Alkohol

Kisah Empat Lelaki yang Mabuk Berat, Sadar-Sadar Ada di Negara Lain

Ternyata banyak orang pernah mengalami hal seperti itu. Kami tulis beberapa yang menarik buat kamu baca
02 Agustus 2018, 11:59am

Orang yang habis party semalaman biasanya terbangun di tempat aneh. Kalau dulu, banyak yang tak sadar tidur di tempat sampah. Tapi sekarang, orang yang mabuk bisa saja sadar di luar negeri berkat tiket pesawat murah yang dapat dipesan lewat aplikasi ponsel. Tak jarang mereka terbang ke kota yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

Setiap beberapa bulan sekali, tampaknya ada saja berita pria yang mengunjungi negara lain saat sedang mabuk. Keesokan harinya mereka terbangun penuh kebingungan dan mengunggah pengalaman anehnya ke Twitter atau Facebook. Setelah itu media akan memviralkannya. Beritanya akan memudar, dan muncul berita baru serupa beberapa bulan kemudian.

Apakah fenomena ini sedang ngetren? Haruskah kita menamakannya “Planeover” atau malah “Hukuman Ilahi”? Entahlah. Tapi, untuk membuktikan kalau hal ini sering terjadi, saya meminta empat laki-laki menceritakan pengalamannya pergi ke luar negeri saat sedang mabuk. Saya juga ingin tahu bagaimana mereka bisa sampai ke tempat itu.

"APA SALAHNYA NEKAT MELAKUKAN HAL BARU?”

Suatu malam, saya dan teman memutuskan untuk minum-minum di beberapa bar di Chelmsford. Setelah kebanyakan minum, saya terpencar dari teman dan memerhatikan bus X30 yang lewat di depanku. Busnya menuju Bandara Stansted dengan ongkos Rp189 ribu. Waktu itu, saya langsung saja pesan tiket pesawat lewat ponsel dan berharap pergi ke daerah yang enggak sedingin dan sering hujan seperti Chelmsford. Saya akhirnya pesan tiket ke Barcelona.

Saya baru menyadari apa yang saya lakukan setelah terbangun di pesawat. Saya enggak bawa apa-apa selain botol minum kosong, dompet dan ponsel. Saya turun dari pesawat dengan badan bau alkohol. Bingung harus melakukan apa, akhirnya saya menelepon orang tua. Ayah menyarankan untuk menikmatinya saja. Saya langsung beli tiket pulang dan menyewa kamar hotel selama tiga hari.

Ternyata saya sangat menikmati perjalanannya. Saya menghabiskan waktu menjelajahi kota ini dan mengajak ngobrol penduduk setempat. Saya suka cuaca dan makanan di Barcelona. Sorenya saya langsung balik ke hotel untuk makan malam dan cuci baju karena enggak punya pakaian lain.

Kesimpulannya, pengalaman ini mengajarkanku untuk menikmati hidup dan berhenti memedulikan apa yang orang lain katakan. Asal kamu tidak melanggar hukum, apa salahnya nekat melakukan hal baru?

– Alex, dari Inggris

KABUR TANPA SEPATU

Waktu itu saya lagi ada di pelabuhan kecil Prancis di Beaulieu-sur-Mer. Pada suatu Jumat sore, saya dan kedua teman pergi ke pantai sepulang kerja. Sebelumnya kami pergi ke Carrefour untuk beli bir. Saya ingat seluruh kejadian di pantai, mulai dari merapikan alas duduk sampai membuang sampah. Saya juga ingat waktu kami berangan-angan pergi ke Monako untuk minum di La Rascasse. Saya enggak yakin kami akan ke sana karena sudah terlalu mabuk.

Habis itu saya enggak ingat apa-apa lagi. Saya terbangun di rumah sakit setelah tidak sadarkan diri selama enam jam lebih. Lucunya, rumah sakit ini ada di atas tebing besar yang menghadap Pelabuhan Monaco. Perawat memberitahuku kalau polisi yang membawa saya ke rumah sakit. Saya maksa untuk pulang karena harus kerja pukul 8 pagi, tapi perawat mengancam akan menelepon polisi kalau saya melakukannya. Katanya saya belum sadar penuh untuk balik ke Prancis.

Kaki saya memang lecet dan jidat benjol, tapi saya baik-baik saja. Waktu perawatnya pergi, saya langsung mengambil pakaian yang ada di kantong plastik dan segera berpakaian. Enggak tahu deh sepatu saya ada di mana waktu itu. Saya kabur dari jendela dan lari tanpa alas kaki. Saya kebingungan nyari stasiun kereta di dekat situ. Sesampainya di jalan utama, ada perempuan yang meneriakkan namaku. Dia teman sekantor juga. Waktu itu sudah pukul 6 pagi. Jadi ceritanya dia keluar semalaman dan melihat saya di La Rascasse. Dia menanyakan kondisi saya dan menunjukkan arah ke stasiun. Tapi sebelum saya pergi, dia memfotoku yang lagi berantakan banget. Bahkan masih ada bekas tetesan di lenganku. Untung saja saya tidak telat masuk.

- Sam, dari Australia

IDE YANG BENAR-BENAR BURUK

Waktu itu saya masih 17 tahun dan lagi nongkrong bareng Daniel sahabat saya. Kami sudah sangat mabuk, dan kebanyakan teman saya pulang ke rumah. Kami biasanya pulang naik bus NightRider, tapi kali ini ada teman yang mengusulkan pergi ke Melbourne. Jadilah kami pergi ke bandara dan tiba di pulau Tasmania yang super dingin.

Dengan uang pas-pasan, kami beli topi aneh, pergi ke lapangan golf dan menyewa kereta golf. Kami beli makanan dengan uang yang tinggal beberapa ratus ribu saja. Di sana, kami cuma keliling lapangan golf. Enggak main sama sekali.

Kami benar-benar kelelahan dan dehidrasi saat pulang ke rumah. Saya menyesal banget waktu itu.

- Tom, dari Australia

PESTA LAJANG YANG TAK TERDUGA

Jordan sebelum berakhir di Zurich

Waktu itu saya sedang menghadiri pesta lajang saudara ipar di Munich, Jerman. Kami memutuskan untuk patungan €20 (Rp336 ribu) buat main kitty (poker). Kebetulan hotel tempat menginap memberikan gelang yang ada nama dan alamatnya di situ. Merasa aman tidak akan nyasar, jadi saya tidak bawa ponsel dan dompet. Saya mabuk dan enggak tahu rombonganku ada di mana. Akhirnya saya naik taksi sendirian dan menyodorkan tangan yang ada gelang ke supir. Eh, ternyata gelangnya sudah hilang. Saya coba cari alasan, tapi supir taksi malah menurunkanku.

Saya mencoba cari taksi lain, tapi tidak ada yang mau mengangkutku. Saya kemudian menghampiri supir bus wisata di dekat situ. Saya memohon diizinkan naik, tapi supirnya menolak. Waktu supirnya tidak memerhatikanku, saya meloncat masuk ke bagasi dan mengumpat di belakang tas koper sampai pintu ditutup.

Sewaktu pintu bagasinya dibuka lima jam kemudian, saya keluar dari situ dan lari-lari kecil untuk memulihkan diri. Di sana, saya melihat papan nama bertuliskan “Zurich”. Saya sempat mengira itu kota di Jerman sebelum melihat bendera Swiss dekat situ. Saya akhirnya pergi ke kantor polisi setelah berjalan tanpa arah selama sejam lebih. Saya menceritakan apa yang terjadi, dan polisi itu menceritakannya ke rekan kerja pakai bahasa Prancis. Mereka semua tertawa mendengar ceritanya. Dia lalu memberikanku roti sandwich, rokok, dan surat untuk petugas tiket. Saya sampai juga di Munich. Berhubung tidak bawa ponsel dan dompet, saya jalan kaki berjam-jam untuk cari hotelnya. Saya akhirnya menemukan stasiun kereta tempat kami turun, berikut bar, dan hotelnya juga.

Jordan, dari Inggris

colek @hamsoward di twitter