Fashion

Memotret 'Perlawanan' Pengguna Produk Tiruan Brand Fashion Ternama

Ketika streetwear harganya gila-gilaan, wajar sih konsumen dan produsen di pinggiran akhirnya mengambil sikap: bikin versi bootleg atau sekalian knockoff.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja; foto oleh Angga Pratama
18 Mei 2018, 7:24am

Semua foto oleh Angga Pratama.

Kalian harus jeli jika melihat ada orang menenteng tas warna merah menyala di pusat-pusat perbelanjaan Jakarta sekarang. Perhatikan dulu, benarkah mereknya Supreme… atau malah Supeime?

Produk-produk tiruan merek streetwear global macam itu sangat marak dua tahun belakangan di Tanah Air. Mau bagaimana lagi, kadang fashion mustahil mampu inklusif. Ada beberapa merek yang tak terjangkau kantong mayoritas konsumen. Namun, populernya versi "knockoff" gitu sebetulnya menarik, artinya kesadaran orang terhadap merek atau gaya busana sudah mengemuka.



Dulu sih, ada demarkasi yang kentara antara merek high fashion, yang harganya cuma sanggup dibeli nyonya sosialita dan pengusaha tambang batubara. Sementara orang-orang biasa cenderung menggemari streetwear karena lebih pas di kantong. Akibat ulah Virgil Abloh dan Gemna Gvasalia, dua sosok yang masing-masing membesarkan reputasi berkat label Off-White dan Vetements, lahirlah monster baru. Muncul era luxurious streetwear—busana jalanan tapi harganya cuma terjangkau penghuni perumahan elit.

Ketika industri fashion membajak kultur kelas pekerja dan memberi kita ‘luxe streetwear’ macam Supreme, hasilnya di berbagai negara muncul upaya perlawanan dalam bentuk knockoff.

“Paling banyak konsumen nyari Supreme sama Off-White, kayaknya lagi tren aja sih. Kita juga enggak tahu kenapa,” kata Arif Saputra yang juga berjualan barang-barang knockoff itu di ITC Jakarta Selatan.

Barangkali sebagian dari kalian bertanya-tanya,“ngapain juga sih beli streetwear palsu?” Sederhana saja lah, Off-White atau Vetements asli kita nggak bisa beli, padahal jenis produknya enak dipakai untuk sehari-hari. Artinya produsen dan konsumen pinggiran, khususnya di Indonesia, memiliki “semangat bootleg” yang niatnya separuh memaksa brand “luxe” lebih terjangkau untuk publik.

Perlawanan terhadap lux streetwear yang dirasa kemahalan dalam bentuk knockoff bukan cuma terjadi di Indonesia saja. Awal tahun lalu ketika Supreme berkolaborasi dengan Louis Vuitton, momen tersebut disebut-sebut sebagai kolaborasi terpenting dalam sejarah streetwear. Sejarah dalam waktu bersaman, juga tercatat di dunia knockoff. Baik produk Louis Vuitton X Supreme tercatat punya reputasi sama-sama banyak tiruannya.

Jangan salah, semangat knock-off sekarang justru diadopsi oleh banyak brand. Pada Oktober 2016, kolektif fashion-nya Demna Gvasalia, Vetements, mengangkat gagasan asli-palsu dalam garage sale yang diadakan di Seoul, Korea Selatan. Vetements sekalian mengeluarkan koleksi The Original Fake, yang sebetulnya adalah items Vetements yang paling popular tapi diubah sedikit biar kelihatan palsu dan dijual dengan harga yang sedikit lebih murah.

Dalam situasi kayak gitu, enggak heran ketika gue sama fotografer Angga Pratama mendatangi beberapa ITC di Ibu Kota, situasi yang kami saksikan lebih mirip etalase berjalan bagi produk bajakan Supreme X LV Keepall Bandouliere ataupun Brazza Red Wallet. Foto-foto Angga mendokumentasikan energi bootleg (dan knockoff) yang membuncah di jagat fashion pinggiran negara ini.

Jadi, sekalian saja, mari kita rayakan semangat bootleg tersebut. Simak foto-foto lain dari Angga Pratama berikut: