Iklan
Bertanya Pada Pakar

Mbah Gotho Akhirnya Berpulang. Apa Penyebab Manusia Bisa Hidup 146 Tahun?

Pria asal Sragen itu memesan nisan sejak 1992, namun baru awal pekan ini meninggal. Kami menghubungi dokter menanyakan resep panjang umur seperti Mbah Gotho.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja Dan Adi Renaldi
03 Mei 2017, 12:30pm

Sumber gambar: video dari akun Youtube Imam Saputro.

Dalam usia 146 tahun, Suparman Sidomejo yang biasa disebut Mbah Gotho—seorang perokok berat berumur panjang dan disebut sebagai manusia tertua di dunia—akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di Sragen, Jawa Tengah. Mbah Gotho, yan hidup mendekati 1,5 abad, tiba di penghujung usia. Momen yang sudah dia tunggu sejak lama. Jika kalian mendengar cerita dan penuturan Mbah Gotho, kalian barangkali menyesal bila pernah terpikir ingin hidup selamanya.

Ketika Mbah Gotho lahir, Alexander Graham Bell masih butuh enam tahun sebelum berhasil mematenkan penemuan telepon. Pesawat terbang masih dianggap sebagai fiksi ilmiah. Mbah Gotho melalui masa kolonialisme Hindia Belanda, invasi tentara Jepang, jatuh dan bangkitnya Soekarno, kekuasaan Orde Baru pimpinan Suharto, hingga reformasi disusul pergantian abad 21 yang disongsong Indonesia.

"Saya hanya ingin mati. Cucu-cucu saya semuanya sudah mandiri," katanya saat diwawancarai media tahun lalu.

Tepat pada Senin 1 Mei lalu, jenazah Mbah Gotho dikebumikan di tempat pemakaman yang dia siapkan sejak 25 tahun lalu. Mbah Gotho juga membeli nisan dan peralatan pemakaman sendiri agar tidak menyusahkan anggota keluarganya. Mbah Gotho memperistri empat perempuan, memiliki lima anak, 25 cucu, serta dan cicit yang berjumlah 27 orang.

"Dia enggak minta banyak hal. Sebelum meninggal, Mbah Gotho cuma mau kami, keluarganya mengikhlaskan dia," kata Suryanto, salah satu cucunya.

Dalam dokumen Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya, pria asal Desa Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah ini tercatat lahir 31 Desember 1870. Namun, tahun yang tercantum dalam KTP itu merupakan klaim tanpa validasi dan pembuktian lebih lanjut. Pendokumentasian data kelahiran di Indonesia dimulai sejak 1900. Artinya Mbah Gotho lahir 30 tahun sebelum proses pengarsipan penduduk secara tertib dilakukan di Hindia Belanda.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sragen, Wahyu Wulyanto mengatakan Kartu Keluarga seharusnya bisa dijadikan rujukan validasi tanggal kelahiran seseorang. Namun, lagi-lagi, saat Mbah Gotho lahir belum ada sistem akta kelahiran. Meski begitu, nyaris semua tetangga dan famili meyakini Mbah Gotho benar-benar sudah hidup melewati 100 tahun.

Mbah Gotho berhasil melewati dua kali lipat angka harapan hidup penduduk Indonesia yang bertengger di angka 70,1 tahun. Tidak cuma Mbah Gotho sebetulnya dari Tanah Air yang diklaim masuk jajaran manusia tertua sedunia. Nenek Anami asal Purwakarta, Jawa Barat tahun ini segera menginjak usia 142 tahun.

Ada pula perempuan asal Toraja, Sulawesi Selatan, yakni Maria Kabiung yang berusia hampir 137 tahun. Sayangnya orang-orang tertua asal Indonesia ini belum bisa diverifikasi keasilan usianya akibat kurangnya data-data valid. Hingga saat ini, pemegang rekor manusia tertua di dunia dipegang oleh perempuan asal Prancis, Jeanne Calment. Calment meninggal pada usia 122 tahun pada 1997. Dengan dokumen dan arsip yang lebih bisa diverifikasi, Calment akhirnya memegang rekor Guinness tersebut.

Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Mbah Gotho? Mungkinkah di masa mendatang ada manusia lain yang melampui usianya?

VICE Indonesia menghubungi Daeng Faqih, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia, mencari tahu faktor apa saja yang menyebabkan seorang manusia bisa hidup begitu lama. Kami pun bertanya apa alasan orang-orang dari era Hindia Belanda bisa berumur relatif panjang dibanding generasi yang lebih muda di Indonesia.

VICE: Sebenarnya apa faktor yang menyebabkan Mbah Gotho bisa berumur panjang?
Daeng Faqih: Sebenarnya banyak faktor yang menentukan usia seseorang. Pertama ada faktor genetik. Setiap sel yang dimiliki individu itu berbeda-beda. Ada yang namanya apoptosis atau matinya sel-sel sebelum digantikan yang baru. Proses pergantian sel itu ada yang panjang dan ada yang pendek. Pergantian sel yang panjang memicu usia yang lebih panjang pula. Faktor lain adalah perilaku seperti kebiasaan makan, minum, dan aktivitas fisik. Kemudian lingkungan tempat tinggal dan pelayanan kesehatan.

Berapa usia harapan hidup rata-rata orang Indonesia sekarang?
Sekitar 70 tahun. Ini dipicu karena orang-orang sudah lumayan aware terhadap gaya hidup dan kesehatan. Juga membaiknya pelayanan kesehatan.

Ada mitos bahwa orang-orang Indonesia zaman dulu memiliki usia lebih panjang?
Sebenarnya mitos itu ada benarnya. Yang membedakan dengan orang zaman sekarang adalah perilaku dan kebiasaan. Terutama perilaku makan dan minum. Perilaku makan dan minum dari dulu tidak berubah. Tubuh juga memerlukan asupan yang sama sejak dulu. Sseiring kemajuan teknologi, banyak sekali makanan olahan dengan bahan kimia yang banyak.

Bisakah kita asumsikan gaya hidup orang Indonesia yang mengalami masa penjajahan lebih sehat?
Kemungkinannya memang perilaku orang [Indonesia] zaman dulu lebih sehat. Orang zaman dulu mungkin bisa mengambil langsung dari alam tanpa campur tangan teknologi. Aktivitas fisik juga berpengaruh. Dulu orang mengandalkan fisik contohnya untuk transportasi, sekarang apa-apa naik motor atau mobil.

Mbah Gotho ini hidup saat vaksin kolera pertama ditemukan dan mungkin belum masuk Indonesia. Bagaimana dia bisa hidup lama tanpa vaksin?
Vaksin itu kan dimaksudkan agar tubuh memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu. Ingat, di zaman modern, polusi makin banyak, perubahan teknologi dan perilaku bisa saja memunculkan penyakit-penyakit baru.