Prediksi 2050

Waspada Tukang Ngopi, Pada 2050 Diperkirakan Kopi Enak Bakal Makin Langka

Berbagai penelitian tentang perubahan iklim bikin kita pesimis. Lahan pertanian kopi makin menyusut saja. Untungnya, kita bisa mencegah hilangnya kopi enak, asalkan mau merawat lebah.
Lia Kantrowitz
ilustrasi oleh Lia Kantrowitz
24 April 2018, 8:10am

Artikel ini merupakan bagian dari senarai artikel VICE yang membahas dampak perubahan iklim terhadap Planet Bumi pada 2050. Klik di sini untuk membaca artikel lain dalam proyek ini.


Saya menulis artikel ini sambil menyeruput kopi. Sudah empat gelas tandas. Saya minum kopi bukan karena saya doyan menghamburkan puluhan ribu rupiah (plus tips buat pelayan) saban hari demi menikmati racikan biji kopi, air panas, dan sedikit gula. Saya ngopi karena saya memang sudah kecanduan minuman berkafein ini (dan ya, bagi saya ngopi adalah ritual harian yang pantang dilewatkan). Kalau anda pecandu kopi seperti saya, kopi tak lagi bikin kami lebih tahan begadang apalagi menyuntikan pasokan tenaga baru. Kami minum karena memang pengin dan harus minum.

Kami—para pecandu kopi yang galak bak zombie kalau diajak ngobrol sebelum ngopi—mengonsumsi kopi dengan satu tujuan sederhana: agar efek sakau kafein tak menyiksa kami (salah satu gejalanya adalah konstipasi). Lebih dari itu, kopi cuma punya satu fungsi bagi kami: menyebabkan insomsia—yang satu waktu kami rindukan dan di waktu lain kami benci.

Nah, berdasarkan berbagai kesimpulan penelitian terbaru, sepertinya pecandu kopi tak akan terlalu ngedumel tentang efek kopi, sebab kami harus memuaskan diri menikmati kopi—dengan segala efek yang baiknya—sebelum tahun 2050.

Setidak begitulah yang dikatakan oleh teman sekaligus mantan rekan kerja saya, Drew Miillard. “Karena kopi nyaris bisa ditemui di mana-mana, kopi adalah salah satu obyek penelitian menarik. Banyak ilmuwan demen sekali mempublikasikan hasil penelitiannya.”

Drew membahas efek perubahan iklim yang disebabkan manusia pada masa depan pertanian kopi. Katanya, berbagai hasil riset tentang topik ini bakal bikin para pecandu kopi merinding. Sebab banyak varian kopi di masa depan diprediksi bakal perlahan-lahan menghilang.

Kalau kamu tipe orang yang doyan membuat generalisasi (tentunya landasan pemikiran yang masuk akal alias tak asal-asalan), mekanisme yang menyebabkan tanaman kopi menjadi sangat sensitif pada perubahan iklim terkait sama temperatur dan ketinggian lahan yang digunakan untuk menanam kopi.

“Kopi Arabika sangat sensitif dengan perubahan temperatur karena hal itu bisa berimbas pada fisiologi jenis Arabika. Nah, karena temperatur di masa datang akan makin naik, area yang bisa digunakan untuk bercocok tanam kopi jenis ini akan makin tinggi letaknya,” kata Pablo Imbach, juga dari dari International Center for Tropical Agriculture saat saya hubungi via telepon. "Imbasnya, dataran rendah dengan temperatur yang hangat tak cocok lagi ditanami kopi Arabika.”

Kopi Arabika—yang sering dijumpai di dataran tinggi—mencakup 60 persen konsumsi kopi di seluruh dunia. Sementara itu, lahan pertanian dataran rendah yang menghasilkan sepupu Arabika, Robusta, sebagian besar diolah menjadi kopi kemasan karena mutunya lebih rendah. Keberadaan kopi Arabika tengah berada di ujung tanduk, menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature’s Plants Juni tahun lalu. Makalah penelitian itu disusun oleh tim yang dipimpin Justin Moat, peneliti keanekaragaman hayati dari Royal Botanic Gardens, Inggris.

Penelitian tersebut, yang difokuskan di Ethiopia—sebagai titik muasal pertanian kopi di Afrika—menjabarkan kalau 60 persen dari upaya penanaman kopi di negara tersebut tak akan mungkin di lakukan lagi sejak 2010 lalu. Ilmuwan botani Sebsebe Demissiew dari University of Addis Ababa, Etiopia mengemukakan kesedihannya pada Quartz, lantaran Arabika, yang pernah dianggap sebagai “Hadiah Ethiopia untuk dunia,” mulai menghilang dari negaranya.

Apa yang terjadi kalau panenan kopi jeblok atau bahkan makin sedikit jumlahnya? Di masa lalu, kondisi macam itu akan mengakibatkan naiknya harga kopi. Jadi, hukum ekonomi dasarnya masih bekerja dengan baik. Masalahnya di masa depan, seiring makin seringnya panen kopi berkualitas rendah akibat perubahan iklim, konsumen kopi pada akhirnya akan berdamai dengan kopi yang memiliki mutu rendah.

Skenario ini bisa terjadi pada varian Arabika. Akan tetapi kondisinya bisa lebih parah dari asumsi ini. "Ada banyak yang kita pertaruhkan, misalnya apakah harga espresso di kafe-kafe elit dunia akan meningkat tajam? Perubahan iklim mengancam kehidupan primer jutaan orang di komunitas-komunitas yang rentan di seluruh dunia,” ungkap Taylor Ricketts dari Gund Institute for Environment saat diwawancarai NPR dua tahun lalu.

Celakanya tak cuma varian Arabika yang kesalamatannya terancam. Semua jenis kopi berada dalam bahaya. Dua tahun yang lalu, sebuah penelitian yang digagas Christian Bunn International Center for Tropical Agriculture diterbitkan.

Penelitian tersebut melontarkan sebuah prediksi yang bikin nyali peminum kopi ciut: pada 2050 diperkirakan setengah lahan yang biasanya digunakan untuk menanam kopi tak akan bisa ditanami lagi. Bukan berarti lahan-lahan tersebut hilang begitu saja. Yang terjadi adalah lahan-lahan tersebut tiba-tiba saja tak cocok ditanami kopi. Imbach menjelaskan pada saya prediksi ini didasarkan atas, “kombinasi berbagai efek yang dipicu kenaikan temperatur (di masa depan) dan pergeseran pola hujan.”

Kasus menyusutnya lahan pertanian kopi paling nyata terlihat di Puerto Rico. Lahan kopi di sana perlahan menghilang karena dua sebab: temperatur yang tinggi dan curah hujan ekstrem. Pada tahun 1899, Puerto Rico adalah negara ke-6 penghasil kopi terbesar sedunia. Namun, seperti yang ditulis Stephen Fain, salah satu penulis penelitian kopi di Amerika Serikat awal 2017 yang digagas oleh Departemen Pertanian setempat, komoditas kopi tak akan lagi dihasilkan oleh Puerto Rico.

“Skenario meningkatnya emisi gas rumah kaca mengasumsikan naiknya temperatur, yang jika dibiarkan tanpa adaptasi, akan membuat penanaman beberapa varietas Arabika susah dilakukan.” Diperkirakan Puerto Rico pernah memiliki lahan pertanian kopi seluas 770 kilometer persegi pada 1899, namun Badai San Ciricao dilaporkan menghancurkan seluruh panenan kopi tahun itu. Sejak saat itu, luas lahan yang bisa ditumbuhi kopi terus menurun. Menurut sebuah laporan yang disusun Fain, lahan seluas 770 km persegi di 1899 itu akan menyusut pesat hingga tinggal 24 km persegi sepanjang kurun 2071 dan 2099.

Penilitian terbaru dari International Center for Tropical Agriculture, yang diterbitkan Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, dikerjakan oleh beberapa peneliti ternama. Imbach termasuk salah satu penelitinya. Lagi-lagi kesimpulannya bikin miris peminum kopi: perubahan iklim akan menyebabkan lahan pertanian kopi di Amerika Latin menyusut sebanyak 73 sampai 88 persen hingga 2050, tergantung pada model perubahan iklim mana yang mereka pakai dalam perhitungan (seperti yang sering kamu baca pada artikel-artikel tentang perubahan iklim, model perubahan iklim selalu menghitung laju usaha manusia mengerem produksi gas rumah kaca. Sampai saat ini, besarnya laju tersebut belum bisa ditetapkan.)

Tapi kan ini cuma terjadi di Amerika Latin? Mungkin salah satu pecandu kopi di luar sana berpikir begitu. Maaf kalau penjelasan ilmuwan bakal kamu bete, tapi efek perubahan iklim ini terjadi di seluruh dunia. Amerika Latin cuma sampel satu penelitian saja. “Penelitian global mengindikasikan pola yang sama dengan penyusutan lahan paling parah terjadi di Brazil dan Asia Tenggara dan berbagai variasi pola di kedua kawasan ini menunjukkan bahwa lahan yang cocok untuk ditanami kopi makin tinggi saja,” ujar Imbach.

Akan tetapi, masih ada harapan, setidaknya menurut Imbach, asalkan kita memusatkan perhatian kita pada lebah. Kedengarannya memang konyol. Tapi jangan sampai lupa, ada hubungan erat antara perubahan iklim, kopi, dan lebah.

Tiap jenis lebah mengalami imbas perubahan iklim dalam tingkat yang berbeda-beda. Di saat bersamaan, kegiatan penyerbukan yang berbeda-beda dari satu jenis lebah ke jenis lebah lainnya punya dampak yang berbeda pula pada hasil panenan kopi.

Imbach berusaha mendalami dan menguraikan hubungan pelik ini dalam penelitiannya. “Penelitian terhadap efek gabungan perubahan iklim pada kecocokan tanaman (dengan lahan) dan proses penyerbukan bisa membantu kita menyusun praktek pengelolaan—mencakup konservasi hutan, perubahan rotasi masa tanam, serta status quo di beberapa daerah yang berbeda,” tulis Imbach dalam laporan penelitiannya.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa perubahan gabungan yang berbeda pada lebah dan kopi,” kata Imbach. Alhasil, Imbach mewanti-wanti pera petani untuk memperhatikan beberapa perubahan di lahannya. Dalam konteks yang lebih besar, Imbach mengusulkan para petani untuk mengurangi penggunaan pestisida dan mulai menanan tanaman yang ramah pada lebah dekat kopi.

Follow Mike Pearl di Twitter.