Opini

Topik Buat Didebatin: Keripik Kentang Cukup Dikasih Garam, Selain Itu Rasanya Ga Enak

Kenapa kita sering enggak puas dan terus bereksperimen sama cemilan ini, padahal cara sederhana udah enak banget?

oleh Meghan Nesmith
06 Mei 2019, 10:35am

Foto ilustrasi keripik kentang via Getty Images/Victor Cardoner 

Tradisi kuliner keripik kentang sedang terancam. Kita semua bersalah. Orang-orang zaman sekarang meminta keripik rasa udang, rasa kalkun, rasa sup jamur, sampai ayam panggang. Kita sudah menghancurkan kesempurnaan keripik kentang. Maka kita harus kembali lagi ke awal untuk bertobat.

Keripik kentang konon pertama kali diciptakan di restoran Moon’s Lake House di Saratoga Springs, Amerika Serikat, pada musim panas 1853. Ketika itu koki bernama George Crum menggoreng irisan kentang merespons keluhan Cornelius Vanderbilt, seorang pengusaha legendaris di AS. Setelah melahap keripiknya, Vanderbilt mengucapkan selamat kepada sang koki atas ciptaannya. Lahirlah hidangan keripik kentang yang kita kenal sekarang.

Ternyata cerita sebenarnya bukan begitu. Ada koki perempuan terlupakan asal Saratoga juga, hanya dikenal sebagai “Eliza si koki”, yang bereksperimentasi dengan kentang goreng sejak 1849. Ada sebuah resep di buku A Cook’s Oracle menyarankan pembaca "mengupas kentang besar, iris setebal setengah sentimeter, atau lebih tipis, seperti mengupas sebuah lemon; keringkan dengan kain bersih, lalu goreng dengan lemak."

Bagaimanapun juga cemilan ini bisa menjadi bagian dari jajanan manusia di berbagai negara, sejak awal abad ke-20. Keripik kentang mulai diproduksi secara massal di Amerika Serikat dan Britania Raya. Pada 2018, setiap orang rata-rata mengkonsumsi 2,7 kilogram keripik kentang per tahun.

Aku percaya enggak tak ada salahnya mengkonsumsi 2,7 kilogram keripik kentang per tahun (sekalipun New York Times menulis bahaya konsumsi cemilan berminyak ini). Keluhanku bukan berkaitan dengan berapa banyak keripik kentang boleh kita makan, melainkan perbuatan tidak wajar konsumen zaman sekarang terhadap resep jajanan ini.

Keripik kentang berperisa pertama–rasa Keju & Bawang dan Garam & Cuka–diproduksi di Irlandia pada dekade 50-an. Pada 1954, Lay’s mulai menjual keripik rasa barbeque. Kini di seluruh dunia, terdapat keripik rasa acar, hingga kerang mentega dan borscht. Terus ada keripik kettle yang bikin mulut sakit dan dipasarkan sebagai pengalaman keripik kentang lebih “otentik”; keripik panggang lebih “sehat” yang menjadi populer pada tahun 90-an, dan keripik taro.

Membuat keripik berperisa memerlukan campuran sihir dan ilmu: Yang ingin diperoleh pemproduksi keripik kentang bukannya rasa tepatnya ayam dan waffles , melainkan ingatan indrawi hidangan tersebut. Ini semacam eksperimen sinestetis yang berupaya mengompres seluruh hidangan menjadi bubuk.

Tapi gimana caranya? Menurut Lay’s, seorang “koki eksekutif” mempersiapkan hidangannya hingga sempurna, lalu memberinya kepada ilmuwan makanan untuk menciptakan paduan rempah dan zat-zat lainnya yang menyerupai rasa hidangan tersebut–termasuk dekstros, sirop gula, dan berbagai macam ragi.

dengan menodai sesuatu yang sebetulnya sudah sempurna, kita menyamarkan tujuan asli lahirnya kuliner keripik kentang—yaitu sebagai sarana mengkonsumsi garam dan lemak yang paling hambar, sederhana, dan transparan. Intinya dua bahan pokok tadi: kentang dan garam, tanpa tambahan bumbu lain.

Keripik kentang itu bukan hidangan dengan rasa tertentu. Menurut saya, seharusnya bahkan enggak ada rasanya. Keripik kentang seharusnya menyambut mulutmu dengan rasa asin yang memuaskan. Keripik kentang merupakan appetizer, dan seharusnya dinikmati dengan minuman kesukaanmu. Kalau aku, segelas anggur rosé.

Jadi, kenapa harus ditambagi rasa aneh-aneh kayak gini? Kenapa kita enggak bisa puas dengan yang sederhana, karena yang sederhana udah enak banget, apalagi keripik murahan yang harganya cuman Rp 5.000!

Di Swedia ada empat produksi bit yang menjual keripik kentang “ paling eksklusif di dunia” dengan perisa jamur matsutake dan rumput laut truffle seharga Rp800 ribu. Satu dus isinya lima, dan kamu harus memakannya pakai pinset. Kalau ini masa depan keripik kentang, jujur aku membencinya.

Aku sempat mengunjungi Rebel Rebel, bar baru di Somerville, Massachusetts, AS. Bar ini mungil saja, sekilas tidak ada yang istimewa. Aku bertemu seorang teman sembari minum segelas Lamoresca.

Lama-lama aku kelaparan dan sempat pengin pulang. Tiba-tiba, bartender menyodorkan emangkuk keripik kentang polos dan murah. Rasanya seperti wafer lembut, meleleh hingga tersisa garamnya di lidah, melengkapi rasa anggurnya. Aku tak kangen perisa sama sekali. Karena keripik kentang polos udah sempurna.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES