Budaya Pop

Kenapa ya Video Klip Musik Elektronik 90'an Sering Menampilkan Adegan Kejar-Kejaran?

Orang-orang di video klip Darude, Chemical Brothers, sampai Prodigy selalu lari dari kejaran sesuatu, serta bawa koper. Kami jadi tertarik menelusuri penyebab tren unik ini.
07 Mei 2020, 6:12am
Ciri Video Klip Musik Elektronik 90'an Sering Menampilkan Adegan Kejar-Kejaran
Lihat, dari cuplikan empat video klip musik elektronik berbeda era 90'an, semuanya memuat adegan orang lari bawa koper. 

Di adegan awal video klip Fluke, "Bullet" yang rilis 1995, dua perempuan mengenakan topeng Elvis terlihat berlari di jalanan sambil membawa koper misterius. Mereka memaksa pengendara keluar dari mobil dan ngebut-ngebutan di kota, sebelum akhir videonya memberi kejutan kalau sebenarnya yang kalian lihat merupakan gambaran game realitas virtual (VR) yang dimainkan oleh frontman band tersebut, Jon Fugler.

Fluke mungkin bukan nama populer ketika kita sedang membicarakan kancah musik elektronik 90'an. Tapi video "Bullet" terbukti lumayan representatif menggambarkan era tersebut. Selama dekade 90'an, kebanyakan video musik elektronik seringkali menampilkan konsep visual abstrak atau rekaman-rekaman buram berisikan anak-anak rave mengenakan kaos kedodoran. Tapi kemudian di paruh kedua 90'an, video musik mulai menjadi lebih kreatif.

Video klip musisi elektronik rata-rata lebih mirip film laga pendek, berisi orang-orang memakai kacamata keren, berlarian membawa koper misterius, seakan berusaha lari dari orang jahat. Tentunya enggak semua video dari genre tersebut mengikuti template ini, tapi realitasnya banyak sekali yang menampilkan adegan kejar-kejaran dan teknik pengambilan gambar sinematik yang penuh aksi dan berenergi tinggi. Bayangkan saja film The Matrix diperankan oleh anak-anak rave atau pemeran film Hackers.

Untuk contoh sejenis, lihat video klip Chemical Brothers untuk single mereka "Block Rockin’ Beats" (1997), disutradarai Nick Goffey dan Dominic Hawley (lebih dikenal sebagai Dom & Nic). Video tersebut sangat populer dan sering diputar di TV. Biarpun tidak ada kacamata keren atau koper dalam video tersebut, plot ceritanya menampilkan lelaki dan perempuan yang sedang dikejar-kejar gerombolan agen rahasia, lalu mencoba bersembunyi di kelab malam.

Video klip Crystal Method untuk lagu "Keep Hope Alive" juga tidak jauh berbeda. Bahkan video musik ini menampilkan potongan klip dari film laga fiksi ilmiah, The Replacement Killers. Di akhir video, anggota Crystal Method, Ken Jordan dan Scott Kirkland dikejar-kejar aktor Danny Trejo, yang berperan sebagai cameo berkacamata hitam, doyan mengintai anak-anak kelab malam. Tidak heran bahwa video ini disutradarai oleh Doug Liman, yang menyutradarai film laga-tekno seperti Go (1999) dan film laga spionase The Bourne Identity.

Contoh template kejar-kejaran terbaik mungkin adalah track klasik Praga Khan "Injected with a Poison", mengingat lagu tersebut memiliki dua versi video: versi pertamadirilis pada 1992, dan satu lagi 1998. Video pertama merupakan video kelab malam standar 90'an menampilkan banyak efek visual, lampu sorot, dan banyak adegan pengibasan rambut yang dilakukan oleh vokalis Jade 4U. Namun, kemudian pada 1998, video dari remix lagu tersebut dirilis, dan tentu saja menampilkan seorang perempuan membawa koper sedang dikejar-kejar oleh beberapa lelaki berkacamata hitam.

Jadi kenapa sih mayoritas video klip musisi elektronik di era itu memuat adegan kejar-kejaran? "Proses pembuatan video klip musik tekno itu kurang fotogenik," kata sutradara sekaligus seniman multimedia Nick Philip, saat diwawancarai The New York Times pada 1997. "Umumnya, proses penciptaan musik tekno seperti menonton orang lansia menghabiskan makanan. Sangat membosankan. Karena musiknya lebih anonim dan tak berwajah, jadi video klipnya harus menggunakan konsep visual atau ide atau emosi yang digugah oleh lagunya."

Akibat anggaran produksi yang terbatas dan kecenderungan untuk lebih mengekplorasi ranah seni visual, banyak video-video klip musik tekno sederhana dan abstrak. Video buatan Philip untuk lagu Sun Electric "Meccano" tidak lebih dari sekedar gumpalan abstrak berubah-ubah bentuk selama tiga menit. Bahkan nomor klasik "House of God" dari DHS pun videonya hanya menampilkan guratan-guratan gambar gereja dengan latar belakang hitam. Rupanya kancah tekno-artsy ini tidak bertahan lama di underground. Menjelang akhir dekade 90'an, band elektronik seperti The Prodigy dan The Chemical Brothers punya daya tarik lintas genre yang tinggi. Seiring meningkatnya penggemar yang menonton mereka di MTV, semakin besar pula budget untuk pembuatan video.

Dom & Nic, yang menyutradarai nomor klasik The Chemical Brothers "Setting Sun" dan juga “Block Rockin’ Beats” yang disebut sebelumnya, mengaku mulai menggunakan elemen "kejar-kejaran" untuk alasan kelancaran narasi. "Struktur adegan kejar-kejaran itu cocok untuk video musik karena ada awalan, tengah, dan akhir cerita yang bisa dieksekusi dengan cepat, dan tidak membutuhkan dialog, ini sebuah cerita visual," kata mereka saat dihubungi Noisey via email. "Kami suka banget film, dan seringkali adegan kejar-kejaran di film ditemani musik—sebab konsep visual orang berlari memang sangat cocok untuk video musik."

Duo sutradara tersebut menyebut Blade Runner, serta Criminal Justice and Public Order Act 1994 di Inggris, sebuah RUU yang mengkriminalisasi acara rave outdoor, sebagai inspirasi bagi video "Block Rockin’ Beats", menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintah yang semena-mena. Tema ini kemudian diadopsi banyak musisi lain, seringkali ditambah kemunculan sosok “agen pemerintah”, helikopter, dan koper misterius. Tren ini bahkan mulai merambah keluar genre. Tonton saja video band rock Filter “(Can’t You) Trip Like I Do.” Video “Sandstorm” dari Darude (2000) merupakan salah satu video terakhir yang mengikuti tema serupa. Di video 'Sandstorm' yang sekarang populer jadi meme tersebut, seorang perempuan dikejar-kejar di pusat kota sambil lagi-lagi membawa sebuah koper keren yang misterius.

"Seingat saya, ide asli kejar-kejaran di video musik ini datang dari teman, sutradara film Misko," ujar sutradara Juuso Syrjä, yang kini tengah menyutradarai serial Netflix, Bordertown. "Lagunya memang ada nuansa kejar-kejarannya, dan karena kami tidak punya uang untuk membuat adegan kejar-kejaran mobil yang layak, kami melakukan adegan kejar-kejaran versi larinya saja."

Syrjä, yang saat itu sibuk mixing video di kelab house dan menyutradarai iklan, mengaku dia mendapatkan inspirasinya dari film layar lebar, bukan video musik lain. “Kami bahkan punya versi KW dari efek Matrix (di video "Sandstorm") di mana seorang lelaki mengambang di udara dengan efek stop-motion," ujarnya.

Namun setelah “Sandstorm,” salah satu video “kejar-kejaran” terakhir dan yang terbesar, tren ini tidak berlanjut. Pada tahun 2000an, tren ini sudah usai. Seiring musik elektronik masuk ke era baru, estetika genre juga berubah. Tidak ada lagi celana kedodoran dan kaos “smiley face”.

"Kita bisa melihat kumpulan karya di periode waktu yang spesifik dan melihat gaya dan estetika yang digunakan," ujar Dom & Nic via email. "Di masa itu, kami ngasal saja pas brainstorming, saling melempar ide dan menyerap iklim musik dan budaya saat itu… Setiap video yang kami buat mencerminkan dan memperkuat musiknya. Tidak lebih, tidak kurang."

Mudah untuk semata menganggap semua itu sebagai sekedar tren singkat semata dalam sejarah musik elektronik. Namun, menurut Avant Burle (salah satu pencipta acara Amp di MTV, sebuah acara musik elektronik yang tayang dari 1996 hingga 2001), fenomena adegan “kejar-kejaran” selalu menjadi bagian dari kancah elektronik.

"Karena selalu ada semacam pergerakan," kata Burle saat saya hubungi. "Seseorang berlari menuju sesuatu, seseorang berlari dari sesuatu. Seseorang mencoba menyebarkan sesuatu...Itu semua adalah bagian dari bahasa musik elektronik, karena tanpa pergerakan, tidak ada kemajuan."

"Di saat yang sama, konsep ini cocok untuk tayangan TV di malam hari, karena adegan kejar-kejaran selalu keren ditonton," imbuhnya.

Benar juga sih.


Follow Tiffany di Twitter

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey