Fashion

Supreme Untuk Pertama Kalinya Berkomentar Soal Maraknya Pembajakan Produknya

Dalam momen wawancara langka bersama Business of Fashion, Pendiri Supreme, James Jebbia, terang-terangan menyerang ‘Supreme Italia’ dan brand Supreme kw lainnya.

oleh Roisin Lanigan
04 April 2019, 10:17am

Supreme saat berkolaborasi bersama i-D

Sebagai salah satu brand Streetwear paling digemari di dunia, Supreme sudah terang-terangan dibajak selama bertahun-tahun. Merk KW ‘Supreme Italia’, misalnya, secara resmi dijual di Cina semua berkat perbedaan nama merk yang diperkenankan oleh hukum kekayaan intelektual.

Baru-baru ini, dalam sebuah sesi wawancara khusus yang langka, pendiri Supreme (yang asli) James Jebbia, akhirnya angkat suara soal maraknya “produk tiruan Supreme yang legal” dan usahanya memerangi Supreme Italia.

"Kami (Supreme) memang jarang mengeluarkan pernyataan pers. Kami melakukan perang ini dalam senyap," ujar James kepada Business of Fashion. "Suprema Italia malah memanfatkAN kondisi ini."

"Saya rasa tak ada perusahaan fesyen lain yang menghadapi situasi seperti ini. Kami benar-benar menghadapi perusahaan kriminal yang berada di level yang berbeda—mereka benar-benar membajak dengan terang-terangan. Perusahaan pembajak ini bahkan sukses menyakinkan salah satu perusahan terbesar di dunia (Samsung) bahwa mereka adalah produsen produk streetwear yang orisinal."

Tahun lalu, Supreme Italia memenangkan satu sengketa lewat pengadilan tata niaga, sehingga dibolehkan membuka toko pertama mereka di Shanghai dan sempat (meski cuma sesaat) berkolaborasi bareng Samsung.

Kendati perusahaannya harus menelan kekalahan dari produk KW, James terkesan masih berpikir positif. Dia mendedikasikan dirinya menggasak orang-orang di balik Supreme Italia dan menggunakan sebgai contoh kasus perusahaannya menggayang produk bajakan dalam dunia fashion.

"Keputusan mereka membuka toko akan menjadi kemenangan kami terasa lebih besar saat kami berhasil menutup toko-toko itu," kata Pengacara Supreme, Darci J. Bailey.

Menurut sang pengacara, meski perusahaan-perusahaan bajakan itu secara kurang ajar berusaha menjual ulang trademark ke kliennya, manajemen Supreme tak menerima tawaran tadi dan memilih jalur hukum untuk menuntaskan sengketa pembajakan yang menimpa produk mereka.

"Mereka mengincar DNA produk kami," imbuh Bailey. "Kami tak akan berhenti. Kami tak akan menyerah memerangi mereka."

Artikel ini pertama kali tayang di i-D UK