

“Iya, ini tempatnya,” katanya. “Masuk aja, duduk dulu. Sebentar lagi aku sampai.”

Istri Ali menggiring kami ke belakang salon. Dia juga tak lupa menawarkan kami teh dan biskuit. Ruangan praktiknya mirip seperti tempat operasi gigi dan ruang kerja di rumah. Dindingnya polos dan cuma dihiasi pajangan gantung kecil berwarna biru di salah satu sudut. Di sana, aku melihat ada baskom berisi limbah biologis. Ternyata selain ruqyah, Ali juga buka klinik bekam.

Lima menit kemudian, Ali muncul dan memperkenalkan diri. Dia sepertinya tipe laki-laki yang ramah dan santai. Dia menanyakan perjalanan kami sebelum akhirnya membahas tentang ritual pengusiran jin.

“Kamu sering dapat pasien non-Muslim, gak?” tanyaku, sebagian mengacu pada Emille. Tapi sebenarnya aku bertanya begitu karena penasaran bagaimana klinik ruqyahnya bisa terus jalan kalau tempat praktiknya saja ada di daerah yang penuh orang berkulit putih. “Pasienku ada yang Muslim dan non-Muslim,” jawabnya. “Semakin banyak orang yang tertarik dengan pengobatan alternatif.”

i-went-to-an-islamic-exorcism-in-the-back-of-a-glaswegian-nail-salon-293-body-image-1425302338

Emille bersiap-siap di Ruqyah

Ali bilang kalau dia berbeda dari tukang ruqyah lainnya. Tak seperti kebanyakan tabib spiritual yang menawarkan jasa ruqyah, dia enggak mau ngobrol dengan jin sebelum mengusirnya dari tubuh pasien.

“Saya meruqyah pasien karena pengin usir jinnya, bukan buat ngobrol sama mereka,” tuturnya.

Setelah cukup banyak ngobrol soal seluk-beluk ruqyah, Ali mempersiapkan kami untuk proses selanjutnya. “Saya bakalan ngetes kamu sebentar buat ngeliat ada jin yang perlu diusir atau enggak,” katanya kepada Emille. “Prosesnya enggak ribet, kok. Cuma dengerin doa saja.”

Emille berbaring di atas sebuah meja operasi di pojok ruangan, Ali menutupi tubuh Emille dengan kain putih, sajadah berwarna hitam dan beberapa biji tasbih. Headphone yang memainkan doa-doa ditempatkan di kuping Emile. Ali sendiri menyenandungkan ayat-ayat Qur’an yang dicuplik dari buku kumpulan doa. Awalnya, Emille berbaring dengan raut muka yang tenang, menyerap siraman doa dalam dosis ganda itu. Namun, kira-kira lima menit kemudian, matanya mulai berkedut dan berkedip cepat. Emile memasuki apa yang disebut dengan REM.

Gerakan mata yang menyeramkan itu berlangsung sekitar 15 menit, makin lama makin intens gerakan. Ada kalanya, gerakannya melamban. Setelah beberapa saat, tubuh Emille kembali tenang. Ali belum berhenti membaca doa sampai sekitar 20 kemudian. Begitu dia berhenti, dia membangunkan Emille dan menanyakan apakah dirinya baik-baik saja.

Emille mengaku tak apa-apa, cuma sedikit pusing.

"Kamu mau ke toilet dulu enggak sebelum aku tanya apa yang kamu lihat barusan?” tanya Ali. Emille bilang dirinya ingin pergi ke kamar kecil dulu. Selagi Emille berada di sana, Ali sempat menceritakan bahwa REM adalah indikasi kuat keberadaan Jin.

Saat Emille kembali, Ali langsung bertanya padanya, apa dirinya melihat banyak imej selama dalam kondisi trance. Salah satu imej itu adalah mata. Emille lekas mengaku melihat yang satu itu.

“Baik, kabar baiknya kamu enggak kerasukan jin apapun,” terang Ali.

Jawaban bikin hati saya hancur berkeping-keping. Kesannya aku memang kurang ajar. Tapi begini, sekalipun lega nasib buruk tak menimpa Emille, aku kecewa lantaran sudah menempuh perjalanan kereta tiga sampai empat jam untuk menyaksikan aksi ruqyah yang spektakuler.

“Tapi, kamu punya mata iblis,” lanjut Ali.

i-went-to-an-islamic-exorcism-in-the-back-of-a-glaswegian-nail-salon-293-body-image-1425302426

Waduh, saya benar-benar enggak ngerti apa yang dimaksud Ali dengan mata iblis. Cuma di sisi lain, ini bikin saya gembira. Intinya perjalanan kereta saya belum bisa dianggap mubazir.

“Dalam setiap budaya dan agama manapun, mata iblis selalu ada. Bentuknya bisa macam-macam,” jelas Ali. “Mata iblis bisa menempel pada diri kita jika ada orang yang mengutuk kita. Imbas dari mata iblis ini lumayan. Kita bakal kesusahan menarik hal-hal yang kita dambakan.”

“Eh, tapi mata iblis saya udah hilang kan?” tanya Emille.

“Beres, kalau masalah itu sih,” jawab Ali.

Emile langsung kelihatan plong. Begitu juga aku. Lumayan lah, aku mungkin enggak jadi nonton atraksi ruqyah, tapi aku sudah jadi saksi pengeyahan kutukan. Ya lumayanlah.

Jadi, apa yang aku pelajari dari pengalaman ini? yang pertama: bahkan untuk orang-orang yang apatis seperti saya, menyaksikan ritual tes keberadaan jin dalam tubuh seseorang itu tetaplah pengalaman yang tak lazim lagi menegangkan. Kalau dipikir-pikir, ritualnya cuma melibatkan pembacaan doa dan kedipan mata yang cepat yang bikin saya bertanya-tanya. Tapi, saat itu terjadi di depanku, tak bisa dipungkiri pengalamannya terasa begitu dalam.

Kedua: meski dukun-dukun sering dituding mengada-ada tentang penyakit pasiennya agar mereka bisa tetap dibayar, pada prakteknya praktek pengusiran jin itu njelimet dan tak main-main. Bahkan ketika semua indikasi keberadaan jin ditemui pada seorang pasien, mungkin saja itu kasus mata iblis semata.