Iklan
Album Terfavorit 2018

Album Indonesia Terbaik 2018 Pilihan Musisi Favorit Redaksi VICE

Kaleidoskop musik lokal tahun ini kami hadirkan dengan pendekatan berbeda: redaksi meminta musisi yang albumnya kami nilai terbaik di genre masing-masing memilih album favorit. Hasilnya amat menarik.

oleh VICE Staff
30 Desember 2018, 11:29am

Kolase sampul album terbaik 2018 oleh Muhammad Ishomuddin.

Menyusun kaleidoskop akhir tahun tidak pernah mudah. Apalagi manusia tempatnya salah dan lupa. Sudah pasti ada puluhan album bagus ataupun potensial yang luput didengar oleh redaksi. Karena itu, kami terus menjajal pendekatan berbeda ketika menyusun daftar album terbaik. Tahun lalu, cara yang kami lakukan adalah meminta kritikus/kurator/pengamat genre yang telaten untuk menyusun album pilihan mereka.

Untuk 2018, kami memakai pendekatan berbeda. Kami ingin muncul dialektika. Maka dari itu, redaksi menggelar rapat (atau lebih tepatnya debat) maraton sampai mendekati 31 Desember yang melelahkan, demi menentukan album paling representatif dari tiap-tiap genre sepanjang tahun. Enam genre tersebut kami anggap mewakili musik populer bagi generasi millenial maupun generasi Z di negara ini: Pop, Punk/Hardcore, Hip Hop, Folk, Indie/Eksperimental, dan Metal. Tapi proses tak berhenti di sana.

Kami menghubungi nama-nama yang albumnya kami anggap terbaik di genrenya masing-masing. Kami minta para musisi itu menawarkan daftar tandingan versi mereka tentu saja.

Hasil dialektika tersebut amat menarik. Beberapa musisi menyodorkan nama solois atau band yang terlewat dari pengamatan kami; sebagian menguatkan keputusan redaksi, karena album favorit mereka sebetulnya sudah masuk daftar lima besar tiap-tiap genre.

Patut diingat, 2018 semacam mendung yang jadi penanda betapa badai politik pemilu tahun depan akan membuat linimasa dan kehidupan kita semua jadi tidak menyenangkan. Bencana bertubi-tubi meninggalkan luka mendalam pada saudara di Lombok, Palu, hingga Pandeglang—belum lagi insiden kecelakaan udara yang tragis menyita perhatian kita semua. Politik identitas yang memecahbelah muncul di sana-sini. Agama ditunggangi untuk logika politik elektoral. Komedi dihakimi atas asas kepatutan dan sikap tak rileks.

Berbagai peristiwa tahun ini—jujur saja—tak membuat anak muda jadi lebih optimis. Kondisi industri musik lokal, yang sempat kami harap bisa memberi eskapisme, tak terlalu menggairahkan. Algoritma menguasai nalar kita mengonsumsi musik di alam digital. Single eceran akhirnya jadi pilihan sebagian musisi untuk merawat popularitas. Atau, kalaupun masih merilis album, tak ada upaya membuatnya punya tema padu. Tidak ada upaya membuat albumnya bisa didengar dari awal sampai akhir sekalipun diputar via layanan streaming.

Pada akhirnya, kaleidoskop musik ini kami susun untuk mengingatkan pembaca sekalian, bahwa selalu ada musik yang hebat, sebusuk apapun tahun ini kita lewati bersama. Album yang dipilih redaksi dan musisi jagoan 2018 ini semuanya punya benang merah: mereka masih percaya pada konsep album—menawarkan kepaduan konsep untuk didengar dari awal sampai akhir. Semua musisi di daftar ini masih percaya EP ataupun LP masih punya daya dibanding sekadar mengecer single-single. Dari segi musikalitas, album pilihan redaksi tahun ini juga punya kesamaan lain: mereka mengedepankan eksplorasi bunyi ataupun lirik.

Musik yang bagus selalu memberi kita harapan. Semoga karya-karya yang masuk daftar ini bisa menularkan harapan itu pada pembaca sekalian sebelum mengarungi tahun yang baru.

POP

ALBUM POP TERBAIK 2018 PILIHAN REDAKSI:

Kunto Aji - Mantra Mantra

1546163727600-Hehehe

Seorang musisi dari genre pop di Indonesia bisa saja memilih jalan mudah dengan bikin musik alakadarnya, tak perlu ngoyo. Apalagi jika mereka sudah punya modal nama. Aransemennya sesimpel apapun, selama mengangkat lirik cinta, pastilah musiknya cepat diterima publik. Kunto Aji bisa saja memilih jalan seperti itu, kalau dia mau.

Album Mantra Mantra membuktikan Kunto Aji bukan musisi sembarangan. Dia tidak memilih jalan yang mudah dan lancar untuk mempertahankan ketenarannya selama beberapa tahun terakhir sebagai salah satu solois papan atas Indonesia. Dia tak keberatan meladeni ambisinya sebagai seorang singer-songwriter, yang tak ingin karyanya muncul begitu-begitu saja. Setelah berjibaku dengan writers block panjang (nyaris tiga tahun), hasilnya sepadan. Mantra Mantra adalah album pop yang amat solid.

Dari segi teknis, Kunto Aji berani bereksperimen dengan struktur dan aransemen yang di luar jalur arus utama. Akhirnya pilihan-pilihan musikal itu mendukung tema-tema yang hendak ia sampaikan dalam setiap lagu. — Ananda Badudu

ALBUM TERBAIK 2018 PILIHAN KUNTO AJI:

Pamungkas - Walk The Talk

1546163919591-Walk

Album pertama dia menurut saya sangat berhasil, dari segi penulisan, aransemen, dan visual, benang merahnya jelas, arahnya juga jelas. Dari segi aransemen dia modern tapi tidak berusaha untuk keren. Maksudnya gini, kadang saya mendengar ada beberapa orang berusaha mencapai titik keren di aransemen, pemilihan sound, segala macam tapi lupa inti dari si lagu itu sendiri. Nah Pamungkas ini dia berhasil men-deliver dengan baik. Dia tidak terlalu berlebihan dalam eksplorasi, eksplorasi itu mengangkat lagu-lagunya dia. Kemarin saya lihat apresiasinya cukup baik, mungkin memang belum sebesar itu tapi saya lihat cukup baik. Lagu paling suka yang 'Walk the Talk' dan 'Sorry'. Dua lagu itu paling mewakili musiknya Pamungkas, mewakili pop modern yang bisa dinikmati dengan baik, musik yang eksplorasinya lebih dari musik pop mainstream biasanya tanpa jadi berlebihan.

FEAST. - Beberapa Orang Memaafkan [EP]

1546163939793-Feast

Album 2018 paling asyik kedua buatku itu Feast. Mereka songwriting-nya berbahaya, berani. Saya tertarik melihat dua aspek itu. Musiknya juga menguatkan lirik.


PUNK/HARDCORE

ALBUM PUNK/HARDORE TERBAIK 2018 PILIHAN REDAKSI:

Hong! - Hulu Ledak [EP]

Tidak banyak muncul rilisan punk/hardcore di Indonesia yang cukup nonjok tahun ini, tapi untungnya bukan berarti enggak ada yang berkualitas.

Ada Lullabies for A Broken World karya Detention (Palembang) yang tajam dalam mengkritik pemerintah, kaum kaya elit dan kaum religius munafik. Ada juga rilisan akhir tahun dari Cloudburst (Yogyakarta) yang semakin matang dalam mewakili sisi hardcore yang lebih metal and chaotic. Jangan lupakan juga demo Gaze Dread yang galak dan noisy ala Youth Attack, dan Lunacy EP dari Dystopian Dog (Bandung) yang agak bernuansa deathrock. Mewakili sisi punk yang lebih melodik dan emosional, Tired EP dari Ache (Tangerang) dijamin bakal bikin kalian sing along semalaman.

Jujur, favorit kami tahun ini adalah Hulu Ledak EP rilisan Hong!, band asal Tangerang yang jika diputar durasi albumnya enggak nyampe lima menit. Minialbum ini sungguh menyenangkan, dengan beberapa part yang dancey, bisa bikin kamu joget di mosh pit.

Hong! mengkritik polisi (“Seruduk”), penggusuran paksa lahan oleh aparat (“Subversi”), pengemudi motor yang seenaknya (“Bangor”) social climber (“Maruk”), dan tidak lupa meratapi lelahnya kehidupan seorang pekerja kota besar—dari penggunaan kata “revisi” di lagu “Perah Kerah” kayaknya isinya anak-anak agensi nih. Padat, straight forward, dan tidak pernah membosankan, Hulu Ledak sudah pasti akan sering kami putar. — Yudhistira Agato

ALBUM TERBAIK 2018 PILIHAN HONG!

Masakre - Crawling to Perdition

1546164089668-masakre

Secara musikalitas Masakre menampilkan konsep yang beda dari band-band kegelapan yang sudah ada di Jakarta sebelumnya dan soundnya diimbangi konsep musiknya.

Dirty Ass - Seliar Binatang

1546164421686-hehehe

Ini salah satu band punk terbaik di kota Tangerang. Album ini jauh lebih bagus dari album perdananya.

Vague/The Kuda - Split Album

1546164365426-haahaha

Dua band ini cocok bener ditandemin karena Vague punya sound yang khas terus dinamika aransemen lagunya enggak bisa ditebak dan The Kuda itu frontal dan jujur, nampilin apa yang mereka mau dengan sound yang raw. ( full disclaimer: Yudhistira Agato adalah personel Vague).


Hip Hop

ALBUM HIP HOP/RAP TERBAIK 2018 PILIHAN REDAKSI:

Krowbar - Swagton Nirojim

1546170660125-krowbar

Tanpa berniat menihilkan kualitas album-album lainnya, perdebatan tentang mana album hip-hop lokal terbaik tahun ini kelar di paruh awal 2018, saat iblis leksikon a.k.a Raja Pantat Selatan a.k.a Krowbar merilis debutnya Swagton Nirojim.

Dengan embel-embel “High Bar Low Life,” Swagton Nirojim adalah kumpulan umpatan paling brengsek tahun ini, dengan balutan beat-beat sampel funk lawas (dan satu sampel lagu proto-doom legendaris) yang—meminjam frase dalam rilisan pers Grimloc—berkabut ala komposisi gubahan DJ Muggs. Pendeknya, Swagton Nirojim bukanlah album hip-hop bagi mereka berpaham bahwa musik—serta lirikya—seharusnya berisi hal-hal yang baik dan sopan belaka.

Karena itulah, redaksi ingin semua orang di Indonesia—tapi yang dewasa tentunya—mendengarkan debut Krowbar. Begini duduk perkaranya: belakangan lanskap kehidupan politik di Indonesia tak kunjung menunjukkan titik terang. Gitu-gitu doang. Politik identitas busuk masih kelewat berisik sampai menutupi isu-isu yang lebih penting lainnya, kasus-kasus penyerobotan tanah belum jua reda, naiknya frekuensi persekusi terhadap kaum LGBTQ kian ramai, drama-drama elit politik dengan kualitas skenario satu strip di bawah naskah sinetron stripping sampai Jokowi mencoba ngerap tapi berakhir jadi versi jelek dari Ka.

Dihadapkan dengan fakta-fakta menyebalkan seperti ini, minimalnya kita terpancing mengeluarkan hardikan. Masalahnya, akhir-akhir ini, kemampuan netizen lokal untuk mengumpat sudah jauh menurun, Semua umpatan—akibat polarisasi jelang pilpres tahun depan—direduksi jadi “ah cebong/kampret mana ngerti."

Tepat di sisi inilah, Swagton Nirojim jadi album hip-hop paling relevan menggambarkan kemuakan anak muda pada 2018. Krowbar sekali lagi menunjukkan bahwa hip-hop adalah seni merapal umpatan. Berbekal referensi tentang skena hip-hop, film (bokep) atau segala ungkapan yang ada kaitannya dengan selangkangan manusia, mantan vokalis band punk Anjing Tanah ini merapal hardikan paling nampol tahun ini “braap braap kayak Obituary di-cover Azis Gagap,” “Kalian nembak kayak konstestan katakan cinta,” atau ini “Kalian spit apa yang gue cumshot!”

Tidak sekadar menghadirkan album yang padu, Swagton Nirojim sekaligus memperkaya bahasa (Indonesia). Memperkaya budaya kita. — Manan Rasudi & Ardyan M.E

*Honorable Mention:

BAP. — Monkshood

1546164551854-BAP

Album ekletik dengan keberanian menjelajahi berbagai macam sound (semuanya ia produksi sendiri), mengiringi lirik-lirik berupa surat cinta untuk kekacauan Ibu Kota. Debut ini matang. Redaksi VICE tak sabar menanti karya lanjutan dari BAP/Yosugi, yang sudah menunjukkan potensi besar sejak bergabung dalam kolektif cul de sac yang sempat mengguncang kancah Jakarta Selatan beberapa tahun lalu.

ALBUM TERBAIK 2018 PILIHAN KROWBAR:

Rand Slam x Prime Manifez - Prima Johan

1546165123783-Screen-Shot-2018-12-30-at-171829

Secara teknis, ini sebenernya EP, tapi tetep aja Prima Johan lebih bagus dari 90 persen album full dirilis tahun ini. Rand Slam tuh salah satu bagian dari gelombang baru MC yg membanjiri skena hip hop lokal nusantara. Mewakili tanah Papua (meski sekarang tinggal di Bandung dan kalau enggak salah aslinya dari Makassar), Dia punya "flow Rand Slam"; sebuah gaya delivery khas yang sekarang mulai coba diikuti MC-MC lain. Sedangkan Prime Manifez adalah salah satu produser paling produktif di skena lokal dengan daftar panjang kolaborasi bersama MC-MC generasi sekarang, membuktikan bahwa hip hop lokal saat ini tuh lagi panas-panasnya. Prima Johan merupakan effort kolektif mereka. Sebagai EP, gua suka album kolab mereka enggak terdengaar terlalu serius. Jangan salah, bikin musik emang harus digarap dengan serius, tapi sebetulnya enggak perlu terlalu serius juga. Tujuh track di EP ini ada pada pitch yang tepat dan cukup solid buat dinikmati sampai habis, tanpa perlu terlalu over-konseptual atau malah kedengeran pretentious. Intinya, ini EP singkat yang fun.

Pangalo! - HURJE! Maka Merapallah Zarathustra

1546165166867-kok

Pangalo! (harus ditulis dengan tanda "!") juga bagian dari generasi baru MC lokal. Mewakili sebuah daerah kabupaten di Sumatera Utara, dia menggebrak kancah hip hop lokal di awal tahun dengan sebuah album yang bahkan buat anak-anak filsafat dari Jatinangor juga bakal dianggap cerdas. Jujur sih, gua sebenernya enggak ngerti sama apa yang dia omongin dalam lagu-lagunya. Sebagai seseorang yang dangkal, kemampuan menangkap makna seberat "eksistensialisme" dalam sebuah lagu rap tuh jelas terlalu jauh di atas level nalar otak gua. Kemampuan gua menganalisis esai filsafat berbanding terbalik dengan kemampuan gua membakar lantai dansa, dan "HURJE!" ini punya lagu-lagu upbeat paling asoy sepanjang 2018. Mungkin kalau dulu para filsuf kondang menggunakan metode ini dalam teknik penulisan teori-teorinya, gua kagak bakal ketiduran di paragraf kedua buku-buku tebel mereka.

Insthinc x Slysc - Textacy

1546165239136-textacy

Insthinc adalah MC lokal favorit gua saat ini, mengusung delivery & flow paling mematikan di kancah hip hop lokal sejak muncul dua tahun lalu. Textacy adalah album debutnya, dibikin berkolaborasi bareng Slysc, beatmaker asal Yogyakarta yang dulunya dikenalin ke gua dengan nama "Slice Comedy." Hasilnya lebih memuaskan dari ngetawain selfie menggelikan Ratna Sarumpaet. Boom Bap cadas di mana kick serta snare berpacu dengan ketajaman flow buat ngebuktiin siapa yang bisa lebih keras ngehantem kuping pendengar. Kenceng, lantang, mentah, tight, dengan MC-ing kaliber peluru. Kalau ada satu album lokal di tahun 2018 yang merepresentasikan mitos "hip hop golden age" secara definitif, album itu pasti judulnya Textacy.

Morgue Vanguard x Doyz - Demi Masa

1546165293872-Screen-Shot-2018-12-25-at-233152

Oke, sebuah pengakuan: gua bukan penggemar Homicide, meski grup itu memang layak menyandang semua predikat yang mereka terima hari ini (berpengaruh, inspirasional, legendaris). Morgue Vanguard, Sarkasz, dan juga Punish adalah MC-MC dashyat yang membuktikan bahwa seseorang bisa ngerap dengan teknik & gaya di luar flow Pesta Rap. Masalahnya musik yang mereka usung bakal selamanya ada di luar galaksi kemampuan gua menikmati musik. Terlalu advance, mungkin. Nah, dalam Demi Masa ini, akhirnya gua bisa dengerin MV ngeluarin marah-marahnya yang khas diatas beat-beat throwback yang bisa dicerna ama kuping dan goyangan pinggul gua. Album ini punya track-track paling boombastis sepanjang tahun ini. "Junta Titimangsa", "Breakadawn", "CSDB FM", "Buckshot Funk", juga "Di Hadapan Babylon" bisa jadi anthem-anthem wajib B-boy masa depan. Ini album dengan perpaduan sempurna dari dua MC dengan gaya khas berbeda: MV meledak-ledak, sementara Doyz super-chill, disatukan kecintaan mereka pada tradisi hip -hop "konservatif" dalam bentuk paling berandalnya. Satu-satunya yang kurang dari album ini? Enggak ada guest-verse GUA di dalamnya!


FOLK

ALBUM FOLK TERBAIK 2018 PILIHAN REDAKSI:

Theory of Discoustic - La Marupè

1546163668767-Album

ToD alias Theory of Discoustic (personelnya meminta band ini ditulis dengan singkatan ToD aja) tidak punya lawan sepadan tahun ini. Barangsiapa kembali merepetisi narasi senja, kopi, pagi, dan hujan di dalam lagu-lagu berbalutkan gitar akustik, bas betot, sapuan drum stik sapu, dan vokal mendayu-dayu dengan lirik yang over puitis, maka ia bisa dibilang mendukung gerakan menjatuhkan folk ke jurang ‘musik-musik pasaran yang membosankan’. Beruntung tahun ini, sebagaimana juga tahun lalu, ada banyak musisi yang menahan-nahan kejatuhan folk. Khusus 2018 sepantasnya kita semua berterima kasih pada grup asal Makassar ini karena bersedia membawa folk dari ujung tebing ke tempat yang lebih aman.

ToD menuai pujian dari redaksi VICE terutama untuk urusan penulisan lagu. Ia seperti kembali mengingatkan kita semua di mana semestinya folk berakar: tentang manusia, tapi bukan manusia yang sekonyong-konyong saja hadir di dunia, seolah muncul dari ruang hampa, lalu menjadikan urusan hatinya sebagai epicentrum dunia. Melampaui itu, ToD melihat manusia sebagai entitas yang punya akar, sejarah, yang pula secara sadar maupun tidak terikat oleh pelbagai mitos yang turut membentuknya. Sempatkan waktu untuk menilik lagu dan lirik ToD yang dibangun dari cerita-cerita folklore (Makassar) yang mereka gali lagi lewat riset panjang lebih dari setahun. — Ananda Badudu

ALBUM TERBAIK 2018 PILIHAN ToD:

Firstmoon

1546183816242-Screen-Shot-2018-12-30-at-222837

Mereka rilis album sekitar beberapa bulan sebelum album ToD keluar. Secara pribadi saya suka mereka karena liriknya bahasa Indonesia dan musik yang mereka mainkan itu lebih alternatif, beda dengan aliran-aliran yang sekarang lagi ramai di Makassar. Kalau di Makassar sekarang lagi banyaknya folk, math rock, shoegaze. Mereka tetap main di genre alternatif.

Saya ngerasanya ada kedekatan apa yang mereka nyanyikan dengan tempat asal mereka, yaitu Makassar. Ada kedekatan isu dari lagu-lagunya, bisa kita jumpai di Makassar. Misalnya lagu ‘Hari Bersama’, lagu itu mengingatkan saya dengan Makassar, karena saya kan sudah tidak beraktivitas di Makassar.


INDIE/EKSPERIMENTAL

ALBUM INDIE/EKSPERIMENTAL TERBAIK 2018 PILIHAN REDAKSI:

Sharesprings - Paraparlour & Senyawa - Sujud

Dari dunia indie pop/rock, 2018 lumayan banjir rilisan—dan banyak yang menarik. Tapi ada dua yang paling menonjol. Album pertama adalah Not Sad, Not Fulfilled, EP terbaru dari trio muda asal Yogyakarta, Grrrl Gang yang terdengar sudah paham identitas mereka sebagai sebuah band biarpun belum pernah merilis album penuh sama sekali.

Yang kedua, dan yang menjadi pilihan kami adalah Paraparlour dari Shareprings, semacam band cult indie-pop ibukota yang sudah aktif semenjak 2006 tapi baru merilis album penuh perdananya 12 tahun kemudian. Berkat penulisan lagu yang baik dan produksi yang sesuai—alias enggak terlalu bersih, Paraparlour berhasil mewakili sound klasik twee pop 90'an penuh nostalgia tanpa terdengar derivatif. Selain Undone rilisan Seaside (yang sudah enggak aktif), rasanya Paraparlour akan menjadi album indie pop Indonesia 2010-an yang akan diingat ketika era ini sudah berakhir nanti.

Beralih ke musik tidak berbasis gitar, pilihan kami dengan mudah jatuh ke Sujud, album terbaru Senyawa. Accessible mungkin pilihan kata yang aneh untuk menggambarkan musik duo eksperimental ini.

Dengan semua pertaruhan tersebut, Sujud berhasil menghadirkan elemen drone and soundscape build-up yang naik dan turun secara subtil. Contohnya lewat track ”Tanggalkan Di Dunia” dan sound neo-tribal mereka yang khas, seperti di “Penjuru Menyatu,” hadir secara koheren tanpa melelahkan kuping pendengar. Album ini menunjukkan betapa Senyawa semakin matang dalam komposisi, dan lihai memainkan mood ataupun atmosfer. Sujud sangat layak jadi salah satu album terbaik tahun ini. — Yudhistira Agato

ALBUM TERBAIK 2018 PILIHAN SHARESPRINGS:

The Sensitive - No One Top

Album ini rilisan Heavenpunks, dan favorit kami tahun ini. Kami suka sesuatu yang nakal dan orisinal dan The Sensitive menciptakan karya yang enggak dibuat-dibuat dan sangat brutal dari segi apapun.

ALBUM TERBAIK 2018 PILIHAN SENYAWA (RULLY SHABARA):

Gabber Modus Operandi - Puxxximaxxx

1546166200789-hhahaha

Banyak rilisan atau proyek baru yang menarik dan sesuai selera tahun ini. Aku juga akhirnya jadi punya band lokal favorit: Gabber Modus Operandi dari Bali. Semangatnya seperti Senyawa, tapi alamnya beda, ini alamnya koneksi wifi dan paket data. Jangan heran dan menyesal kalau mereka juga nantinya bakal duluan besar di luar.

Hasana - Selected Pieces from HNNUNG

1546166267031-fak

Aku juga suka rilisan Hasana: Selected Pieces from HNNUNG karyanya Nursalim Yadi Anugerah dari Pontianak. Proyek ini bagiku pribadi seperti angin segar. Senang ketemu proyek-proyek musik yang fokusnya memang untuk mengembangkan musik dan memperdalam idealisme mereka, bukan karena alasan lain yang lebih remeh.


METAL

ALBUM METAL TERBAIK 2018 PILIHAN REDAKSI:

Bvrtan - Gagak Pancakhrisna

1546169089486-bvrtan

Bvrtan (ingat, semua huruf 'u' dalam segmen ini akan berubah jadi 'v'), kolektif black metal hvmor asal Svkatani, Depok, kembali tahvn ini meluncurkan album terbaik sekaligus paling "berisiko". Gagak Panchakhrisna—dirilis Blackandje Records tepat pada tanggal 17 Agvstvs lalv—merekam Bvrtan yang membawakan dvrasi lagv panjang. Tiga lagv di dalamnya berdurasi lebih dari 8 menit. Pak Kades (Vokal), Kvli Pacvl (Gitar, Bass, Flute), dan Penjaga Mvsholla (drvm) harus memvtar otak demi menjaga kita tidak mati kebosanan sama lagv-lagv panjang ini. Hasilnya, komposisi-komposisi panjang, catchy, sekaligus variatif—bahkan progresif—yang mencakvp banyak varian (black) metal. Mvlai dari psychedelic black metal, atmospheric black metal, black‘n’roll, hingga speed metal. Kadang, mereka menyelipkan berbagai macam ketengilan, salah satunya teriakan “Ikang Fawzi!” sebelum part speed metal di track “Kemanusiaan Yang Adil Saat Kampanye” yang memancing senyvm pendengar.

Track terbaik albvm ini adalah Single “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksaanan Dalam Impian Anak Band Andergron.” Track ini sejatinya sebuah metakritik yang mengvtarakan premis tajam: jadi anak band itv (seringnya) adalah melakoni sebuah kesia-siaan.

Di saat yang sama, Bvrtan mengakvi bahwa sikap mereka menyvarakan deritaan wong cilik lewat lawakan black jvga sama sia-sianya (Apa dengan ngeband bisa menjadikan kita hidvp sejahtera? Bisa meninggikan harga gabah dari hasil panen? Bisa memberantas hama wereng dengan gratis?)—otokritik dan refleksi ini jarang ditemui di skena lokal yang biasanya baperan menerima kritik.

Bikin lagv panjang dengan fungsi metakritik itu keren Bvng, tapi enggak berisiko sama sekali, mvngkin begitu pikir kalian. Iya, kalian benar. Tapi, Di tengah makin derasnya anjuran untuk kembali menegakkan Pancasila akhir-akhir ini, merilis albvm yang jvdvl semua tracknya memelesetkan sila-sila dalam Pancasila butuh keberanian tersendiri. Bayangkan, misalnya, jika album ini sampai ke telinga anggota ormas reaksioner macam Pemuda Pancasila, niscaya output-nya adalah Pak Kades dkk dipersekusi ormas, dan album Gagak Panchakrisna disita di kanan-kiri (mirip nasib bvkv-bvkv sepvtar komunisme/marxisme/dan sejarah PKI).

Makanya, kita wajib bersyvkvr. Setidaknya, sampai sekarang, selera musik (anggota) ormas-ormas reaksioner ini masih konservatif. Kita tak perlv takvt mengonsumsi album metal terbaik tahun ini, Gagak Panchakrisna, sekalipvn terancam dicap anti Pancasila! — Manan Rasudi

ALBUM TERBAIK 2018 PILIHAN BVRTAN (KVLI ARIT):

Vallendusk - Fortress Of Primal Grace

1546166373835-hei

Cabang black metal paling cocok di Indonesia adalah post black metal, karena tidak membawa embel-embel scandinavia seperti “Norsk Arisk Blek Metal” dan kebetvlan ada dva albvm menakjvbkan yg dirilis pada tahvn 2018. Yang pertamanya Fortress Of Primal Grace oleh Vallendusk. Vallendusk menyajikan komposisi mvsik berskala Internasional, dengan pattern-pattern mengejvtkan dan membvat kami geleng-geleng kepala, melodivs, dan indah seperti body Mbak Jvm penjval kolak di desa Kami.

Pure Wrath - Sempiternal Wisdom

1546166438521-Screen-Shot-2018-12-30-at-174023

Albvm post black metal kedua yang kami maksvd adalah Sempiternal Wisdom-nya Pure Wrath. Band sebatang kara ini lebih mengedepankan atmosfer dalam komposisinya, seperti perpadvan antara Bvrzvm dengan Betharia Sonata, sehingga setiap bagian sekalipvn repetitif terdengar sangat melankolis.

Belantara - Communion

1546166483130-komuni

Communion adalah albvm penyvntik semangat, selalv kami dengarkan saat istirahat macvl di kala panas terik melanda.

Tagged:
Hip-Hop
Features
indonesia
Metal
Musik
senyawa
B.A.P
Musisi Independen Indonesia
Krowbar
Kunto Aji
Kaleidoskop Akhir Tahun
Bvrtan
Sharesprings
Theory of Discoustic