Distopia dan Utopia

Berlanjutnya Pencarian Negeri Saba di Jawa Tengah yang Mengguncang Nalar

Fahmi Basya berteori Borobudur adalah 'piring terbang' warisan Nabi Sulaiman. Selama 10 tahun terakhir, komunitas ilmiah mengecam teorinya, tapi Fahmi dan pengikutnya berkeras pada mimpi menemukan lagi kejayaan masa lalu nusantara.

oleh Adi Renaldi
12 April 2018, 10:27am

Kolase foto oleh Dicho Rivan. Sumber: Wikimedia Commons/ lisensi 2.0

VICE Indonesia merilis rangkaian cerita mengenai orang atau kelompok yang mencari surga di bumi, bersamaan dengan tayangnya VICE Magazine Edisi Dystopia and Utopia. Untuk artikel kali ini VICE mengangkat cerita tentang kelompok yang percaya utopia Kerajaan Nabi Sulaiman di Tanah Air. Fahmi Basya, pencetus wacana Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman, terus meraih pengikut walau arkeolog dan sejarawan sudah memberi bukti sebaliknya. Dalam artikel lain, kami mengangkat profil Komunitas Eden yang berusaha memperjuangkan kebebasan beragama jelang kiamat, kota buatan sebagai antitesis Jakarta, serta ambisi tinggal di pulau terpencil tanpa piranti modern.


Fahmi Basya tak menghiraukan dingin, kendati kabut tipis menggelayut di cakrawala di sebuah desa terpencil di Magelang, Jawa Tengah. Dia berdiri di puncak sebuah bukit yang menghadap ke sebuah lembah laksana permadani raksasa yang bermandikan cahaya keemasan mentari pagi. Di ufuk, Candi Borobudur menjulang kokoh menampilkan arsitekturnya yang termasyhur.

Pemandangan dari atas bukit tersebut lazimnya memukau siapa saja yang hadir di lokasi. Namun Fahmi dan rekannya pagi itu tersebut tak berniat menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan alam. Sedari awal, niat mereka mendaki bukit adalah mencari bukti sebuah peradaban kuno yang telah lama musnah: Negeri Saba.

Nama negara kuno tersebut, Saba atau Sheba, disebut di kitab Taurat, Al-Quran, dan Injil sebagai sebuah kerajaan subur, kaya raya, dan damai. Pendeknya: sebuah utopia. Ahli tafsir kitab suci menduga negeri Saba, yang diperintah oleh Ratu Saba (Bilqis) dan Raja Sulaiman dalam kurun 970-930 sebelum masehi. Posisinya diduga sekarang adalah Yerusalem. Dugaan itu dibuktikan dari reruntuhan kerajaan dan beberapa temuan arkeologis.

Negeri Saba, menurut Fahmi, bukan di Timur Tengah, melainkan Jawa Tengah. Kerajaan kuno itu terbentang dari Yogyakarta hingga Wonosobo di Selatan dan Utara, dan Boyolali hingga Kulonprogo di Timur dan Barat. Borobudur, imbuh lelaki 66 tahun ini, adalah istana Sulaiman yang telah lama hilang.

Selama satu dekade belakangan Fahmi giat menyampanyekan kalau pendapat para ahli tersebut salah kaprah. November 2017, dia sampai menantang arkeolog untuk membuktikan pendapatnya keliru dalam Festival Arkeologi Universitas Gadjah Mada. Bagi Fahmi, yang pernah dipenjara di Lapas Sukamiskin pada 1979 karena menggelar unjuk rasa melawan Orde Baru, tak ada bukti kuat Dinasti Syailendra sebagai pembangun Borobudur.

Apa dasar pemikiran Fahmi yang kontroversial itu? Dia mengklaim kesimpulannya berdasar penelitian sejak 1982 hingga 2012. Dosen jurusan matematika di UIN Syarif Hidayatullah ini meyakini bentuk Borobudur menyimpan terlalu banyak keterkaitan dengan Nabi Sulaiman, yang sukar dianggap sebagai kebetulan.

Candi tersebut, imbuhnya, dibangun bukan oleh peradaban Buddha, melainkan Islam. Puncaknya Fahmi menerbitkan tiga buah buku sejak 2012: Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman, Borobudur Warisan Nabi Sulaiman, dan Jelajah Negeri Saba di mana Fahmi memaparkan 40 “bukti” Borobudur adalah simbol kejayaan kerajaan Sulaiman.

Ini salah satu pemaparan rumit Fahmi Basya di dalam pdf buku-bukunya. Niat baca sendiri? Silakan saja sih.

“Banyak bukti yang menunjukkan bahwa Borobudur tidak dibuat oleh manusia,” kata Fahmi kepada VICE. “Relief-reliefnya mustahil dipahat. Hanya jin yang bisa melakukan itu.”

Tiap ditanya, jawaban macam itu yang dia sampaikan. Maka, satu-satunya cara adalah mendengar cerita utuh versi Fahmi.

Fiuuuhh, bakal lumayan panjang ya. Begini ringkasannya. Jika merujuk kisah Alkitab, tersebutlah Raja Sulaiman yang memiliki bala tentara jin. Pasukan tak kasat mata tersebut sanggup memindahkan benda apapun melebihi kecepatan cahaya. Berdasarkan secarik keterangan di kitab suci tadi, Fahmi berspekulasi bahwa Borobudur adalah alat transportasi Nabi Sulaiman. "Borobudur yang sejak dahulu saya yakini sebagai bentuk model piring terbang," ujarnya dalam seminar yang diinisiasi pendukungnya lima tahun lalu. "Model Borobudur secara ilmiah bisa dibuktikan merupakan model pesawat luar angkasa."

Seperti apa pembuktiannya? Lagi-lagi berdasarkan hitungan jumlah stupa lalu disesuaikan ayat Quran.

Tunggu dulu pak, apa hubungannya sama Negeri Saba?

Begini. Suatu hari Ratu Saba hendak berkunjung ke istana Sulaiman. Sang raja yang kaya raya itu memerintahkan tentara jinnya memindahkan singgasana Ratu Saba ke istananya demi menaklukkan negeri Saba.

Ratu Saba bertekuk lutut dan bersedia dipersunting Sulaiman. Keduanya lantas memerintah kerajaan yang terbentang dari jazirah arab hingga Ethiopia, sebelum runtuh akibat bencana banjir bandang yang dikaitkan sebagai hukuman tuhan karena rakyatnya terus saja menyembah berhala.

Kepada saya, Fahmi memaparkan semua bukti kalau cerita itu benar-benar terjadi, didasarkan relief-relief yang terpampang di sekujur Borobudur. Relief tersebut menurutnya bukan rekaman kehidupan masyarakat Jawa kuno, melainkan kisah Al-Quran. Fahmi bilang ada kisah soal burung hud-hud yang menjadi mata-mata Raja Sulaiman terpahat di Borobudur dan kisah Raja Sulaiman yang menurut Fahmi, digambarkan sebagai seseorang yang memegang tongkat pada relief tersebut.

“Ada beberapa kisah tentang Ratu Saba itu sendiri,” kata Fahmi. “Itu persis seperti yang dikisahkan di Al-Quran. Jadi mustahil itu peninggalan Buddha.”

Saya sebetulnya pusing setelah separuh jalan mendengar pemaparannya. Tapi niat untuk mendebat balik saya urungkan. Setidaknya saya kagum. Beneran ini. Menghasilkan teori njelimet macam ini saja, apalagi penuh kontroversi, sudah berat. Nyatanya Fahmi gigih menyebarkan "pengetahuannya" selama satu dekade.

Jadi Candi Borobudur ini UFO? Hmm. Foto oleh Dwi Oblo/Reuters.

Bahkan dia mulai mendapat puluhan pengikut yang kerap menggelar pengajian membahas topik Negeri Saba. Fahmi mengaku ogah menyerah, karena sudah memperoleh mandat dari mendiang Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden ke-1 Republik Indonesia. Inspirasi itu datang ketika Fahmi ditahan di Sukamiskin dan bermimpi bertemu Soekarno.

Soekarno, seingat Fahmi, terlihat menganguk-anguk membenarkan teorinya bahwa Borobudur merupakan model pesawat luar angkasa. Hingga Orde Baru runtuh, teori Negeri Saba dia simpan sendiri, sampai akhirnya dia bagi pada 2008. "Saya layangkan kisah ini di Internet."

Indonesia banyak menyimpan misteri bagi para penyuka teori konspirasi yang percaya bahwa peradaban Nusantara adalah yang terhebat. Fahmi bukan satu-satunya. Sebelumnya penulis populer asal Brasil, Arysio Santos atau penulis asal Inggris Stephen Oppenheimer, sebelumnya melempar teori bahwa Indonesia adalah awal peradaban dunia.

Santos, misalnya, percaya Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang. Sementara Oppenheimer punya teori Sundaland, yang percaya bahwa Indonesia adalah awal sebuah peradaban maju yang lantas menyebar ke seantero dunia. Teori-teori tersebut dengan mudah dipatahkan, namun kadung diterima oleh sebagian masyarakat yang enggan mengecek ulang dengan referensi ilmiah lain. Setelah teori tersebut tak lagi menjadi favorit di Indonesia, lantas muncul Fahmi dengan kisah Borobudurnya.

Bukan kebetulan Fahmi begitu giat menyebarkan teori negeri Saba di Jawa. Sejak 1970-an, Fahmi lantas mendalami ilmu matematika Islam dan sains Al-Quran, terminologi yang dia bikin-bikin sendiri. Awal dekade 1990'an, ia menjadi dosen di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Matematika Islam bukan berarti metode aljabar baru. Islam di sini adalah Fahmi selalu mengaitkan segala sesuatu berdasarkan jumlah ayat dan surat dalam Al-Quran. Dengan cara itulah, dia menyimpulkan jumlah tangga, stupa dan segala sesuatu yang ada di Borobudur, menurutnya, sesuai apa yang ada dalam Al-Quran. Ia lantas mulai melakukan puluhan ekspedisi menjelajahi Borobudur yang dilakukan sejak awal 2000.

Saat bukunya terbit dan jumlah pendukungnya meningkat, Fahmi menggelar ekspedisi untuk umum bernama Jelajah Negeri Saba. Sampai sekarang ekspedisi macam itu telah digelar 15 kali. Ekspedisi tersebut dibuka untuk umum dengan biaya jutaan rupiah, meliputi akomodasi dan menjelajahi candi-candi di Jawa Tengah mulai dari candi Ratu Boko hingga Candi Mendut. Fahmi lima tahun terakhir juga kerap diundang sebagai pembicara dalam pengajian Quran yang digabung diskusi "sejarah" versinya. Jumlah pengikut akun Facebook Fahmi saat ini mencapai 18 ribu akun.

Teori Fahmi tak sekadar mengajak orang mempertanyakan kajian ilmiah. Pengikutnya terus bertambah, dan ini diakuinya sendiri, lantaran jika Negeri Saba ketemu maka kejayaan nusantara akan kembali.

Fahmi percaya Raja Sulaiman menyimpan peti harta karun yang diwariskan dari ayahnya Raja Daud di Borobudur. Ia juga yakin bahwa Raja Sulaiman meninggal di Borobudur, bukan di Palestina seperti yang diyakini selama ini. Dalam sebuah video yang sempat diunggah di akun YouTube pribadinya, Fahmi menyuruh beberapa pendukungnya untuk menggesek sebuah kartu pada sebuah relief karena dipercaya menyimpan peti Sulaiman.

Video dengan editan dan animasi amatir, seperti bisa kalian saksikan di atas, menampilkan "peti" keluar dari relief setelah digesek kartu khusus. Video tersebut kontan menuai ejekan dan cacian pengguna Internet. Video tersebut belakangan dihapus dari akun pribadinya.

Tak pelak, teorinya yang menganggap bahwa kerajaan Sulaiman tidak berada di jazirah Arab menimbulkan pro dan kontra hingga saat ini. Para pendukung Fahmi atau yang cuma sekedar penasaran dengan isi bukunya, berbondong-bondong menyesaki Borobudur demi mencari bukti dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Hal tersebut sempat meresahkan beberapa pemandu wisata yang khawatir bahwa beberapa bagian Borobudur dapat rusak karena aktivitas tersebut.

Murad, salah satu pemandu pariwisata profesional, menuding teori Fahmi dapat membahayakan Borobudur. Beberapa kali ia melihat banyak orang, sambil menenteng buku Fahmi, yang penasaran dan berusaha membuktikan klaim Fahmi secara langsung.

"Ada yang pernah menggaruk-garuk celah relief dengan benda tertentu karena ingin meyakinkan ruangan itu bisa terbuka dengan kunci tertentu. Ini jelas berbahaya," kata Murad.

Beberapa arkeolog menolak mentah-mentah teori Fahmi. Premis mudahnya, Islam melarang pembuatan arca karena menjadi simbol berhala, lantas kenapa Raja Sulaiman membangun arca? Tapi pendukung teori Negeri Saba tampak tak berniat mengubur cita-citanya.

Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun pada abad 8 oleh Dinasti Sailendra saat pengaruh Hindu mulai menyusut dan Islam masuk melalui jalur perdagangan. Salah satu manuskrip yang menunjukkan Borobudur adalah hasil kebudayaan Buddha adalah Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Dalam kitab tersebut disebutkan tentang sebuah bangunan yang digunakan umat Budha aliran Wajadra dengan nama Budur. Tentu fakta semacam ini telah diajarkan sejak sekolah dasar.

Arkeolog dari Universitas Gadjah Mada Niken Wirasanti berpendapat jika matematika berdasarkan Al-Quran menjadi landasan teorinya, Fahmi lupa bahwa Hindu dan Buddha juga memiliki ilmu matematika. Alhasil argumen Fahmi tersebut tidak bisa diuji secara empiris alias cuma cocoklogi.

“Prasasti di Borobudur ini kan tulisannya Jawa kuno. Kalau itu peninggalan Islam pasti prasastinya berbahasa Arab,” kata Niken saat dihubungi VICE.

Arkeolog Goenawan A. Sambodo, yang mendalami aksara Jawa kuno, memberikan pendapat senada. Ia khawatir pemikiran soal Borobudur sebagai warisan Sulaiman telah menjadi sesuatu yang diterima dengan saklek oleh beberapa sekolah Islam. Goenawan sendiri tidak menjelaskan sekolah mana yang setuju dengan pemikiran Fahmi.

“Sudah jelas ini peninggalan Buddha,” kata Goenawan berapi-api. “Meskipun mereka punya dasar matematika Islam atau penelitian, banyak referensi ilmiah mengatakan bahwa ini Candi Buddha.”

Meski mendapat kecaman dari para ahli, Fahmi tak terlalu ambil pusing. Fahmi pada dasarnya tak terlalu menyukai perdebatan sengit terbuka. Namun ia sempat menantang para ahli atau masyarakat sekali pun untuk memberikan bukti otentik bahwa Borobudur dibangun oleh Wangsa Sailendra pada abad 8.

Yang jelas, setumpuk makalah ilmiah, buku, atau pun jurnal yang mengungkap bahwa budaya Buddha tetap tak mampu meyakinkan Fahmi. Sebaliknya ia tetap percaya bahwa teorinya telah lengkap dan sukar dipatahkan. Bukti lainnya yang membuat Basya begitu yakin? Sebuah daerah bernama Sleman di Yogyakarta.

“Satu-satunya nabi dengan nama Jawa, pakai awalan ‘su’ itu hanya nabi Sulaiman,” kata Fahmi sebelum mengakhiri obrolan dengan saya. “Ia meninggalkan sebuah tempat bernama Sleman di Jawa Tengah. Itu jangan Anda lupakan.”

Siap deh pak!

Saya usil mau membalas, Fahmi alpa nama Sulaiman juga disebut sebagai Solomon dan Jedidiah di kitab-kitab Yahudi dan Kristen. Dia keburu menutup sambungan telepon. Ponselnya jadi sering mati saat hendak saya hubungi lagi.

Fahmi terlanjur meyakini utopianya ada di jantung Pulau Jawa. Tak peduli seluruh dunia bakal (dan sudah) menertawakannya sekalipun.