Wawancara

Semesta Musik Yennu Ariendra, Sang Pendakwah Gigih Kekayaan Musik Nusantara

Proyek solo gitaris Melancholic Bitch ini mengeksplorasi musik Nusantara, dari dangdut koplo sampai jaranan. Kami ngobrol dengan musisi Indonesia karismatik di kancah independen ini terkait ambisi artistiknya.
14 Juli 2020, 8:07am
Yennu Ariendra musisi alternatif kenamaan Yogya gitaris Melancholic Bitch
Yennu Ariendra dalam salah satu penampilan live di Yogyakarta. Foto dari arsip pribadi Yennu. 

Sulit menjawab alasan Melancholic Bitch, band rock legendaris asal Yogyakarta yang namanya perlahan mendekati mitos, tak pernah tampil rutin di hadapan penggemarnya. Saya juga tak ingin mencari lebih jauh. Biarlah hal tersebut jadi kesepakatan antara para personelnya dan Tuhan. Tapi rasanya tak mengapa, sebab pendengar musik di Indonesia masih mendapat pasokan karya dari Yennu Ariendra, yang kini menjalani petualangan musikal dan rutin merilis materi-materi segar selama lima tahun belakangan.

Yennu bukan sekadar gitaris Melbi. Dia sekaligus aktif di unit elektro pop Belkastrelka yang melahirkan track ajaib macam "Fiksi Pencuri Mimpi"—yang dinobatkan VICE memuat salah satu lagu Indonesia terbaik sepanjang dekade kedua Abad 21.; dia adalah pihak yang menghidupkan atmosfer gelap di film Istirahatlah Kata-Kata (2016) berkat scoring yang memukau; serta berjasa menghidupkan berbagai pementasan Teater Garasi lewat perannya sebagai penata suara.

Selain itu, Yennu juga mengguncang kancah eksperimental ketika merilis Raja Kirik dua tahun lalu, hasil kolaborasi bersama J 'Mo’ong' Pribadi Santoso. Album itu adalah tafsir modern (baca: penuh balutan aransemen EDM) atas kesenian tradisional kampung halamannya. Kini, lewat materi terbarunya, No-Brain Dance memakai moniker Y-DRA, Yennu "berdakwah" agar pendengar musik tak memandang rendah eksistensi dangdut koplo.

Pendek kata, lelaki kelahiran Banyuwangi 43 tahun lalu ini adalah komposer handal serta seniman serba bisa, meski kiprahnya tak sering tersorot arus utama karena intensitasnya di sirkuit alternatif. Ada banyak yang bisa dibicarakan bersama Yennu, khususnya soal eksplorasinya terhadap musik tradisional nusantara. "Memainkan musik [dari] Barat itu mudah karena kita tahu polanya. Ada semacam pegangan. Jadi, kadang sebel sendiri," kata Yennu Ariendra.

"Berarti, bisa dibilang, ini salah satu faktor yang membuat Melbi [Melancholic Bitch] jarang sekali manggung?" saya langsung menimpali. Yennu tak menjawab, dan sejurus kemudian tawa pecah pun di antara perbincangan kami.

Yennu paham bagaimana mesti keluar dari zona nyaman dan berupaya menjemput kesempatan baru lewat berbagai eksplorasi yang tak terduga. Dia menegaskan hampir tidak ada perbedaan signifikan antara ketika dia sedang bekerja secara kolektif maupun sendiri.

"Prosesnya enggak jauh beda dengan, katakanlah, kalau aku lagi [bermain] di band. Mungkin bedanya hanya di bentuk akhirnya aja," katanya kepada VICE.

Keinginan Yennu terus berimprovisasi serta mencari dimensi kreatif yang segar didorong oleh satu alasan sederhana: dia sudah terlalu lama menggeluti musik yang mengikuti pakem gitar Amerika dan Eropa. Yennu tumbuh dengan lagu-lagu Portishead maupun Radiohead. Pun ketika pertama kali belajar gitar, yang dijadikan patokan adalah Metallica.

Kejenuhan itulah yang lantas memantapkan Yennu untuk sejenak mengalihkan muka dari musik Barat dan beralih ke khazanah kreasi lokal. "Ini yang jadi misiku selanjutnya. Aku ingin mengolah nilai-nilai [musik dan tradisi] yang ada di sekitarku," ungkapnya. "Karena kalau kita perhatikan, musik lokal atau Indonesia itu sangat beragam dan kaya tradisi. Banyak banget yang belum terjamah."

Salah satu kreasi yang cukup baik menggambarkan keinginan tersebut adalah tatkala Yennu, bersama Teater Garasi, membikin pementasan musik kontemporer yang diberi tajuk Menara Ingatan, empat tahun lalu. Proyek Menara Ingatan sudah dipersiapkan sejak 2008. Secara garis besar, Yennu hendak bercerita tentang Indonesia, namun dengan perspektif kesenian Gandrung Banyuwangi, bentuk pertunjukan lokal di Jawa Timur. Dalam Menara Ingatan, Yennu melibatkan partisipasi seniman lintas disiplin, baik itu teater, musik Gandrung dan digital, sampai seni rupa.

Bagian terbaik dari Menara Ingatan, setidaknya untuk saya, ialah saat Yennu membawakan balada "Seblang" dengan pesinden dan penari yang mengiringi petikan gitarnya yang mengalun begitu melodius. Ada nuansa magis, gelap, sekaligus intim nan membuai.

Pencarian Yennu terus berlanjut. Tiga tahun usai Menara Ingatan, Yennu kembali membuat pencapaian artistik yang tidak diperkirakan: meleburkan dangdut koplo dengan irama elektronik yang dikemas dalam album berjudul No-Brain Dance. Lewat album ini, Yennu seperti hendak menghilangkan batas sekaligus jarak antara musik, terutama koplo, dengan realitas masyarakat.

Sebanyak 13 lagu yang termuat di No-Brain Dance, mulai dari "Sayyidah Sound Sistim" sampai "Koplotronika", merupakan caranya untuk bersenang-senang tanpa mesti melupakan tradisi kesenian yang hadir secara nyata di spektrum sosial masyarakat tapi kerap diacuhkan begitu saja.

"Mungkin orang akan berpikir, ‘Wah, Yennu ini kurang kerjaan’,” paparnya seraya tertawa. “Emang ada benarnya. Tapi, terlepas dari itu, aku sadar bahwa perkembangan musik kita, terutama yang di ranah folklore seperti dangdut, sangat pesar sekali. Secara budaya [musik ini] itu ‘wah’ banget."

Yennu dalam salah satu penampilannya memakai moniker Y-DRA. Foto oleh Kiko Nunez.

Menciptakan karya-karya yang beragam, dengan karakter yang tak sama di setiap produksinya, tentu memerlukan upaya yang tidak mudah. Dalam proses kreatifnya, Yennu senantiasa bertumpu pada konsep “5W1H,” sebagaimana yang dipegang jurnalis manakala menulis laporan.

Konsep “5W1H,” ambil contoh, dia aplikasikan ketika membikin proyek koplo No-Brain Day. Pasalnya, ini membantu dirinya untuk membedah varian koplo yang jumlahnya begitu banyak. Pendek kata, metode tersebut menjaganya agar tetap fokus dengan rencana kreatif yang dia canangkan.

Lewat pertanyaan “why,” misalnya, Yennu dituntut memberi penjelasan mengapa mengambil koplo sebagai subjek utamanya. Lalu “what” sendiri kurang lebih berisikan tentang apa saja yang ingin disampaikan Yennu melalui karya tersebut. Sementara “who” bakal membahas siapa yang berpartisipasi dalam keseluruhan proses kreatifnya.

Setelah Yennu menemukan jawaban yang tepat atas pendekatan di atas, barulah dia terjun ke lapangan untuk berinteraksi dengan kondisi masyarakat sekitar lewat riset berkesinambungan maupun penelusuran jejak-jejak tradisi yang bertebaran di depan mata.

"Memang enggak ada jaminan [karya] bakal bagus. Tapi, setidaknya, apa yang aku buat itu bisa dipertanggungjawabkan," tegasnya. "Jadi, membikin karya seni atau musik itu, menurutku, enggak bisa asal-asalan."

Sejauh ini, setiap karya Yennu tidak pernah terdengar asal-asalan.

Sudah hampir lebih dari tiga bulan lamanya Johanes “Mo’ong” Santoso Pribadi berada di Eropa. Mulanya, dari rentang akhir Januari sampai awal Februari, dia berkeliling ke beberapa kota seperti Berlin, Leipzig, serta Praha untuk agenda tur. Ketika tur selesai dan dia bersiap pulang Indonesia, wabah pandemi justru menggagalkan rencananya. Alhasil, Mo’ong terpaksa bertahan di sana dalam jangka waktu yang dia sendiri tidak tahu hingga kapan.

"Harusnya ini sudah di Indonesia," kata Mo’ong saat dihubungi VICE lewat video call. "Tapi, kondisinya malah kayak gini, ya."

Nama Mo’ong sendiri tergolong seniman dengan sepak terjang yang mentereng. Pada 2015, misalnya, dia terpilih menjadi komposer muda baru di ajang International Rostrum of Composer yang diselenggarakan International Music Council. Dua tahun berselang, reputasinya kian menancap lewat proyek Limbah Berbunyi, di mana dia menciptakan komposisi musik dari barang-barang bekas sampai sampah.

"Dengan Limbah Berbunyi, tujuan utamanya kurang lebih adalah bagaimana kita menyikapi sebuah obyek menjadi sumber bunyi,” terang laki-laki kelahiran Bangkok ini. "Gambaran lebih luasnya lagi, dengan Limbah Berbunyi, saya ingin menunjukkan bahwa semua orang bisa bermain musik."

Jauh dari kampung halaman membuatnya cukup sebal, terlebih dalam kondisi karantina wilayah (lockdown). Akan tetapi, Mo’ong sudah memutuskan untuk tak ingin berlama-lama mengutuki nasib. Lebih-lebih, Mo’ong punya rencana yang mesti diselesaikan: penggarapan album kedua Raja Kirik, kolektif eksperimental yang dijalankannya bersama Yennu.

"Karena terpisah jarak, proses rekamannya juga ikut terpisah. Saya di sini, Yennu di Jogja," jelas Mo’ong, yang sementara waktu menetap di Vilnius, Lithuania.

Kolaborasi dengan Yennu terjadi pada akhir 2017, tak lama selepas Menara Ingatan dipentaskan di Jakarta. Kala itu, mereka punya pemikiran yang sama, tentang bagaimana menuangkan musik tradisi ke dalam medium yang "baru."

"Sebetulnya Raja Kirik itu bukan pure musik. Kami ingin menyampaikan pesan bahwa di Jawa ada narasi sejarah semacam ini," ungkap lulusan master di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tersebut. "Musik hanyalah bahasa yang kami pakai."

Dalam Raja Kirik, Yennu dan Mo’ong menyandarkan kreasinya pada pementasan Jaranan Buto yang merupakan bagian dari tari kuda lumping yang berkembang di Jawa. Mo’ong mengaku tidak banyak berkompromi ketika membikin karya kolaborasi dengan Yennu.

"Artinya, kami sama-sama tahu porsinya seperti apa. Misalnya, saya bikin tiga materi, lalu Yennu yang melengkapi. Begitu juga sebaliknya," cerita Mo’ong. "Meski style kami beda, visi kami sama. Itu yang memudahkan proses kreatif Raja Kirik."

Pada 2018, di bawah label Yes No Wave Music, album debut Raja Kirik, dirilis. Yennu memainkan perkakas elektronik, sementara Mo’ong membawa alat musik ciptaannya sendiri seperti suling berukuran jumbo hingga rebab atau tarawangsa yang dibikin dari bahan-bahan bekas.

Album Raja Kirik berisikan enam komposisi yang semuanya menawarkan lanskap teramat gelap. Lewat nomor macam “Bang Bang Wetan” maupun “Jaran-Jaran Ucul,” Yennu dan Mo’ong berhasil menghidupkan atmosfer peperangan, kemarahan, kekecewaan, sampai keterasingan.

"Karena memang inilah yang ingin kami angkat. Raja Kirik itu simbol dari resistensi, sebuah perlawanan, yang mana meskipun ini berangkat dari sejarah, tapi akan menemui relevansinya di masa sekarang," ujar Mo’ong.

Yennu pun membenarkan bahwa muatan politik yang termaktub dalam karya-karya Raja Kirik cukup begitu besar. Melalui Raja Kirik, Yennu ingin memperlihatkan bahwa sejak zaman kerajaan sampai modern, rakyat punya intensi melawan kekuasaan, meski pendekatan maupun cara yang diambil berbeda-beda.

"Tapi, secara keseluruhan, aku tidak menggambarkan perlawanan antara wong cilik dan wong besar,” demikian dia mencoba meyakinkan. "Aku tidak mau terperangkap perang satu melawan satu sebab yang dihadapi lebih besar daripada itu.

Karya-karya yang dibikin Yennu, atau yang menyertakan perannya, memang tak dapat dilepaskan dari konteks politik. Sebelum Raja Kirik, muatan politik itu terselip dalam Menara Ingatan, yang tema besarnya mengambil sejarah kekerasan di era Kerajaan Blambangan sepanjang kurun Abad 17 sampai Abad 18.

"Karyaku itu politis yang menangkap realitas akan trauma," kata Yennu yang pernah terlibat dalam pementasan Mwathirika (2010) dan Lunang, Laku Laki Laut (2013) garapan Papermoon Puppet Theatre.

Yennu mengangkat persoalan trauma bukannya tanpa alasan. Dia sadar bahwa bangsa ini masih memiliki trauma kolektif yang wajahnya terekam lewat pembantaian massal 1965, sampai kekerasan etnis 1998. Dia meyakini selama tidak pernah ada upaya rekonsiliasi atas tragedi berskala besar, maka peristiwa semacam itu kemungkinan bisa terulang lagi di masa mendatang.

"Ini salah satu bukti kita itu masih terjajah dan belum merdeka," katanya. "Di sinilah politik ada karena pada dasarnya politik itu cara manusia untuk memperoleh kehidupan lebih baik. Selama ini, kan, pengertian kita akan politik sering dibatasi."

Sampai sekarang, Yennu masih berkeinginan terus mengolah dan bereksperimen dengan pelbagai peluang kreasi baru yang menanti untuk ditemukan. Namun demikian, dia tidak abai atas fakta bahwa musik yang digelutinya tidak akan cukup menghasilkan guna bertahan hidup.

"Aku tahu bahwa eksperimentasi [musik] itu sulit [buat hidup]," ucapnya yang disambut gelak tawa. "Makanya di sisi lain aku berusaha, istilahnya, bener-bener cari duit untuk menghidupi keinginanku ini."

Kendati demikian, peluang untuk memperoleh tempat dan momentum yang lebih proporsional bagi scene eksperimental bukannya kosong belaka. Yennu mengungkapkan bahwa sejak Senyawa, kelompok yang digawangi Rully Shabara dan Wukir Suryadi, melejit ke panggung internasional, banyak mata yang kemudian tertuju ke bakat-bakat lainnya di Indonesia.

"Senyawa itu membuka pintu buat kami-kami ini. Sejak mereka melambung dan seperti tanpa lawan, banyak kurator dari luar yang mampir ke sini. Mereka mencari potensi-potensi baru yang sekiranya bisa dipromosikan," terangnya. "Makanya, sejak itu negara-negara di Asia seperti Thailand dan Taiwan maupun Eropa ‘melihat’ kami."

Akan tetapi, popularitas, bagi Yennu, merupakan hal yang ke sekian. Untuknya, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar senantiasa konsisten berkarya, membikin lompatan-lompatan yang mengejutkan, serta memperkenalkan lebih banyak lagi tradisi musik milik Indonesia. Dari rekam jejaknya lima tahun terakhir, dia sudah merintis separuh jalan menuju cita-cita besar tersebut.

Faisal Irfani adalah jurnalis lepas di Jakarta. Follow dia di Instagram