Iklan
Gangguan Jiwa

Mendengar Suara di Kepala Tak Selalu Berarti Kamu Menderita Gangguan Mental

Muncul suara-suara belum tentu pertanda buruk atau indikasi kamu menderita skizofrenia kok.

oleh Shayla Love
11 Januari 2018, 7:33am

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic

Steve mendengar suara itu pertama kali ketika masih sangat belia, kira-kira dua atau tiga tahun. Waktu itu masih pagi. Steve sedang leyeh-leyeh di atas kasur kamar tidurnya. Dari kamar sebelah, sebuah suara misterius—siapapun yang mengeluarkan bicara dengan menggunakan bahasa Inggris yang sangat sopan—berkata, “Tak usah khawatir Stephen, kami menyiapkan hari yang indah yang menyenangkan dan indah untukmu.”

Sehari sebelumnya, Steve jengkel karena musim semi di Northeast England, tempatnya tinggal, tak hangat-hangat amat dan tak banyak dihampiri sinar matahari. Kini, sebuah suara misterius berusaha menenangkan suasana hati Steve. “Saya ingat sekali suaranya sangat berbeda,” kenang Steve yang kini berusia 56 tahun. “Saya enggak takut sama sekali. Suara itu terdengar seperti suara orang betulan, ya seperti suaraku yang sekarang kamu dengar.”
Itu adalah suara misterius pertama dari banyak suara lainnya yang pernah didengar Steve seumur hidupnya. Namun, berbeda dengan para penderita psikosis dan skizofrenia—yang sama-sama mendengar suara misterius di kepala mereka yang jadi biang keladi hancurnya hidup mereka—Steve tak pernah dibikin tak nyaman oleh suara-suara itu.

Steve tak pernah sekalipun didiagnosa menderita gangguan mental. Pria 56 tahun itu juga tak pernah menggunakan jasa seorang terapis atau psikolog. Steve adalah satu orang yang bisa kita sebut dengan “ healthy voice-hearer.” belakangan, banyak peniliti berusaha menjelaskan fenomena ini dan berusaha menjawab pertanyaan mengapa orang-orang seperti Steve bisa hidup normal dan adem ayem tanpa bantuan medis meski terus mendengar suara yang tak jelas juntrungannya itu.

Emmanuelle Peters, seorang psikolog klinis dan peneliti dari King’s College London, telah menunjukkan ketertarikan terhadap spektrum pengalaman psikotik sejak memulai karir 25 tahun lalu. Dia mengatakan bahwa fenomena berhalusinasi melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tak ada sebagai sebuah gangguan “psikotik,” nyatanya gangguan macam ini lazim dialami populasi manusia pada umumnya. Tepatnya, sekitar tujuh persen manusia mengalami ini.

Seorang yang sehat jasmani dan rohani bisa saja mengalami halusinasi visual dan auditory, katanya Peters. Malah, apa yang mereka dengar dan lihat sama menyakinkannya dengan apa yang dirasakan pasien gangguan mental. “Orang-orang yang kita temui tiap hari sering mengalami halusinasi kok,” terang Peters. “Dan ini tak jadi cuma sesekali, katakanlah setelah kehilangan seseorang yang mereka sayangi. Ada yang mengalaminya sampai rata-rata 31 tahun namun tak merasakan ada yang salah dengan hal itu.”

Yang membedakan orang-orang ini dengan penderita gangguan mental adalah penilaian mereka akan apa yang mereka halusinasikan. Umumnya, orang-orang normal yang berhalusinasi mendengar suara memiliki prasangka atau penilaian yang sehat terhadap halusinasi mereka. Bagi Peters, memelajari penilaian sehat macam ini bakal membuka jalan kelahiran metode terapi baru untuk menangani pasien gangguan mental yang kerap mendengar suara-suara imajiner.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan December lalu di The Lancet Psychiatry, Peters dan beberapa koleganya mewawancarai sekelompok penderita gangguan psikotik yang tak memerlukan bantuan klinis, sekelompok penderita gangguan psikotik yang memerlukan bantuan klinik dan sebuah grup pengontrol. Lewat serangkaian wawancara itu, mereka berhasil menemukan bahwa kelompok penderita psikotik yang memerlukan bantuan medis cenderung memiliki intepretasi yang menyeramkan akan apa yang mereka dengar. Kelompok ini menganggap pengalaman psikotik mereka lebih berbahaya, susah dikendalikan dan umumnya negatif.

Beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya juga sampai pada kesimpulan yang serupa. Namun, masalahnya bagi Peters, susah memisahkan penilaian dan takaran keparahan sebuah pengalaman psikotik. Dengan kata lain, bisa jadi seorang penderita mengartikan suara yang dia dengar sebagai sesuatu yang berbahaya lantaran tak stabil, kerap berubah-ubah dan isinya makin lama makin buruk. Dalam beberapa makalah terbaru, Peters dan kelompoknya bereksperimen dengan memberi partisipan penelitian sebuah tugas yang “agak tak umum”—seperti meminta mereka ikut eksperimen aneh. Misalnya, dalam sebuah tugas, mereka bermain kartu di mana lawan mereka—bisa manusia atau komputer—seperti bisa menebak kartu yang mereka tangani.

Lewat eksperimen ini, kelompok yang memerlukan penanganan medis lebih merasa terancam dari mereka yang tak memerlukan penanganan medis. Peters mengklaim jika temuan ini menegaskan teori mereka: pengalaman psikotik diterjemahkan berbeda oleh mereka yang memerlukan penanganan medis dan mereka yang tidak.

“Dari hasil penelitian Emmanuelle Peters, kita tahu bahwa intensitas suara dan didengar seseorang sebenarnya tak terlalu penting untuk menentukan apakan dia terganggu dengan suara itu atau tidak,” ujar psikolog klinis Lucia Valmaggia. “Yang penting adalah penilaian yang kamu berikan pada suara-suara itu. Yang penting adalah dari mana menurutmu suara itu berasal. Apakah mereka bisa mengendalikan dirimu atau tidak. Atau apakah kekuatan yang dimiliki suara itu bersifat positif atau negatif.”

Di King’s College London, Valmaggia memanfaatkan teknologi virtual reality untuk mencoba memahami mengapa penilaian atas suara imajiner ini bisa berbeda-beda; kenapa suatu orang bisa menilai sebuah kejadian dengan penuh paranoia sementara lainnya tidak.
"Pastinya ada beberapa elemen biologis yang memengaruhi gangguan psikotik yang tak bisa diacuhka begitu saja,” terang Peters. Baiklah, jadi semuanya tak melulu tentang penilaian. “Misalkan kamu mendengarkan suara yang ngomong sompral dan tak sopan sepanjang hari, ini terjadi karena hal-hal yang bersifat biologis dan kamu kemungkinan besar bakal mengidap gangguan psikotik. Tak ada pilihan lainnya. Cuma, saya pikir, ada unsur budaya dan sosial yang kerap dipandang sebelah mata.”

Lalu, pertanyaaannya: bagaiamana kita bisa sampai memiliki penilaian positif? Menurut Peters, ini bisa dimungkinkan karena mereka yang memiliki prasangka positif terhadap suara-suara khayali ini tinggal dan dibesarkan di keluarga yang menganggap mendengar suara macam itu sebagai suatu yang lumrah. Beberapa keluarga malah menganggapnya sebagai sebuah mukjizat. Beberapa orang malah punya penjelasan yang sifatnya spiritual atau supernatural tentang “kemampuan” ini: mereka adalah orang pintar atau dukun yang bisa ngobrol dengan mahluk gaib, arwah atau sejenisnya. Tentu saja, menelan mentah-mentah penjelasan macam ini bisa mengubah metode terapi untuk menangani kasus halusinasi yang banyak digunakan saat ini. Daripada berusaha menghapus keberadaan suara-suara ini, adalah lebih berfaedah jika terapis bisa membantu pasiennya mengubah penilaian pasiennya menjadi lebih positif—termasuk dengan menuruti klaim-klaim magis yang diajukan sang pasien.

“Terapi perilaku kognitif tradisional menekan pasien agar memiliki penilaian yang lebih dekat dengan kenyataan,” ujar Peters. “Yang kami temukan menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki masalah klinis atau mereka yang sehat wal afiat tak selalu menilai suara-suara yang mereka dengar datang dari pikiran mereka. Mereka sering percaya kalau ini semacam wangsit. Suara-suara ini datang dari entitas lain di luar diri mereka.”

Peters menegaskan bahwa terapis tak harus mengarahkan pasien yang mereka tangani agar percaya bahwa suara-suara itu datang dari diri mereka sendiri, atau sebagai bentuk dari gangguan mental. Kalau mereka punya penilaian yang nyaman, maka terapis harusnya membiarkannya saja selama itu tak menyebabkan masalah.

Steve misalnya bahkan punya nama untuk tiap suara yang dia dengar. “Young Posh Bird,” atau Celia untuk suara perempuan berusia 20 tahun. “Dia bicara dengan bahasa Inggris Ratu Elizabeth,” katanya. “Pokok bahasa Inggris Oxford University yang tegas.” Lalu, ada pula yang dijuluki “Old Posh Bloke” untuk suara kakek berusia 70 tahunan, yang menurut Steve mirip suara seorang profesor tua. Yang terakhir “Yong Posh Bloke”—ini adalah suara yang pertama kali didengar Steve di kamarnya dulu.

“Tiga suara ini terus muncul dari waktu ke waktu,” katanya. “Omongan ketiganya biasanya punya konteks. Kadang sangat mengena tapi kadang ngeselin juga.”

Suara Young Posh Bird, menurut Steve, terdengar berbeda, seperti berasal dari luar tubuhnya. “Pokoknya kayak didengar langsung dengan telinga kita,” ujar Steve. “Kamu bisa seakan-akan mendengarnya dengan telingamu, atau kadang suara itu datang dari tengah kepalamu. Dalam kasus saya, suara itu datang dari bahu kanan lalu masuk telinga kanan. Seingat saya, cuma sekali yang masuk ke kuping kiri.”

Suara-suara yang didengar Steve lainnya seperti berasal dari dalam dirinya—meski tetap susah dibedakan dari, sebut saja, suara batin Steve. Suara-suara ini, kata Steve, lebih acak, tak punya konteks seperti mengganti gelombang radio dengan cepat dan kita mendengarkan suara penyiar selewatan. Pernah suatu kali saat sedang meditasi, Steve mendengar sebuah suara yang bilang “kasih tahu dia, aku baru saja dari Mimi’s Cafe.”

“Gak jelas. Apa coba maksudnya?” katanyanya sambil tergelak.

Steve berhasil menjalin hubungan yang baik dengan suara-suara misterius ini lantaran penilaian positif yang dia miliki. Sayangnya, beberapa orang lain tak sehoki Steve. Tom Ward, seorang psikolog klinis, mengatakan bahwa ada banyak orang yang tak berdaya dan ketakuan akan halusinasi mereka. Akibatnya, orang-orang ini terus-terussan merasa terancan. Ward adalah salah satu anggota kelompok peneliti di King’s College London yang memanfaatkan virtual reality untuk mengubah persepsi orang tentang suara-suara khayali yang mereka dengar.

Proyek yang dijalankan Ward dikenal dengan nama AVATAR project. Dalam proyek ini, mereka membuatkan badan-badan virtual bagi suara yang didengar para pasien. Ward kemudian bicara—berperan sebagai suara yang didengar pasiennya—guna mencoba mengubah dinamika hubungan sang pasien dengan suara itu. Tujuan akhirnya adalah membuat pasien merasa berkuasa dan memandu mereka untuk mengartikan serta menilai suara-suara imajiner ini dengan lebih positif seperti Steve.

Beberapa suara yang didengar pasien kadang memang kurang ajar, kata Ward, seperti suara-suara yang ngomong tentang kematian, kekerasan, pemerkosaan atau kadang suara itu kedengaran lebih galak dari dari Old Posh Bloke. Namun, makin banyak pasien Ward yang mendengar suara-suara netral—entah itu tawa atau peringatan yang sumir—dan dalam hal ini, terbukti juga perubahan intepretasi pasien bisa menghasilkan perubahan berarti.

Ward biasa meminta pasiennya menceritakan dengan detil suara yang mereka dengar dan imajinasi mereka atas wajah pemilik suara itu (biasanya pasein sudah memiliki bayangan wajah tertentu). Dengan menggunakan komputer, Ward dan rekan-rekannya menghidupkan suara itu, mencocokkannya secara visual dan vokal dengan “nada, kesangaran, tarikan suara, gender dan kekasaran itu,” kata Ward.

Ward kemudian bicara dengan suara itu dalam obrolannya bersama sang pasien. Awalnya, Ward akan mengulangi hal-hal negatif yang dikatakan suara itu. Lalu perlahan, dirinya memberi kendali percakapan pada pasien. Ward kemudian membuat suara itu lebih submisif. Dari sini, akan terlihat perubahan dinamika antara pasien dan suara yang dia dengarkan. Tentunya, sang pasien makin memiliki kekuatan dan kepercayaan diri selama dalam percakapan.

Dalam sebuah penelitian terbaru di The Lancet Psychiatry, Ward dan rekan-rekannya menemukan bahwa mereka yang menjalani terapi AVATAR mengaku bahwa gejala halusinasi mereka menurun dengan cepat di akhir terapi yang berjalan selama 12 minggu. Lebih dari itu, kondisi pasien-pasien ini juga jauh lebih baik dari pasien yang hanya ditangani dengan terapi konseling. Ward menuturkan bahwa pada banyak pasien, suara-suara yang mereka dengar berubah menjadi tak terlaku mengancam dan gasar. Di beberapa pasien lainnya, suara-suara yang mereka dengar tak berubah. Hanya, penilaian yang mereka berikan pada suara itu telah bergeser.

Senada dengan Peters, Ward berpikir bahwa untuk membantu pasiennya, dia menekankan bahwa tujuan akhirnya bukan untuk menghilangkan suara-suara dari kepala mereka namun justru mengubah cara pandang mereka atas suara-suara itu. “Selama ini orang menggunakan metode yang salah, bahwa suara-suara ini harus dihilangkan,” katanya. “Beberapa bagian dari penelitian Peters dan saya sendiri menyimpulkan bahwa suara-suara ini lazim didengar oleh manusia karena merupakan bagian-bagian dari kesadaran mereka. Pertanyaan yang harus diajukan adalah bagaimana orang-orang tertentu mengalami fenomena ini dan hidup mereka justru lebih berwarna.”

Steve adalah contoh healthy voice-hearer yang langka karena dirinya tak punya penjelasan spiritual dan tak memiliki ketertarikan dengan hal-hal yang bersifat supernatural. Satu-satunya penilaian yang berhasil pada dirinya sangatlah sederhana: dirinya tak perlu menilai suara-suara itu sama sekali.

“Saya sih orangnya nyaman saja dengan ketidakpastian,” katanya. “Orang lain belum tentu bisa nyaman seperti saya. Apalagi kalau sudah mengalami hal yang sama. Bagi saya, ini adalah fenomena yang menarik. Ini bikin saya tertarik kalau saya lagi pengin memikirkan hal ini.”
Hal lain yang membantu Steve adalah suara-suara yang didengarnya kalem-kalem saja. Tak ada satupun yang terdengar berangasan. Pernah suatu kali, saat sedang siap-siap tidur, Steve mendengar seseorang ngomong “woi, brengsek!” Steve cuma terkekeh mendengarnya dan membalas “Elo juga sama!”

Selama tiga tahun terakhir, Steve belum mendengar suara-suara lagi. Pada tahun baru 2015, Steve menderita radang di bagian prostat. Biasanya jika jatuh sakit, suara-suara itu bisa kembali muncul. Kali ini, semuanya sunyi saja. Ketika semua pasien lain berusaha keras mengendalikan suara yang mereka dengar, Steve melakukannya dengan enteng saja. Lucunya, absennya suara-suara imajiner itu justru bikin Steve jengkel.

"Saya belum punya penjelasan untuk hal ini,” tukasnya. “Jangan-jangan saya kangen? Kalau dipikir-pikir sih kayaknya iya. Dikit doang soh. Tapi, setelah makin lama sunyi. Say kok jadi khawatir. Saya ingat pernah bilang: kalau suara-suara itu tak nongol lagi, saya malah bakal khawatir. Saya sih belum sampai tahap cemas. Tapi ini ngebetein sih. Suara-suara itu sebenarnya menghibur.”

Tagged:
schizophrenia
Tonic
Gangguan Mental
hearing voices
kesehatan
Psikiater
Suara di Kepala