The VICE Guide to Right Now

Sebuah Asteroid Raksasa Melintas Dekat Bumi, Bentuknya Seperti Masker Wajah

Sepertinya ini cara alam semesta mengingatkan umat manusia agar selalu pakai masker tiap keluar rumah selama pandemi. *Spoiler: jelas bukan lah.
01 Mei 2020, 3:00am
Asteroid Raksasa 1998 OR2 Batal Menabrak Bumi Berbentuk Mirip Masker
Kolase oleh VICE. Foto lelaki pakai masker [kiri] dari  Ruang Rindu / Pexels;

foto permukaan asteroid 1998 OR2 dari arsip Observatorium Arecibo

Planet Bumi sedang tidak baik-baik saja, karena pandemi corona menyebar ke nyaris semua negara dua bulan terakhir. Supaya kondisi segera kembali normal, pakar kesehatan menyarankan orang-orang pakai masker tiap keluar rumah, cuci tangan sering-sering, serta senantiasa menjaga jarak dari orang lain. Tiga hal itu mulai jadi norma sehari-hari selama pandemi, dan mungkin kita akan terus terbiasa melakukannya bahkan ketika penularan Covid-19 kelak mereda.

Uniknya, yang mengingatkan umat manusia agar rajin pakai masker bukan cuma pakar kesehatan saja. Alam semesta seakan turut mengirim pesan pentingnya memakai masker, lewat sebuah asteroid yang baru saja melintas dekat orbit planet ini.

Asteroid yang oleh komunitas astronom diberi nama 1998 OR2 itu, melintas dekat Bumi pada 29 April 2020. Beberapa tahun lalu, ilmuwan sempat menjulukinya "benda langit berpotensi bahaya" atau disingkat PHO, sebab garis lintasannya terlalu dekat dari planet kita.

Andai masuk ke orbit, hasilnya jelas bencana alam luar biasa. Itulah alasan astronom mengamati gerak-gerik asteroid tersebut sejak 1998, tahun ketika benda langit itu ditemukan. Untungnya, berdasarkan perhitungan berulang kali, risiko tabrakan dipastikan nihil. Terbukti setelah 1998 OR2 melintas, kita semua di permukaan planet masih sehat wal afiat sampai sekarang.

Tapi ceritanya tidak berakhir di situ. Menjelang momen melintasnya asteroid tersebut, ketika manusia bisa memantau wujudnya lebih detail lewat teleskop, para ilmuwan mendapati satu fakta menarik. Bentuk gugusan asteorid tersebut sangat mirip dengan masker wajah.

"Topografi permukaan asteroid tersebut, yang setelah diamati terdiri dari susunan mirip bukit dan lembah di asteroid 1998 OR2 amatlah menarik untuk kajian ilmiah," kata Anne Virkki, Kepala Observatorium Arecibo, Puerto Rico, yang selama sepekan terakhir bertugas mengamati gerak asteroid ini. "Dalam suasana dunia yang disibukkan penularan Covid-19, permukaan 1998 OR2 jelas mengingatkan kita pada masker dan pentingnya memakai masker."

Tentu saja, pernyataan astronom di Puerto Rico cuma bercanda. Itu bukan bentuk masker sungguhan. Otak manusia lah yang mengasosiasikan bentuk tersebut dengan obyek bernama masker. Tipuan mata yang mempengaruhi otak semacam itu diberi julukan pareidolia.

Psikolog menyebutnya sebagai upaya otak mencari pola tertentu dari ketidakberaturan. Ketika wujud suatu obyek terasa asing, kita menghubungkan data yang ada dengan asosiasi benda tertentu dalam ingatan. Pareidolia ini pula yang bikin banyak orang merasa ada bagian tubuh, makanan, atau pohon seakan-akan bertuliskan lafaz atau wajah Tuhan.

Bagaimanapun, kita harus bersyukur. Di tengah pandemi global, tak ada bencana tambahan yang sumbernya dari langit. Pasalnya, ukuran 1998 OR2 sangat besar, diameternya mencapai 152 meter. Jaraknya ketika melintas "hanya" lima juta mil (setara 8 juta kilometer) dari orbit Bumi. Untuk skala astronomi, jarak segitu sangat dekat lho.

NASA dari jauh-jauh hari mempersiapkan bermacam skenario, yang dipastikan "berdampak global", andai asteroid ini tiba-tiba pindah jalur berbeda dari hitungan ilmuwan, dan betulan masuk orbit. Kalau ini benda langit biasa, mungkin kita akan segera melupakannya setelah melintas. Tapi asteroid satu ini tampaknya bakal terus kita kenang, karena wujudnya yang unik akibat tipuan otak, sekaligus statusnya sebagai tersangka pemicu kiamat yang untungnya tidak sampai kejadian.

Follow Shamani Joshi di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India

Iklan