Prediksi Kiamat

Ilmuwan dari Berbagai Negara Menyimpulkan Bumi Makin Mendekati Kiamat

Kelompok nonprofit The Bulletin of the Atomic Scientists menggerakkan 'jam kiamat' 100 detik menjelang tengah malam, rekor estimasi terdekat dari kondisi yang bisa memicu akhir dunia.
24 Januari 2020, 6:21am
Ilmuwan dari Berbagai Negara Menyimpulkan Bumi Makin Mendekati Kiamat
Sumber foto: The Bulletin of the Atomic Scientists

Kelompok ilmuwan dari berbagai negara memperkirakan Bumi sedang mendekati kiamat, dengan estimasi jauh lebih pesimis dibanding sebelumnya.

Kesimpulan itu disampaikan The Bulletin of the Atomic Scientists—sebuah kelompok nonprofit terdiri dari ilmuwan dan pakar keamanan yang memantau semua kemungkinan kiamat akibat perilaku manusia. Kelompok ini baru saja menggelar jumpa pers, dan secara simbolis menggerakkan Doomsday Clock (indikator berupa jam yang menggambarkan risiko kiamat dipicu perang ataupun kerusakan lingkungan akibat ulah manusia) 100 detik menjelang tengah malam. Itu angka paling dekat dengan tengah malam, alias situasi menyerupai kiamat, selama 75 tahun sejarah pemakaian jam tersebut.

"Umat manusia sedang menghadapi dua ancaman besar dalam satu waktu, kemungkinan perang nuklir serta perubahan iklim. Dua persoalan besar itu diperparah dengan adanya perang siber antar negara serta disinformasi yang membuat masyarakat sulit sigap merespons berbagai ancaman," demikian keterangan tertulis dari the Bulletin of the Atomic Scientists.

"Keamanan internasional kini amat rawan, bukan hanya karena ancamannya hadir secara nyata, tetapi juga diperparah oleh respons para pemimpin negara yang tidak mendukung adanya upaya nyata untuk menghentikan berbagai risiko tersebut."

Doomsday Clock diperkenalkan pertama kali ke publik pada 1947, merespons dampak nyata serangan bom atom di Jepang menjelang akhir Perang Dunia II. Jam tersebut secara simbolis menggambarkan seberapa dekat kemungkinan manusia mengakhiri peradaban yang kita kenal sekarang akibat ulahnya sendiri, memakai patokan ilmiah serta kajian ancaman global yang sahih.

Beberapa faktor yang membuat ilmuwan pesimis soal masa depan dipicu perilaku negara-negara besar. Amerika Serikat dan Rusia tahun lalu keluar dari perjanjian pelucutan nuklir yang melarang produksi rudal berhulu ledak nuklir dengan jangkauan 5.000 kilometer. Kedua negara juga segera menggelar uji coba nuklir setelah keluar dari perjanjian era Perang Dingin itu.

Pemutakhiran perjanjian pada Era Obama akan berakhir pada Februari 2020. Tetapi Presiden Donald Trump menunda-nunda pembaruan komitmen soal pelucutan nuklir. Padahal Rusia sebetulnya bersedia untuk terus melanjutkan larangan produksi bom atom dan rudal jarak jauh. Alhasil, Rusia kini juga kembali mengembangkan hulu ledak nuklirnya, menyusul Korut, lantaran AS tampaknya memilih opsi mempertahankan pemakaian senjata pemusnah massal.

"Saya harus mengakui, awalnya detik mendekati tengah malam saat kami memutakhirkan kajian pada November 2019 tidak sedekat ini," kata Sharon Squassoni—salah satu anggota the Bulletin sekaligus guru besar keamanan internasional dari George Washington University—saat menggelar jumpa pers. "Detiknya terpaksa kami naikkan [mendekati tengah malam] merespons tindakan militer AS terhadap Iran, serta melihat perkembangan Korut yang tidak menghormati kesepakatan dengan AS soal nuklir."

Tentu saja, bukan cuma nuklir yang memperburuk risiko kiamat makin dekat. Perubahan iklim adalah faktor penting lain. Kita tahu, mayoritas ilmuwan sepakat peningkatan suhu bumi terjadi akibat kecerobohan manusia menghasilkan polusi dari aktivitas industri berbasis migas dan manufaktur. Stabilitas politik internasional pun melemah, setelah disinformasi menyebar dengan cepat lewat media sosial.

"Berkembangnya teknologi deepfake, membuat video wajah dan suara bisa dimanipulasi, menambah rentan situasi, karena masyarakata biasa akan sulit memisahkan fakta dengan disinformasi," kata Robert Latiff, purnawirawan Angkatan Udara AS sekaligus anggota the Bulletin dalam jumpa pers yang sama.

Pada 1947, ketika pertama kali diperkenalkan, the Bulletin memasang jam kiamat itu tujuh menit menjelang akhir peradaban. Titik rendah, sekitar dua menit jelang tengah malam, tercapai ketika AS dan Uni Soviet saling menguji coba senjata nuklir pada 1953. Namun baru kali ini, jam kiamat dipasang bukan lagi di level menit, tapi sudah tinggal hitungan detik.

Memang, jam kiamat hanya imbauan dari kalangan ilmuan soal potensi kiamat. "Tapi kalau tidak direspons dengan serius oleh para pemangku kebijakan, maka isunya bisa bertambah buruk," kata Peter W. Singer, pengamat politik internasional dan penulis buku

Burn-In: A Novel of the Real Robotic Revolution—saat diwawancarai Motherboard. "Ketika jam kiamat diciptakan sebagai indikator, dunia belum mengenal internet, Soviet belum memiliki senjata nuklir."

Jam Kiamat kini tengah disetting menjelang tengah malam. Terserah pada kita semua, untuk percaya kiamat akan datang atau tidak. Seperti biasa, penyesalan di akhir tidak akan berguna.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard