Budaya

Merayakan Sunat Dengan Tarian Kuda dan Lelaki Kerasukan

Tradisi khitan Kuda Renggong di Sumedang dirayakan meriah seharian penuh. Orang tua yang anaknya disunat rela mengeluarkan uang banyak, bahkan sampai berutang.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja; foto oleh Rizky Rahad
13 April 2018, 11:08am

Di Sumedang, Jawa Barat, bocah yang hendak meninggalkan dunia kanak-kanak untuk memasuki gerbang kedewasaan tak pernah pergi sendiri. Ia selalu ditemani kuda renggong yang menari-nari sepanjang hari. Dan kuda itu datang dengan sebuah pesta yang meriah yang digelar tepat sehari sebelum acara khitanan. Untuk merasakan langsung kemeriahan hajatan itu, aku menyambangi pesta kuda renggong yang digelar di Kampung Sukagalih, Sumedang, tepat dua hari sebelum bocah enam tahun Dani Ramdan Sentosa disunat.

Aku bertemu dengan Elawati, ibunda Dani Ramdan yang susah payah menggelar hajatan untuk merayakan hari istimewa bagi anaknya itu. Semalam sebelum perayaan, halaman rumah Elawati yang sehari-hari lengang berubah ramai bak pasar tumpah. Orang sekampung ikut sibuk mempersiapkan hajatan kuda renggong yang berlangsung tak lama lagi. Beberapa perempuan terlihat menyiapkan hidangan pesta, dan para lelakinya sibuk ngopi, merokok dan menyiapkan tenda untuk pesta besok.

Dengan gaya bicaranya yang heboh, Elawati mengajak kami masuk ke rumahnya. Ia bicara bahasa campur-campur Indonesia dan Sunda. Sesekali Ia tergelitik geli tertawa sendiri, entah apa yang ditertawakannya. Tak jarang Ia pun latah jika ada hal-hal kecil yang mengagetkannya. Di dalam rumah, Elawati banyak bercerita soal keinginan Dani yang sekira dua tahun lalu disampaikan: naik kuda renggong keliling kampung untuk perayaan sunatannya. Dani enggan disunat jika tak merayakannya dengan kuda renggong. Tentu tak mudah mewujudkan keinginan itu. sempat membujuk Dani agar tidak perlu merayakannya dengan kuda renggong. Namun Dani bersikeras.


Simak Dokumenter VICE Menyorot Tradisi Kuda Renggong di Sumedang:


“Dede (Dani) setiap ada kuda pengen ngikutin ke mana aja kuda jalan. Dia bilang 'mamah, dede mau disunat, tapi mau naik kuda' gitu neng,” demikian Elawati bercerita padaku. “Ada rasa terharu, sedih gitu. Ada bangga juga gitu. Kita bukannya sombong dengan menyelenggarakan ritual kuda renggong, kita juga menunjukkan kita udah berhasil ngurus gitu... bisa nyunatin anak gitu,” kata Elawati.

Demi mewujudkan keinginan anak bungsunya, Elawati mencoba mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah dari hasil berjualan karedok dan suaminya yang merupakan buruh konstruksi bangunan. Ia merasa punya kewajiban untuk mewujudkan keinginan anak lelakinya itu. Ini karena Elawati takut melanggar janji yang disebut “pamali”, yang dalam bahasa Sunda merujuk pada hal-hal yang tidak boleh dilanggar. Jika dilanggar, konon akan membawa keburukan atau kesialan.

Demi memenuhi keinginan Dani, Elawati sekeluarga mesti kocar-kacir banting tulang mengumpulkan Rp20 juta. Harga yang tidak bisa dibilang murah. Dengan Rp20 juta, keluarga di Indonesia sudah bisa menyekolahkan anak ke Universitas Negeri. Bisa juga jadi modal bikin warung karedok, atau minimal tabungan demi epitomi “Indonesian dream” yang lebih mulia lagi: naik haji atau umroh.

“Terus terang, kalo dari pihak ibu orang yang enggak punya lah. Tapi kan anaknya pengen,” kata Elawati. “Terus terang ya, gaji kuli mah enggak cukup memenuhi biaya sunat sampai segitu. Cuma, dari saudara-saudara kita minjem dulu. Kalau nunggu sampai tabungannya banyak, anak keburu gede, gimana coba?”

Dani saat dirias sebelum mengikuti perayaan kuda renggong.

Hari besar bagi Dani tiba juga. Kuda-kuda Gugun diarak beriringan menuju kediaman Elawati, tempat di mana Dani sudah bersiap. Pagi itu Dani mandi dengan air kembang tujuh rupa, dipakaikan kostum merah keemasan Arjuna yang konon menjadi simbol kegagahan, dan tak lupa polesan make-up di bagian alis, mata, dan bibir.

Dani yang sudah bersiap digiring ke halaman depan. Inilah kali pertama Dani melihat kuda hitam jagoan yang akan ditungganginya seharian keliling kampung, Walet. Dani tak lantas lari kegirangan, ia malah terlihat malu-malu, layaknya melihat calon pengantin di hari pernikahan. Dani hanya tersenyum salah tingkah.

“Bukan Arjuna, itu [kuda Dani] mah yang namanya Walet,” kata Dani menunjukkan kudanya dari kejauhan sambil sesekali menahan senyum.

Hajatan pun dimulai ditandai dengan tiupan panjang terompet disusul bunyi genjring kemprang, kendang dan gong yang saling berususulan menjadi tanda bahwa sudah waktunya bagi kelima kuda yang didatangkan menjalankan tugas mereka. Kelima kuda tersebut ditunggangi oleh anak laki-laki maupun perempuan berusia 2 hingga 12 tahun. Harus kuakui keberanian mereka di atas wajar. Mereka harus rela duduk di atas punggung kuda dari pagi hingga petang keliling kampung.

Sebelum kuda-kuda tersebut pergi arak-arakan, mereka mesti menari dan melakukan atraksi dengan beberapa orang terlatih. Warga sekampung berhamburan ikut memberi saweran. Puluhan orang menari, beberapa diantaranya jatuh guling-guling kesurupan. Sebuah pemandangan aneh bagiku: pagi-pagi kesurupan.

Sejak pukul 10, arak-arakan kuda meninggalkan halaman rumah Elawati. Hal ini tidak aneh di Sumedang. Tak perlu ada izin-izin kepolisian, cukup aparat keamanan kampung yang menjaga. Jangan kira akan ada mobil dan motor yang marah-marah karena jalan mereka terhambat pawai kuda. Semua kendaraan rela bersabar sejenak demi pawai sunatan bocah enam tahun dari Desa Sukagalih. Pesta pun berakhir saat matahari tenggelam.


Tonton juga dokumenter VICE soal prosesi pemakaman Toraja yang penuh darah, luar biasa mahal, tapi sekaligus menakjubkan saat disaksikan:

Dahulu, Sumedang merupakan kerajaan mandiri. Salah satu pangerannya, bernama Pangeran Aria Soeria Atmadja, sangat menyukai kuda. Suatu saat, Aria berkeliling kota naik kudanya. Ia melihat seorang anak muda bernama Sipan yang melatih kudanya menari dengan suling. Pangeran Soeria Atmadja terkesima melihat kuda tersebut gemulai melenggak-lenggokkan kepala dan bermain-main dengan kakinya.

Sipan diminta Pangeran Aria bekerja untuk kerajaan. Kejadian itu konon bertarikh 1910. Sipan mulai melatih kuda-kuda istana menari untuk tradisi kuda renggong. Ratusan kuda lantas didatangkan dari Indonesia Timur untuk dilatih. Keahlian tersebut dilanjutkan oleh keturunannya, yang hingga kini berkembang pesat di Kecamatan Buahdua, tempat mereka berasal.

Untuk mendalami makna tradisi Kuda Renggong, saya memutuskan berangkat ke Buahdua. Di sana kami bertemu dengan Encling, kakek berusia 86 tahun yang sejak kecil telah mengikuti jejak kakeknya melatih kuda menari. Encling tidak ingat betul tahun berapa Ia memulai, yang pasti sekitar tahun 1940 atau 1950-an. Bisa dibilang, Encling adalah pelaku sejarah perkembangan kuda renggong, salah satu yang tertua di Buahdua.

Ibarat dongeng, pemandangan ini bagiku sangat aneh. Kediamannya adalah sebuah rumah sederhana berhalaman luas dengan seekor kuda putih jantan yang cantik terikat di depannya.

“Kuda yang dipakai untuk renggong harus kuda jantan,” kata Encling padaku. “Kalau kuda betina, ketika diarak sering birahi jika melihat kuda jantan.”

Encling menjelaskan bahwa kakeknya lah yang memiliki ide menjadikan ritual kuda renggong sebagai ritual khas acara sunatan di Sumedang. Kebanyakan anak-anak di Sumedang menyukai kuda renggong, otomatis hiburan rakyat tersebut digunakan sebagai hadiah bujukan bagi anak lelaki yang hendak disunat.

Encling melatih kuda untuk upacara yang seringkali dikaitkan dengan masa transisi anak lelaki ini. Meskipun kuda kerap kali dikaitkan sebagai simbol kejantanan, nyatanya dalam kuda renggong kuda jantan yang dipilih adalah kuda yang lebih lembut gemulai, bukan kuda jantan gagah yang selama ini kita lihat di iklan-iklan rokok atau film koboi.

“Kalau berkaitan dengan kegagahan sih tidak ada. Yang kuda bisa berdiri itu jarang dipakai, karena sulit mengajarinya,” kata Encling. “Yang bagus itu yang bisa goyang sampai kakinya menutup, intinya terletak di kelembutannya.”

Kuda yang bisa menari rata-rata jantan. Jika betina dikhawatirkan akan lebih sering birahi jadi tidak fokus menari.

Praktik kuda renggong sebagai ritual sunat di Sumedang yang dipraktikkan keluarga Elawati dipercaya sebagai salah satu cerminan rites of passages. Ada beberapa pandangan yang bisa menjelaskan fenomena tersebut. Arnold van Gennep dalam bukunya Rites of Passages menerangkan bahwa dalam beberapa masyarakat, setiap perubahan dalam siklus kehidupan dinilai tak bisa lepas dari sesuatu yang dianggap sakral yang disebut “sacred” dan duniawi yang disebut “profane”. Transisi siklus kehidupan tersebut kadang dinilai mengandung bahaya, atau bahkan membahayakan satu kelompok masyarakat, sehingga perlu ada ritual yang menyertainya. Makanya tak aneh jika ritualnya disebut “selamatan."

Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Heddy Shri Ahimsa-Putra menerangkan pandangan antropologi lainnya mengenai ritual penanda kedewasaan yang variasinya cukup banyak di Tanah Air. Menurutnya prosesi tersebut menandai pergantian status dalam masyarakat. Hal tersebut tentu dianggap penting karena berkaitan erat dengan hak dan kewajiban baru saat seseorang telah berganti status.

“Intinya mendeklarasikan bahwa seseorang sudah berganti status yang hak dan kewajibannya berbeda. Sehingga masyarakat menjadi tahu bahwa seseorang punya hak dan kewajiban baru,” kata Heddy saat dihubungi VICE. “Fungsi secara spiritualnya mengawal keselamatan, tapi secara sosial adalah mengumumkan bahwa seseorang sudah masuk kategori sosial baru, sehingga dia punya hak dan kewajiban baru.”

Dalam lanskap kebudayaan Indonesia secara umum, rites of passages senantiasa hidup dalam masyarakat. Hal yang membedakan adalah hanya pada perayaan apa yang lebih diutamakan dan macam-macam ritualnya, yang membuat orang-orang yang menjadi bagian dari masyarakat kebudayaan tersebut sulit keluar dari lingkaran itu. Orang luar bisa saja menganggapnya sebagai bentuk dari pelestarian budaya, tapi tidak demikian bagi orang-orang yang jadi bagian di dalamnya. Termasuk keluarga Elawati yang harus berutang kanan-kiri demi terselenggaranya pesta kuda renggong untuk sang buah hati.

Pria dewasa kesurupan saat mendekati kuda renggong.

“Memang ritual itu terkesan berat, tapi mereka sulit keluar dari sana. Karena itu sudah sebuah lingkaran yang sifatnya tidak hanya sendirian, melainkan bentuk pertukaran sosial, jadi bukannya hanya menyelenggarakan sendiri tapi orang lain ikut investasi (dengan menyumbang),” ungkap Heddy.

Sebagai orang luar yang tidak memahami bagaimana ritual-ritual ini semestinya berjalan, bisa saja aku berpikir: Jika toh ritual semacam ini memberatkan, lantas mengapa masih dilakukan? Apakah mustahil bagi orang di dalamnya untuk meninggalkan prosesi adat yang secara ekonomi seringkali dianggap memberatkan? Apakah ini harga yang setimpal untuk ‘melestarikan adat dan budaya’, atau malah tidak sama sekali?

Heddy menegaskan, perubahan dalam masyarakat untuk merevisi ongkos pelaksanaan Kuda Renggong hampir tidak mungkin terjadi. Masalahnya, perubahan hanya dapat terjadi ketika seseorang lepas dari kampungnya—kosmos yang melahirkan tradisi tersebut. Tentunya, berhenti meneruskan adat Kuda Renggong juga mendatankan konsekuensi berat. Mulai darikehilangan identitas, kehilangan kerabat, sampai kehilangan teman-teman akrab sekampung.

“Kalau dia ingin bebas dari ritual itu, dia harus keluar dari kampung itu. Dia melepas diri ikatan dengan orang-orang yang ada di sana, dan itu berarti lepas dari kampungnya, itu satu-satunya cara.”

Pada akhirnya, Dani pun resmi menjadi “anak lelaki”. Elawati pun tenang dan senang karena terlepas dari pamali. Sebuah tradisi perayaan tidak berdiri dalam ruang vakum, semata mengikuti tradisi dan kepercayaan, atau menjadi simbol status sosial dan hak kewajiban baru.

“Kalau enggak ada acara, enggak ada hajatan, kita jarang ngumpul. Kalau ada acara begini kan, saudara ngumpul semua. Tetangga juga kan ikut ngeramein suasana,” kata Elawati padaku sambil tersipu malu. “Setelah disunat, kan pulang ke rumah, suka ada petasan ya, setelah itu biasanya tetangga pada datang, pada nyecep (ngasih salam tempel). Salam tempel buat nutupin yang udah ibu pinjem aja gitu hahaha…