Iklan
Dunia Kampus

Inilah Jenis-Jenis Manusia yang Selalu Muncul di Acara Ospek Kampus

Ospek merupakan habitat alami manusia yang masuk daftar ini. Silakan disimak, supaya kalian yang sedang atau baru akan menjalani inisasi masuk pendidikan tinggi bisa selamat.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
16 Agustus 2018, 8:02am

Ilustrasi oleh Dini Lestari.

Buat anak baru di kampus, orientasi studi pengenalan kampus atau biasa disebut Ospek, ibarat kata bisul. Sakitnya sih enggak seberapa, malunya turun-temurun. Di ajang inilah kamu mungkin menemukan beberapa hal paling berkesan dalam hidup, misalnya: fakta bahwa kamu bakal punya nama panggilan baru (yang melekat seumur hidup) cuma gara-gara insiden yang terjadi dalam Ospek. Misalnya namamu dikenang sebagai Ucup Cepi akibat kamu ‘cepirit’ saat Ospek.

Bisa jadi juga fakta bahwa hingga lulus kamu dikenal sebagai sosok heroik karena rela jadi pembela satu angkatan; atau sebaliknya dikenal sebagai pembangkang anti senioritas yang punya sikap tegas anti-Ospek. Atau pilihan terakhirnya, kamu mengetahui fakta bahwa keberadaanmu di kampus, menurut senior, sama seperti ketiadaan dan tidak penting sama sekali. Teman sekelas aja sampai enggak tahu kamu kuliah bareng mereka.

Artinya ospek bahkan bisa jadi ajang pertaruhan eksistensial—seumpama percintaan saja tidak cukup bikin kalian galau.

Di sisi lain, Ospek sering dikritik karena katanya melanggengkan senioritas. Memang benar kok. Kalian memang akan mendapat informasi baru soal perkuliahan saat Ospek. Masalahnya ngapain juga kita dapat informasi kampus sambil pakai atribut tertentu plus serangkaian tugas yang enggak masuk akal?

Walaupun kritik keras sudah diberikan banyak pihak dari dulu, ternyata pelaksanaan Ospek di beberapa kampus negeri ataupun swasta tetap gitu-gitu mulu. Ospek cuma jadi ajang kakak-kakak tingkat unjuk gigi, atau ajang alumni-alumni kurang sukses yang ingin nampang lagi alih-alih kangen kampus.

Bocoran, ujung-ujungnya Ospek hanya akan berkutat pada drama senior protagonis-netral-antagonis versus anak baru yang dianggap dungu-caper-sok tahu. Di akhir acara para senior pasti akan bilang, “Ospek ini demi kalian adik-adik tersayang, kakak-kakak di sini sudah berkorban!"

Klise.

Makanya, jangan sampai kalian baper atau malah trauma gara-gara Ospek. Rugi besar. Pahami saja peta pertarungan kekuasaannya. Daftar ini mencatat semua aktor penting Ospek yang akan berpengaruh dalam kehidupan kuliahmu, selain teman seangkatan. Manusia-manusia dalam daftar ini pasti ada di hadapan maba. Ospek ibaratnya habitat asli mereka. Niscaya, panduan ini akan membuat kehidupan kalian lebih woles, tanpa perlu merana hanya karena Ospek.

Senior protagonis yang koar-koar kalau Ospek zamannya dulu jauh lebih seram.

Senior Ospek macam ini bisa kita dekati kalau kebetulan satu kosan. Dalam Ospek, perannya protagonis biasanya ada di divisi medik atau divisi lainnya yang menghibur. Tipe seperti ini, biasanya mereka sering koar-koar kalau Ospek kamu itu “enggak ada apa-apanya” dibandikan Ospek zaman mereka. Biasanya senior jenis ini koar-koar begitu dengan tujuan ingin dilihat sebagai jebolan angkatan yang paling “strong” sama adik-adik kelasnya.

Respons kamu sebaiknya ngangguk-ngangguk aja dulu, iya-iya-in aja. Bikin hatinya senang. Informasi berguna biasanya datang dari senior ini kalau kamu bisa rebut hatinya. Kehadiran mereka membantumu untuk dapat info soal senior mana yang kejam atau bakal ada tugas gila apa di hari-hari Ospek mendatang.

Senior yang kebetulan kamu kenal dekat sejak lama

Biasanya ini seniormu dari SMA. Mereka relatif enggak bisa diandalkan, jadi enggak perlu SKSD. Kenapa? Soalnya manusia tipe ini biasanya enggak gabung jadi panitia Ospek. Mereka cuma senyam-senyum cekikikan dari kejauhan sambil liatin kita yang lagi disuruh jalan nunduk. Pepet mereka baru setelah Ospek aja, palak buku-buku diktat penting atau materi kuliah umum tahun lalu. Dalam hal ini, baru mereka berguna.

Senior yang merasa dirinya paling populer, tamvan, atau cantik

Biasanya orang ini akan muncul sebagai tokoh antagonis yang muncul pada saat puncak acara. Kelihatannya mereka ini harmless. Etapi, jangan salah, tipe senior begini bukan hanya yang ganteng, melainkan juga narsisis. Golongan lelaki yang sadar akan ketamvanannya, akan berupaya keras membuktikan “maskulinitasnya dan powernya” dengan memacari salah satu anak baru yang juga paling popular. Orang seperti ini biasanya enggak berguna bagi kamu, dan enggak banyak ngaruhnya bagi hidupmu. Cuma ngeliatnya jijik aja. Empat tahun kuliahmu jauh lebih penting dibanding menghadapi manusia macam ini. Sebisa mungkin, hindari mereka di habitat aslinya. Pura-pura bego pas mereka lewat. Kalau ditanya ya jawab sesingkat mungkin.

Alumni yang rajin datang ke Ospek tahunan

Alumni jenis ini, yang nongol terus bahkan ikutan makrab, terkadang membuat anak-anak baru bingung. Pilihannya cuma dua. Antara mereka emang sukses dan ingin menebar inspirasi agar terlihat cool, atau emang mereka enggak punya kerjaan dan mencari eksistensi dirinya lewat pengakuan adik-adik kelas. Dua-duanya tidak bagus untuk kesehatan mental kalian. Jadi, seperti manusia tipe sebelumnya, abaikan senior macam ini. Jangan terbuai dengan ucapan mereka yang penuh nostalgia.

Alumni yang jadi dosen di kampus itu sendiri

Posisinya abu-abu. Mereka pura-pura baik dan heroik di depan anak-anak baru. Di balik layar, mereka tak jarang punya peran sentral mengatur pola serangan dan pertahanan senior terhadap junior. Sulit dipercaya, tapi manusia jenis ini memang bukan sekutu maba. Mereka lebih sering membela panitia kalau terjadi sengketa sewaktu ospek. Pantau dan petakan dulu saja dosen cum senior macam ini. Setelah Ospek baru biasanya mereka akan normal kembali.

Para orang tua yang mengawasi dari kejauhan

Inilah sekutu sejatimu. Akan ada beberapa kelompok orang tua yang mengawasi kampus lokasi Ospek anak-anaknya. Mereka akan berkamuflase di mobil atau warung kaki lima seharian, mengawasi, memastikan anak-anaknya tidak diospek se-militeristik mereka dulu. Mereka merasakan langsung brengseknya Ospek era OrBa. Beruntunglah kalian Gen Z, tidak harus mengikuti jejak mereka.

Pantau keberadaan mereka. Kalau ada senior ngehe atau tugas yang mustahil dilakukan manusia, segera lapor para ortu tadi. Niscaya lebih efektif daripada lapor kampus. Dianggap tukang ngadu sama senior? Biarin. Siapa suruh meneruskan tradisi bullying yang enggak manusiawi dan enggak ada padanannya di kampus dunia yang bermartabat.

Senior menderita hypermaskulinitas

Senior jenis ini tidak banyak beredar di kampus-kampus biasa. Namun, jika kamu masuk ke kampus bernuansa atau punya tradisi militeristik, bisa jadi mereka banyak beredar. Mereka adalah definisi “racun” sesungguhnya dari ajang senioritas berbau militeristik ini. Tidak jarang mereka melakukan kontak fisik, dan urusan Ospek lari ke ranah personal. Kita ingin senior macam ini punah. Sayangnya, seleksi alam belum sepenuhnya bekerja. Mungkin 30 tahun lagi, kalau Indonesia sudah sepenuhnya demokratis. Kecuali kalau ternyata Indonesia jadi negara superkonservatif. Bye-bye. Ternyata anak liberal yang kena seleksi alam.

Teman seangkatanmu yang enggak ikut Ospek, tapi datang pura-pura jadi senior

Ini baru SIKAP! Segera pepet dan jadikan orang macam ini teman. Dia akan jadi tokoh besar. Dia akan jadi legenda!