Film

Anime Memupuk Semangat Kita Agar Lebih Peduli Lingkungan Lho

Tak hanya menampilkan keindahan alam, banyak film animasi garapan Makoto Shinkai dan Studio Ghibli menyerukan apa yang selama ini diperjuangkan aktivis lingkungan.
28 Juni 2020, 2:00am
weathering with you
Weathering with You

Film-film Studio Ghibli, atau anime pada umumnya, enggak pernah gagal bikin hati senang dan hangat. Apalagi di saat kita dihadapkan pada berbagai situasi menakutkan seperti sekarang ini. Namun, anime tak sebatas menghibur saja. Ada banyak pesan dan pelajaran penting yang bisa dipetik darinya. Studio animasi sering menggabungkan unsur-unsur mitologi kompleks dengan etos lingkungan yang kuat ke dalam film mereka, sehingga tema-tema yang diangkat tak jarang meramal masa depan dunia jika kita mengabaikannya.

Mari ambil contoh film Ghibli paling populer, Princess Mononoke. Bisa dibilang ini adalah karya Hayao Miyazaki yang paling vokal mengkritik polusi dan urbanisasi. Film animasi epik ini menggambarkan perang brutal antara manusia dan dewa binatang. Keseimbangan alam terancam ketika penduduk desa menebangi hutan untuk kepentingan produksi besi dan baja. Dewa babi hutan Nago berubah jadi iblis setelah terluka peluru, dan menyemburkan racun hitam mematikan ke arah pangeran Ashitaka sebagai kutukan.

Princess Mononoke menjelaskan dengan sangat sederhana bahwa kita akan merasakan dampak dari apa yang telah kita perbuat. Dalam film ini, penduduk desa Irontown merusak alam dan menderita setelahnya. Hutan hijau dan pegunungan menjulang tinggi yang menawan mati di tangan para manusia serakah.

Kemudian ada My Neighbour Totoro, yang menggambarkan dunia damai nan tentram. Filmnya menunjukkan betapa alam ini dipenuhi keajaiban jika kita melindunginya. Totoro adalah makhluk penunggu hutan kuat tapi baik hati. Dia suka tidur di bawah pohon kapur, dan raungannya dapat menghasilkan hembusan angin hebat. Totoro bersahabat dengan kakak-beradik Satsuki dan Mei. Penggambaran karakternya mengacu pada ‘Kami’ dalam ajaran Shinto. ‘Kami’ dipercaya sebagai dewa yang mengendalikan seisi Bumi. Satsuki meminjamkan payung kepada Totoro ketika hujan. Sebagai imbalan, Totoro menghadiahkan sebungkus benih ajaib yang tumbuh menjadi tanaman hijau. Pertemanan mereka melambangkan keharmonisan hubungan antara manusia dan lingkungan.

Film-film Studio Ghibli menitikberatkan pentingnya menghargai dan menjaga alam dalam bertahan hidup. Nausicaä of the Valley of the Wind mengisahkan dunia pasca-apokaliptik yang mustahil dihuni. Tokoh antagonis ingin mengeluarkan senjata biokimia untuk membasmi hutan beracun yang dapat menghalangi manusia membangun kembali peradaban. Anime ini mengajarkan, ketika kita merusak lingkungan, dampaknya tak hanya dirasakan pada saat itu saja, tetapi juga menyengsarakan generasi selanjutnya.

Nausicaä memilih untuk enggak tergesa-gesa. Dia dengan sabar mencari alternatif yang lebih aman. Ketika bereksperimen di arboretum rahasianya, dia menemukan tanaman beracun yang dapat membersihkan tanah dan memperbarui alam. Nausicaä memimpin rakyatnya untuk menyembuhkan bumi. Keberaniannya mencerminkan kegigihan aktivis lingkungan dalam menyelamatkan planet ini.

Studio Ghibli menelurkan karya film yang sarat dengan tema lingkungan, menekankan dunia akan baik kepada kita jika kita juga baik kepadanya. Namun kenyataannya, tak ada lagi yang namanya dunia penuh kebaikan karena kecerobohan manusia telah merusak segalanya. Dampaknya pun sudah bisa kita rasakan sendiri. Banjir bandang dan karhutla yang terus menghantui setiap tahun menjadi bukti nyatanya.

Beralih dari Studio Ghibli, kini kita membicarakan Weathering With You besutan Makoto Shinkai. Film animasi ini adalah sebuah kisah cinta tragis yang lagi-lagi ada kaitannya dengan lingkungan. Nama Makoto makin dikenal dunia berkat kesuksesan film animasi Kimi no Na Wa ( Your Name) pada 2016 lalu.

Dia bahkan disebut-sebut sebagai penerus Hayao Miyazaki, karena mereka berdua sama-sama memiliki ketertarikan pada kisah sedih dan selalu berhasil menembus box office. Your Name merebut posisi Spirited Away sebagai film animasi terlaris sepanjang masa.

Weathering With You pun sama suksesnya. Anime ini menjadi hit box-office terbesar di Jepang tahun lalu, dan telah meraup pendapatan global sebesar $193 juta (Rp2,7 triliun). Weathering With You mengikuti pertemanan remaja Hina dan Hodaka. Hida adalah anak yatim piatu yang memiliki kekuatan super. Dia bisa mengubah cuaca, dari yang tadinya mendung menjadi cerah. Selama musim hujan di Tokyo, keduanya bekerja sama menciptakan keajaiban demi uang. Hina akan mendatangkan sinar matahari bagi siapa saja yang ingin mengadakan acara. Namun, kekuatan dia enggak bertahan untuk selamanya.

Film ini menantang aspek-aspek lingkungan dalam film Miyazaki. Manusia yang menderita, bukan planetnya. Makoto menghadirkan hujan badai tanpa henti yang menghancurkan semangat warga Tokyo. Tak ada yang berusaha mencegah terjadinya banjir ketika musim hujan, atau merasa khawatir ketika salju turun lebih cepat. “Kasihan sekali anak-anak zaman sekarang. Dulu kami bisa merasakan musim semi dan panas yang indah,” kata seorang tokoh. Sayangnya, orang dewasa enggak memberikan jawaban sama sekali.

Bukannya membawa cerita ke arah kebangkitan moral, Makoto mengalihkan narasi seputar krisis iklim. Dia menggesernya dari universal ke personal. Hodaka dan Hina sama-sama hidup sendirian. Hina ditinggal kedua orang tuanya, sedangkan Hodaka kabur dari rumah karena masalah keluarga. Mereka berjuang bersama melawan segala kesulitan yang menimpa keduanya.

Weathering With You menggemakan amarah dan kekhawatiran yang dirasakan aktivis muda di seluruh dunia. Mereka rutin menggelar aksi melawan krisis iklim. Pilihan yang diambil Hodaka dan Hina di akhir film menentang dunia orang dewasa yang selama ini mengecewakan mereka. Ini melambangkan hebatnya ketahanan manusia dalam menghadapi kekuatan alam. Di adegan terakhir, Hodaka dan Hina berdiri dikelilingi bunga sakura; menggambarkan harapan manis nan pahit.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D

Iklan