Game 'Flight Simulator' Terbaru Malah Menaruh Kita di Kursi Penumpang Bukannya Pilot

Saking kerennya demo game ini, terbang dalam 'Flight Simulator' lebih nyaman dari terbang dengan pesawat betulan.

|
Sep 14 2018, 7:49pagi

Screengrab: Flight Simulator

Tahun lalu, saat saya pertama sekali menjajal naik pesawat terbang, saya kalem saja, seperti anak ayam yang dierami induknya. Saya langsung duduk di kursi yang nomornya tertera di tiket, menutup kuping saya dengan headset, memutar podcast kesukaan saya dan membiarkan pesawat membawa tubuh saya terbang pertama kali. Terbang, ternyata, enggak semenakutkan yang apa sebelumnya saya bayangkan. Malah enak kok, pikir saya waktu itu.

Sayangnya, enggak ada yang bilang kalau pesawat yang saya tumpangi bakal melakukan akselerasi yang kedua, kali ini saya enggak bisa kalem. Yang ada malah tegang dan kaki saya sampai keringetan. Tapi, setelah episode menegangkan itu lewat, saya kalem lagi, baca buku dan ngemil kue. Bahkan saya lupa sedang melayang di udara.

Terbang dengan pesawat terbang itu semacam uji nyali tapi di sisi lain adalah aktivitas yang lazim banget dilakukan manusia modern. Inilah yang jadi alasan dasar seorang developer game Hosni Auji menciptakan game Flight Simulator, sebuah game bergenre first person point and click. Dalam game itu, kamu bakal terbang dari New York ke Reykjavik, Islandia. Yang unik, bukannya jadi pilot seperti dalam game-game serupa, pemain akan berperan sebagai penumpang.

Dicuplik dari Flight Simulator

Selama penerbangan berdurasi lima jam, pemain bisa melakukan apapun yang umumnya dilakukan orang dalam pesawat: membuka penutup jendela, menutupnya menurunkan meja tempat menaruh makanan, membaca buku novel sungguhan dan lain-lain. Jika suara pesawat dirasa terlalu berisik, kamu tinggal pakai headphone dan main sudoku.

Bakal membosankan? Tonton saja film atau dengarkan stock lagu yang disediakan dalam game. Malah, biar kedengaran betulan banget, pemain bakal nonton film atau mendengarkan musik diiringi suara batuk penumpang atau tangis bayi dalam pesawat. Bahkan, kamu bisa main ponsel selama game berjalan. Intinya, Flight Simulator enggak peduli kamu ngapain. Wong tugas pemainnya cuma satu kok: menikmati penerbangannya.

Meski memang bukan penerbangan betulan, game ini penuh dengan opsi. Artinya, kamu enggak akan mati kebosenan selama main. Selalu ada saja yang kalian kerjakan dalam game. Flight Simulator berhasil mengatasi rasa penasaran saya begitu saya gelisah atau saat pengin santai saja menikmati jalannya game. Pendeknya, saya lebih suka terbang dalam demo game ini dibanding terbang dengan pesawat betulan.

"Kayaknya, saya enggak bisa bikin game ini sepuluh tahun lalu," ujar Auji saat ditemui di acara tahunan Game Center Incubator Showcase yang digelar New York University, pekan lalu, setelah mempresentasikan karyanya pada komunitas gamer New York.

Rupanya, Auji juga termasuk orang yang lumayan takut terbang, tapi punya ketertarikan akan segala ritual yang ada hubungannya dengan perjalanan udara. Makanya, dia bisa menghasilkan game sedetail Flight Simulator.

Meski game buatannya terkesan seperti permain lucu-lucuan belaka, Auji berharap Flight Simulator bisa dipergunakan sebagai media terapi pengidap fobia terbang. Flight Simulator bakal mulai bisa dimainkan di PC musim gugur 2019.

More VICE
Vice Channels