Opini

Jangan Mau Kerja 16 Jam Per Hari Buat Bos Manapun, Termasuk Elon Musk

Musk mengklaim, "Tak ada orang yang sukses mengubah dunia hanya dengan kerja 40 jam seminggu." Klaim ini selain ngaco, juga mengindikasikan kalau bos Tesla itu doyan mengeksploitasi pekerja.

oleh Rick Paulas
30 November 2018, 10:11am

(Foto oleh Peter Parks /AFP/Getty Images)

Salah satu pertanda jika bos kita tukang ngibul dan cuma pengin mengeksploitasi pekerjaannya adalah dia sering bilang “kamu akan mengubah dunia.”

Jika ditelusuri lebih lanjut, pangkal kalimat motivasi macam ini terletak dalam ideologi Amerika yang relatif masih lumayan baru. Bunyinya begini: setiap dari kita—ya, kalian termasuk di dalamnya—adalah pribadi yang unik dan spesial. Konsekuensinya, kita semua berhak memeroleh pekerjaan yang berarti dan turut andil dalam kemajuan umat manusia. Namun, di sektor teknologi—di mana cara berpikir tadi sudah bergeser dari salah satu fondasi menjadi bahan ejekan, ideologi ala Amerika Serikat ini harus berhadap dengan satu kenyataan: teknologi mungkin membawa perubahan, tapi tak selalu ke arah yang lebih baik. Malah, dalam banyak kasus, ideologi tadi cuma difungsikan sebagai dalih bagi para pengusaha teknologi untuk melanggengkan gaji yang pas-pas dan sistem kerja serupa kuli.

Nah, contoh terakhir manipulasi ideologi ini tercermin dalam pengumuman yang dikeluarkan Elon Musk perihal apa yang dia cari dari seorang pekerja.

Musk kemudian lanjut nge-tweet “Jika kalian mencintai apa yang kalian lakukan, ini nyaris enggak kerasa seperti pekerjaan.” Lebih jauh, bos SpaceX dan Tesla itu merinci bahwa durasi bekerja yang ideal bagi tiap orang itu bervariasi. Namun, dia sendiri mencari pekerja yang bisa bekerja “rata-rata 80 jam per minggu, syukur-syukur bisa 100 jam per minggu dalam kondisi tertentu.”

Musk sejatinya cuma ngibul doang. Wacana bekerja 80 - 100 jam saban minggu alias 16-20 jam per hari itu culas. Dalam sebuah analisis yang dikerjakan pada 2014, ekonom Stanford University, John Pencanvel menelaah data pekerja pabrik semasa Perang Dunia I dan sejumlah penelitian yang lebih baru. Dia lantas menyimpulkan bahwa jumlah jam kerja di atas 50 jam per minggu bisa justru bisa menurunkan hasil secara perlahan (diminishing return) atau lebih parah lagi mengurangi output. Sejumlah penelitian lainnya juga sampai ke kesimpulan yang mirip: kerja terus enggak baik bagi diri dan pekerjaan kita. Malah, sebuah telaah CUNY terhadap sejumlah data set pada 2017 menegaskan temuan penelitian pada 2005 menyebutkan bahwa bekerja 60 jam per minggu bisa meningkatkan angka kecelakaan kerja sebesar 23 persen.

Cuma, Elon Musk itu licin bin culas. Pacar Grimes ini enggak menyinggung perihal efisiensi kerja macam ini. Dia cuma ngoceh tentang bagaimana dirinya—lelaki dengan kekayaan sebanyak $24 miliar—memaksimalkan uang yang dia bakar untuk menggaji karyawannya.

Barangkali Musk cuma mau ngomong begini: “Aku ingin namaku dikenang. Aku juga ingin diingat sebagai seseorang yang tajir sekaligus punya jasa bagi dunia karena mengubah dunia lewat teknologi. Agar aku bisa melakukannya, aku butuh bantuan kalian. Peluh kalian saat membantu aku akan diganti dengan sejumlah gaji yang sama-sama kita sepakati. Tapi, selama kamu membantuku, aku akan berusaha mengeluarkan segala macam kemampuan kamu, memakaimu habis-habisan dengan bilang kalian juga ikut mengubah dunia. Semisal kalian tak bisa dikibuli dengan cara ini, ya sudah, aku cari calon pekerja lain saja.”

Dengan ngomong begitu, Elon Musk enggak jauh beda dengan segala macam bos di luar sana. Bos-bos itu pengin mengumpulkan banyak uang dengan dengan mengerjakan sesuatu. Tapi, seperti biasa, mereka emoh tangan mereka kotor.

Solusinya? Gampang. Rekrut pekerja dan suruh mereka banting tulang mencapai tujuan yang ingin mereka capai. Sayangnya, dalam sistem ini, dari sudut mana pun, pekerja selalu jadi korban. Gaji mereka kecil—dan dipatok tetap rendah—agar sang bos bisa dapat keuntungan maksimal. (Oh ya, keuntungannya bisa dipakai macam-macam. Ada yang dikumpulkan untuk bikin perusahaan baru. Ada pula yang dibelanjakan untuk membeli kapal laut—kalau si bos ini tipe gila private equity yang doyan main saham, mungkin dipilih opsi kedua).

Nah, nanti saat akal-akalan mengunci gaji karyawan di titik yang paling rendah ini terkendala aturan, bos-bos ini bakal ganti strategi. Kali ini mereka mengaburkan batas “kerja” dan “rumah.” jika sudah sampai di tahap ini, mereka enggak segan-segan meminta pekerjanya lembur, menelepon setelah jam kerja (untuk urusan kerjaan tentunya), meneror pekerja lewat aplikasi chat atau memberi pekerjaan di luar jobdesk para para pekerja mereka.

Mimpi pamungkas bos-bos macam Elon Musk ini adalah memerdaya pekerjanya biar percaya jika mereka adalah bagian dari sesuatu yang besar dan bahwa proyek mereka kerjakan wajib diperjuangkan dengan segala pengorbanan tanpa sedikitpun menyisihkan saham perusahaan bagi pekerja mereka. Pendeknya, pekerja hanya diiming-imingi utopia sementara keuntungan deras mengalir ke kantong bos-bos mereka.

Makanya, bolehlah sekali-kali kita bertanya apa sih yang dimaksud dengan “mengubah dunia.” Transportasi yang lebih hijau lewat mobil Tesla mungkin bisa memperpanjang umur manusia tanpa merusak seluruh isi bumi. Hanya saja, solusi ini problematis karena cuma jadi dalih untuk mengaburkan tabiat kapitalisme yang ingin menghabis sumber daya di Bumi. Tak heran, teknologi hijau macam ini seakan-akan dirancang untuk satu tujuan saja: mengurangi rasa bersalah manusia—itupun cuma mereka yang bisa membeli Tesla.

Asumsinya, dengan naik mobil listrik Tesla, rasa bersalah kita karena pernah menyumbang polutan ke atmosfer bumi bisa sedikit berkurang. Di sisi lain, meski punya imej keren di mata geek penggemar segala hal tentang penjelajahan antariksa, pada akhirnya SpaceX enggak lebih dari jenis turisme baru bagi segelintir orang supir tajir sampai proyek itu bergeser jadi sekoci luar angkasa untuk kabur dari Bumi yang makin ringsek—lagi-lagi bagi mereka yang uangnya enggak ada serinya (Baiklah, Elon Musk keukeuh tak punya rencana macam itu).

Sekarang, coba bayangkan “perubahan” macam apa yang berarti dalam kehidupan personal kita. Apakah jam kerja yang lebih pendek bisa meningkatkan output kerja kita? Bukankah kesempatan yang lebih luas untuk membaca buku, bersenang-senang dengan sanak saudara, travelling atau sekadar jalan-jalan santai di dekat kompleks rumah bikin hidup kita lebih berwarna? Bisa jadi! Akan tetapi, bukan ini yang dijanjikan oleh Musk bagi calon pekerjanya. Kenapa? Karena itu bukan dunia yang ingin dibangun oleh beserta segala macam teknologi terkininya.

(Coba bayangkan kamu bisa kembali tahun 1930an dan ceritakan segala macam kemajuan teknologi yang kita punya saat ini pada siapapun yang kita temui. Mereka pasti akan terpengarah. Tapi, ceritakan juga deh bahwa semua kecanggihan itu ada harganya: jam kerja yang makin panjang. Mereka pasti merengut. Apalagi jika orang yang kamu temui itu ekonom Inggris legendaris John Maynard Keynes, dia pasti akan menamparmu bolak-balik.)

Intinya sih begini: apapun yang bisa dicapai oleh Musk dalam hidupnya dengan memerah keringat pekerjanya untuk segala macam teknologi keren enggak otomatis dimaknai sebagai “perubahan” oleh mereka yang saban hari banting tulang 16 jam per hari untuk upah alakadarnya. Kalian tahulah siapa mereka. Ya betul, orang-orang yang berkumpul dalam berbagai serikat pekerja yang belakangan konon ingin “digebuk” Musk. Orang-orang inilah yang secara hakiki mengubah kondisi material dari kehidupan manusia—sesuatu yang mustahil dilakukan Elon Musk atau bos-bos perusahaan besar lainnya.

Jangankan ikut turun tangan, Om Musk dkk—Saya yakin banget—enggak bisa membayangkan perubahan macam ini. Cih!