Iklan
Travel

Mengenang Masa Ketika Remaja Tiongkok Tergila-gila Justin Bieber

Berikut pengalaman saya nonton konser Justin Bieber bersama pemuda-pemudi di Cina beberapa tahun lalu. Brutal!

oleh Jamie Fullerton
21 Oktober 2018, 12:30am

Semua foto oleh Marc Ressang.

Ingatkah kalian ketika Justin Bieber dalam puncak kejayaannya beberapa tahu lalu? Dia rajin menjalani tur Asia 'Believe World Tour'. Ada satu negara yang muda-mudinya mengalami demam Bieber, bahkan jauh lebih gila dibanding Amerika Serikat: Tiongkok.

Selain manggung di arena-arena besar, Bieber sampai meluangkan berbagai kegiatan lain ketika berkunjung ke Cina. Di antaranya, dia sempat asik diarak para groupies di Tembok Besar Cina, atau main skateboard di jalanan Beijing sambil dikejar-kejar bodyguardnya sendiri. Tidak mau melewatkan pertemuan imperialisme budaya Barat dan remaja-remaja Asia Timur yang kegirangan, saya pergi menuju Mercedes-Benz Arena di distrik Pudong di Shanghai untuk bertemu dengan para Beliebers setempat.

Penduduk Cina tidak main-main dalam perihal menggilai seorang figur. Maka dari itulah mereka sangat menggemari orang-orang terkenal, lebih dari kita semua. Ketika David Beckham pernah mampir ke Shanghai, konferensi persnya diserbu ribuan penggemar dan tujuh orang sampai dilarikan ke rumah sakit.


Tonton dokumenter VICE membahas fanatisme remaja Tiongkok masa kini pada serial 'Friends':


Kapan terakhir kali KAMU segitu pedulinya dengan orang yang tidak kamu kenal sampai-sampai kamu rela berdarah-darah demi mereka? Kalau penduduk Cina tidak segan-segan berjibukan demi seorang mantan gelandang sepakbola dari Leytonstone yang sudah pensiun, kira-kira gimana reaksi mereka untuk seorang penyanyi remaja paling terkenal di planet Bumi saat ini?

Penggemar pertama yang saya temui adalah Crystal (kiri) dan Amy. Seiring Crystal menyalakan papan “Belieber”nya yang menggunakan energi baterai, Amy mengaku dia menyukai Justin karena “dia punya sebuah mimpi”. Namun dia menambahkan, “Kamu enggak harus suka segala hal tentang seseorang—Saya enggak suka tato-tatonya dan dia agak males-malesan di The Great Wall.”

Tidak seperti banyak remaja-remaja Barat seumurannya, Amy tidak pernah membenci Selena Gomez—mantan pacar Justin. "Saya suka musik Selena," ujarnya.

"Lagian, Justin enggak mungkin naksir denganku, dia kan 19 tahun.” Amy sudah tergila-gila. Dia sempat mengejarku di jalanan selama lima menit demi memohon saya mendapatkan tanda tangan Justin untuknya. Andai saja ada yang bisa saya lakukan untuknya.

Kalau kamu tidak sekreatif Crystal, ada banyak merchandise KW Bieber yang bisa kamu beli. Misalnya kalender Justin Bieber, agar setiap kali kamu lupa tanggal hari, kamu bisa menatap wajah manis si Justin.


Atau alas mouse Justin Bieber, agar setiap kali mouse-mu rusak, kamu terhibur melihat wajah Justin menatapmu dari permukaan meja.

Jangan lupa juga teropong, kali-kali kamu ingin melihat wajahnya Justin Bieber dengan jelas di dunia nyata. Dagangan lelaki ini laku keras. Dia mengaku tidak punya lagu Bieber favorit karena ya dia bahkan tidak tahu Justin Bieber itu siapa. “Seseorang memberi tahu saya penyanyi terkenal berumur 19-tahun bakal manggung di sini malam ini,” ujarnya.

Ya sah-sah aja sih. Emangnya calo tiket dan tukang jualan di luar konser Paramore di Jakarta kemaren juga hafal lirik “Misery Business”?

Sosok di foto atas namanya Candy. Dia ketua dari Klub Penggemar Justin Bieber Cina. Dia mengorganisir pertemuan sekali setahun pada tanggal 1 Maret, ketika Justin Bieber berulang tahun.

Para anggota kumpul bareng dan nyanyi lagu-lagu Bieber rame-rame di sebuah bar karaoke. Candy berumur 24 tahun dan baru lulus dari University of Brunel di London.

Sepertinya stigma norak yang menempel di para penggemar musik pop berumur 20an sudah banyak berkurang. Tapi ini mungkin karena para penggemar Justin Bieber berpakaian persis kayak orang-orang yang datang ke festival-festival musik macam WeTheFest.

Buat mendanai biaya hotel dan perawatan monyet peliharaannya di tur, Justin menjual beberapa ratus tiket VIP, yang mencakup meet and greet seharga £800 (Rp15,8 juta). Bagi penggemar yang ingin berbasa-basi langsung dengan artis idolanya, ini adalah kesempatan emas.

Sayangnya, lelaki ini kehabisan tiket VIP—biarpun dia membayar Rp7,9 juta untuk tiketnya, yang mencakup satu tas resmi penuh tato Bieber. "Saya terlambat membeli tiket, padahal pengin banget yang VIP, kesel deh," desahnya. "Saya datang dari provinsi Yunnan, jaraknya 3.200 kilometer dari sini."

Tiba-tiba, terdengar teriakan-teriakan dan seorang lelaki mengenakan kaos Lakers muncul dari belakang pagar pengamanan. Saya enggak tahu dia siapa, jadi saya tanya saja penerjemah saya—ternyata dia adalah editor musik sebuah situs CIna dan pernah menulis artikel positif tentang Justin.

“Saya punya hubungan yang baik dengan Universal,” ujarnya ke sang penerjemah. “Saya pengin nongkrong-nongkrong aja dengan semua orang di sini.” Makin banyak remaja-remaja perempuan maju untuk bertemu dengannya dan bertanya "Kamu sempet ketemu Bieber gak!?"

Kayaknya sudah pasti deh. Lihat saja wajahnya. Dia semacam versi Cina dari Perez Hilton deh kayaknya.

Di dalam arena, situasinya lumayan gila. Beneran. Gila. Lihat sendiri foto di atas.

Ngapain sih ini tentara ikut-ikutan nonton konser.

Para penonton dihibur terlebih dahulu oleh para penari mengenakan kostum luar-angkasa sepinggang, seperti doi ini nih. Dia juga terus-terusan memfoto para penonton perempuan yang histeris teriak-teriak menggunakan iPhonenya. Pro banget ya.

Seseorang bernama DJ Tay James memainkan lagu-lagu hit pop-EDM yang dimix dengan buruk agar penonton bisa joget. Dia juga enggak bisa berhenti mengingatkan semua orang bahwa dia adalah “Tay James, DJ Resmi Justin Bieber!!!” Pasti dia lebih digandrungi bocah-bocah remaja deh. Mungkin melebihi si editor musik.

Akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu muncul. Siapa juga yang mengira kalau berpakaian seperti anak goth berumur 12 tahun bisa membuatmu menjadi simbol seks global?

Sama seperti gig-gig arena di manapun, penonton di Cina juga gak ada orisinal-orisinalnya: semua mengangkat ponsel pintar untuk merekam dan mengayunkan glowing stick.

Di seksi VIP, smartphone-smartphone penonton speknya lebih bagus.

Anehnya, semua orang berdiri di atas kursi mereka sepanjang acara. Dan ternyata menyediakan kursi lipat di gig bukanlah tren musik pop semata. Seminggu sebelumnya, di gig The Killers di arena yang sama, tidak ada seksi berdiri di stadium, semuanya duduk. Biarpun tentu saja, penontonnya tidak seramai gig Justin.

Saya sampai berpikir, apa mungkin saking terhomogenisasinya semua kultur pop dunia sekarang, sampai-sampai hal yang membedakan hanyalah etika kursi lipat ini.

Ketika Justin meraba kemaluannya sendiri di panggung, pikiran saya langsung tersentak. Saya merasa canggung karena duduk di belakang dua perempuan yang umurnya mungkin 10 atau 11 tahun dan mereka datang dengan ibunya.

Justin terlihat agak lip-syncing (jarak saya sekitar 4 meter dari panggung, dan mic wajah ala Britney Spears yang dia kenakan tidak bisa menutup-nutupinya). Tapi ya kalo nonton gig musik pop di arena, praktek macam ini sudah lumrah. Siapa juga sih yang peduli? Ini Justin Bieber woy, bukan Danilla manggung di Gudang Sarinah.

Karena sudah berkali-kali menonton tayangan konser Justin Bieber, saya tahu selalu ada aksi panggung di mana dia mengajak seorang penggemar naik ke panggung. Kemudian seperti yang kamu sudah bisa tebak, Justin akan bernyanyi langsung di hadapannya. Semoga pas perempuan tersebut kembali ke kursinya, dia tidak diserbu oleh para penggemar lainnya ya.

Setelah tembang “Baby” dinyanyikan (dan emang keren banget), konser pun berakhir. Semua orang menyeruak keluar, menunggu dijemput orang tuanya masing-masing.

Untungnya tidak ada penggemar yang pingsan. Tapi kegilaan dan ingar bingar penonton memang nyata adanya. Nampaknya menjadi Belieber pernah jadi bahasa universal remaja ya.


Follow Jamie di @jamiefullerton1

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.