Panduan Mendalami Musik Devo Bagi Pemula

Devo adalah proyek seni untuk mengjungkirbalikan kehidupan modern lewat bungkus musik populer yang catchy. Ingin tahu lebih dalam soal band nyentrik jenius itu? Baca artikel ini.

|
06 September 2018, 12:03pm

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Bagi pendengar musik awam, Devo selamanya akan diingat sebagai band aneh dari Amerika Serikat yang personelnya demen banget pakai topi pot warna merah. Atau paling banter band one hit wonder yang cuma jadi catatan kaki sejarah rock lewat lagu “Whip It.” Padahal, bagi sebagian orang lainnya—nerd musik, kritikus, sampai hipster—Devo adalah sebuah band yang dianggap amat jenius.

"Sepanjang dekade 1970'an, kami paham betul kalau ide pemberontakan, revolusi, dan segala bentuknya yang lain sudah usang dan konyol," tutur bassis dan salah satu pendiri Devo, Gerald Casale dalam sebuah wawancara baru-baru ini. "Kami memainkan musik dengan dualitas yang saling bertentangan dalam segala hal yang kami buat, baik itu dalam bentuk musik dan visual pengiringnya karena itu memang konsep utamanya. Tak ada yang kami lakukan secara kebetulan."

Di baliknya populernya single “Whip It,” anggota Devo menjadi pionir art punk, menciptakan video klip pertama dan memengaruhi karya musisi populer dan budaya pop yang muncul setelah mereka. Seriusan. Jejak pengaruh Devo bisa kita rasakan dari Neil Young sampai Radiohead, dari The Simpsons hingga Martin Scorcese.

Saat lima mahasiswa kampus seni dari Akron, Ohio, mencuat namanya lewat album debut mereka yang diproduseri Brian Eno, Q: Are We Not Men? A: We Are Devo!, yang tepat berumur 40 tahun pada 2018, pendengar musik masa itu kebingungan memahami Devo. Mereka tak punya tampang dan tabiat rock star. Seakan akrab dengan ironi, Devo manggung dengan setelan Tyvek kuning dan kacamata tiga dimensi. Lirik-lirik mereka penuh dengan humor gelap. Lebih dari itu, sound mereka amat avantgarde—semacam gabungan urgensi dengan eksperimentasi elektronik—sering diiringi dengan artwork dan film surealis. Kadang, anggota Devo tak segan membacakan manifesto yang berisi logika periklanan untuk menyinyiri sekaligus menjungkir balikan budaya konsumen Amerika

Penonton televisi kebingungan memahami Devo; kritikus lebih sering menjauhi mereka. Adapun label mereka malas-malasan mempromosikan apapun yang dikerjakan Devo. Ditengah kekecewaan kultur pasca dekade ‘60an dan maraknya hedonisme rock and roll, tak ada preseden untuk band semacam Devo. salah satu alasannya adalah karena Devo pada dasarnya adalah proyek performance art multidisipliner daripada sekadar band. Didirikan tak lama setelah Kent State massacre, Devo datang dengan humor-humor yang pedas, estetika yang tajam serta filosofi yang mereka namai "devolution", sebuah konsep yang menyatakan manusia sedang dalam proses kemunduran, alih-alih mengalami kemajuan.

Kendati ada segelintir musisi lain yang langsung memahami gagasan yang mereka usung—contohnya David Bowie dan Iggy Pop, yang kemudian membantu Devo mendapatkan kontrak album segera setelah menonton film pendek Devo, The Truth About Devolution—Devo baru bisa membius pasar musik mainstream setelah merilis single “Whip It.”

Bahkan setelah single itu memperkenalkan Devo ke publik musik yang lebih luas, band ini masih sering disalahpahami. Lantaran videoklipnya yang sarat adegan BDSM, banyak orang mengira bahwa Devo adalah band penggemar sadomasokisme dan doyan masturbasi. Devo tak pernah dipandang sebagai satir terhadap konformitas ala Amerika. Anggota Devo sendiri tak keki atas kesalahpahaman ini. Pasalnya, kesalahan interpretasi ini tak cuma bikin album mereka laris tapi juga bukti bahwa apa yang mereka nyinyiri benar adanya.

Nyaris 50 tahun setelah band ini didirikan, kisah tentang Devo, termasuk kritik halus band ini terhadap kultur korporat, kapitalisme, pemujaan teknologi, dan histeria politik, makin relevan di masa kebangkitan populisme seperti yang terjadi di AS, Eropa, maupun Indonesia. Devo sudah jauh-jauh hari memperingatkan kita tapi kita acuh saja: devolusi itu beneran ada. Kalian pikir manusia makin makmur bakal makin berpikiran progresif hah? Salah besar.

Jadi, Noisey berusaha memberi panduan untuk pemula yang ingin memahami Devo lebih lanjut. Selamat membaca semoga kalian tak salah lagi memahami sumbangan band sepenting Devo bagi perkembangan budaya pop global.

Inilah Daftar Lagu Devo Paling Penting dan Idealis

Devo itu band yang kelewat cerdas. Buka cuma karena mereka bisa menertawakan tatanan kehidupan orang Amerika pada masanya, tapi juga karena mereka benar-benar bisa menggubah lagu-lagu kuat yang menggabungkan ritme post-punk, wilayah musik elektronik yang belum dijajal band lain serta kritik sosial yang halus. Track-track ini adalah titik awal yang paling ideal untuk memulai menjajal diskografi Devo. lagu-lagu ini mungkin adalah karya-karya Devo yang paling mudah dicerna lagi-lagi bukan karena lagu-lagu ini patuh pada pakem musik pop, melainkan karena mampu menunjukkan integrasi tiga elemen di atas sembari menunjukan lebarnya kreativitas Devo.

Alhasil, lagu-lagu yang dianggap sebagai inti diskografi Devo ini bervariasi, dari cover lagu The Rolling Stones “(I Can’t Get No) Satisfaction” yang merusak format lagu aslinya, ‘Freedom of Choice” anthem tentang kebebasan dari kewajiban membuat pilihan hingga lagu punk yang dengan lirik yang kurang sopan macam “Gut Feeling/Slap Your Mammy.”

Playlist: “Gut Feeling/Slap Your Mammy” / “(I Can’t Get No) Satisfaction” / “Mongoloid” / “Uncontrollable Urge” / “Freedom of Choice” / “Gates of Steel” / “Girl U Want”

Ini Sisi Devo Sebagai Band Aneh Mengusung Agitasi Propaganda ala Punk

Musik Devo tak bisa dipisahkan dari karya seni dan film mereka yang mengkooptasi aliran seni seperti Dadaisme, propaganda futuris dan logika periklanan,

"Band kami mewakili kebebesaan sesungguhnya, daripada sekadar kebebasan dalam iklan di mana konsumen diajari cara menjadi bebas," ujar Casale. "Kami ini seniman perfomance art saat istilah itu belum ditemukan."

Devo bermula sebagai band fiktif dalam film pendek absurd garapan Chuck Stalter, The Truth About Devolution. Dan sambutan yang didapatkan oleh film itu membuat anggota Devo untuk membawa proyek ini lebih jauh. Film dan aksi panggung Devo umumnya bersifat kontroversial dan konfrontasional yang melibatkan topeng-topeng karet, sexual innuendo yang dianggap tabu hingga karakter bernama “Booji Boy” (dieja “boogie boy”), maskot Devo yang ganjil dan kekanak-kanakan serta ayahnya “General Boy,” pejabat militer dengan kondisi mental yang tidak stabil dan sering mengaku pernah diculik alien.


Tonton variety show VICE menyorot bakat-bakat baru musik Indonesia:


Realitas buatan yang ganjil ini menjadi kerangka karir dan output-output awal Devo. Contoh yang paling gampang adalah track “Jacko Homo” track yang sangat dipengaruhi oleh kisah Island of Dr. Moreau. Lagu inilah yang secara paripurna—lengkap dengan sound synth sci-fi, genjrengan gitar primitif dan filosofi yang rumit di dalamnya—memamerkan dikotomi seni tinggi dan rendah dalam karya-karya Devo.

Playlist: “Jocko Homo” / “Too Much Paranoias” / “Smart Patrol/Mr. DNA” / "Devo Corporate Anthem" / "Clockout" / “General Boy Visits Apocalypse Now” / "Be Stiff (Booji Boy Version)" / “Puppet Boy”

Lagu-Lagu Ini Membuktikan Devo Pakar Soal Synthesizer

Cara Devo menggunakan synthesizer sudah kadung jadi DNA musik pop modern sampai kita lupa bahwa Devo yang memulainya. “Whip It” adalah salah satu lagu pop populer yang memakai synthesizer sebagai instrumen utama, menggeser fungsi gitar. Melodinya aneh tapi masih punya aspek musik pop mainstream—pendeknya, tak umum, futuristik tapi memikat. Devo membawa inovasi yang diperkenalkan Kraftwerk, Bob Moog, dan lainnya dan memasukkannya dalam ritme rock. Hasilnya? Lagu yang memanfaatkan instrumen asing dengan cara yang familiar, atau sebaliknya.

Pasca debut mereka, Devo menggeser konsep musik mereka, menjauhi sound-sound gitar obscure menuju komposisi yang mengandalkan suara synthesizer analog dan sound pop melodik (Tak ayal beberapa lagu mereka ironisnya malah jadi jingle iklan). Pergeseran ini—serta keterlibatan Devo dalam dunia korporasi musik—kemudian memecah fan mereka. Namun, di sisi lain, sound baru inilah yang menegaskan hubungan spiritual njelimet mereka dengan inovasi teknologi. Sound baru ini pula yang memberi konteks baru synthesizer dalam musik pop modern.

Devo dengan jenius menggunakan sound synthesizer yang kadang terdengar menyeramkan, disonan tapi tetap tak aneh diperdengarkan di lantai dansa sebagai pemanis pesan-pesan anti-kemapanan yang mereka sebarkan. Alhasil lagu-lagu yang mengandalkan bebunyian synthesizer umumnya ciamik sekaligus mengganggu, dari lagu instrumental instrumental “Devo Corporate Anthem,” track arthouse “Big Mess” hingga lagu technopop paling nyandu sepanjang zaman “Whip It."

Playlist: “Whip It” / “Snowball" / "Strange Pursuits” / “Big Mess” / “Wiggly World” / "Here to Go (Go Mix Version)" / "Going Under” / "Time Out for Fun"

Berikut Sisi Paling Ganjil dan Nyinyir dari Devo

Devo tak selamanya diciptakan untuk berada di luar kancah pop mainstream. Sebaliknya, Devo justru menembus kancah pop mainstream sebab dari situlah pesan-pesan subversif mereka lebih mudah disebarkan—dan diterima lebih banyak orang. Devo memang pernah mengobrak-abrik “Satisfaction,” tapi band yang sama juga bisa dengan mudah menulis lagu yang kelewat rapi dan catchy guna menyamarkan lirik-lirik mereka yang nyinyir.

Beberapa lagu di antaranya—salah satunya “Working in the Coal Mine,” bisa jadi sangat menipu. Devo bermain lagu-lagu iklan pendek dari masa pasca Perang Dunia II untuk menjungkirbalikan lirik lagu aslinya dinyanyikan Lee Dorsey pada tahun 1966. Lagu lainnya seperti, “Beautiful World,” malah jadi lagu iklan beneran; entah siapa yang mengusulkan untuk mengadaptasi lagi ini jadi lagu iklan. Yang jelas, siapapun orang itu, dia lupa bahwa Devo sebenarnya tengah nyinyir pada konformitas kehidupan moderen.

Playlist: “Beautiful World” / "Come Back Jonee" / “Jerkin Back ‘N’ Forth” / “Working in the Coal Mine” / “Through Being Cool” / “Peek-A-Boo” / “Fresh”


Baca juga artikel lain dari seri Panduan Noisey untuk membantu para pemula mengenal kiprah musisi/band legendaris:

Panduan Mendalami Musik Björk Buat Pemula

Panduan Mendalami The Cure Buat Pemula

Panduan Menyelami Album-Album Nine Inch Nails Untuk Pemula

*Andrea Domanick adalah penggemar Devo garis keras. Follow dia di Twitter.