Iklan
musik dan kebudayaan

Warisan Kultural Penggemar Metal di Indonesia Era 80'an yang Kini Jadi Orang Tua Gen Z

Penulis cum metalhead Yuka Narenda bersama Gita Widya Laksmini menulis bareng buku 'Heavy Metal Parents.' Musik cadas ini membentuk identitas kultural sebagian anak muda saat Orde Baru. Apa sih makna jadi metalhead yang kini beranjak tua dan punya anak?

oleh Marcel Thee
23 Agustus 2018, 8:32am

Buku Heavy "Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an" yang ditulis oleh Yuka Dian Narenda Mangoenkoesoemo dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo. Foto oleh Ananda Badudu.

Kebanyakan orang terpapar musik metal (mau itu heavy, trash, death, hair, dan segala macam subgenre lain yang bisa diberi akhiran metal) saat remaja. Ini tidak mengherankan karena musik ekstrem macam ini mengandung berbagai nilai yang digandrungi anak muda: perlawanan, pemberontakan, agresivitas, dan hal-hal yang kerap dianggap tabu. Namun seiring anak metal bertambah tua, dewasa, mapan, berkeluarga dan bahkan mempunyai anak, bagaimana kondisi tersebut mempengaruhi tingkat fanatisme mereka terhadap musik atau ideologi metal?

Apakah seorang metalhead harus lebih berkompromi dengan caranya memandang dunia ketika sudah punya momongan? Apakah mungkin kita mengenakan kaos "Jesus is a Cunt" dari Cradle of Filth ke acara kumpul keluarga bareng mertua tanpa dipelototin satu rumah?

Mungkin tidak seremeh contoh sebelumnya, tapi kurang lebih isu sejenis itulah yang coba dibahas akademisi sekaligus pengamat musik Yuka D. Narendra lewat buku terbarunya Heavy Metal Parents:Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an. Sebagai penggemar musik metal garis keras yang kebetulan juga seorang ayah, Yuka sempat terlibat dalam kancah rock/metal lokal sebagai produser dan sound engineer album GRIBS dan Alien Sick.

Dia menulis buku setebal 260 halaman ini bersama Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo, rekannya sesama dosen di Universitas Pembangunan Jaya. Buku ini dibuat setelah mereka berdua mewawancarai belasan metalhead Indonesia era 1980'an di Jabodetabek. Para narasumber tersebut adalah pelopor penggemar musik metal yang pada masa itu sulit diakses di Tanah Air. Mereka berani menjadi berbeda di tengah kungkungan Orde Baru yang sedang ada di puncak kejayaan mengkhotbahkan keseragaman dan kepatuhan pada otoritas. Berkat para pelopor inilah, musik metal dan variasi subgenrenya berkembang di Tanah Air sampai sekarang.

Yuka berbagi suka duka dan pengalamannya sebagai orang tua penggemar metal kepada Marcel Thee dari VICE Indonesia. Dia pun menyinggung nasib tragisnya. Yakni kendati coba mencekoki seleranya segigih mungkin, anaknya ternyata pilih mendengarkan lagu tema Tayo The Little Bus dibanding Napalm Death.

Yuka Dian Narenda Mangoenkoesoemo dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo. Foto dari dokumentasi pribadi

VICE Indonesia: Halo Yuka. Dirimu menggemari Heavy Metal sejak kapan?
Yuka Narendra: Saya mendengarkan Heavy Metal sejak tahun 1982, waktu itu usia saya 10 tahun. Band yang saya dengar waktu itu ya standar sekali, Judas Priest, Iron Maiden, Def Leppard. Bukan dari album tapi dari kaset-kaset "The Best Of…" keluaran perekam lokal. Selain itu saya juga tahu musik ya dari seri video "Rock Concert 1-7" yang heboh dibicarakan oleh teman-teman sekolah. Sebelum mendengarkan Metal saya hanya mendengarkan musik "warisan" kakak-kakak sepupu saya, khas classic rock seperti Led Zeppelin, Deep Purple, Genesis, Yes, Rush, beberapa penyanyi folk macam Joni Mitchell, lalu beberapa yang hype saat itu seperti The Police. Saya mulai craving untuk mendengarkan musik yang lebih keras dari semua yang saya dengarkan saat itu.

Apa hal paling metal yang pernah Yuka lakukan?
Hal pertama ya menjadi Metalhead. Yang kedua, menjadi akademisi, yang menulis tentang Metal. Itu sebabnya, saya (dan Gita) menulis buku Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an. Banyak yang mengira buku ini adalah buku yang mengajari Metalhead bagaimana menjadi orang tua yang Metal. Padahal buku ini adalah buku kajian budaya [tertawa].

Apa aja tantangan yang dihadapi seorang orangtua penggemar metal, yang tidak dialami orangtua nonmetal?
Saya hanya tahu dari perspektif orang tua yang metal karena saya anak metal. Ketika saya bersama Evelyn, istri saya—yang bukan anak metal—saya tidak pernah mempersoalkan apakah begini Metal atau bukan karena pada akhirnya kami cukup sibuk mengajari anak menjadi orang baik, yang semoga penuh cinta kasih di hatinya. Perkara anak metal punya keterbukaan terhadap berbagai pengalaman dan pilihan hidup, saya rasa itu juga bukan sesuatu yang eksklusif milik genre metal. Nilai-nilai universal itu selamanya ada dan selalu beresonansi dengan zaman. Kebetulan, dalam kasus hidup saya— juga banyak orang yang saya temui—metal adalah musik yang memperkenalkan saya pada nilai-nilai universal tentang kemanusiaan dan kehidupan.


Tonton dokumenter VICE mengenai persekusi terhadap penggemar musik punk di Aceh:


Apa keunggulan, jika ada, yang dimiliki heavy metal parent dibanding ortu nonmetal dari bukumu?
Isu ini malah jadi sulit jika dibuat dikotomis seperti ini. Esensinya, saya ingin menceritakan bagaimana anak muda masa Orde Baru merasa "menemukan dirinya" lewat metal. Ketika menjadi orang tua, seorang metalhead akan ingat bagaimana perasaan anaknya ketika ia mengatakan tidak dapat menerima selera musik anaknya. Ketika menjadi orang tua, seorang metalhead akan sadar betul bahwa pilihan musik anaknya merupakan representasi dari identitas yang sedang dikonstruksinya.

Semua orang, termasuk orang tua kita yang bukan penggemar metal, pasti mengalami rasa teralienasi dan pencarian jati diri. Lalu apa kesimpulan khas yang kamu dapat soal metalhead Indonesia era 80'an?
Seorang Metalhead akan sadar betul bahwa anaknya mungkin saja terpinggirkan dari narasi besar kelompoknya sehingga mungkin anaknya menemukan dirinya pada hal-hal yang tidak umum. Persis seperti dirinya ketika muda. Itu saja. Akan tetapi, sangat mungkin hal seperti ini dialami pula oleh orang tua yang bukan metalhead karena memahami keterpinggiran itu bukanlah sesuatu yang eksklusif milik metalhead. Keterpinggiran itu adalah fenomena kemanusiaan dan kemanusiaan itu adalah nilai yang universal.

Jadi menurut Yuka, pada esensinya gak ada perbedaan unik antara penggemar metal di Indonesia dengan penggemar musik lainnya?
Bedanya metalhead dengan penggemar musik lain yang tidak membicarakan isu-isu kemanusiaan adalah persoalan keterpaparan saja. Tetapi perlu diingat sekali lagi bahwa apakah seorang penggemar EDM misalnya, menjadi tidak peka terhadap isu kemanusiaan dibanding Metalhead? Belum tentu. Apakah Metalhead akan menjadi orang tua yang lebih baik dari yang bukan Metal? Tidak juga. Ini bukan "Mozart Effect" yang membuat ibu-ibu muda yang sedang hamil memaksakan diri mendengarkan Mozart semata agar anaknya menjadi lebih cerdas. Bukan seperti itu. Kita enggak bisa memaknai pertanyaan ini secara dikotomis semata mencari mana yang lebih baik, karena ini persoalan pemaknaan terhadap identitas, bukan persoalan memperbandingkan pendekatan parenting mana yang lebih efektif.

Kalau harus jujur, biasanya seberapa jauh usaha seorang heavy metal parent seperti Yuka menurunkan kecintaan akan metal kepada anaknya?
Saya tentu berharap anak perempuan saya, Kinara, akan menjadi seorang penggemar metal. Kalau naik mobil, Kinara seringkali minta diputarkan musik. Sesekali saya sengaja memutar musik Metal 1980-an dan sepertinya dia suka. Saya hanya memutar metal di zaman itu karena setidaknya itulah Metal yang ibunya Kinara sanggup dengarkan. Jadi saya tidak pernah memutar Down For Life, Seringai, atau Napalm Death dan Slayer. Intinya, jika mendengarkan musik yang upbeat, Kinara gembira. Berjoget-joget dengan wajah yang sangat sumringah. Evelyn punya musicbox yang jika engkolnya diputar maka terdengar lagu "Spring" karya Vivaldi dan Kinara senang sekali dengan benda itu. Kadang diputar-putarnya, kadang dia hanya pegang-pegang.

Jadi intinya berhasilkah dirimu menularkan selera musik ke anak?
Pada akhirnya, Kinara punya pilihan musiknya sendiri yaitu theme song dari (seri anak-anak) Robocar Poli, Tayo the Little Bus dan Rainbow Ruby. Beberapa kali Kinara menodongkan pengocok telur mini yang dia perlakukan layaknya mikrofon, kepada kami ayah-ibunya dan memaksa kami bernyanyi lagu "Rainbow Ruby." Apa mau dikata? Iblis Metal mungkin memang harus tunduk dengan Robocar Poli [tertawa]. Tapi kan Kinara baru dua tahun usianya. Sangat mungkin ketika besar nanti dia malah jadi penggemar John Coltrane, John Cage, atau John McLaughlin [The Mahavishu Orchestra-red], Joni Iskandar [Pengantar Minum Racun-red]. Entahlah, itu urusan nanti dan itu haknya. Saya hanya ingin melihatnya bahagia karena menemukan sendiri makna kebahagiaan itu.

Apakah seorang heavy metal parents perlu mencanangkan pensiun dari semua yang serba metal seiring bertambahnya usia?
Tidak perlu. Once a Metalhead, Forever a Metalhead. Saya pikir Metal sebagai selera musik akan menjadi sesuatu yang konstan di benak penggemarnya, selama ia masih merasa setuju dengan nilai-nilai universal yang menjadi subject matter musik tersebut. Sederhana saja alasannya, karena metal adalah musik yang membicarakan persoalan kemanusiaan yang ujungnya adalah cinta kasih.

Jika seseorang sudah menyetujui gagasan-gagasan kemanusiaan, maka ia akan membela kemanusiaan dan menolak penindasan. Jika seseorang sudah dapat menghayati cinta kasih, maka ia akan mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Mengapa harus pensiun dari keyakinan macam ini?

Terakhir, apa contoh heavy metal parenting yang pernah Yuka lakukan?
Mencari-cari theme song Robocar Poli dari berbagai bahasa di internet, lalu memutarkannya untuk Kinara di acara ulang tahunnya.


Buku Heavy Metal Parents dari Penerbit Octopus telah terbit, bukunya dapat diperoleh di tautan berikut.

Tagged:
Metal
Musik
parenting
Metalhead
Kultur
trash metal
Budaya
Gen Z
bayi
Kebudayaan
Keluarga
Orang Tua
Anak
Musik Metal
kultural
masalah kultural
Era 80'an