Iklan
LGBTQ di Indonesia

Catatan Perjalanan Seorang Transpuan Kembali ke Makassar, Berdamai dengan Masa Lalu

Hae minggat setelah sering dipukuli karena identitas gendernya—hal lumrah di Tanah Air. Ia memutuskan pulang setelah 36 tahun tak bertemu keluarga. Kontributor VICE mengikuti perjalanan Hae yang mengharukan.

oleh Eko Rusdianto
08 Januari 2019, 7:28am

Hae, bersama keluarga mengunjungi makam Ibu dan Saudaranya di Pemakaman Islam Dadi, Makassar. Semua foto oleh penulis.

Sudah 36 tahun Ho Chiang Seng alias Hae tidak menapak Makassar. Selama itu pula bungsu dari lima bersaudara ini meninggalkan semua yang dimilikinya dulu: ibu, kakak, keluarga, dan kerabat yang ia kenal di kota tempat ia dibesarkan. Pengalaman buruk di masa lalu mendorongnya kabur ke Pulau Jawa, hidup jauh dari keluarga.

Baru kali ini Hae punya kesempatan untuk menapak kembali kampung halamannya. Baru kali ini pula ia bisa menyambung kembali tali persaudaraan dengan sanak famili yang telah putus berpuluh tahun lamanya.

Kepulangannya ke Makassar pada 24 Desember 2018, salah satunya, adalah demi mencari kembali sang ibu. Bukan hanya tak pernah bertemu, nyaris selama empat dasawarsa Hae juga tak pernah bertegur sapa atau bercengkerama dengan ibunya. Perpisahan mereka yang terjadi pada 1982 bukan perpisahan yang mengenakkan. Hae, panggilannya di masa kanak, tak kuat lagi menahan derita dipukuli dan diperlakukan semena-mena setiap hari, hingga akhirnya ia memilih minggat meski pilihannya itu membuat ia jauh dari ibunya yang ia sayang.

Ia nekat melakukan perjalanan menuju Jakarta bermodalkan duit yang ia curi dari dompet ibunya.

Duit itu lantas diberikan pada seorang calo. Di pelabuhan Soekarno-Hatta Kota Makassar, si calo memintanya bersembunyi di belakang tampungan air sebuah kapal. Instruksinya, ia tak boleh keluar dari sana sebelum kapal melepas sauh. Arahan itu manjur adanya. Hae berhasil pergi sejauh-jauhnya yang ia bisa.

Saat minggat Hae sudah berumur 23. Di Jakarta ia menemukan tempat tinggal di daerah Rawa Badak, Jakarta Utara. dia berkenalan dengan beberapa transgender perempuan dan menjadi anak asuh salah seorang dari mereka. Untuk bertahan hidup, dia memasuki dunia malam. Dunia yang semula begitu asing dan keras baginya. Di kawasan Pulomas, Jakarta Utara, Hae harus berani “bagulat” alias berkelahi satu lawan satu dengan dedengkot transgender perempuan lain. Jika berhasil, maka si pemenang akan diberikan kebebasan mengkases wilayah itu. Jika kalah, maka konsekuensinya adalah tetap menjadi suruhan.

Setahun di Jakarta, Hae mulai bisa mendapatkan uang. Beberapa impiannya semenjak di Makassar untuk menggunakan sepatu hak tinggi dan pakaian sesuai selera akhirnya terkabul. “Ya keluar dari Makassar itu, seperti burung lepas dari sangkar. Bebas dan merdeka," kata Hae. Mengapa bebas? "Sejak kecil saya ini sudah seperti ini. Jadi kakak saya, tak ingin saya gemulai. Saya diajar berkelahi lah. Saya diajar jalan macho. Saya disuruh berbicara dengan suara besar," katanya.

"Ya tidak bisa, ini bukan saya yang buat-buat. Tapi dari sananya. Jasmani saya laki-laki. Tapi bagian dalam tubuh saya secara naluri itu perempuan... Dulu kalau liat Noni (kakak tertua Hae) itu jalan pake sepatu hak, saya di belakangnya selalu berdoa, pasti suatu saat saya akan bebas pakai sepatu seperti itu," kata Hae.

"Di Makassar kalau saya seperti itu jangankan niat, kelihatan saya jalan yang menurut kaka seperti perempuan, saya pasti kena pukul. Kena tendang. Itu berkali-kali."

Inilah masalah yang membuat ia tak kerasan di rumah.

Jakarta bukan pengembaraan pertama dan terakhir bagi Hae. Dari ibukota, ia melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Di kota ini Hae mendapat nama baru yang lebih sering ia pakai: Weni. Hae merasa menemukan jati diri. Lambat laun ia jadi dikenal sebagai transpuan yang jago berkelahi dan tak gentar memukul orang yang berani macam-macam. Dia bahkan pernah menimpuk seorang lelaki dengan batu hingga kepala pria itu berlumuran darah.

Suatu kali ia pernah berkelahi dalam sebuah mobil Jeep yang sedang melaju. Kepalanya kena palu dan akhirnya mobil tertabrak di sebuah pohon. "Waria itu juga kan manusia. Kita punya harga diri. Kan kalau tidak suka dan tidak sepakat berarti nda boleh paksa dong ya," kata Hae.

Dari Surabaya, pengembaraan Hae berlanjut. Ia pindah ke Semarang, Solo, Purwokerto, kembali ke Solo, singgah di Bali, dan akhirnya menemukan pelabuhan terakhir di Yogyakarta. Di sana ia bekerja sebagai pengrajin rambut palsu. Penjelajahannya ke berbagai wilayah itu membuka jaringan pertemanan teman-teman yang senasib sepenanggungan.

Jaringan kawan dari Makassar dan Yogyakarta itulah yang membantunya pulang, membelikan Hae tiket pesawat. Bermodalkan tiket itu, Hae menjajal rasanya naik pesawat untuk pertama kali dalam hidupnya.

Lalu mengapa Hae alias Weni pergi begitu lama dan tak pernah kembali ke kampung halamannya? Mengapa pada usia melebihi setengah abad baru terpikirkan? "Tidak. Saya sejak di beberapa kota, saya ketemu dengan teman-teman dari Makassar juga. Saya minta tolong ke mereka, kalau mereka pulang untuk melihat rumah di jalan Sungai Poso. Untuk memastikan keluarga sehat dan mendapatkan kontak," katanya.

"Tapi teman-teman bilang sudah tidak ada. Keluarga saya sudah pindah. Saya ingin memastikan, apakah jika saya pulang keluarga bisa menerima keadaan saya. Itu saja."

1546856681108-Hae-berkumpul-kembali-bersama-keluarga-Bersama-saudara-ponakan-cucu-hingga-cicit-2
Hae bersama keluarga yang ia temui di Makassar

Keriput pada wajah Hae sudah jelas tampak. Beberapa gigi depan sudah tanggal. Yang tersisa, mulai menghitam karena pengaruh nikotin. Ia sudah 59 tahun saat kembali ke Makassar. Tubuhnya kecil dan bicaranya sangat lembut jika dibandingkan dengan dialek orang-orang di tanah Bugis.

Di atas taksi online, Hae memutar ulang ingatannya akan jalanan Makassar yang terpatik kembali oleh apa yang ia lihat di depan mata. "Di ujung jalan ini [jalan Bawakaraeng-red], di sudut ada restoran Bambuden yang mahal. Tempat makan orang-orang Chaenes (Cina) kaya. Terus belok kanan. Nanti ada SD (sekolah dasar), pertigaan itu sudah jalan Sungai Poso," kata Hae.

Wajahnya menjadi cerah. Dia menemukan kembali rute jalan pulang puluhan tahun lalu. Dari Jalan Sungai Poso, menggunakan sepeda menuju pasar Kalimbu. Atau setiap pagi membawa beberapa penganan kue lalu disebar ke warung-warung kopi. Lalu pada sore di hari yang sama, kue yang tidak laku diambil kembali.

Kisah keluarga Hae bermula dari jalan Sangir, sekitar 5 kilometer jauhnya dari rumah di Jalan Sungai Poso. Papanya Hae, Ho Cheng Hoa, berprofesi sebagai pengrajin kayu. Dia menempati rumah besar dengan halaman yang luas. Papanya menikah dua kali. Istri pertama –yang disapa Mami oleh Hae– adalah seorang beretnis Tionghoa. Di perkawinan pertama tersebut, mereka tidak memiliki anak. “Jadi dalam rumah itu, ada dua keluarga. Dua istri papa ini tetap akur,” kata Hae.

Singkat cerita, ayahanda Hae meninggal dunia saat ia kecil. Saat Hae berusia sekitar 15 tahun, keluarga menjual rumah di Jalan Sangir. Empat kakak Hae, sudah berkeluarga dan berpisah rumah. Hae dan ibunya Radiah, ikut dengan suami Daeng Baji- anak kedua Radiah- ke rumah di Jalan Sungai Poso.

Daeng Baji, kakak keduanya Hae, punya anak delapan orang. Di sana Hae membantu urusan keluarga, bekerja sebagai penjual kain di Pasar Butung hingga pengisi air bak toilet di bioskop Ratu. Namun demikian kerja kerasnya itu tak satupun yang dinikmatinya. Dia tahu berapa upahnya, tapi tak penah memegangnya.

Mata Hae, masih jelalatan. Dia mencari pohon sawo, tapi sudah ditebang. Hae bertemu dengan seorang kerabat yang mengantarkannya pada keponakan Hae bernama Edi Muchtar, anggota keluarga pertama yang ditemui Hae di Makassar. Edi adalah anak dari Daeng Baji. Dari Edi ia ketahui bahwa ibunya yang ia cari sudah lama berpulang. Mendengar kabar itu, Hae berusaha tampak biasa-biasa saja. Ia diam dan terus merokok, hanya saja tangannya sedikit gemetar.

Setelah pembicaraan tentang meninggalnya ibunda Hae berlalu, Edi melontarkan ajakan.

"Kita ke rumah mamak malam ini ya angku (panggilan paman dari saudara ibu). Nanti angku ketemu mamak, saudaranya," kata Edi ketika kami kembali bertemu di rumahnya di kawasan Mannuruki.

"Nanti mamak mu pukul lagi," kata Hae sembari bercanda.

"Ah tidak ada itu. Kalau ada yang mau menyentuh angku, saya kipas semuanya," kata Edi.

1546856733634-Bertemu-Edi-Muchtar-keponakan-yang-ditinggalkan-saat-masih-kelas-dua-sekolah-dasar-tahun-1982-2
Bertemu denga Edi Muchtar, keponakan Hae

Ada saat di mana hampir semua perantau merasakan kerinduan pada kampung halaman secara berlebih. Apalagi saat hari raya dan momentum tertentu. Hae ingat betul beberapa kawannya sibuk mencari tiket dan membeli beberapa buah tangan untuk pulang kampung. Sementara dia tak pernah merasakan ritual serupa. "Alangkah enak jika punya tujuan," celetuknya.

Pada saat seperti itu, ketika para kawan pulang ke rumah dan keluarga menerima, Hae merasa terpukul. Kekalutannya itu biasanya dilampiaskannya pada minuman keras. Malam takbiran, menjelang dini hari dia meneguknya dan benar-benar tak mampu lagi beringsut. Lalu tertidur dan membuat dunianya menjadi lebih ringan.

Dia menengadah, kadang-kadang melafalkan nama-nama saudaranya dalam hati, nama papanya, nama ibunya, mengingat kembali rupa wajah mereka. Membayangkan ponakan-ponakan yang tak ia tahu seperti apa rupa mereka ketika telah beranjak dewasa. Rindu yang tak terbalas itu biasanya ia basuh saja dengan alkohol yang mengalir panas di tenggorokan.


Tonton wawancara VICE bersama Jovi Adhiguna yang sering dapat sorotan negatif hanya karena mempertahankan identitas sebagai pesohor androgini:


Di rumah seorang ponakannya yang lain, tertanggal 27 Desember, Hae membuka-buka sebuah album foto keluarga. Dalam album itu ada foto pernikahan Noni, kakaknya yang paling tua, yang paling ia sayang karena hanya Noni lah yang tak pernah memarahi. Ia anggap Noni sebagai pelindung. Baru ia ketahui pula kalau Noni pun sudah tiada. Meninggal 27 Desember 2017, tepat setahun sebelum Hae membuka-buka album foto itu.

Sebuah foto close up Noni, berwarna hitam putih diberikan padanya. Hae memasukkannya dalam lipatan dompetnya. "Kalau ada yang lihat, nanti aku bilang ini foto istri saya, hahaha..."

Album foto itu membangkitkan banyak kenangan di benak Hae. Saat membulak-balik halaman album, rasa kehilangan menerjang hatinya. Rasa sedih kehilangan ibunya kembali melanda. Hae terdiam dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ia bulak-balik halaman album mencari foto ibunya, tak satupun ada.

Setelah selesai pembacaan doa peringatan setahun kepergian Noni, Hae dan sanak keluarga lainnya berangkat bersama ke pemakaman Islam Dadi. Di sana mereka berjalan menuju pusara dengan dua dua nisan; Noni yang meninggal pada 2017 dan Radiah yang meninggal pada 1995.

1546856783575-Hae-bersama-keluarga-mengunjungi-makam-Ibu-dan-Saudaranya-di-Pemakaman-Islam-Dadi-Makassar-5
Hae menziarahi makam ibu dan kakak tertua.

Dalam udara dingin dan gerimis, Hae berdiri melipat tangannya di depan makam kakak dan ibunya. Dua orang yang dikasihinya itu.

Celananya digulung hingga betis. Air menggenang di pusara yang berbentuk persegi dengan papan kayu yang mulai lapuk. Bunga ditabur. Dia mengangkat botol air mineral dan dikucurkan di dua nisan itu.

Hae hanya bisa menyentuh nisan itu. Di antara kegetirannya, dia tahu ada jalan pulang. "Ini hal yang paling baik yang pernah saya alami selama 36 tahun terakhir," ujarnya lirih. "Saya bisa tahu, minimal setahun sekali punya tujuan. Atau saya punya alasan untuk menelpon dan bertanya kabar tentang keluarga."


Eko Rusdianto adalah jurnalis lepas yang bermukim di Makassar. Liputannya yang lain untuk VICE bisa dibaca lewat tautan berikut.

Tagged:
LGBT
Gender
indonesia
sulawesi
transperempuan
Diskriminasi
Catatan Perjalanan
Kesetaraan Gender
isu gender
Keseataraan Gender