LGBTQ di Indonesia

Pengalaman Gay di Indonesia Melela Pada Orang Tua

Memilih 'coming out' di negara seperti Indonesia tentu sangat sulit, mengingat homoseksual masih dianggap penyakit, dosa besar, dan berisiko dimusuhi keluarga.

oleh Syarafina Vidyadhana
29 Maret 2017, 7:19am

Indonesia adalah salah satu negara paling tidak toleran di dunia terhadap homoseksualitas. Persoalan melela—mengaku pada keluarga maupun kawan-kawan jika kalian penyuka sesama jenis—sulit menjadi pilihan bagi sebagian besar anggota komunitas LGBTQ di negara ini. Seringkali orangtua tidak lagi menganggap mereka sebagai anak atau, justru yang lebih buruk, memaksa mereka mengikuti program terapi agama untuk menyembuhkan homoseksualitas.

Sulit bagi seseorang jujur berkata pada orangtua, karena tekanan datang pula dari representasi negara. LGBTQ dianggap ancaman nasional oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Kali lain, penyuka sesama jenis menurut Wali Kota Bandung Ridwan Kamil tidak semestinya mengekspresikan hak-hak mereka secara publik.

Ghofar Ismail, community manager sebuah perusahaan di Jakarta, sudah melela empat tahun lalu. Pria 24 tahun ini merasa keputusan mengaku atau diam saja pada orang tua sama-sama pilihan yang wajib dihormati. "Kamu tidak wajib melela. Yang paling penting adalah kita selalu menerima seksualitas kita. Kamu yang paling tahu apa yang terbaik bagimu, dan kamu juga yang paling paham orangtuamu seperti apa. Sebelum melela ke orangtua, coba eksplor dan pelajari seksualitasmu," ujarnya.

Ben*, penulis lepas 25 tahun, merasa lebih aman melela ke orangtua ketika sudah mandiri secara finansial dan mempunyai lingkungan pertemanan yang erat. "Siapa tahu [sesudah mengaku] diusir," ujarnya. "Saat kamu melela, pastikan kamu menjelaskannya dengan cara yang dapat mereka pahami. Sampaikan juga ke orang tuamu kalau bukan salah mereka kamu menjadi gay."

Detik-Detik Menegangkan

Ghofar awalnya berencana melela sebelum berusia 30. Pada akhirnya, dia lebih cepat melela. Sang ibu sedang bercengkrama di kamarnya, dan pada satu titik, bertanya apakah dia sedang naksir cewek. "Saat itu gue ke-trigger untuk come out. Gue bilang, 'Ma, Ghofar mau ngomong sesuatu.'"

Ben berasal dari keluarga kelas menengah atas. Dia melela karena terdorong situasi. "Aku lagi bercanda sama teman di Twitter. Di satu titik, aku nge-reply twit dia dengan screenshot profil Grindr-ku. Sorenya ibuku telepon, 'Ibu lihat twitmu dan Ibu tahu Grindr itu apa. Ibu ngerti cara pakai Google tau,'" ujar Ben menirukan sang ibu.

Ben lebih beruntung. Ada seorang kawannya yang mengalami "emotional blackmail". "Temanku mau engga mau melela karena ayahnya ngecek HP dia. Ayahnya ngajak dia ke Sevel lalu ngasih dia ultimatum, 'Kalau kamu engga kembali "normal," Ayah bakal bunuh diri.' Jadi temanku itu mesti pura-pura 'udah normal', karena dia masih kuliah dan belum mandiri secara finansial."

Momen Pengakuan

Ketika Ghofar melela, dia dan ibunya sama-sama menangis dan saling berpegangan tangan. "Gue menjelaskan ke nyokap tentang seksualitas gue dengan cara yang dia bisa pahami. Gue akhirnya jujur bahwa gue engga suka cewek." Dia meyakinkan ibunya bahwa dia akan selalu menjadi anaknya. Pekerjaan Ghofar juga dijamin tidak akan terpengaruh orientasi seksualitasnya. Ibunya berkata, "Mama selalu bangga sama kamu. Selalu baik sama orang dan bikin Papa bangga." Malam itu, Ghofar tidur sekamar dengan ibunya dan berpelukan.

Setelah telepon dari ibunya itu, Ben pulang dari kosannya di Bandung ke rumah orangtuanya di Jakarta. Sesampainya di sana, ayahnya sedang tidak di rumah. Sang ibu menyuruhnya naik ke lantai dua, menunggu di kamar. "Aku takut banget. Aku pikir, kok bisa sih aku bego banget naro screenshot Grindr di media sosial. Aku takut bakal diusir dari rumah dan tidak bisa melanjutkan pendidikan. Saat itu hidupku masih ditanggung orangtua."

"Aku rasa penting banget ngobrol dengan orangtua menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Kita perlu menghindari menjelaskan segalanya dalam sekali kesempatan, fokus ke hal-hal terpenting saja seperti: homoseksualitas itu bukan penyakit."

Di dalam kamar, Ben sempat hendak membatalkan rencana melela. "Aku sempat menyalahkan diri sendiri. Aku mikir, kenapa sih aku engga bisa seperti orang normal yang melakukan hal-hal normal, seperti ngenalin pacar ke acara keluarga. Tapi di sisi lain, aku ingin menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya. Aku juga mencoba berempati dengan ibuku, gimana kalau dia sampai dimusuhin sama teman-teman pengajiannya."

Setelah menunggu selama dua jam, sang ibu menghampiri Ben. "Obrolan kami amat intens. Kami berdua menangis. Aku beruntung bahwa ibuku tahu seksualitas bukan sesuatu yang dapat diubah. Dia hanya khawatir karena seksualitasku berlawanan dengan ajaran agama. Dia sedih karena, menurut ajaran agama, aku pasti masuk neraka."

"Aku rasa penting banget ngobrol dengan orangtua menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Kita perlu menghindari menjelaskan segalanya dalam sekali kesempatan, fokus ke hal-hal penting saja seperti: homoseksualitas itu bukan penyakit, dan bukan otomatis berarti kita ateis. Bilang juga bahwa kita sayang pada orangtua kita."

Ibu Ben sadar bahwa dia memiliki hak untuk melela. Sang ibu mengizinkan dia melela pada teman-teman, namun meminta dia untuk tidak melela kepada keluarga besar dan ayahnya karena mereka cenderung lebih konservatif. "Satu jam kemudian ayahku pulang ke rumah. Ibuku langsung bisa bersikap seakan tidak terjadi apa-apa."

Hidup Terus Berlanjut

Butuh waktu bagi ibu Ben membiasakan diri. "Tapi sekarang ibuku sudah jauh lebih nyaman. Misalnya, kalau aku ngelihat cowok ganteng lewat aku sudah bisa bilang ke ibuku. Dia biasanya tertawa. Tapi kalau ternyata cowoknya biasa saja, dia bakal membantah. Sekarang kalau di acara keluarga ada yang meneror dengan pertanyaan 'Mana pacarnya? Kok engga dibawa?' atau 'Kapan kawin?' ibuku akan bilang ada hal-hal lain yang aku mesti kerjakan dulu. Keren banget lah."

Meski begitu, kadang Ben masih merasa bersalah karena ibunya mesti menyimpan rahasia dari sang ayah. "Ibuku mesti menyimpan rahasia dari suaminya sendiri. Rahasia tentang anaknya sendiri."

Sejak melela, Ghofar malah merasa semakin akrab dengan sang ibu. "Gue makin dekat sama nyokap, karena sekarang gue tahu dia sayang sama gue yang sebenarnya. Gue bisa cerita apa saja tanpa filter. Gue engga bilang langsung ke bokap gue, tapi dia tahu dari nyokap. Dia engga pernah membahasnya, sampai baru-baru ini. Dia nanya kapan gue mau nikah. Gue senang dia nanya gitu, tapi ya gue bilang masih mau fokus kuliah dan kerja."

Selain itu, melela kepada orangtua tak bisa sekali jadi. "Ini proses yang tak pernah usai. Terkadang kamu mesti melela berkali-kali. Ada temanku yang sudah melela tujuh kali karena ibunya lupa terus. Engga tahu ya, mungkin ibunya denial atau mikir ini hanya fase pencarian jati diri," ujar Ben.

"Orang-orang berpikir melela itu soal menunjukkan siapa kita sebenarnya—itu benar, tapi engga bisa cuma begitu," imbuh Ben. "Kalau alasan kita melela demi menjalin hubungan yang jujur dengan orangtua, maka kita mesti berempati dengan orangtua dan menghargai setiap langkah yang kita ambil bersama-sama."

*Nama narasumber telah diubah