Transportasi Umum

Pengguna TikTok Bagikan Video Buat Diputar saat Kamu Merasa Terancam di Taksi Online

Distribusi video perlindungan diri menjadi penting, karena risiko pelecehan dan situasi tak menyenangkan lainnya masih menghantui berbagai bentuk transportasi umum Indonesia.
19 Maret 2020, 9:23am
Video TikTok Panduan Perlindungan Diri Jika Merasa Terancam di Taksi Online
Kolase oleh Yandri. Screenshot video perlindungan diri di TikTok [kiri] via akun alfianrzk; ilustrasi taksi online via unsplash

Berita baik: TikTok ternyata enggak cuma berisi joget-joget gemes dan jilat-jilat dudukan jamban aja. Platform remaja paling panas saat ini tersebut pada Selasa (17/3) jadi wadah kampanye perlindungan diri terhadap potensi kejahatan yang bisa terjadi ketika kita naik taksi atau kendaraan umum.

Seorang pengguna dengan username @alfianrzk mengunggah video singkat yang membuat kita seolah-olah berbicara dengannya. Isi dialognya sederhana, kita diminta mengikuti arahan video yang bertujuan ngasih tahu sekeliling kalau lokasi kita dipantau terus sama orang lain.

Per Rabu (18/3) siang, video yang dibagikan ulang di Twitter itu udah dibagikan hampir 18 ribu kali dan disukai 50 ribu akun. Dalam kampanyenya, setiap orang diminta menyimpan video tersebut agar bisa digunakan jika merasa dalam bahaya.

Distribusi video perlindungan diri macam ini menjadi penting karena masih banyak kejadian tidak menyenangkan yang terjadi di transportasi umum, terkhusus pelecehan seksual. Dua tahun lalu, Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) melakukan survei kepada 62 ribu responden dari seluruh Indonesia.

Hasilnya, tiga dari lima perempuan yang menggunakan kendaraan umum telah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual. Angka untuk pria lebih rendah namun sama menyedihkannya: satu dari 10 laki-laki juga mengalami kekerasan seksual.

"Para responden ini juga mengungkapkan fakta bahwa perempuan memang 13 kali lebih rentan mengalami pelecehan di ruang publik daripada laki-laki. Mulai dari pelecehan verbal seperti siulan, suara kecupan, komentar atas tubuh, komentar seksual yang gamblang, rasial, main mata, foto diam-diam, klakson, hingga mempertontonkan masturbasi di depan publik," kata Perwakilan KRPA RAstra dilansir CNN Indonesia.

Bus menjadi kendaraan umum yang paling banyak terjadi pelecehan seksual (35 persen). Di bawahnya ada angkot (29 persen), kereta rel listrik (18 persen), baru ojek online (5 persen).

Juni lalu misalnya, polisi menangkap Aris Suhandini (31), seorang sopir ojol yang merampok penumpang perempuan berinsial S (22). Korban pulang kerja dari Plaza Indonesia mau pulang ke rumahnyaa di Pluit. Dalam perjalanan, tiba-tiba Aris menepikan mobil untuk melancarkan aksinya. Ia mengikat korban dengan tali sepatu dan mengancamnya untuk menyerahkan uang.

Dari situ, korban dibawa ke daerah Blok M untuk dipaksa mengambil uang di ATM sebesar Rp4 juta. "[Saya tanya] kenapa melakukan itu, motifmu apa. Katanya khilaf. Kok ada khilaf jalan-jalan muter. Ketika dapat info dari kakaknya, ternyata dia terlilit utang," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dikutip Detik. Dari situ, korban ditinggalkan. Aris diamankan saat bersembunyi di rumah kakaknya di Pondok Gede, Bekasi.

Mudah-mudahan dengan penggunaan video tersebut, dibantu sistem pelaporan untuk melindungi diri kayak fitur Grab Emergency, kemungkinan kejahatan dalam kendaraan umum bisa ditekan.