Iklan
Pemanasan Global

Agar Sendawa Sapi Tak Picu Pemanasan Global, Ilmuwan Ganti Pakannya Jadi Rumput Laut

Tiap sendawa sapi kandungannya setara 80 hingga 120 kilogram metana per tahun. Jika pakan diganti rumput laut, peneliti percaya emisi gas rumah kaca dapat dikurangi sebesar 10 persen.

oleh Gavin Butler; Diterjemahkan oleh Jade Poa
19 Agustus 2019, 5:57am

Foto ilustrasi via Pixabay

(L) dan Flickr user Ria Tan, CC licence 2.0 (R) 

Ada fakta menarik perlu kalian tahu: setiap kali seekor sapi sendawa ataupun kentut, emisi gas rumah kaca di planet kita meningkat. Setiap sapi di dunia rata-rata mengeluarkan 80 hingga 120 kilogram metana per tahun. Sebagian besar darinya disendawakan. Kalau sendawa 26,6 juta sapi Australia saja digabungkan, industri peternakan sapi menghasilkan total 2,6 miliar kilogram metana setiap tahun.

Sebuah tim peneliti asal Australia berupaya mengatasi masalah ini dengan menanam sejenis rumput laut yang bikin sapi tidak bersendawa sebanyak biasanya.

Memberi makan rumput laut Asparagopsis berwarna pink kepada sapi terbukti mengurangi jumlah gas hasil sendawa dan kentut mereka sebesar 99 persen, menurut sebuah studi oleh CSIRO. Sapi menghasilkan metana karena mikroba di lambung mereka membantu mengurai tanaman, sehingga menghasilkan gas. Kimia-kimia tertentu yang terdapat dalam alga Asparagopsis mengurangi jumlah mikroba di tubuh sapi, seperti dilaporkan ABC.

"Saat dicampur dengan makanan sapi, rumput laut ini mengurangi metana," kata Nicholas Paul selaku guru besar di University of the Sunshine Coast. Nicholas percaya, jika alga ini ditanam secara massal,maka emisi gas rumah kaca Australia dapat berkurang sebanyak 10 persen. Sebelum sampai ke sana, para peneliti harus mencari tahu cara memproduksi rumput laut tersebut pada skala besar.

"Sampai sekarang, rumput laut ini diambil langsung dari alam," katanya. "Permintaannya ada, tapi produknya belum tersedia."

Untuk memenuhi permintaan untuk rumput laut ini, para peneliti harus mencari tahu jenis rumput laut apa yang sanggup berkembang biak secara efektif, serta kondisi apa yang paling cocok untuk pertumbuhan Asparagopsis.

"Kami menginginkan spesies yang paling cepat bertumbuh dan menghasilkan bahan aktif paling banyak,” kata Nicholas. Rekannya, Ana Wegner, menyetujui gagasan tersebut.

"Kami sudah mengetahui komposisi kimia Asparagopsis dan kami mengetahui senyawa kimianya," katanya. "Kami ingin memaksimalkan konsentrasi kimia tersebut agar kami dapat menggunakan lebih sedikit rumput laut untuk mencapai efek yang sama."

Pada 2013, industri pertanian dan peternakan menyumbang sekitar 16 persen emisi gas rumah kaca. Sebanyak 66 persen darinya terdiri dari gas metana hasil sendawa sapi.

Follow Gavin di Twitter atau Instagram

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia.