Wawancara Musisi

'Saya Punya Mimpi Besar': Ngobrol Bareng Rich Brian Soal Pendewasaan dan Identitas

Dalam wawancara khusus bersama VICE, Brian Immanuel membicarakan album barunya 'The Sailor', perkembangan karirnya, respons Jokowi, kolaborasi bareng Spotify, sampai musisi lokal favoritnya.

oleh Yudhistira Agato
13 Agustus 2019, 7:00am

Foto Rich Brian oleh Spotify Indonesia.

Rich Brian belum selesai melakukan pencarian jati diri lewat karyanya. Baru-baru ini, rapper muda itu merilis album keduanya The Sailor. Brian Imanuel, nama aslinya, menunjukkan proses pendewasaan yang bisa kita simak dari beberapa lagu yang nuansanya lebih inspiratif, serius, dan tak ragu membahas berbagai isu personal.

Pilihan tema ini bertolak belakang dengan materi-materi yang dia rilis di awal karirnya, sebut saja "Dat $tick" yang terkesan konyol (terutama kemasan visual video klipnya) dan bernada satire. Menariknya, video musik iseng tersebut justru yang melejitkan kariernya sebagai musisi di kancah global. Namun tak bisa dipungkiri, lagu main-main itu memang punya pesona kuat—termasuk menampilkan bakatnya mengolah rima di atas dentuman beat.

"Dat $tick" masuk dalam daftar single terfavorit redaksi VICE Indonesia tiga tahun lalu. Saat itu, kami menyebut single debutnya sebagai "semacam meteor, yang kelewat sayang jika pendar cahayanya langsung redup tahun depan." Harapan kami terkabul. Brian makin melesat dan menawarkan karya baru yang lebih kaya warna sebagai musisi dalam naungan label 88Rising.

Posisi Brian tergolong unik. Dia bergegas pindah ke Amerika Serikat sejak awal kariernya. Ditambah pilihannya menggunakan bahasa Inggris, baik dalam berkarya, wawancara maupun cuitan di medsos—terutama Twitter, tempat dia mengasah selera humornya—sulit rasanya menempatkan posisinya sebagai musisi jika kita berusaha mengacu hanya pada identitas asalnya.

Apakah dia lebih nyaman menyebut diri musisi Indonesia yang berhasil "menembus" pasar internasional? Ataukah dia memang sudah memosisikan diri artis untuk merambah pasar global, yang hanya kebetulan berasal dari Indonesia? Faktanya, dia kini sudah menjadi ikon mewakili bangsa Indonesia. Harapan jutaan orang tiba-tiba membebani pundaknya.

Terlepas dari apapun opinimu soal pilihan kariernya, bakat dan kesuksesan Brian tidak bisa disangkal. Di platform music streaming Spotify, Rich Brian adalah rapper yang di-stream terbanyak kedua di seluruh Indonesia, setelah Post Malone. Maka dari itu tidak heran bahwa Brian dan Spotify memutuskan bekerja sama saat mempromosikan album terbarunya, The Sailor.

1565677211091-Foto-6
Foto dari arsip Spotify Indonesia

Menjelang pembukaan pameran "The Sailor Experience" di Jakarta, VICE ngobrol-ngobrol bersama Brian, ditemani oleh direktur artis dan label Spotify Asia Pasifik, Chee Meng Tan.

Selain membahas geliat pergerakan musik di Asia dan Asia Tenggara, kami juga menyinggung hobinya memasak, tekanan mewakili Indonesia di kancah global, serta apa refleksinya soal isu identitas sebagai seorang rapper. Satu hal yang pasti, Brian berikrar meneruskan perjalanan kreatifnya—sebagai individu, maupun sebagai musisi.

VICE: Di album The Sailor, kamu lebih banyak membahas identitas sebagai orang Asia dan terutama Indonesia, kenapa baru sekarang dilakukan?
Rich Brian : Semua dimulai ketika saya mengerjakan lagu “Yellow”, salah satu lagu pertama di album yang saya buat. Saat itu, hidup saya sedang aneh. Hampir selama empat bulan saya buntu ide dan enggak bisa menciptakan karya apapun. Mentok deh pokoknya. Lalu ketika saya mendengar instrumentalnya, saya langsung terinspirasi. Saat itu juga, saya menulis apa yang sedang saya rasakan dan berusaha sejujur mungkin. Ketika sedang menulis “Yellow”, saya bahkan belum memikirkan masalah identitas Asia dan konsep album The Sailor secara keseluruhan. Lagu ini terbagi menjadi 3 bagian, di awal saya menceritakan pergumulan saya dan bagaimana saya merasa terjebak. Kemudian mood lagunya berubah dan bernuansa lebih penuh harapan dan positif, namun tetap emosional.

Di saat itulah saya menyadari bahwa saya belum pernah membahas isu identitas dalam musik saya. Saya sadar saya punya platform yang besar dan ini rasanya waktu yang tepat untuk melakukannya. Saya sempat berdiskusi dengan Sean [88 Rising, label Brian] tentang pentingnya membahas ini karena pengalaman saya sebagai bocah 17 tahun yang nekat pergi ke Amerika itu gila sebetulnya. Melihat ke belakang, saya pun bingung, “lha kok dulu bisa ya?” “kok gak takut?” Tapi saya ingat sama sekali enggak merasa takut, karena saya punya mimpi yang besar, jadi enggak ada waktu buat takut. Dan saya yakin ada anak-anak lain di luar saya yang ingin merasakan pengalaman saya atau pernah melalui pengalaman serupa dan saya ingin mereka bisa merasakan itu ketika mendengarkan lagu ini.

Kenapa kalian [Rich Brian dan Spotify] memutuskan bekerja sama untuk promosi album ini?
Rich Brian: Karena Spotify selalu mendukung saya semenjak awal karier. Saya sempat ngobrol dengan Spotify di New York tentang album dan visi saya, dan mereka sangat suportif dan ingin mengadakan pameran untuk album ini di Jakarta. Ini hal baru buat saya dan rasanya asyik bisa memberikan orang pengalaman untuk merasakan album secara fisik dan visual di depan matamu langsung. Saya berkolaborasi dengan Spotify karena mereka sangat bersemangat tentang projek ini.
Chee Meng Tan: Kami mengagumi Brian sejak dulu. Kami menyaksikan dia tumbuh dan berevolusi sebagai seniman. Dia berani keluar dari zona nyamannya, dari negara asalnya menjadi seorang lelaki yang matang. Sangat inspiratif menyaksikan Brian membawa nama benua Asia. Ketika pertama kali mendengarkan The Sailor dan konsepnya secara keseluruhan, album ini terasa emosional dan autentik. Kami ingin membantu dia menceritakan kisahnya, dan bagaimana Brian terhubung dengan para penggemarnya, tidak hanya di AS, tapi juga di Indonesia dan Asia Tenggara. Perjalanannya sebagai sosok yang sangat muda namun tidak takut untuk terus maju sangat luar biasa, dan itu sesuatu yang harus dibagikan ke seluruh dunia.

Sebelum bermusik, kamu dikenal karena rutin mengunggah twit komedi. Kapan kamu mulai sadar punya kemampuan bikin orang tertawa di media sosial?
Rich Brian: [tertawa] Saya mulai memahami komedi ketika berumur 12 tahun dan di umur segitu jugalah saya belajar bahasa Inggris dan berteman dengan banyak orang dari Amerika dan luar negeri di Twitter. Humor di Amerika dan Indonesia jelas sangat beda, jadi itu sesuatu yang harus saya pelajari, dan saya butuh waktu lama juga. Saya nge-follow banyak akun komedi di Twitter dan melihat konten seperti apa yang mendapat respons dari orang sebelum mencoba membuat versi saya sendiri. Saya ingat pas awal sering gagal karena tweet saya enggak lucu, atau humor ala Inggris saya belum kena. Tapi setelah beberapa saat, banyak orang mengatakan saya kocak. Jadi ya jawaban dari kapan saya tahu saya kocak, itu ketika saya mulai mendapat banyak followers [tertawa]. Kalau soal internet, itu karena saya dulu homeschool, jadinya sering nganggur dan main komputer terus [tertawa].

Kebanyakan follower-mu anak-anak muda. Kamu mulai merasa harus jadi semacam role model gitu enggak sih?
Rich Brian: Saya enggak terlalu memikirkan itu. Karena kalau terus dipikirin, nanti pusing sendiri. Buat saya, yang penting itu selalu menyampaikan pesan agar anak-anak muda selalu menjadi dirinya sendiri dan menurut saya itu sangat penting. Saya paham banyak anak-anak lain yang follow saya dan itu seperti menjadikan saya sebagai panutan. Tapi saya enggak pernah menyajikan pencitraan palsu. Saya selalu berusaha menjadi diri sendiri, dan saya juga masih muda, jadi masih banyak belajar.

Ngomongin anak-anak, Presiden Jokowi sempat mendengarkan lagu "Kids" di hadapanmu. Jujur menurutmu dia doyan enggak lagunya?
Rich Brian: Jujur, saya sama sekali enggak tahu [tertawa]. Sampai sekarang tetap enggak tahu [tertawa]. Dia sempat goyang-goyang kepala sedikit, tapi enggak ngomong apa-apa sama sekali. Kayaknya sampai mati saya enggak akan pernah tahu jawabannya.

Belum banyak rapper Asia Tenggara terkenal di level global, adakah gagasan baru yang hendak kamu bawa ke dalam kancah hip hop?
Rich Brian: Yang selalu berusaha saya sajikan lewat musik saya, terutama lewat The Sailor, adalah membawa sesuatu yang baru. Saya enggak yakin secara spesifik sesuatu itu apa, tapi ketika kamu menciptakan karya dengan pemikiran seperti ini, hasilnya akan menunjukkan itu. Ketika saya menulis lagu apapun, saya selalu memikirkan bagaimana saya bisa memisahkan diri dari orang lain dan kenapa orang akan mendengarkan karya tersebut. Dalam proses pembuatan lagu baru, saya berusaha menemukan hal-hal unik yang bisa saya masukkan ke dalam musik, video atau mungkin lewat kepribadian saya, bagaimana saya berinteraksi dengan orang lain di internet. Kurang lebih seperti itu.

Menurut kalian, apakah kita bakal melihat lebih banyak musisi Asia Tenggara disorot di kancah global? Siapa musisi Asia Tenggara yang sedang kalian gemari saat ini?
Rich Brian: Sudah pasti akan lebih banyak musisi dari Asia dan Asia Tenggara yang bisa sukses di Amerika dan pentas musik mainstream dunia. Itu yang selalu saya coba lakukan lewat seni. Saya selalu berusaha menginspirasi orang untuk mengikuti jejak saya, mengejar mimpi mereka, entah lewat musik, seni atau apapun. Itu juga yang berusaha dilakukan 88 Rising dari dulu. Saya merasa pengaruhnya sudah mulai terasa. Saya bisa melihat banyak musisi, bahkan yang masih kecil, tidak takut mengekspresikan diri, dan itu keren. Tentunya musisi macam ini akan semakin banyak ke depannya nanti. Musisi Asia yang saya suka? Ini bias banget sih, tapi saya suka banget dengan NIKI [tertawa].
Chee Meng Tan: Jelas. Benua ini penuh dengan musisi-musisi bertalenta luar biasa. Belum lagi kepercayaan diri, kedalaman budaya dan keberagaman yang ditawarkan. Saya selalu dikejutkan oleh musik-musik yang muncul dari sini. Spotify mendemokratisasi proses pencarian musik, sehingga setiap musisi bisa menemukan audiens mereka sendiri. Musik sanggup menembus batas-batas geografis yang ada. Baru-baru ini kami bekerja sama dengan musisi Indonesia lainnya, Tashoora dari Jogja. Mereka band yang luar biasa, dan mereka punya cerita yang unik. Jadi sudah pasti, talenta dari Asia Tenggara akan semakin terdengar. Kita hidup dalam era yang seru.

Mulai dari panduan masak roti pakai microwave, sampai masak steak bareng Sean Evans, jelas kamu doyan masak Brian. Andai bisa punya acara masak sendiri, kamu ada ide apa?
Rich Brian: Saya doyan masak menggunakan bahan-bahan yang murah dan terbatas jumlahnya. Saya suka sekali makan sarden kalengan dan makanan macam itu [tertawa], tinggal dimasak bareng nasi. Ide saya buat acara masak itu setiap episode, ada seseorang yang menantang saya memasak menggunakan 3 bahan saja. Nama acaranya "Bad Food With Rich Brian" [tertawa].

Sebagai seniman yang terus berkembang, bagaimana caramu menyikapi karya-karya awal yang dianggap kurang serius oleh banyak orang?
Rich Brian: Perbedaan terbesar antara karya awal dan musik yang saya buat sekarang, terutama dalam album ini, adalah saya sadar saya bisa menulis tentang apapun dalam sebuah lagu. Dulu, saya masih mencari-cari gaya penulisan. Sebagai rapper, saya dulu mengira bahwa topik yang boleh dibahas di dalam lagu itu terbatas. Tapi sebetulnya kamu bisa menulis tentang apapun, misalnya tentang foto lucu yang kamu lihat, asalkan ditulis secara menarik dan cerdas. Dulu saya lebih fokus ke sound yang saya hasilkan, dan tidak ke lirik yang saya tulis. Di album baru ini, semua liriknya lebih hidup, dan di beberapa lagu saya terdengar seperti hampir berbicara. Jadi memang dulu saya belum fokus ke pesan yang coba saya sampaikan lewat musik.

Apa kamu merasakan tekanan saat harus menjadi representasi Indonesia di kancah global?
Rich Brian: Saya enggak merasakan tekanan lebih besar dari sebelumnya sih. Selalu sama dari dulu. Saya hanya harus terus melakukan apa yang saya suka, yaitu menciptakan seni dan musik. Menurut saya, itu representasi yang bagus. Sesederhana melihat seseorang yang terlihat seperti dirimu, melihat mereka mengejar mimpi dan meraih kesuksesan. Menurut saya itulah representasi saya sebagai warga Indonesia.