Iklan
Senyum

Kisah Badut Indonesia Mengajak Anak Tersenyum Sampai Kapanpun

Profesi badut sering dianggap tidak menjanjikan untuk hidup. Dedy Delon membuktikan sebaliknya selama 25 tahun terakhir, apalagi jika hasil kerjanya membuat anak-anak yang terserang kanker bahagia.

oleh Adi Renaldi
29 Maret 2018, 11:22am

Foto dari arsip Aku Badut Indonesia.

Puluhan bocah berkerumun di bibir panggung yang ditata semeriah mungkin di hari Minggu yang panas Februari lalu. Raut muka mereka bercampur antara antusiasme dan kegelisahan; menanti kejutan apa yang akan ditampilkan di panggung. Sejurus kemudian sesosok dengan pulasan bedak putih tebal dan warna bibir merah menyala lengkap bersama kostum badut warna kuning mencolok, tergopoh-gopoh muncul di depan panggung.

Badut tersebut berjalan dengan canggung sebelum terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Seolah tak terjadi apa-apa, si badut dengan polosnya langsung bermain akrobat tiga bola dengan kedua tangannya. Gelak tawa para bocah menyeruak tanpa dikomando. Kebahagiaan memenuhi udara.

“Aku ingin bertemu dan foto dengan badut,” rengek Caca, bocah delapan tahun yang duduk di kursi roda. Sang ibu yang setia menemaninya sedari pagi tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya mengiyakan sambil menepuk-nepuk punggung Caca.

Caca mungkin tidak sendirian, teman-temannya juga memiliki keinginan yang sama. Beberapa dari mereka mungkin sama sekali belum pernah melihat badut secara langsung. Beberapa saat sebelum acara selesai, keinginan Caca terpenuhi. Dengan senyum manis menghiasi wajahnya, Caca akhirnya berfoto bersama badut.

Anak-anak tersebut adalah asuhan Yayasan Amarylis Kirana di Cikokol, Tangerang. Mereka adalah anak-anak yang telah divonis menderita penyakit kanker dan kelainan darah. Sejak 2015 Yayasan tersebut berjuang memberikan bantuan untuk anak-anak penderita kanker dan hemofilia dengan menyediakan rumah singgah agar mereka mudah mengakses fasilitas kesehatan. Saat ini ada 240 anak yang ada di bawah naungan yayasan tersebut.

Dengan niat menghibur anak-anak, yayasan tersebut sepakat mengundang badut dari, tepat di Hari Kanker Anak Internasional. Ada 12 badut dari komunitas Aku Badut Indonesia yang menghibur anak-anak kala itu. Para badut tersebut datang tanpa dibayar sepeser pun oleh pihak penyelenggara.

“Ibu saya dulu menderita kanker rahim,” kata Dedy Delon, pendiri komunitas Aku Badut Indonesia. “Saya tahu penderitaannya seperti apa. Makanya saya tergerak untuk menghibur mereka.”

Menjadi seorang badut bukanlah sebuah profesi idaman di Indonesia. Ia tidak dipandang sebagai mata pencaharian idaman dan hanya dianggap sebagai lelucon, persis seperti tingkah lakunya kala di panggung. Nyatanya Dedy membuktikan jadi badut bisa menjadi profesi yang mapan sekaligus membawa misi kemanusiaan: menebar senyum kepada anak-anak.

“Ketika bertemu anak-anak yang sakit, saya menganggap diri saya seperti dokter,” kata pria bernama asli Dedy Rahmanto ini. “Obat yang saya bawa adalah senyum. Mereka yang sakit tidak butuh mainan. Mereka hanya butuh tertawa.”

Para badut berfoto bersama anak-anak. Foto dari arsip Aku Badut Indonesia.

Dedy lahir 1968. Sejak masih kecil, Dedy sudah punya keinginan menjadi badut. Keinginan tersebut muncul secara alami setelah diajak oleh orang tuanya menonton sirkus di Ancol. Di sirkus tersebut, Dedy terpana oleh aksi seorang badut berbadan gempal dengan kostum motif polkadot yang piawai bermain akrobat. Aksi tersebut terus membayangi benaknya. Atas izin orang tuanya, Dedy yang kala itu baru berusia sembilan tahun lantas berlatih dan bergabung bersama sanggar akrobat besutan pesulap dan pemain akrobat legendaris Paidi alias Pak Tepong. Ia kerap berlatih di Taman Mini Indonesia Indah dan Ancol.

“Ada perasaan yang enggak bisa saya jelaskan waktu itu, tapi begitu saya melihat badut untuk pertama kalinya, saya tahu saya ingin menjadi badut untuk hidup,” ujar Dedy yang saat ini memiliki lima orang anak dan seorang cucu.

Awalnya orang tua hanya menganggap kegemarannya menjadi badut hanya sekedar hobi. Ketika Dedy memutuskan terjun ke dunia hiburan sebagai badut, mereka menentang keras. Dedy tak patah arang. Ia telah berkomitmen menjadi badut. Selama duduk di bangku sekolah ia kerap meninggalkan kelas gara-gara ada job manggung. Dalam sebulan ia bisa dua minggu bolos. Anehnya ia tetap lulus dan melanjutkan ke sekolah tinggi pariwisata. Lulus kuliah ia bekerja sebagai koki di sebuah hotel elit di kawasan Jakarta Pusat. Hanya bertahan beberapa bulan, Dedy memutuskan hengkang dari pekerjaan tetapnya dan menjawab panggilan hati: menjadi badut.

“Profesi badut memang disepelekan, orang-orang di sekitar saya sempat menertawakan dan mencaci maki. Bahkan calon mertua saya dulu enggak setuju anaknya saya nikahi,” kenang Dedy.

Keputusan keluar dari pekerjaan tetap terbukti bukan hal mudah. Selama beberapa bulan Dedy luntang-lantung mencari pekerjaan. Acara ulang tahun yang menjadi ladang pencahariannya tidak mampu memberikan kepastian pemasukan. Dedy lantas punya akal, daripada menunggu event ulang tahun anak yang tak tentu datang, lebih baik dia memakai sistem jemput bola untuk mendapat panggilan.


Tonton juga dokumenter kami tentang orang-orang yang bisa menimbulkan senyum buat sesama berkat profesinya:


Dia kemudian mulai bergerilya mempromosikan dirinya. Setiap hari Dedy menyambangi hotel-hotel dan pusat perbelanjaan di Jakarta sambil menyebar kartu namanya. Gayung bersambut, manajemen sebuah pusat perbelanjaan mentereng di Jakarta Pusat setuju bekerja sama dengan Dedy untuk sebuah program anak-anak. Selama satu dekade ia menjadi penghibur tetap di pusat perbelanjaan tersebut.

Pelan tapi pasti, nama Dedy berkibar di jagat hiburan. Ia sudah tidak asing lagi di kalangan event organizer. Hal tersebut tak lepas dari strategi Dedy. Agar mudah dikenali, ia menciptakan sebuah karakter badut yang menjadi trademark-nya: sosok badut dengan rambut kuning sebahu dan topi merah berbalut jas berbahan satin motif kotak-kotak warna kuning dan hijau. Tak lupa celana selutut warna kuning dan sepatu ukuran jumbo warna hijau selalu menemani aksinya. Kostum tersebut tetap bertahan sampai sekarang meski telah berusia lebih dari 20 tahun.

Dedy mulai fokus ke kegiatan sosial setelah seorang kawan mengajaknya untuk tampil di acara panti asuhan. Kala itu Dedy menyadari bahwa tidak semua anak bisa mendapat hiburan yang berkualitas. Banyak dari mereka yang bahkan belum pernah melihat sosok badut. Dari situ Dedy lantas bergerak untuk membentuk Aku Badut Indonesia bersama kawan-kawan seprofesi.

Komunitas Aku Badut Indonesia kerap mengumpulkan donasi di berbagai pusat keramaian dengan cara berjualan merchandise. Donasi yang terkumpul lantas dibagikan ke berbagai panti asuhan dan yayasan, termasuk Yayasan Amarylis Kirana. Para badut tersebut tak pernah mengutip bayaran ketika diundang ke acara-acara sosial.

Anggota Aku Badut Indonesia datang dari beragam latar belakang, ada yang berprofesi sebagai penari latar, ustaz, desainer grafis, ada juga yang pengusaha. Visi dan misi mereka untuk membantu sesamalah yang menjadi perekat alami organisasi tersebut.

“Masing-masing dari kami memang punya pekerjaan sendiri-sendiri, tapi begitu di Aku Badut Indonesia, visi dan misi kami sama; bagaimana badut bisa menjadi lebih dari sekedar lelucon dan bisa memberi kontribusi secara sosial,” kata Dedy.

Usia Dedy memang tak lagi muda. Hampir separuh masa hidupnya dihabiskan menjadi badut. Namun selama bisa membuat orang lain tersenyum, dia mengaku tidak akan pensiun sebagai badut.

"Lahir sebagai badut, mati pun sebagai badut," kata Dedy bangga.


Artikel ini adalah hasil kolaborasi VICE bersama Pepsodent untuk mengampanyekan lebih banyak senyum di Indonesia. Karena kekuatan senyum dapat kamu sebarkan kepada orang lain melalui hal yang sederhana. Pepsodent melindungi senyum Indonesia melalui sikat gigi pagi dan malam. #SenyumSatuIndonesia

Tagged:
Kanker
profil
Kisah Inspiratif
Wawancara
Badut
Kemanusiaan
Profesi
Tangerang
VICE X Pepsodent
aku badut indonesia