Saya Mencoba Hidup Dengan Rp20 Ribu Per Hari di Jakarta, Menurut BPS Sih Tak Masuk Kategori Miskin

Reporter VICE menilik klaim pemerintah bahwa jumlah penduduk miskin di Tanah Air terendah sejak 1999.

|
Jul 23 2018, 4:00pagi

Kontras pemandangan rumah berbahan kayu dan seng di perkampungan belakang kawasan SCBD Sudirman Jakarta. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Angka kemiskinan di Indonesia pekan lalu diklaim turun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan diamini Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pertama kali dalam sejarah, kata Sri, angka kemiskinan di Indonesia berada di bawah 10 persen per Maret kemarin. Lebih tepatnya lagi 9,82 persen. Itu berarti saat ini "hanya" ada 25,95 juta orang di Indonesia yang dikategorikan miskin oleh BPS.

Seperti apa sih sebenarnya kriteria miskin itu? Versi pemerintah, setiap orang dengan pengeluaran rata-rata Rp401.220 per bulan sudah dianggap hidup di bawah garis kemiskinan. Itu berarti pengeluaran per hari cuma sekira Rp11 ribu. Khusus untuk Jakarta, BPS mengkategorisasi penduduk miskin sebagai orang dengan pengeluaran Rp578 ribu per bulan atau setara Rp19 ribu per hari.

Dengan kata lain, orang yang baru sebatas mampu membelanjakan Rp20 ribu untuk kebutuhan hariannya, sudah tidak lagi dianggap sebagai rakyat miskin di Jakarta. Di atas kertas, ia masuk kategori "mendekati miskin".

Padahal, duit segitu mana cukup membeli kebutuhan paling mendasar sekalipun, seperti beras, BBM, lauk pauk, dan minyak goreng. Itu belum termasuk transportasi dan kebutuhan sandang papan lainnya. Angka pengeluaran tersebut sulit disesuaikan dengan fakta di lapangan dengan naiknya harga sembako seperti telur yang telah mencapai Rp30 ribu per kilogram. Belum lagi jika mengingat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat, saat artikel ini dilansir mencapai Rp14.550 per US$ yang tentu mempengaruhi harga barang.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa garis kemiskinan dengan angka segitu masih terlalu rendah sehingga perlu dievaluasi lagi. Menurutnya angka tersebut juga jauh dari kenyataan di lapangan.

“Untuk data kemiskinan ini memang masih sangat bias. Karena bukan pendapatan yang menjadi basis perhitungan, namun pengeluarannya,” ujar Bhima.

Supaya lebih jelas lebih baik langsung turun ke lapangan buat mempelajari fakta yang ada. Karena data BPS tersebut berdasarkan pengeluaran per bulan, kita enggak tahu berapa pendapatan yang bisa dikategorikan miskin.

Tapi coba kita asumsikan seseorang yang tidak memiliki tanggungan punya gaji Rp800 ribu per bulan di Jakarta. Kita bisa coba bikin simulasi sederhana dengan menjabarkan kebutuhan paling mendasar untuk seseorang yang tinggal di Jakarta.

Kost di pinggiran Jakarta: Rp 300 ribu
Listrik: Rp 50 ribu
Makan: 2x Rp5000 x 30 hari = Rp300 ribu
Transportasi bus PP: Rp7000 x 20 hari = Rp140 ribu
Total: Rp790 ribu

Angka-angka asumsi tersebut jelas sulit diaplikasikan di lapangan. Ketika saya menyambangi daerah paling pinggiran Jakarta sekalipun seperti Citayam, harga kost di sana sudah di kisaran Rp500 ribu.

Kondisi kamar kos seharga itu sangat seadanya, jika tidak mau dibilang di bawah standar layak. Dinding dari triplek mengelilingi ruangan kamar yang cuma seukuran 2x3 meter. Kamar mandi terletak di luar dengan WC jongkok dan bak mandi lumutan. Ventilasi yang membantu sirkulasi udara juga nihil.

Bicara soal harga makanan, jelas selalu mengikuti fluktuasi harga di pasaran. Namun semurah-murahnya nasi dengan modal lauk cuma sayur mayur di Jakarta, harganya sudah pasti menyentuh lebih dari Rp5.000 sekali makan. Ini bisa dibuktikan dengan menyambangi warteg-warteg di seantero Jakarta. Enggak usah mikir jauh-jauh mau minum pakai es teh manis. Segelas teh tawar saja kadang bisa dibanderol Rp2.000.


Simak dokumenter VICE yang membahas revolusi industri ke-3, serta prospek tatanan hidup yang lebih masuk akal dan berkeadilan di Abad 21:

Mau coba-coba mau masak sendiri supaya ongkos hidup lebih terjangkau? Coba kita berhitung lagi. Harga seikat kangkung di pasar tradisional ada di kisaran Rp2.000. Beras paling murah berapa? Rp6.000 untuk satu liter beras raskin. Lantas minyak goreng? Gas elpiji? Minyak tanah? Mau dibeli pakai apa?

Coba kita simulasikan biaya bila seseorang memasak sendiri untuk tiga kali makan dalam satu hari:

Beras satu liter: Rp6.000
Sayur mayur dan bumbu: Rp5.000
Lauk: coret karena tidak mampu
Total: Rp11.000

Itu belum termasuk biaya lain mencakup minyak goreng dan gas elpiji.

Kemampuan belanja sebesar Rp800 ribu tersebut boro-boro mencakup biaya rekreasi dan biaya tak terduga seperti pengeluaran kesehatan. Uang segitu, yang jelas kepalang mepet, rupanya tak dianggap miskin oleh BPS.

Jadi coba bayangkan ketika orang sudah susah payah bertahan hidup cuma dengan Rp800 ribu, bagaimana kehidupan mereka yang cuma bisa mengeluarkan Rp578 ribu? Jadi sebenarnya kemiskinan itu cuma angka di atas kertas atau memang sebuah fakta di lapangan tapi tidak dipedulikan?

Mungkin hanya petinggi BPS yang punya jawabannya dan sudah menjalani sendiri hidup sedikit di atas garis kemiskinan seperti yang sudah mereka patok itu.

More VICE
Vice Channels