Iklan
Musik

Merawat Ingatan Bersama Lokananta Project

Lokanta, perusahaan rekaman sekaligus gudang arsip musik tak ternilai di Indonesia, berhasil terhindari masuk kubur berkat upaya kolektif anak-anak muda dari bermacam latar belakang.

oleh Gilang Nugraha
12 Desember 2016, 2:14am

Semua foto arsip dari situs Lokananta Musik

Kesempatan kedua konon sulit datang. Lokananta, perusahaan rekaman tertua di negara ini, memperoleh keberuntungan itu justru dari anak-anak muda yang belum lahir saat lembaga ini berdiri dan mengalami masa jaya.

Lokananta dua dasawarsa terakhir semacam lorong sunyi yang jauh dari ingar-bingar lampu panggung dan pentas musik di Indonesia. Perusahan yang hidup di bawah naungan negara ini sempat nyaris masuk kubur. Tak banyak orang peduli pada perusahaan yang sekaligus melakukan pengarsipan sejarah musik Indonesia itu, sampai kemudian muncul kabar buruk pada 2010. Ribuan keping piringan hitam yang disimpan di Lokananta diberitakan hampir rusak akibat pelapukan dan jamur. Lembaga ini kesulitan keuangan, kendati bangunannya sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah.

Padahal, tanpa arsip yang dimiliki Lokananta, kita mungkin tak pernah tahu ada versi lain lagu kebangsaan "Indonesia Raya" yang terdiri dari tiga stanza. Begitu pula berulangnya sengketa soal lagu "Rasa Sayange" yang sempat disebut para netizen, "diklaim" oleh Malaysia. Lokananta memiliki semua arsip itu. Lokananta pula yang berjasa melahirkan album-album musisi legendaris seperti Gesang, Bing Slamet, Waldjinah, Titik Puspa, hingga Sam Saimun. Lokananta merekam tak hanya musik, namun juga memori kolektif bangsa ini dalam bentuk bebunyian.

Lokananta didirikan di Surakarta, pada 1956, untuk mendukung kinerja Radio Republik Indonesia. Pemrakarsanya adalah R. Maladi, Menteri Penerangan kala itu. Fungsi awal Lokananta adalah pabrik piringan hitam dan perusahaan transcription service. Lokananta mulao mengalami kesulitan keuangan setelah Departemen Penerangan yang menaunginya dibubarkan. Status dan nama Lokananta kemudian kembali berubah setelah pemerintah pusat melikuidasinya menjadi Perum Percetakan Nasional RI (PNRI) Cabang Surakarta hingga saat ini.

Berkat artikel yang ditulis oleh Fakhri Zakaria dan Ayos Purwoaji pada 2010, bermacam kampanye kemudian dilakukan secara swadaya. Musisi seperti Efek Rumah Kaca dan White Shoes and the Couple Company berinisiatif melakukan sesi rekaman di Lokananta, selain membantu operasional juga membangun kesadaran publik tentang pentingnya mendukung Lokananta.

Sekumpulan anak muda terdiri dari penulis, fotografer, dan desainer, bahu membahu menyelamatkan Lokananta. Mereka melakukan digitalisasi arsip yang dimiliki Lokananta, membuat kampanye, dan kini membuat buku yang merekam upaya membangkitkan lagi perusahaan ini. Digitalisasi itu sekarang berhasil mencakup 5.500 reel tape yang menjadi master dari arsip-arsip musik yang dimiliki Lokananta.

Anak-anak muda itu, tergabung dalam kolektif bernama Lokananta Project, mempublikasikan arsip-arsip yang telah di digitalisasi dalam bentuk perpustakaan digital melalui situs web lokanantamusik.com yang telah resmi diluncurkan pada awal bulan Februari 2016. Di situs itu, sebagian arsip rekaman bisa didengar oleh publik secara cuma-cuma. Termasuk misalnya, rekaman band lawas Remadja Bahana atau Combo Ria, juga pidato-pidato Presiden Soekarno yang kesohor itu.

Saya berkesempatan mewawancarai Manajer Lokananta Project Syaura Qotrunadha dan anggota tim Lokananta Project, Fakhri Zakaria, membahas apa saja yang perlu dilakukan demi menjaga arsip-arsip musik negara ini. Perbicangan kami berlangsung di tengah-tengah kesibukan keduanya menyelesaikan buku tentang Lokananta. Buku itu terbit pertengahan November lalu.

Bagaimana awalnya Lokananta Project dimulai?
Syaura Qatrunadha: Saya sedang berada di Lokananta mengerjakan tugas kuliah dan tertarik membuat sesuatu bagi mereka setelah melihat arsip-arsip Lokananta seperti piringan hitam rekaman pidato Ir. Soekarno. Lalu tercetus ide membuat buku dan situs web, karena pada saat itu Lokananta masih belum memiliki situs web dan satu-satunya buku resmi yang dapat dipakai untuk rujukan penelitian musik dan sejarah dari Lokananta hanya disertasi milik Phillip Yampolsky yang berjudul "Lokananta: A Discography of The national Recording Company of Indonesia 1957-1985". Saya kemudian mengajak duo penulis Fakhri Zakaria dan Ayos Purwoaji serta beberapa teman kuliah di Insititut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ikut bergabung. Awalnya antara kami dan Lokananta masih belum memiliki kerjasama resmi, namun setelah terjadi pergantian pimpinan di tubuh Lokananta akhirnya kami dan pihak Lokananta sepakat untuk membuat sebuah Nota Kesepahaman.

Apa tujuan utama Lokananta Project?
Fakhri Zakaria: Membuat suatu mekanisme legal agar masyarakat bisa mengetahui, menikmati, serta mengakses koleksi arsip yang berada di lokananta secara mudah melalui buku dan perpustakaan digital.
Syaura: Kami juga ingin agar buku tersebut nantinya bisa menjadi rujukan tambahan bagi penelitian musik di Indonesia, terutama di Lokananta.


Kenapa durasi lagu yang terdapat di perpustakaan digital Lokananta tidak dapat didengarkan sepenuhnya?
Syaura: Karena album-album yang kami unggah tersebut bukan seri dagang dan status dari pemegang hak ciptanya masih belum jelas. Jadi untuk menghindari sengketa dan hal yang tidak diinginkan kami memutuskan untuk tidak mengunggah lagu dengan durasi penuh.
Fakhri: Untuk mengurus perizinan kami terkendala oleh beberapa hal seperti sulitnya mencari ahli waris dari karya-karya tersebut, entah karena yang bersangkutan sudah meninggal atau anggota keluarganya yang sulit ditemui. Tapi lagu-lagu tersebut masih bisa didengarkan secara penuh pada saat kunjungan langsung ke Lokananta.

Apa yang membedakan Lokananta Project dengan kampanye lain yang berusaha menyelamatkan perusahaan rekaman ini?
Fakhri: Kami ingin membuat sesuatu yang sifatnya berkelanjutan. Artinya setelah proyek ini selesai dan kami sudah tidak berada di sana, pihak Lokananta dapat meneruskan sendiri apa yang telah kami mulai. Selain itu, kami menginginkan agar semua hasil pengarsipan dan digitalisasi ini dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.
Syaura: Proyek ini memanfaatkan secara langsung arsip-arsip Lokananta untuk dibuat menjadi sebuah buku dan perpustakaan digital. Jadi masyarakat umum nantinya bisa melihat secara langsung apa saja yang sebenarnya berada di Lokananta melalui produk tersebut.

Seperti apa proses perekrutan relawan Lokananta Project?
Syaura: Prosesnya tidak terlalu terlalu kaku dan muluk-muluk, yang penting mereka dapat diajak bekerja sama dan mau belajar. Fakhri Zakaria, Ayos Purwoaji, dan Dzulfikri Putra Malawi, saya mengajak mereka bergabung karena ketiganya berpengalaman sebagai jurnalis dan penulis musik. Selain itu, Fakhri dan Ayos juga pernah menulis artikel tentang Lokananta. Sampai sekarang saya belum menemukan penulis lain yang melakukan riset cukup dalam terhadap Lokananta seperti mereka.

Apakah masalah Lokananta Project saat melakukan proses pengarsipan dan digitalisasi?
Fakhri: Sejauh ini kendala dalam penulisan buku adalah data. Berbagai macam perubahan status dan fungsi yang terjadi di masa lalu mengakibatkan banyak data-data penting Lokananta tercecer di mana-mana. Seperti ada semacam missing link yang harus ditelusuri, terlebih lagi beberapa narasumber kunci dari Lokananta juga sudah ada yang meninggal dunia. Saking susahnya data, pihak Lokananata sendiri sampai saat ini tidak mengetahui angka penjualan dari album-album yang pernah mereka rilis.

Seperti apa kondisi dari berbagai macam koleksi Lokananta tersebut pada saat ini?
Fakhri: Kondisinya saat ini sudah lebih bagus dibandingkan enam tahun lalu yang masih berserakan seperti cabe dan bawang di pasar. Saat ini arsip-arsip tersebut sudah tertata di lemari khusus yang ditaruh di ruangan berpendingin udara dengan pengkategorisasian berdasarkan genre.
Syaura: Untuk surat-surat kontrak banyak yang sudah dimakan rayap, beberapa klise foto juga kondisinya lumayan parah dan berjamur sehingga mengakibatkan gambar yang dihasilkan menjadi tidak terlalu jelas.

Mewakili generasi muda, seperti apa pandangan kalian terhadap Lokananta sebagai perusahaan rekaman milik pemerintah?
Syaura: Lokananta menyimpan banyak sekali peristiwa-peristiwa sejarah di Indonesia dalam berbagai macam arsipnya, tetapi sayangnya arsip-arsip tersebut tidak terlalu dirawat dengan baik karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang terdapat di Lokananta sampai saat ini masih sangat kurang. Kurangnya SDM juga mengakibatkan mereka tidak memiliki energi lebih untuk fokus dalam mengajak dan mengayomi pihak luar yang melakukan kerja sama dengan Lokananta.
Fakhri: Lokananta memiliki rekaman sejarah republik ini dan negara seharusnya bisa berperan dalam merawatnya, karena kasus klaim lagu yang pernah ramai terjadi pun sebenarnya diakibatkan oleh kebodohan kita yang tidak bisa merawat arsip. Sedangkan dari aspek bisnis, Lokananta memiliki rilisan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi serta infrastruktur studio dan alat duplikasi yang bagus. Potensi ekonomi tersebut bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan, apabila dikelola dengan baik. Saat ini jasa duplikasi menyumbang 30 persen terhadap total pendapatan Lokananta.

Menurut kalian apa sebenarnya masalah terbesar dalam usaha pengarsipan musik di Indonesia?
Syaura: Pengarsipan musik di Indonesia sudah mulai membaik sejak adanya Irama Nusantara dan Arsip Jazz, setidaknya ada yang mau mulai konsisten melakukannya. Saya memiliki keyakinan bahwa 20-30 tahun ke depan usaha pengarsipan musik akan jauh lebih baik.
Fakhri: Pengarsipan adalah kerja sunyi dan keuntungannya tidak bisa secara langsung dirasakan sekarang. Kita tidak bisa langsung berbicara tentang nilai ekonominya pada saat ini, karena kegiatan pengarsipan dilakukan untuk menerangi masa depan. Jika apa yang terjadi di masa lalu dan di masa sekarang tidak kita arsipkan dengan baik, lalu generasi berikutnya bisa mendapatkan informasi dari mana?

Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dan enak dibaca.

Tagged:
indonesia
Solo
Vice Blog
Musik Indonesia
Sejarah Indonesia
Lokananta
Arsip Indonesia
Arsip