Belanja Sampai Mati

Kenapa Sih Harga Buah di Indonesia Mahal? Ini Sebabnya Kata Pakar

WNI di luar negeri pasti tahu mahalnya harga buah di Tanah Air dibanding UMR. Maksud hati ingin hidup sehat, apa daya nasi Padang lebih terjangkau. Satu biang keroknya adalah rantai pasok ruwet.
30 Juli 2020, 11:45am
Harga buah di Indonesia Lebih Mahal dari Luar Negeri
Ilustrasi buah-buahan segar dijual di pasar [kiri] via Pxhere; ilustrasi planking di lantai supermarket via akun Flickr theerin/lisensi CC 2.0

Iseng membuka tautan promosi pusat perbelanjaan Superindo, saya mendapati kenyataan miris: sudah didiskon 45 persen, harga apel Fuji masih dibanderol Rp27 ribu per kilonya. Jeruk mandarin, buah kesukaan saya, bahkan dilabeli Rp60 ribu per kilo dalam katalog tersebut. Sontak, mimpi anak muda penuh hasrat menjalani pola hidup sehat mendadak kabur tipis-tipis. Kalau dipaksakan rutin membeli, tubuh sih emang sehat, neraca keuangan saya yang tidak.

Gimana mau sehat dengan mengonsumsi buah-buahan kalau harga buah justru lebih mahal daripada sepiring nasi lauk telur di rumah makan Padang dekat kontrakan yang bisa bikin saya kenyang seharian?

Penasaran, saya iseng berselancar harga buah-buahan lokal, berharap harganya lebih murah daripada buah impor. Lagian, ini bisa jadi bentuk nyata saya mendukung karya anak bangsa.

Sayang, hasilnya mengecewakan, pisang Sunpride dari Lampung yang kerap kita temui terpajang di Indomaret, harganya Rp26 ribu sekilo. Mangga harum manis di marketplace daring dijual di kisaran Rp30 ribu ke atas per kilonya (enggak usah ngecek harganya di swalayan Papaya, bisa bikin nangis).

Harapan saya sempat timbul saat melihat harga pepaya hanya Rp10 ribu sekilo. Hmm, apakah ini tandanya saya harus selalu makan buah pepaya, membuat sambal pepaya, dan racik pempek isi pepaya?

Tapi mungkin saja sih, masalah harga buah mahal ini udah jadi problematika dunia internasional. Asumsi sotoy saya, buah emang kodratnya tercipta mahal, di mana pun ia berada.

Saya lantas ngobrol sama Brita Putri Utami, ibu satu anak yang sempat setahun tinggal di Canberra, Australia. Kepadanya, saya bertanya perbandingan harga buah di Australia dan Indonesia. 

“Kalau di Indonesia tergantung musimnya dan tergantung buahnya apa. Ada yang konstan harga segitu terus, seperti pepaya. Tapi, kalau dibandingin secara umum [dengan Australia], menurutku harga buah di Indonesia mahal banget,” ujar Brita.

“Misal, pisang ya. Pisang kalau enggak salah [merek] Sunpride kita enggak impor, tapi sekilo bisa Rp25 ribu. Di Australia, sekilo cuma AU$1,5-2 (setara Rp15-20 ribu). Apel juga segitu, sekilo AU$2.”

Fakta ini jelas bikin saya makin kesal. Bagaimana mungkin Australia dengan UMR yang lebih tinggi daripada Indonesia, buah-buahannya malah lebih murah. Pasti ada konspirasi Jeff Bezos di balik ini semua. Eh, ternyata kalau nyempatin browsing bentar aja, data terkini menyebut harga pisang di Kota New York Amerika Serikat seperempat kilogram Rp12 ribu. Itungannya itu opsi makanan sehat yang terjangkau, mengingat pendapatan rata-rata keluarga kecil di New York setara Rp1,5 miliar per tahun. Cek juga harga pisang di London, yang per kilonya sekitar Rp16 ribuan (dan itu juga udah sempat naik). Padahal pisang adalah buah tropis.

UMR Australia sendiri berkisar AU$ 19 per jam atau AU$ 152 per hari, setara Rp1,5 juta lah. Kalau sebulan ada 20 hari kerja, berarti minimal kita dapat Rp30 juta-an. Bandingkan dengan UMR DKI Jakarta yang Rp4,2 juta, namun masih juga dikaruniai harga beli apel yang lebih mahal dari Australia.

Wajar dong kalau saya dan banyak orang lainnya kesulitan untuk hidup sehat dengan rutin makan buah. Akhirnya makan ayam geprek lagi, ayam geprek lagi.

Sedih atas kenyataan ini, saya mencari tahu alasan harga buah di Indonesia kelewat mahal. Kokok Dirgantoro, seorang pemerhati produk pertanian, jadi tempat saya bertanya. Lewat WhatsApp, saya mengajukan pertanyaan besar tersebut: apakah saya hanya pantas makan pepaya dan mangga diskon jika ingin rutin mengonsumsi buah?

“Masalah utama buah kita bukan pada produksi, berlapisnya rantai distribusi, atau petani. Masalah utama adalah keseriusan pemerintah. Petani, produksi, panen, pasca-panen, dan distribusi sampai saat ini belum menjadi fokus pemerintah. Akibatnya, penyelesaian masalah buah terjadi parsial, tidak pernah holistik,” ucap Kokok.

“Konsumsi buah per kapita per tahun untuk kesehatan layak setahu saya 70 kg, RI baru 30-35 kilogram. Kurangnya serat dan vitamin dapat berdampak pada kesehatan, penyakit, dan lain-lain. Dengan meningkatkan awareness tentang kesehatan, Republik Indonesia perlu meningkatkan produksi buah dan sayur. Karena kalau tidak siap, bakal dihujani produk impor.”

Kelar masalah utama, Kokok masuk ke masalah ‘non-utama-tapi-juga-penting’. Pertama, ia menilai skala tanam tidak bisa sangat besar di Indonesia, dan ini tidak baik untuk sisi bisnis.

“RI produksi jeruk se-Indonesia sekitar 2 juta ton, Brazil produksi jeruk yang pernah saya baca, 20 juta ton. Hal sama terjadi di jambu biji. RI mungkin masih ratusan ribu ton, India bisa di atas 20 juta ton per tahun. Dengan skala tanam besar, biaya produksi dan harga menjadi sangat efisien.”

Kedua, berlapisnya rantai distribusi. Dari kebun petani hingga berakhir di mulut saya, biasanya ada 5-7 rantai distribusi: mulai dari pengepul kecil sekitar petani, pengepul besar, pasar induk, pasar tradisional, toko buah, tukang sayur keliling, dan lain-lain. Karena tiap-tiap rantai ngambil untung, jadilah harganya naik jauh dari harga jual petani.

“Mengapa ini terjadi terus dan tidak bisa dilawan? Karena lemahnya posisi tawar petani. Misal petani menanam buah naga setahun 24 ton, per bulan dua ton. Itu buah harus habis dalam waktu yang tidak terlalu lama karena usia buah yang pendek [busuk, rusak]. Menjual dua ton dalam waktu singkat tentu tidak mudah. Petani mikir asalkan laku dan untung, cepat-cepat dijual. Hal ini dimanfaatkan tiap-tiap rantai distribusi,” jelas Kokok lagi.

Sorotan terbesar tetap Kokok tembakkan ke negara. Soalnya, buah murah tidak pernah dikampanyekan dengan baik. Kokok mencontohkan kedondong yang kandungan vitamin C-nya enggak kalah dengan jeruk impor, tapi pengetahuan ini enggak didorong oleh pemerintah. Mereka juga dianggap Kokok tidak serius melawan dominasi asing dalam ranah buah meja, kelompok buah yang dikonsumsi harian oleh keluarga.

“Buah meja yang paling populer adalah apel, jeruk, pisang, dan pir. Apel hampir 100 persen impor, jeruk 30-40 persen impor, pir 100 persen impor, hanya pisang yang bisa cukupi kebutuhan sendiri. Buah-buah dari negara-negara yang punya skala tanam besar dan pemerintahnya support, memiliki keunggulan fisik dan harga. RI tak punya strategi melawannya,” tutup Kokok.



Saat ini, Brita sudah meninggalkan Canberra dan menetap di Tangerang. Ia tak lagi dimanjakan dengan buah-buahan murah. Demi memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga sehari-hari di Indonesia, Brita tetap menyisipkan buah dalam belanja mingguan dengan pertimbangan harga.

“Sehat sederhana disesuaikan budget. Misal, tetep konsumsi buah tapi bukan buah mahal hahaha. Misal, harus ada pepaya, [kalau beli] lemon ya lemon lokal. Biasanya aku habis Rp200 ribu seminggu buat sayur aja. [Kalau buah] yang selalu ada pepaya, lalu [opsional] pisang dan pir curah, Rp10 ribu dapat tiga/empat,” tutup Brita.

Ya sudah, mau gimana lagi. Sementara menunggu pemerintah serius membantu menekan harga buah, saya harus ikhlas makan buah pepaya, membuat sambal pepaya, dan meracik pempek pepaya terlebih dahulu.