Skateboarding

Skateboard Pantas Jadi Cabang Olahraga Baru di Olimpiade

Saya menulis opini ini bukan berarti mempromosikan skateboard supaya masuk Olimpiade lho. Kalau usulannya diterima ya syukur, walau ya ga penting-penting amat juga.

oleh Cole Nowicki
30 Mei 2018, 12:24pm

Legendary skateboarder Rick McCrank's new VICELAND series 'Post Radical' premieres July 10. Image via VICELAND

Main skateboard adalah seni. Kalimat ini akan terus digaungkan oleh para skateboarder. Dan pada dasarnya, kredo ini benar-benar masuk akal. Seperti layaknya karyanya, skateboarding bisa diartikan dengan beragam cara, tergantung pada siapa yang melihatnya. Skateboarding adalah sesuatu yang indah lagi cair. Terdapat begitu banyak gaya bermain skateboard dan subkultur skateboarding. Masing-masing akan memiliki sisi menarik di mata sekumpulan orang tertentu (sebagai contoh bandingkan video skateboarding Magenta Skateboard yang dibuat dengan kamera fisheye dan penuh gerakan powerslide dengan video skateboard Nyjah Huston untuk Nike yang kaya aksi stun dan memanjakan indera kita)

Saya rasa kita sudah melupakan sifat cair dari skateboarding. Sebaliknya, kita menciptakan batasan kaku akan mana yang termasuk skateboarding dan mana yang bukan. Ini pada akhirnya menimbulkan pembeda-bedaan yang aneh, mirip seperti yang terjadi dalam dunia sini. Para skater jalanan tak pernah menyukai pengusung transition skating, begitu juga baliknya.

Lalu ada juga segolongan orang yang menilik skateboarding dari kacamata kredo Thrasher Magazine brand credo: go fast, eat shit, fuck authority, ect.—sebuah gaya hidup yang bercabang dari munculnya skateboarding sebagai anak kesayangan gerakan counter-culture. Sementara, banyak yang tak peduli dengan perbedaan-perbedaan ini. Mereka cuma ingin main skate dan ngorbrol ngalor ngidul dengan sesama penyuka skateboarding sepulang kantor.

Meski, ada satu hal yang sama-sama disepakati oleh semua golongan pecinta skateboarding: skateboarding sampai kapanpun bukanlah sebuah cabang olah raga. Tak pelak, ketika muncul pengumuman bahwa skateboarding bakal jadi salah satu cabor yang dipertandingkan di Olympiade Tokyo 2020, meledaklah kegaduhan—begitu juga ketakutan—di kalangan pegiat skateboarding. Apa sih yang kurang pro-establishment selain golaran olah raga seakbar Olimpiade? Bagaimana kamu akan mendaku jadi aktivis counter-culture kalau kamu mewakili negaramu di Olimpiade? Lalu, adakah cara yang bisa kita tempuh agar skateboard tetap murni?

Sumber foto via 'Post Radical'/VICELAND

Pertanyannya terakhir bisa dengan mudah kita jawab: tak ada, karena pada dasarnya Skateboarding tak pernah murni. Apa boleh buat skateboarding sudah lama jadi permainan yang didesain rupa didesain untuk mencapai pangsa pasar yang luas—status kemurnian skateboarding sudah jauh-jauh kita singkirkan. Salah satu pendapat yang kini berkembangan di lingkaran perkawanan saya dan berbagai message board tentang skateboarding adalah nanti di masa depan bakal lahir satu generasi skateboarder yang mengakrabi papan skate cuma karena ingin jadi atlet olimpiade.

Bagi para pengusung teori ini, jenis skateboarder baru ini tak akan mengerti falsafah skateboarding dan akan terus mendorong jauh lebih mendekati kancah “olah raga.” saya sih merasa, pendapat ini benar adanya. Cuma masalahnya, sejauh ini mencapai popularitas tertinggi di kancah skateboarding adalah impian semua anak dan hal ini toh sering digembar-gemborkan dalam komunitas skateboarding sendiri ( mengirim video permintaan sponsoer adalah sebuah tradisi menahun dan menjadi skateboarder profesional adalah janji yang tersirat dari semua waralaba video game skateboard yang menginspirasi generasi saya mengambil papan skate). Saat pertama kali bermain skateboard, saya mengkhayalkan mendapatkan sponsor dan Ed Templeton akan menggambari Toy Machine pro-model milik saya.

Inilah yang menguatkan saya untuk bilang bahwa sejatinya skateboarding tengah mengalami krisis identitas. Skateboarding kesusahan melihat dirinya sebagai salah satu calon cabor baru, sebuah predikat yang selama ini dilawan habis-habisan oleh Skateboard (dasarnya adalah konflik antara para jocks atau anak yang jago oleh raga vs skateboarder). Pada 2016, saya diminta menjadi notulen pertemuan pengukuhan Komite Olimpiade Skateboading Kanada. Komite itu terdiri dari para legenda dan sosok penting dalam kancah skateboarding Kanada, dari para pro-skater hingga pelaku industri.

Atmosfer ruangan digelarnya pertemuan begitu menyenangkan. Ada yang mengemukakan keberatan tentang dampak negatif masuknya skateboarding ke Olimpiade. Namun, pada dasarya nyaris semua setuju semuanya akan baik-baik saja selama para skateboarder betulan dilibatkan dalam prosesnya.

Pertemuan itu sangat menyenangkan dan banyak poin-poin di dalamnya yang semestinya gembira memandang masa depan skateboarding—kami berada di momen paling penting yang akan menentukan masa depan skateboarding. Sayangnya, jelang akhir pekan rangkaian pembahasan dan perencaaan itu, muncul kesepakatan bahwa kami tak akan mengumumkan siapa saja yang duduk di komite skateboarding Olimpiade Kanada karena beberapa alasan. Salah satunya, untuk menghindari rusaknya imej para skater yang berpartisipasi dalam segala hal yang ada kaitannya dengan Olimpiade. Khusus yang satu ini, saya sangat merasakan dan memahaminya waktu itu.

Setelah ikut ambil bagian dalam pertemuan-pertemuan itu dan menyadari bahwa intensi komite ini tulus sekali, masih ada bagian dalam hati saya yang sepenuh yakin bahwa skateboarding adalah seni, sebuah argumen yang tak bosan-bosannya saya gaungkan dan Olimpiade cuma akan membikin segalanya jadi runyam. Itulah opini yang saya pegang teguh sampai saya dapat pekerjaan untuk mengerjakan riset bagi Post Radical, sebuah seri dokumenter yang mengupas berbagai subkultur dalam skateboarding (okay saya buka kartu deh: ini proyeknya VICELAND).

Selama melakukan riset, saya berkesempatan ngobrol dengan skater dari seluruh penjuru Bumi. Mulai dari para freestyler yang berkompetisi memperebutkan gelar juara dunia dalam sebuah curling rink di tengah sebuah arena rodeo kota kecil, longboarders yang mempertaruhkan nyawanya di jalan bebas hambatan di pegunungan Provinsi British Columbia, Kanada; para fingerboarder di desa-desa Bavaria, skater dari Palestina dan Israel yang menghadapi kehidupan yang berbeda meski cuma terpisah barang beberapa kilometer hingga si bangsat Todd fucking Falcon;dan masih banyak lainnya. Baru setelah mengerjakan riset ini, saya menyadari pandangan bahwa skateboard adalah seni ternyata picik.

Andaikata skateboard jadi salah satu cabang pertandingan Olimpiade pun tak akan mengubah cara saya memandang skateboarding. Olimpiade tak akan pernah mengubah skateboarding sebab selebay apapun ini akan terdengar, skateboarding bukanlah satu hal yang ajeg. Skaterboarding, seperti yang sering kita lupakan, adalah sebangun seperti bagaimana kita mengintepretasikan skateboarding—miriplah seperti kita memperlakukan seni.

Orang-orang yang saya ajak bicara untuk Post Radical melakukan sesuatu yang menawwan di luar definisi apa itu skateboarding. Sadar akan kepicikan pandangan saya membuat saya jauh lebih enteng. Ini terasa seperti melepaskan sweater wol saya setelah 18 tahun berendam di sauna—menyegarkan. Sweater wol itu adalah bias-bias yang mengartikan skateboarding dengan sangat sempit.

Image via 'Post Radical'/VICELAND

Saya tak berusaha mempromosikan betapa pentingnya skateboard masuk Olimpiade; saya cuma tak peduli-peduli amat skateboarding dipertandingkan di pesta olah raga terbesar sejagat itu. Saya akui saya tak tahu seperti apa imbas Olimpiade pada industri skateboarding. Lagipula kalau ini akan menginspirasi banyak orang untuk mencoba skateboarding, lantas di mana masalahnya?

Kalaupun generasi baru skater awalnya akan memburu medali di Olimpiade, saya yakin seiring waktu intensi mereka berubah. Saya memendam hasrat penjadi pro-skater sejak hari pertama belajar skater. Kini saya mencintai skateboarding karena menyenangkan dan bentuk katarsis yang saya gemari. Skateboarding mendekatkan saya dengan kawan-kawan. Lebih dari itu, skateboarding adalah perangkat yang bisa kita gunakan untuk memulai perubahan sosial.

Saya harap bilapun nanti generasi skater baru mengincar podium Olimpiade. Pada akhirnya, mereka punya pandangan lebih luas tentang skateboarding.


Follow Cole di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada