Gempa Palu

'Kami Menjarah untuk Bertahan Hidup': Merekam Kekacauan Usai Gempa dan Tsunami Menerjang Palu

Bantuan baru bedatangan Senin (1/10) pagi. Bagi pengungsi, menjarah pertokoan jadi satu-satunya cara bertahan hidup. Tiga hari setelah gempa menewaskan 832 jiwa, kekacauan masih menyelimuti kota.

oleh Iqbal Lubis
01 Oktober 2018, 3:27am

Warga Palu menjarah pertokoan Bumi Niur. Semua foto oleh penulis.

Derap langkah kaki terdengar keras seiring truk Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian yang saya tumpangi mendekati Bumi Niur Swalayan, kawasan Besusu Tengah, Kota Palu. Di kanan kiri jalanan yang saya lewati, bangunan ambruk. Mereka yang jauh dari pesisir sibuk membongkari reruntuhan. Sementara ratusan warga lain yang keluarganya hilang akibat tsunami mendekati kawasan Pantai Talise, mencari secauk kecil harapan bahwa yang terkasih masih bisa kembali.

Dari kejauhan, nampak puluhan orang keluar dari swalayan masing-masing menenteng kantong berisi makanan serta dus-dus minuman. Siang itu—dua hari setelah gempa 7,4 magnitudo mengguncang Donggala, Sigi, dan Palu, lantas memicu tsunami setinggi 1,5 meter yang menghantam kawasan pesisir barat Sulawesi Tengah—kekacauan merebak di mana-mana.

Polisi bersenjatakan pentungan segera meloncat dari truk, salah satu dari mereka berteriak kepada massa yang keluar masuk swalayan. "Jangan ada yang menjarah uang dan benda-benda yang berharga, silakan ambil makan dan minuman yang dibutuhkan," ujarnya.

Bumi Niur hanya satu dari puluhan toko yang dijarah warga. Situasi ini dipicu kondisi mengenaskan 48.025 orang mengungsi setelah gempa di 94 titik, namun bahan kebutuhan pokok sangat terbatas. Banyak minimarket seperti Alfamart dan Indomaret ludes isinya, hanya tersisa onggokan keranjang belanjaan di pinggir jalan. Perekonomian Palu lumpuh akibat terisolasi dari dunia luar. ATM tidak berfungsi dan listrik baru menyala di sebagian wilayah saja. Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu sudah dibuka terbatas, namun prioritas untuk didarati pesawat Hercules TNI yang mengirim bantuan.

Reski adalah salah satu anak muda yang ikut menjarah pertokoan. Dia mengaku di barak pengungsiannya, dekat Bumi Niur, bahan makanan sudah sangat menipis.

"Di tempat saya susah makanan apalagi air minum tadi cuma datang satu truk, tapi tidak cukup. Kami di pengungsian ada dua keluarga," ujarnya kepada VICE.

Selain mengambil makanan di swalayan, puluhan warga di dekat swalayan itu terlihat memasuki apotek-apotek yang hancur. Nila, perempuan yang datang bersama anaknya, menenteng beberapa minyak gosok dan vitamin yang di ambil di reruntuhan apotek sekitaran Jalan Sam Ratulangi. "Jangan difoto ya, kami cuma cari obat-obat dan suplemen vitamin yang bisa diminum di pengungsian," kata Nila.

Aparat keamanan tidak bisa menanggulangi penjarahan. Selain tenaga mereka terbatas, bantuan logistik, makanan, dan obat-obatan baru tiba, Senin (1/10) subuh waktu setempat, setelah jalur darat dari Gorontalo dan Poso bisa dilalui kendaraan besar. Sebelumnya rute tersebut hanya dapat dilewati sepeda motor. Bahan Bakar Minyak (BBM) juga masih sangat tipis pasokannya, kendati empat SPBU di Palu mulai dibuka kembali oleh Pertamina tadi malam. Itulah sebabnya selama dua hari sesudah gempa warga sempat merangsek tangki penyimpanan di empat SPBU untuk mengambil paksa BBM.

Sempat beredar kabar bila Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengizinkan warga mengambil barang kebutuhan pokok. Tadi malam, kabar itu ia bantah. "Dalam rapat saya minta pemda memfasilitasi beli minuman dan makanan di toko yang jual, berikan dulu kepada pengungsi dan yang dirawat di rumah sakit," ujarnya.

TNI menegaskan penjarahan sebetulnya tidak bisa dibenarkan. Namun karena kondisi darurat, masyarakat diminta hanya mengambil bahan makanan. "Apabila masyarakat membutuhkan logistik, silahkan mendatangi tempat-tempat yang ada logistiknya. Contohnya alfamidi dan swalayan dengan tetap ada pengawalan dan pendampingan dengan diinventarisir oleh anggota baik Polri maupun TNI yang bertugas," kata Kolonel Muhammad Tohir selaku jubir Kodam XIII/ Merdeka Palu.

Apa daya, penjarahan sudah beralih ke benda-benda selain makanan. Sebagian warga terlihat mengambil televisi dan barang elektronik lain pada Senin dini hari.

Setelah lewat tiga hari dari gempa dahsyat, kematian, duka, dan kekalutan masih terlihat di mana-mana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan 832 orang tewas, sebagian besar di Palu. Nyaris 70 ribu rumah hancur, mencakup hotel dan mal. Itu baru angka di Palu. Pemerintah mengaku belum bisa maksimal menjangkau Donggala. Jumlah korban tewas sangat mungkin melonjak. Siang ini, pemerintah menggali kuburan massal untuk 800-an jasad korban gempa di Kelurahan Poboya.

Presiden Joko Widodo kemarin mendatangi lokasi terparah yang ambruk akibat gempa di Palu. Pemerintah segera menetapkan masa tanggap darurat 14 hari ke depan. Kini, upaya penyelamatan pemerintah difokuskan pada 140 orang yang tertimbun. Khususnya di hotel Roa-Roa serta Perumahan Balaroa yang rata dengan tanah. Semua pihak berharap masih ada keajaiban bagi mereka yang bertahan di sela reruntuhan.

Sementara bagi mereka yang hidup, penjarahan menjadi salah satu siasat bertahan di tengah kelumpuhan Palu akibat amukan gempa, selama distribusi bahan pokok masih belum normal kembali. Seperti Reski, yang buru-buru kembali ke pengungsiannya, sembari menenteng satu kantong plasti berisi air minum kemasan serta mi instan.

"Kami [menjarah] untuk cari makanan dan minuman yang bisa buat bertahan hidup."

Warga menyemut di sekitar kawasan pertokoan untuk mencari kebutuhan pokok.
Bandara sunyi dan hancur setelah gempa.
Antrean warga di luar Bandara yang ingin naik pesawat keluar dari Palu.
warga mengambil kebutuhan pokok di pertokoan pinggiran Kota Palu.
Sebagian warga berusaha mengidentifikasi jenazah untuk mencari keluarga mereka.
Foto dan tanda pengenal terserak di jalanan setelah tsunami.