10 Pertanyaan Penting

10 Pertanyaan yang Ingin Kamu Ajukan Pada Jagal Hewan Kurban

"Saya suka mikir aja, gimana ya rasanya kalau saya yang ada di posisi si hewan itu. Tiap kali ingat itu saya langsung iba. Jujur aja saya pecinta binatang."

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
22 Agustus 2018, 5:00am

Seorang jagal bersiap menyembelih sapi kurban dalam Idul Adha pada 2016 lalu di Jakarta. Foto oleh Darren Whiteside/Reuters

Darah, kepala buntung, golok tajam, dan pembantaian. Rasanya cuma kata-kata menyeramkan itu yang bisa merepresentasikan pekerjaan sakti seorang jagal.

Pekerjaaan ini sering juga dianggap misterius, karena lebih banyak kelihatan eksistensinya saat menjelang Idul Adha. Saat itulah mereka akan mudah ditemukan di lapangan atau sekitaran masjid di wilayah perkampungan. Orang Indonesia lebih menyukai saat-saat kurban sebagai aktivitas komunal yang dilakukan secara bersamaan tentunya dengan bantuan tim jagal.

Salah satu tim jagal yang telah menekuni profesi ini sejak usia belasan adalah Hadi Setiawan. Ilmu menyembelih hewan diwariskan dari ayahnya yang juga berprofesi sebagai jagal. Terlepas dari citra profesinya yang “sangar” dan kerap kali diasosiasikan dengan pembantaian, ternyata hati Hadi kerap iba tatkala menatap mata hewan yang disembelihnya.

“Palingan saya suka mikir aja, gimana ya rasanya kalau saya yang ada di posisi si hewan itu. Tiap kali ingat itu saya langsung iba,” ujar pemuda 26 tahun itu ketika diwawancarai VICE di sela-sela penyembelihan hewan di halaman belakang Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan. Hadi saat kami ajak ngobrol masih lengket berlumur darah menjawab banyak pertanyaansoal bagaimana sih rasanya menjadi sosok seorang jagal yang punya hati lembut dan baik hati.

Toh ternyata pekerjaan ini bukan cuma mencabik-cabik hati Hadi yang sebenarnya seorang penyayang binatang, tapi juga memaksanya agar selalu presisi mematikan hewan-hewan ini mati tanpa siksaan di penghujung hidup mereka. Tentunya juga memastikan kehalalan hewan adalah amanat terbesar yang diemban tim jagal.

Hadi bersedia mencurahkan isi hatinya pada VICE setelah lebih dari 10 tahun menjadi sosok seorang jagal, membahas apa saja yang dia pelajari mengenai seni membantai sapi dan kambing secara efisien.

Tukang jagal Hadi Setiawan, 26 tahun, saat ditemui di halaman masjid Al Azhar, Jakarta Selatan. Tangannya masih bersimbah darah, seusai terlibat penyembelihan 200 hewan kurban. Foto oleh penulis

Ada kursus atau semacam sekolah enggak sih cara menjadi jagal?
Hadi Setiawan: Kalau belajar formal enggak sih. Lebih ke otodidak aja, ikut-ikutan ke saudara dan teman yang sudah duluan di dunia jagal. Nanti lama-lama juga bisa. Ilmu tersendiri enggak ada. Kalau keluarga besar saya memang tukang jagal, orang tua saya juga. Nah saya suka ikut dengan bapak saya sejak usia 15 tahun. Pertama saya ngelihat bapak dulu, lama-lama saya penasaran, terus mulai saya pegang pisau, lama-lama saya coba-coba sambil diajarin.

Jagal sebetulnya merasa ngeri enggak sih melihat darah hewan?
Awalnya sih enggak takut sama darah, cuma palingan jijik aja, apalagi baunya kan. Lama-kelamaan memang kehidupan dan penghasilan kita memang dari menjadi jagal ya mau enggak mau lah harus menyukainya. Nah kalau sekarang sudah terbiasa, saya sudah enggak jijik dan enggak ada ketakutan lagi.

Seandainya saya mau menjadi tukang jagal, apa tantangan terbesarnya?
Yang paling susah pasti dari segi fisiknya. Karena memang pekerjaan ini berat, dan butuh fisik yang sangat prima. Yang paling berat itu kan kalau kita harus angkat-angkat daging. Dari jagal kan dipotong, segunung [daging] itu harus diangkat ke meja potong. Nah memanggulnya itu yang berat.

Di luar Idul Adha, biasanya dirimu membantai berapa binatang tiap hari?
Kalau hari-hari biasa, saya biasanya motong sapi. Palingan satu ekor lah karena enggak terlalu ramai. Selalu yang ramai itu kalau lagi ada Idul Adha, Idul Fitri, dan bulan Ramadan aja. Itu yang sehari bisa banyak. Kalau lagi Idul Adha di sini tadi saya nanganin hampir 200 ekor dari pagi sampai sore. Itu baru kambing saja. Kalau sapi hari ini kami memotong sekitar 16 ekor.

Adakah ritual khusus menyembelih hewan kurban?
Aturan khusus dan syarat sah di Islam itu harus membaca bismillah dan Al Fatihah aja sih. Si pemotongnya yang baca. Kalau membaca itu ya kemungkinan si hewan kurbannya itu tidak menjadi halal. Jadi ini memang tanggung jawabnya besar dan berat, karena kita percaya kita pastikan kita membaca sesuai dengan aturannya ya Insya Allah diterima Yang Maha Kuasa dan menjadi halal. Kalau menyembelihnya intinya sama saja untuk hewan manapun. Di sekitar leher, kerongkongan dan urat besarnya itu dipotong, biar nyawa hewannya cepat hilang dan darahnya keluar banyak. Harus memastikan nyawa cepat hilang sih biar enggak menyiksa binatangnya juga.

Hadi dan tim jagalnya selesai menguliti kambing yang baru disembelih di Al Azhar. Foto oleh penulis.

Pernahkah kamu gagal menyembelih binatang sepanjang karirmu?
Selama ini sih belum, walaupun agresif memberontak dan memang tenaganya kuat sekali tapi ya Alhamdulillah bisa putus semua urat lehernya. Kalau untuk gagal motong sih belum, tapi palingan ya hewannya ada yang lari dulu. Kalau gitu sih kejar lagi pasti bisa dan kalau misalnya dia sudah terpotong sih kita tidurkan dia lagi nanti dia pasti akan mati juga.

Pernahkah jagal kasihan sama hewan yang hendak disembelih?
Palingan saya suka mikir aja, gimana ya rasanya kalau saya yang ada di posisi si hewan itu. Tiap kali ingat itu saya langsung iba. Memang jujur aja saya pecinta binatang, saya punya peliharaan ayam, kambing juga. Saya suka iba aja, suka kasihan kalau mau dipotong. Pokoknya perasaan saya selalu kayak begitu. Tadi pun sama, saya lihat dulu matanya pas mau dipotong. Tapi mau bagaimana lagi, ya memang kewajiban saya untuk memotong hewan ini. Ikatan batin sih mungkin ada.

Pernah memotong hewan punya sendiri?
Pasti. Saya pernah motong ayam saya. Belum lama ini sekitar dua hari lalu saya motong ayam yang saya pelihara dari dia kecil. Tiba-tiba kemarin ada tanda-tanda sakit, daripada kenapa-kenapa kan. Sebetulnya saya sayang banget sama peliharaan saya itu, akhirnya mau enggak mau dipotong. Kalau sapi atau kambing belum. Batin saya selalu merasakan iba.


Tonton dokumenter VICE mengenai pengorbanan binatang besar-besaran saat prosesi Rambu Solo di Toraja:


Sebagai jagal anda sendiri lebih suka menyembelih sapi, kambing, atau domba?
Sapi sih. Karena dagingnya lebih banyak dan usaha untuk menjatuhkannya itu sangat sulit. Karena butuh beberapa orang, karena kan tenaganya besar banget. Ada trik-trik khusus juga buat menyembelih sapi. Simplenya saja nih ya, kalau sapi harus diikat dulu. Kaki kanan dan kiri baik depan maupun belakang harus disilang, supaya ngunci, diikat, lalu ditidurkan. Nah itu sudah mengunci, dia sudah enggak bisa gerak dan kemudian ditarik dari buntutnya, kepalanya juga diikat. Baru deh disembelih. Biasanya butuh lima orang untuk sampai selesai motong. Karena lebih susah jadi lebih puas, karena ada usaha tersendiri. Tenaga yang dibutuhkan lebih banyak, dan hasil dagingnya pun lebih banyak. Itu yang bikin puas. Kalau kambing sama domba tuh kan ukurannya kecil, jadi ah segini doang kurang [usahanya].

Secara pribadi, apa bagian tubuh binatang yang paling kamu suka?
Bagian paha sih yang paling saya suka, pertama dari bentuknya yang seperti memanjang dan teksturnya lebih lembut. Enggak keras, enggak bandel. Itu lebih memuaskan sih. Kalau yang enggak saya suka bagian jeroan, karena banyak kotorannya. Jeroan itu memang 70 persennya kotoran dan banyak kebuang, jadi banyak yang sia-sia.


10 Pertanyaan Penting adalah kolom VICE Indonesia yang mengajak pembaca mendalami wawancara bersama sosok/profesi jarang disorot, padahal sepak terjangnya bikin penasaran. Baca juga wawancara dalam format serupa dengan topik dan narasumber berbeda di tautan berikut:

10 Pertanyaan yang Selalu Ingin Kamu Sampaikan Pada Polisi Pembakar Narkoba

10 Pertanyaan Ingin Kalian Ajukan Pada Pengacara Teroris

10 Pertanyaan Penting Untuk Operator Warnet yang Tahu Semua Rahasia Pengunjung