Iklan
Tahun Baru

Alasan Ilmiah Penyebab Banyak Orang Benci Perayaan Malam Tahun Baru

Kita sekarang punya penjelasan di balik pepatah "kebahagiaan adalah realita minus ekspektasi."

oleh Kaleigh Rogers
01 Januari 2018, 3:00am

Sumber ilustrasi: Pixabay.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Penghitungan mundur sudah selesai, kita menghadapi momen liburan yang sering dibenci: Malam Tahun Baru.

Untuk perayaan yang melibatkan kembang api dan berbagai jenis minuman sehingga sekilas terkesan meriah, sebetulnya banyak orang memiliki pendapat pahit masing-masing tentang Malam Tahun Baru. Komedian John Oliver saja menyebut ritual merayakan malam pergantian tahun bagaikan kematian hewan peliharaan: "Kita tahu peristiwa tersebut akan terjadi tapi entah bagaimana kita tidak pernah benar-benar siap menghadapi betapa mengerikannya momen tersebut."

Akuilah, kalian sebenarnya pasti bingung buat apa tahun baru dirayakan segitu hebohnya. Kalian juga sebetulnya eneg sama perayaan tersebut, setidaknya sekali dalam hidup.

Ternyata, ada penjelasan ilmiah soal penyebab banyak orang tidak menyukai liburan pergantian tahun. Kesimpulan penelitian psikologis ini bisa membantu kita untuk lebih bisa seru-seruan di tahun baru. Salah satu alasan utama terkait pengelolaan ekspektasi.

"Ekspektasi itu sama pentingnya dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kita," kata Robb Rutledge, peneliti senior di University College London yang mempelajari studi pengambilan keputusan dan kebahagiaan. "Secara umum, kebahagiaan kita tidak meningkat kecuali sesuatu melebihi ekspektasi kita."

Penjelasannya mengulang pepatah tua--kebahagiaan adalah kenyataan dikurangi ekspektasi—melalui penelitian yang dia rilis pada 2014. Rutledge dan timnya memiliki sekelompok kecil orang memainkan permainan pengambilan keputusan di mana mereka akan memenangkan poin atau uang, dan mengukur kebahagiaan mereka dari waktu ke waktu melalui pertanyaan survei dan pemindaian otak via MRI.

Para peneliti menemukan kesimpulan bila harapan seseorang akan hasil keputusan mereka—seperti "jika saya memilih opsi ini, saya akan mendapatkan lebih banyak uang"—memiliki dampak yang lebih besar pada kebahagiaan mereka daripada apa yang sebenarnya terjadi di kenyataan (terlepas hasilnya mereka dapat uang atau tidak). Peneliti mampu secara akurat memprediksi kebahagiaan orang dengan membuat persamaan matematika yang sesuai dengan pertukaran ekspektasi dan realita ini.

Pada dasarnya, ketika realitas memenuhi harapan kita, kebahagiaan kita tidak meningkat. Jika melampaui harapan kita, kebahagiaan kita bertambah, dan jika itu di bawah ekspektasi kita? Saat itulah kita menemukan kekecewaan. Terutama jika 12 bulan belakangan banyak keinginan kita tak tercapai.

"Otak kita tidak benar-benar ada untuk membuat kita bahagia atau merasa nyaman," kata Rutledge. "Apa yang berguna untuk bertahan hidup bagi Anda adalah membuat keputusan yang baik dan mempelajari lingkungan Anda. Itulah apa yang telah otak manusia coba lakukan selama ratusan ribu tahun, dan kebahagiaan dapat bermanfaat dalam hal itu tapi itu bukan tujuannya."

Hal ini berlaku untuk semua jenis situasi dalam kehidupan modern, namun Malam Tahun Baru nampaknya merupakan tanggal ketika seseorang menyadari harapannya banyak yang gagal tercapai. Penelitian yang dilansir 1999 mendemonstrasikan kesimpulan betapa semakin tinggi harapan seseorang untuk rencana tahun baru, semakin besar kemungkinan mereka akan kecewa setelah faktanya terjadi.

Rutledge mengatakan kepada saya beberapa alasan mengapa Tahun Baru begitu sering berakhir dengan kekecewaan. Pertamanya, ini jenis liburan yang setiap orang merayakannya, yang berarti jika seseorang ingin keluar, dia harus membuat rencana sejak jauh-jauh hari. Artinya, seseorang wajib memilih pesta mana yang akan dikunjungi, atau membeli tiket ke sebuah acara, atau memesan kamar hotel sejak sebulan sebelumnya. Semua perencanaan ini membuat kita, tentunya, mulai menyiapkan beberapa harapan.

Rutledge lantas menemukan bukti bila pengalaman orang lain dapat mempengaruhi kebahagiaan saat ini dan pada Tahun Baru, saat banyak orang merayakannya pada saat bersamaan. Apalagi sekarang, sebagian kenalan memposting pengalaman tahun baruan di media sosial—sehingga perbandingan pengalaman di malam pergantian tahun antar orang dapat mempengaruhi betapa bahagianya kita dengan acara kita sendiri.

Jadi apa solusinya supaya kita tidak terlalu benci perayaan tahun baru? Haruskah Anda mengatakan pada diri sendiri bila malam tahun baru hanya cocok dirayakan sambil berdiam di kasur atau bakar isi tong sampah?

"Tidak, tidak, tidak. Bersedih adalah respons yang terlalu biasa. Saya menyarankan orang harus memiliki harapan yang realistis," kata Rutledge. "Buatlah rencana tapi sadari bahwa tidak semuanya berjalan dengan sempurna, dan kemudian lihat apa yang terjadi."

Sulit untuk melawan naluri alami manusia buat merencanakan dan memprediksi segala sesuatu. Tapi jika Anda cenderung gampang kurang senang dengan perayaan Tahun Baru yang sudah dirancang secara njelimet, cobalah ingat satu hal ini: Kita pasti segera berpisah dengan 2017, salah satu tahun terburuk yang pernah ada. Apapun yang akan Anda lakukan di malam pergantian tahun, kegiatan itu sebaiknya diupayakan agar kalian menyongsong tahun baru yang lebih bahagia.

Tagged:
Motherboard
2018
penelitian
Sains
Emosi
Psikologi
Kebudayaan
Kerja Otak
Kebahagiaan
Perayaan tahun baru