The VICE Guide to Right Now

Ada Tim Sensus Masjid di Indonesia, Tujuannya Buat Memantau Radikalisme

Berapa sih jumlah masjid di seluruh Indonesia? Berdasarkan sensus ini mencapai ratusan ribu, dan disinyalir terus meningkat. Berbanding terbalik dengan kondisi tempat ibadah umat lain.
17 Januari 2020, 7:04am
Tim Sensus Masjid di Indonesia Beneran Ada, Tujuannya Buat Memantau Radikalisme
Pemandangan di dalam Masjid Istiqlal Jakarta [kiri] via pexels/lisensi CC 0; menara Masjid Jami Kota Medan [kanan] via Wikimedia Commons/Lisensi CC 3.0

Jumlah penduduk muslim di Indonesia gampang dilacak. Tapi berapa jumlah pasti masjid di seluruh Indonesia? “Hanya Tuhan yang tahu,” kata mantan wakil presiden Jusuf Kalla suatu hari. Mungkin satu juta? Atau puluhan juta? Tak ada yang betul-betul memikirkannya, hingga sebuah tim melakukan pendataan jumlah masjid yang tersebar dari pelosok hingga kota.

Tim ‘pemburu masjid’ itu dibentuk oleh pemerintah dan dipimpin Fakhry Affan—seorang pegawai Kementerian Agama yang bermukim di Depok. Anggotanya diklaim sekira 1.000 orang. Affan sudah mulai mendata jumlah masjid sejak 2013. Saat ini jumlah yang didapat mencapai 554.152. Dan sensus itu baru 75 persen dikerjakan. Sementara pemerintah memperkirakan jumlah masjid ada di kisaran 700.000.

Angka itu tak mencengangkan. Toh Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Berdasarkan data Globalreligiousfutures, jumlah penduduk Indonesia pada 2010 yang beragama Islam mencapai 209,12 juta jiwa atau setara 87.17 persen dari total penduduk yang mencapai 239.89 juta jiwa. Angka penduduk muslim diperkirakan akan naik pada 2020, mencapai 263,92 juta jiwa dan terus naik menjadi 256.82 juta jiwa pada 2050.

Senjata Affan adalah drone, yang diterbangkan untuk mengambil gambar keseluruhan bangunan. Dia juga mencatat semua dokumen masjid. Data itu kemudian diunggah secara daring ke database.

"Dulu kami melakukannya secara manual, sekarang semua serba digital," kata Affan dalam wawancara khusus dengan kantor berita AFP.

Pemerintah juga berencana mengembangkan aplikasi berbasis Android Info Masjid, yang memberikan informasi bagi pengguna untuk menemukan masjid terdekat.

Affan mengatakan tugas ini juga diperlukan untuk memonitor radikalisme yang terus berkembang, salah satunya lewat pengajian di masjid. "Ideologi radikal bisa berkembang di mana saja dan masjid adalah salah satu tempat paling gampang untuk penyebaran," kata Affan. "Mengapa? Sebab tak perlu mengundang orang ke masjid, mereka akan datang dengan sendirinya. Kami ingin memastikan bahwa semua imam dan pengurus masjid menganut Islam moderat."

Affan paham jika tugas menyensus masjid seperti tak akan pernah usai. Sebab hampir selalu ada pembangunan masjid baru di penjuru negeri. “"Masjid yang tutup itu sangat jarang. Tapi yang pasti angka masjid baru akan terus naik," tutur Affan.

Pendapat Affan ada benarnya, tapi juga menyoroti ironi yang tak kunjung usai. Sebab angka toleransi dan keberagaman dan kebebasan beragama justru terus terjun bebas. SETARA Institute mencatat ada 846 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama sepanjang Joko Widodo berkuasa di periode pertama.

Lalu ada 32 gereja dan lima masjid Ahmadiyah yang ditutup di era yang sama. Itu tidak termasuk penolakan warga terhadap pembangunan pura di Bekasi Mei 2019 lalu. Rata-rata alasannya karena mendapat penolakan warga atau dokumen bangunan yang tak memenuhi syarat.

Indonesia mungkin layak masuk Guinness World Records sebagai negara dengan jumlah masjid terbanyak, tapi sebagai negara majemuk seharusnya pemerintah ingat, jika tak ada masjid yang pernah tutup, begitu pula seharusnya dengan rumah ibadah lain.