Iklan
Dunia Mafia

Begini Pengalamanku Selama Kerja di Restoran Kesukaan Mafia

Sumber anonim MUNCHIES mengungkap suka duka bekerja di restoran elit yang jadi tongkrongan favorit anggota organisasi kejahatan karena masakannya enak.

oleh Anonim
03 Agustus 2019, 9:06am

Foto ilustrasi oleh George Alexander Ishida Newman via Flickr

Kalian sedang membaca seri Restaurant Confessional, rubrik bagi pelaku industri kuliner dari seluruh dunia menyuarakan secara bebas isu yang sebelumnya jarang terdengar. Semua orang dari lini terdepan sampai paling bawah bisnis restoran mengungkap beragam kejadian di dapur. Pada artikel kali ini seorang pelayan yang bekerja di restoran kesohor karena sajiannya yang lezat, menyadari tempat kerjanya di New York itu merupakan lokasi favorit berkumpulnya anggota organisasi kriminal.


Aku selalu datang kerja lebih awal. Suatu kali, hanya ada aku dan manajerku di restoran. Dengan sangat kalem, manajer memintaku keluar. Katanya, nanti bakal ada orang yang memberiku paket. Setelah diterima, paket harus segara diantarkan padanya. Begitu perintahnya.

Aku menurut dan segera berdiri di luar restoran. Aku paham betul apa yang akan terjadi. Tetap saja, dalam hati, aku bertanya "beneran nih bakal ada orang yang ngasih paket?" Aku segera merasa seperti salah satu karakter di film Goodfellas.

Benar saja, tak berapa berselang, seorang pria dari dalam sebuah mobil mewah memberiku sebuah amplop manila—tebalnya sekitar 10cm. Pria itu bahkan tak menyapaku. Aku sempat ketakutan, jangan-jangan sehabis bekerja hari aku bakal dibuang ke Meksiko. Bahkan hari itu, teman-temanku berkelakar "Hati-hati aja nanti malam elo bakal mampus coy."

Aku bekerja di restoran itu selama lima atau enam bulan, pokoknya selama musim panas. Aku sampai benar-benar belajar bahasa baru—semacam campuran bahasa Inggris dan Italia—selama bekerja di sana. Hal ini tak pernah disebut secara gamblang dalam wawancara kerja. Pelamar diharap "mengerti dengan sendirinya."

Selama menjadi pelayan di restoran itu, sepertinya selalu ada maksud tersembunyi dalam setiap aktivitas kami. Awalnya, kupikir ini cuma becandaan sesama pekerja saja. Tapi, nyatanya beneran. Contohnya pelayan-pelayan yang gagah dan berangasan di restoran itu bisa tiba-tiba jadi jinak di hadapan beberapa pelanggan tertentu. Mereka seperti menunjukan semacam loyalitas. Aneh kan?

Tatkala pelanggan-pelanggan mencurigakan ini datang, sepertinya mereka bisa berbuat seenak udelnya. Mereka seenaknya menghisap rokok di dalam ruangan, pokoknya mereka bisa berbuat apapun sesuka hati. Rasanya, merekalah yang punya restoran ini. Istilahnya, kalau mereka mau menutup restoran itu hari itu juga, mereka bisa dengan mudah melakukannya.

Di lantai bawah, bahkan selama pesta berlangsung, kami masih melayani bintang film, politikus, dan pelanggan lainnya. Mereka tak pernah menyadari bahwa di lantai atas digelar pesta gila-gilaan yang dijamin bikin siapapun terperangah.

Aku ingat pernah ada pesta tertutup besar-besar di sana. Ada banyak pekerja seks yang datang. Jumlahnya, entahlah, pokoknya banyak. Kalau aku tak salah lihat, ada satu pengunjung pria yang datang membawa revolver. Asal kalian tahu, ini adalah pesta dengan sepuluh macam hidangan dan para pekerja seks itu datang saat makanan penutup dihidangkan. Tak ada rasa segan atau malu di wajah semua yang datang. Jangan tanya jumlah uang dihamburkan. Pokoknya banyak. Yang jelas, pekerja seks seperti tak pernah berhenti mengalir.

Di lantai bawah, bahkan selama pesta berlangsung, kami masih melayani bintang film, politikus, dan pelanggan lainnya. Mereka tak pernah menyadari bahwa di lantai atas digelar sebuah pesta gila-gilaan yang dijamin bikin siapapun terperangah tengah seru-serunya berlangsung. Lalu bagaimana dengan nasib kami para pelayan? Kami hanya bisa menggerutu di dapur. "Woi, gue aja belum jelas kapan dibayarnya," umpat salah satu pelayan.

Bayaran kami memang sering telat. Pemilik restoran tak mau ambil pusing. Paling-paling mereka cuma bilang "Maaf, bayaran kalian telat ya." Di restoran lain, kata-kata seperti ini pasti ditimpali dengan amarah pekerja. Di sini, kalimat macam itu ditanggapi dengan senyap. Boro-boro ada yang berani bertanya "Bos, gaji saya kapan turun nih?"

Ada sebuah hierarki yang jelas. Lagipula, karena semua pelayan bekerja bersamaan. Tak ada yang punya waktu memeriksa pembukuan restoran. Beruntung, para pelayan mengumpulkan tip bersama-sama jauh sebelum restoran lain melakukannya. Total tip yang diterima kemudian dibagi rata ke semua orang. Beginilah cara mereka bertahan dari gaji yang turun terlambat.

"Kadang sesama karyawan restoran enteng banget ngomong 'Bro, udah tahu belum kali si anu dibunuh?'"

Sebelum bekerja di restoran misterius ini, aku pernah pindah-pindah kerja dari restoran mewah, hotel, hingga restoran keluarga. Di tempat kerja sebelumnya, aku tak pernah ketemu model pelanggan seperti yang aku sebut di atas. Susah menjelaskannya, pokoknya mereka bukan pelanggan restoran biasa. Beberapa dari mereka biasanya bilang "Elo jangan ngomong kecuali diajak ngobrol duluan." Pelanggan macam ini biasanya bahkan tak mau melihat para pelayan. Meski ada juga yang ramah banget, kebanyakan dari mereka lebih memilih sikap "Jangan lihat gue, jangan ngobrol sama gue."

Yang unik, pelanggan-pelanggan paling arogan justru jadi semacam idola karyawan restoran. Bagiku ini aneh. Yang lebih aneh lagi, kadang para staf dengan enaknya ngomong "Bray, udah tahu belum kali si anu dibunuh?" kadang, aku cuma berbaik sangka. Ah ini paling becanda doang, begitu gumamku dalam hati dan aku gatel bilang "ah yang bener Bray?!"

Makin lama, aku makin sadar bahwa apa yang terjadi di dalam restoran ini memang tak lazim ditemui di restoran lain. Restoran ini dikelola beberapa sosok unik. Pemilik dan manajernya menurutku psikopat yang lucu. Mereka bicara dengan kata ganti orang ketiga dan terus menerus mengumbar ancaman. Kalau dipikir-pikir, ancaman yang meluncur dari mulut mereka cuma bumbu pembicaraan, bukan sebenar-benarnya ancaman. Contohnya seperti ini, "Bung, cepat bawa kopi ini ke meja nomor 12, kalau engga gue tusuk juga nih!"

Dihadapkan dengan kalimat sesangar itu, aku bertanya-tanya "Ini tempat kerja macam apa sih?"

Barangkali, aku harus jadi akuntan dulu untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi di restoran itu. Aku tak tahu apakah gangster yang datang cuma nongkrong atau malah merekalah pemilik sejati restoran ini. Entahlah, aku cuma punya beberapa tebakan.

"Bung, cepat bawa kopi ini ke meja nomor 12, kalau engga gue tusuk juga nih!"

Aku tak yakin-yakin banget ada hubungan finansial antara restoran dan pelanggan-pelanggan spesial tersebut. Yang jelas, kuitansi yang diberikan pada mereka jelas berbeda dengan apa yang aku atau kalau kalian terima jika—misalnya—ingin memesan makan malam untuk 20 orang dan seorang DJ. Tapi ya itu tadi: aku tak tidak tahu. Barangkali, untuk pelanggan-pelanggan khusus itu semuanya gratis.

Tentu saja semua orang, terutama staf restoran, tahu ada fakta yang disembunyikan dari tempat kami bekerja. Namun, karena jadi satu-satunya orang yang tak dibesarkan di lingkungan dekat situ, aku menganggap semua ini aneh. Pekerja lainya tahu kalau ini restoran para mafia. Pekerja "lokal" ini seakan-akan mewanti-wantiku "Hey Bung, lihat siapa yang duduk di meja nomor tiga? Jangan sekali-kali menjatuhkan gelas di sana. Pokoknya jangan ya!"

Akhirnya beberapa tahun lalu aku berhenti kerja dari sana. Aku mencari pekerjaan yang lebih normal di sebuah restoran yang jauh lebih kecil. Aku harus mengakui susah bersinar di restoran besar yang penuh orang penting. Di tempat semacam itu, pelayan adalah prajurit semata. Tapi, aku juga harus mengakui restoran mafia itu sangat besar. Pelayannya banyak sekali.

Pokoknya, restoran itu besar sekali dan uang yang mengalir di dalamnya deras sekali.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES