Lahirnya Ormas Baru

Bentrok 'Ojol vs DC' Bukti Perkumpulan Ojol Sudah Jadi Ormas Berpengaruh di Indonesia

Kesamaan profesi dan seragam membuat ojol bersatu padu melawan yang dianggap musuh bersama. Termasuk dalam insiden melawan debt collector di Babarsari, Yogyakarta tempo hari.
06 Maret 2020, 8:30am
'Ojol vs DC' di Babarsari yogyakarta Bukti Perkumpulan Ojol Ormas Berpengaruh
Aksi unjuk rasa paguyuban mitra pengemudi ojol di Jakarta menolak kebijakan Kementerian Perhubungan pada 2018. Foto oleh Adek Berry/AFP

Bentrok debt collector (DC) versus kelompok sopir ojek online (ojol) di Jogja pada Kamis (5/3) kemarin menegaskan kolektif ojol telah menjadi satu kelompok masyarakat baru berbasis profesi. Sifat pengendara ojek yang semi-ormas tecermin dari karakter yang solid dan termobilisasi efektif. Ketika ada rekan diganggu, komando satu rasa korps jaket hijau ini efektif menggerakkan kawan untuk saling bantu. Contohnya tentu dalam kasus ojol melawan DC di Jogja.

Perselisihan diawali pada Selasa (3/3), ketika seorang debt collector memaksa sita motor seorang sopir ojol di Jalan Wahid Hasyim, Condongcatur, Sleman. Di TKP, seorang pengemudi Grab bernama Luthfi Aditya Kusuma tergerak untuk melerai. Luthfi membela sejawatnya dengan mengatakan, seharusnya penagihan utang sesuai prosedur hanya boleh dilakukan di rumah.

Sembari meminta si DC bersikap prosedural, Luthfi menyuruh rekannya tadi pergi duluan. Misi penyelamatan itu sukses, namun Luthfi babak belur jadi sasaran pemukulan si DC. Luthfi lalu melakukan visum dan melapor ke Polsek Depok Timur keesokan harinya.

"Kemarin sekitar jam setengah enam sore ada teman kita berpakaian ojol diberhentikan sama dua orang yang ngaku DC. Motornya mau ditarik karena telat [bayar cicilan] satu bulan. Kalau mau narik harus sesuai prosedur, tarik di rumah, tapi [DC] malah marah ngotot-ngotot itu. Saya coba melerai, itu kan di jalan, takut bikin kemacetan," kata Luthfi.

Insiden ini membuat beberapa penagih utang mendatangi kantor Grab di Ruko Casa Grande, Sleman. Staf Manajemen Grab Yogyakarta berinisial WB mengatakan, DC mendatangi kantornya karena tersinggung para ojol memposting kejadian tersebut di media sosial. Para DC yang lagi bad temper ini memaksa masuk kantor Grab.

"Di sini mereka sempat nendang-nendang barang, masuk kantor, salah satu staf kami juga ada yang terkena tampol. Setelah itu kami meminta mediasi," kata WB kepada Tagar. Penagih utang dilaporkan merusak dispenser, kursi, meja, dan helm di kantor tersebut.

Kabar penyerangan tersebar cepat di antara para sopir ojol. Jiwa korsa langsung membuncah. Para pengemudi ojol memobilisasi diri dan langsung mendatangi kantor beramai-ramai untuk melakukan konfrontasi. Terjadi aksi saling lempar batu antara ojol dan puluhan DC di depan ruko. Kerusuhan meluas sampai ke kawasan Babarsari, Sleman. Situasi baru mereda saat polisi datang.

Keterangan berlawanan dari WB disampaikan polisi. Kapolres Sleman AKBP Rizki Ferdiansyah menjelaskan pihak DC justru mendatangi kantor Grab untuk minta mediasi terkait laporan Rizki. Namun, terjadi kesalahpahaman karena kelompok sopir ojol mengira kantornya diserang.

"Mereka datang mediasi teman-teman di DC di atas [kantor] yang di bawah juga ada. Nah, karena itu disangkanya kantornya diserang padahal enggak. Karena permasalahannya simpang siur disangkanya kantor mereka diserang," kata Rizky kepada Detik.

Bentrok kadung terjadi dan berdampak luas. Pada hari yang sama, kantor leasing PT Bala Manunggal Abadi (BMA) yang mempekerjakan DC bersangkutan dirusak oknum berseragam ojol sampai meja dan kursi kantor hangus terbakar. Ketua RT 007 M. Soleh menceritakan, rumah itu emang udah setahun dikontrak PT BMA sebagai kantor. Oknum ojol datang sekitar jam setengah 4 sore.

"Mereka aksi solidaritas, mayoritas mengenakan seragam (jaket ojol). Sudah terlalu banyak yang datang untuk aksi solidaritas dari ojol, kemungkinan ada yang emosional dan terpancing. Tapi, situasi aman pukul 17.00 WIB," ujar Soleh kepada Kompas. Meski masih simpang siur siapa pelaku dan alasannya, tapi bisa dilihat ya bagaimana komunitas ojol berhasil mempertahankan kantornya dari serangan sampai berhasil menyerang balik.



Rizki mengatakan pihaknya masih menelusuri fakta-fakta kerusuhan ini. "[Ada perusakan kantor], itu sedang kita telusuri. Tadi kita sedang mediasi, kok ada kejadian di kantor DC, mungkin ini karena ada kesimpangsiuran informasi. Kita akan lihat kan tidak boleh juga melakukan perusakan seperti itu. Satu per satu kita akan lihat akar permasalahannya apa," ujar Rizki.

Pada petang harinya, para pengemudi ojol berkumpul di pertigaan Babarsari untuk menyampaikan aspirasi terkait dugaan pembacokan dan perusakan motor pengemudi ojol akibat kerusuhan. Mereka meminta kepolisian menjamin keamanan ojol saat bekerja. Polisi yang hadir dalam aksi mengatakan pihak kepolisian siap menjamin keamanan para sopir ojol saat bekerja dan meminta tidak ada aksi balas dendam. Massa bubar sekitar jam 7 malam. Kepentingan pengemudi ojol berhasil tersampaikan langsung ke kepolisian.

Fenomena solidaritas komunitas ojol saat rekannya terancam pernah juga terjadi di beberapa tempat. Pada awal Februari kemarin, komunitas sopir ojol di Kudus turut membantu kepolisian dalam mencari informasi pembunuh sopir ojol Tri Ardiansyah. Tri ditemukan terbunuh di saluran irigasi Serang Welahan Drain Dua di Desa Bugo, Mayong, Jepara. Bantuan penyelidikan dilakukan dengan mengerahkan pasukan ojol untuk ikut menyisir CCTV Jalan Jepara-Kudus.

Konsolidasi serupa juga pernah terjadi juga di Jogja terkait isu klitih yang tempo hari jadi trending topic. Setelah Enriko, seorang sopir ojol, dibacok dengan pedang pada 1 Februari lalu oleh pelaku klitih, komunitas sopir ojol langsung sweeping setiap malam untuk memantau sopir yang sedang bekerja. Jadi, kalau ada sesuatu, bisa langsung koordinasi.

"Di grup WhatsApp kita saling pantau kan. Misal ada klitih, kita cari kita kejar, tapi tahu-tahu hilang tidak terkejar," kata Adi, salah satu anggota Koordinasi Antar Driver Online (KADO) Yogyakarta.

Ruang saling jaga dan rasa aman di komunitas ojol juga berdampak kepada para sopir ojol wanita. Nuri, salah satu sopir ojol di Bandung, mengaku komunitas ini menyediakan rekan dan keluarga yang siap membantu ketika dibutuhkan, terutama sebagai sopir yang rentan akan pelecehan.

"Agar aman balik lagi ke komunitas, jadi kita bisa share lokasi kita ke grup kalau ada apa-apa. Jadi, tidak terlalu merasa sendiri terutama untuk driver baru. Kita sudah seperti keluarga," tambah Ochi, salah satu sopir ojol perempuan.

Melihat berapa solid dan terkoordinasinya para sopir ojol ini, tinggal menunggu waktu saja mereka akan membuat serikat buruh atau, mungkin saja, partai politik.