Nostalgia

Doraemon Mengajarkan Kita Pentingnya Arti Kemanusiaan

Coba lihat lagi kisah-kisah petualangan Doraemon yang dulu pernah kamu baca pas tumbuh besar di Indonesia dekade 90'an. Ternyata topik yang dibahas berat lho, mencakup kerusakan lingkungan sampai pembersihan etnis.
04 November 2018, 5:00am
Doraemon dan Nobita, dua tokoh manga/anime ikonik bagi anak-anak Indonesia.
Sumber foto: Wacko Photographer via Flickr.

Dulu, saban Minggu, saya bakal bangun pagi-pagi lalu duduk manis di depan perangkat TV di rumah. Bagi anak Indonesia yang besar akhir 90'an sampai awal 2000-an, acara TV di Minggu pagi adalah surganya film kartun yang menyenangkan. Isinya macam-macam dari P-Man, Chibi-Maruko Chan, Hamtaro, dan sebagainya. Di antara semua itu, primadonanya tetap film kartun Jepang yang muncul tepat jam 8 pagi di RCTI. Begitu Doreamon muncul di layar kaca, saya langsung senang bukan kepalang. Bagi saya, ritual nonton Doraemon di hari minggu adalah rutinitas sederhana bikin seminggu setelah jadi menyenangkan untuk dijalani.

Doraemon awalnya dimuat di enam majalah yang berbeda pada 1969. Pada 1973, Doraemon berusaha diangkat menjadi sebuah serial anime. Namun, sayangnya anime awal ini cuma bertahan selama 5 bulan di Jepang. Namun, pada 1979, Shin-Ei Animation mengajukan diri memproduksi Doraemon yang kemudian jadi sangat populer sampai produksinya dihentikan pada 2005. Sejak saat itu, Doraemon hampir bak "Maskot Resmi Jepang" (Kementerian Luar Negeri Jepang bahkan memilih Doraemon sabagai duta budaya anime Jepang pada 2008) dan sepanjang kiprahnya sudah bikin jutaan anak gembira.

Saya salah satunya.


Tonton dokumenter VICE mengenang nostalgia acara kartun minggu pagi yang berkesan bagi generasi millenial Indonesia:


Tumbuh besar di Indonesia, saya hampir selalu dibikin terpana oleh serial tentang robot kucing ajaib ini. Aspek-aspek ceritanya—selipan humor yang aphoristic, kondisi keluarga kelas menengah asia, dan kedekatan ceritanya dengan saya—sangat menarik, terutama konsep punya robot kucing yang mengantongi jutaan gawai paling mutakhir di dalam perutnya. Sebagai seorang anak ingusan Indonesia, saya, seperti anak-anak sebaya lainnya, past pernah mendambakkan punya robot sekeren Doraemon. Tambahan lagi, waralaba ini selalu punya cerita tentang Doraemon dkk kerap pergi menjalani petualangan ganjil dan ajaib yang membuka mata saya akan dunia khayalan lain yang menakjubkan.

Tapi, yang alpa kita perhatikan dulu, serial Doraemon—terutama dalam Edisi Adventure—selalu berhasil mengajarkan kondisi dan sifat alami manusia. Meski beberapa karakter dalam semesta Doraemon bukanlah manusia, mereka benar-benar bisa menggambarkan tingkah laku manusia yang sejati.

Mari kita ambil contoh yang lucu sekaligus sedikit bikin merinding. Dalam Doraemon: Nobita in the Robot Kingdom, Nobita dikisahkan ingin punya robot baru padahal sudah punya Doraemon, sebuah robot kucing ajaib dari abad 22. Nobita kemudian mencoba mebeli robot baru dengan menggunakan kantong ajaib cadangan Doraemon. Malangnya, seperti biasa, ia malah bikin kekonyolan. Si anak yang enggak pernah lewat kelas empat ini salah pijit tombol. Imbasnya, puluhan robot muncul di depan muka Nobita, salah satunya sebuah robot anak laki-laki.

Singkat cerita, Nobita secara tidak sengaja terkirim ke dunia paralel—maksudnya Bumi—di mana Nobite hidup terpisah dari ibunya. Di Bumi paralel ini, manusia hidup berdampingan dengan robot. Sayangnya, ada seorang Ratu yang mengubah robot ini jadi mesin nir-emosi.

Di mata saya, cerita ini menyingkap kecenderungan manusia menyikapi teknologi: sekeren dan seberfaedah apapun sebuah teknologi, kita terus berusaha mati-matian memperbudak teknologi, karena takut dampak sebaliknya..

Itu baru tentang kegagapan kita akan teknologi. Di lain cerita, tepatnya Doraemon: Nobita and the Birth of Japan, juga pernah menyinggung pemusnahan etnis, enggak percaya kan?

Plot dalam Film panjang Doraemon satu ini dimulai dari kisah seorang anak di masa pra sejarah. Suatu hari, anak ini pergi memancing. Ketika pulang, dia menjumpai kampungnya habis dilalap api dan rata dengan tanah. Di saat yang sama di masa depan, Nobita berencana kabur karena alasan standar: nilai tesnya jeblok. Ternyata, teman-temannya: Shizuka, Giant, Suneo, dan bahkan Doraemon ingin kabur. Mereka semua akhirnya berunding untuk mematangkan rencana mereka. Akhirnya, mereka sepakat untuk pergi ke Jepang 70.000 tahun di masa lalu dan mulai membangun sebuah negara serta menyusun pemerintah—kelak kita tahu apa yang mereka dirikan jadi benih negeri Jepang modern.

Perbudakan pun ditampilkan secara blak-blakan di Nobita's Dorabian Nights. Shizuka dikisahkan tersesat di buku cerita Seribu Satu Malam sementara Nobita mendapat mimpi melihat cem-cemannya dirantai dan diarak menuju kapal tempat budak dijual. Ini dia salah satu yang khas dari Doraemon: meski cuma cerita anak, Doraemon diimbuhi fakta sejarah yang lumayan akurat dengan satu tema utama, ketamakan. Tetap saja, seberat apapun kisahnya, plotnya yang kadang menyinggung legenda populer yang dijabarkan dengan cara menyenangkan.

Mau yang lebih keren lagi? Doraemon juga pernah menyinggung fenomena OBE (out of body experience) di Doraemon: Nobita's Three Visionary Swordsmen. Christopher Nolan? lewat! INCEPTION? cupu!

Isu yang paling sering diangkat dalam serial Doraemon adalah permasalah lingkungan. Setidaknya, kamu bisa membuktikannya di Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds, Doraemon: Nobita and the Knights on Dinosaurs dan Doraemon: Nobita's Dinosaur.

1506509319675-dora

Doraemon: Nobita and the Animal Planet (1990)

Namun, film panjang Doraemon yang paling 'jleb' dan sukses bikin saya dan kawan-kawan menangis adalah Doraemon: Nobita and the Spiral City dan Doraemon: Nobita and the Animal Planet. Dengan menampilkan hewan dan mainan bak makhluk hidup yang memiliki hati dan perasaan, dua film ini berhasil menggambarkan kehidupan yang damai sebelum direcoki tangan-tangan jahat manusia.

Di Spiral City, perwujudan semesta yang dikenal dengan nama Seed Sower berusaha menyemai kehidupan di Bumi dan Mars namun gagal. Akhirnya, dia memilih sebuah planet mainan sebagai tempatnya menciptakan kehidupan. Kali ini, Seed Sowe berhasil! Semua berjalan lancar sampai seorang buronan kabur dari Bumi dan membakar hutan di planet mainan.

Sedangkan dalam Animal Planet, semua hewan memiliki wujud mirip manusia. Plus, mereka punya jiwa dan bisa merasakan emosi. Alhasil, hewan-hewan ini membentuk masyarakat yang sangat menghargai alam. Namun, ada satu suku, Nimuge, yang getol banget menyia-nyiakan sumber daya dalam. Mereka juga serakah sampai begitu bernafsu menginvasi beragam planet, salah satunya Planet Binatang, guna menguasai sumber dayanya. Pendek kata, Doraemon dengan sangat halus bercerita tentang kolonialisme dan pencaplokan ekosistem alam negara jajahan.

Setelah membaca dan menonton anime Doraemon, aku dulu sering berdoa suatu saat robot kucing imut akan keluar dari laci meja belajar di kamar. Aku berharap dia menjadi pemanduku menjalani hidup sehari-hari. Tentu saja, itu hanya impian kosong. Doraemon tak ada bagi kita. Dia hanya melayani Nobita. Namun, aku akan tetap menghargai jasa Doraemon yang mewarnai masa kecilku. Dari serial inilah, aku terus bertahan melewati masa kecil, remaja, dan kemudian masa dewasa yang menakutkan.

Doraemon dikirim oleh cicit Nobita dari masa depan, untuk melindungi dan mendampingi bocah kagok itu menghadapi keseharian, mengambil macam-macam pelajaran dari kerasnya kehidupan. Karenanya secara tidak langsung, tidak keliru bila saya merasa Fujiko F. Fujio, kreator Doraemon, mengirim robot kucing ini untuk kita semua: anak-anak di seluruh dunia.