Berburu Hantu

Saat Berburu Foto Hantu, Saya Malah Menemukan Peninggalan Keluarga Soeharto

Indonesia punya banyak cerita mistik. Kiprah Keluarga Presiden Ke-2 RI itu menjadi masa lalu yang selalu menghantui bangsa ini, termasuk saat kami bertualang di Bojonggede, Bogor.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
23 Januari 2017, 9:12am

Semua foto oleh Rizky Rahadianto

"Pocong satu… Pocong satu"

"Masuk… Ini baru aja selesai mengeksplor lantai satu"

"Lanjutkan!"

Panggilan berbunyi berulang kali lewat handy talky. Kami baru saja selesai berkeliling lantai pertama sebuah rumah mewah, komplek perumahan yang terbengkalai di Bojonggede, Citayam, pinggiran Bogor. Desas-desus setempat berembus, jika di rumah mewah dua lantai ini seorang perempuan dibunuh di bak mandi.

Saya dan Rizky dari VICE Indonesia ditemani Donny, anggota Ghost Photography Club. Donny setahun terakhir rajin menghabiskan malam-malam minggunya "mencari yang tidak dicari", Donny mengaku sengaja 'menyia-nyiakan' malam minggunya mencari hal yang selama setahun ini belum pernah dia tangkap: penampakan mahluk halus.

Hal-hal supranatural sangat populer di Indonesia. Kami mengenal dedemit seperti sundel bolong hingga tuyul. Orang-orang meyakini berbagai jenis mahluk halus itu nyata. Masalahnya, di zaman ponsel pintar sudah marak seperti sekarang, kenapa penampakan hantu tidak kunjung bertambah banyak? Itulah ide dasar yang mendorong saya dan Rizky menemui komunitas Ghost Photography Club. Komunitas berbasis di Jabodetabek yang secara saintifik ingin membuktikan keberadaan mahluk halus melalui rekaman foto.

Kami ternyata langsung diajak untuk berburu penampakan hantu di Bojonggede. Di rumah pertama yang kami datangi, Donny mengajak kami melakukan 'Hening', semacam ritual mematikan penerangan dan tidak berbicara satu sama lain untuk merasakan energi yang ada di tempat tersebut. "Macam-macam sih (penampakan hantu), tergantung kita pikirannya apa. Karena mereka menyesuaikan sama apa yang kita pikirkan". Donny tiba-tiba bicara di tengah suasana hening. Suaranya yang tiba-tiba muncul lebih menakutkan dibanding kegelapan di sekitar kami. "Misalnya kita mikirin sosoknya cewek, ya cewek yang keluar. Misalnya pocong ya pocong".

Kamar mandi seram.


Kami beranjak meninggalkan rumah tersebut menuju safe zone. Dari luar, bangunan-bangunan dalam komplek ini mirip satu sama lain. Hampir semua bangunan di komplek ini ditinggalkan, beberapa sudah dijarah warga. Ada beberapa rumah lampunya menyala, tapi tidak yakin juga ditempati pemiliknya, sebagian lagi diberi tanda "DIJUAL" tapi sepertinya tak kunjung laku bertahun-tahun. 

"Dulu sejarahnya ini punya grupnya keluarga Cendana," kata Dendy, anggota keamanan kampung yang berpatroli malam itu.

Keluarga Soeharton menelantarkan komplek tersebut begitu saja sejak Orde Baru runtuh. Kasus serupa dari Keluarga Cendana ditemukan VICE Indonesia saat menelusuri komplek hotel terbengkalai Bali. Hampir semua aset bangunan milik keluarga Soeharto yang dibiarkan tak terawat selalu menjadi tempat yang dianggap warga berhantu. "Ini rumah itu dari tahun 80-an sudah ada, cuma villa-villa ya," imbuh Dendy. Mbah Sepuh, tetua kampung, mengatakan dulu komplek perumahan mewah ini dijaga personel Kopassus.

Oh, ini sih bukan foto penampakan. Itu saya difoto dari belakang.


Jam menunjuk pukul 1.30 dini hari. Masih belum ada penampakan apapun. Kami mulai mengantuk, dan berusaha mencari tempat untuk beristirahat. 

Malam tanpa foto mengejutkan sudah biasa bagi Donny dan kawan-kawan. Untuk menangkap gambar makhluk supernatural, komunitas ini tidak mengandalkan klenik. Ghost Photography Club berkeliling Jabodetabek mengandalkan teori sains soal kamera. "Jadi kamera itu lebih peka untuk menangkap cahaya yang kita itu engga bisa nangkap. Kayak infra merah, ultraviolet, itu dia enggak bisa menangkap cahaya yang mata kita engga bisa nangkap," kata Yogi yang bertindak sebagai pemimpin regu.

Malam itu di bulan purnama nyala terang, terlalu terang untuk ukuran malam berawan berindeks hujan. Bahkan sebelum kami masuk menggerayangi rumah pertama, suasana di luar memang sepi, tapi suara puji-pujian dari masjid di kejauhan, balap-balapan dengan dangdutan.

Saya dan Rizky memutuskan tidur sebentar di jalanan sekitar safe zone, ditemani tetua kampung, anggota keamanan, dan Ketua RT setempat. Mereka penuh semangat menceritakan bercerita sejarah komplek terbengkalai itu. "Dulu komplek ini komplek elite, enggak sembarangan orang bisa masuk ke sini, orang kampung aja kalau mau lewat takut. Takutnya bukan apa-apa, satpamnya galak-galak. Kalau bukan ada kepentingan banget, engga berani masuk," kata Dendy. Saya berusaha keras mencatat semua ceritanya, sebab kantuk sudah menyerang. Lalu kami tertidur sejenak.

Kami pun bangun, untuk masuk ke rumah berikutnya. Rumah satu lantai yang lebih kecil tak terurus serupa cagar alam mini. Rumahnya terkunci, tapi ada lubang di pintu belakang. Setelah masuk beberapa lama kami masih belum merasakan apapun.  Sedang asyik-asyiknya berburu penampakan, kami mendadak dijemput paksa oleh salah satu anggota tim yang terengah-engah.

"Ayo kalian cepet deh keluar semua. Gue pikir kalian bawa HT, kenapa engga ada yang bawa sih?"

Rumah berikutnya. Masih juga tidak ada penampakan.


Ternyata kami dijemput paksa karena ada yang menjawab panggilan handy talky untuk kami dari safe zone. "Awalnya gue panggil 'pocong satu', eh ada yang jawab 'masuk'. Gue pikir itu kalian, tapi ternyata HT ada di safe zone," ungkapnya, sambil terus memaksa kami berjalan cepat.

Biarpun demikian, tetap saja secara personal kami tidak merasakan apapun. Begitu pula dengan tim GPC yang bersama kami. "Di tiap hunting enggak selalu dapat, karena kita enggak pakai klenik. Kita enggak memaksakan mereka untuk hadir," jelas Yogi yang malam itu memimpin regu.

Berikutnya, kami masuk empat rumah berbeda, masih di komplek yang sama tapi blok yang berbeda. Rumah ketiga yang dianggap paling menyeramkan pun lagi-lagi tidak berhasil bikin bulu kuduk kami merinding. Padahal di rumah ketiga, Yogi dulu pernah ditertawai perempuan dan ketiga temannya yang lain habis-habisan dikerjai si penghuni. Begitu juga dengan rumah keempat yang katanya dibangun di atas komplek pekuburan dan dikelilingi parit yang katanya sering jadi tempat buang mayat. Kami tidak berjodoh dengan mahluk hantu di semua lokasi yang kami datangi malam itu.

"Biasanya kalaupun engga tertangkap di kamera, pasti ada saja anggota kita yang lihat. Kalau penampakan belum tentu dapat, tapi kalau dijahilin biasanya kita banyak," ungkap Donny sambil sibuk jeprat-jepret sendiri.

Anggota tim Ghosthunting sibuk memburu penampakan.


Kami jadi ingat, sebelumnya kami juga pernah memotret Aryo Handindyojati, pawang hujan eksentrik melayani klien seputaran Jakarta. Dia pernah bilang, semua hal bersifat supranatural berasal dari pikiran kita. "Dengan lo mikir seperti itu, subliminally lo langsung mentransfer energi negatif ke situ, apalagi nature menyerap energi dengan baik. Makanya, banyak rumah tua dianggap angker karena banyak orang shouting anger ke situ dan diserap dengan baik."

Jujur saja, saya dan Rizky tidak merinding sedikitpun selama bertualang di rumah-rumah kosong Bojonggede. Kami tidak merasakan adanya hawa panas atau dingin, tidak pula merinding.

Apakah karena hantu di komplek milik keluarga Soeharto ini yang takut sama kami, atau memang kami berdua benar-benar tak berbakat mendalami hal-hal supranatural?

Semoga sih karena alasan yang pertama.